
Gisel seperti dejavu saat ia harus menjalani hidup dalam pelarian seperti beberapa tahun yang lalu saat Gilang mengetahui perbuatannya yang memerintah seseorang untuk mencelakai Pelangi.
Ia berpindah dari satu desa ke desa lainnya untuk menghindari kejaran polisi yang sudah merilis fotonya di media televisi, media sosial, hingga surat kabar sebagai buron. Bedanya adalah, jika dulu ia bersembunyi dan berpindah tempat bersama dengan Atika, kali ini ia harus hidup dalam pelarian seorang diri, dan hal itu sangat sulit baginya. Apalagi selama ini ia selalu hidup dalam kemewahan, segalanya kebutuhannya terpenuhi dan selalu ada asisten pribadi yang selalu melayaninya.
Sekarang ini Gisel sedang berada di sebuah penginapan sederhana yang cat dindingnya mulai mengelupas dan warnanya memudar. Dari dalam kamarnya itulah ia menyaksikan berita di televisi yang sedang memberitakan tentang kejahatan yang menimpa istri salah satu pengusaha muda terkenal dan kaya raya di Indonesia, yaitu Gilang Andreas.
Di layar berukuran kecil yang ada di hadapannya itulah, Gisel menyaksikan Gilang melakukan jumpa pers dan menjelaskan kepada para pewarta bahwa beberapa tahun yang lalu dirinya mengalami pengeroyokan oleh sekelompok pria tidak dikenal yang menyebabkan ia mengalami cidera parah di kepala dan akhirnya mengalami amnesia, sedangkan sang istri terjatuh ke jurang kemudian menghilang dan tidak ada kabar hingga satu tahun lamanya.
Sekarang mereka telah kembali bertemu dan Gilang pun memohon kepada seluruh masyarakat agar mau membantunya untuk menemukan Gisel dan Surya, dalang dari semua kenahasan yang menimpa dirinya dan juga Pelangi.
"Jika kalian melihat kedua orang yang sedang kami cari, tolong hubungi polisi. Aku pasti akan sangat berterima kasih." Gilang mengakhiri ucapannya, diiringi oleh gumaman yang terdengar dari para pewarta.
Gisel mengepalkan tangan, lalu melempar bantal kapuk ke layar televisi sembari berteriak histeris. "Jadi benar jika si Raina itu ternayata adalah Pelangi. Selama ini mereka telah membodohiku. Mereka memang berniat untuk menjebakku. Sial, sial, sial. Apa yang barus kulakukan sekarang?" Gisel sadar jika dirinya benar-benar sendiri sekarang dan tidak mudah baginya untuk hidup seorang diri tanpa adanya Alex yang pasti akan mencari jalan keluar sekarang.
***
Amara terus terisak sembari memeluk Pelangi. Ia baru saja mengetahui kabar dari Toni bahwa lagi-lagi Gisel hampir saja mencelakai sahabatnya itu. Namun, bukan hanya karena hal itu ia menangis, tetapi kenyataan bahwa Pelangi kembali mendapatkan ingatannya sukses membuat Amara terharu setengah mati dan akhirnya ia tidak bisa menghentikan tangisannya.
"Aku bersyukur sekali. Sangat, sangat bersukur karena kamu telah kembali mengingat masa lalumu, Pelangi," ujar Amara. Ia telah mengucapkan kalimat itu berkali-kali, hingga siapa pun yang mendengarnya pasti akan bosan, seperti Toni dan Gilang yang sejak tadi hanya diam dan menjadi penonton setia pertemuan penuh drama dan derai air mata antara kedua sahabat itu.
"Maaf, karena aku tidak mengenalmu saat kita bertemu. Padahal kamu adala sahabat baikku. Aku sungguh tidak bermaksud untuk membuatmu kesal, Amara." Pelangi pun telah mengatakan hal itu berulang kali.
"Shuut, sudahlah, mau sampai kapan kalian mengulang adegan yang itu-itu saja." Gilang menarik Pelangi dari pelukan Amara dan melingkarkan lengan di pinggang wanita itu.
"Aku merindukannya, mau bagaimana lagi," lirih Amara, kemudian kembali menghampiri Pelangi yang berdiri di samping Gilang dan memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
Melihat hal itu, Gilang dan Toni hanya bisa menggelengkan kepala. "Wanita memang rumit dan gila," komentar Toni.
Tangis Amara dan Pelangi baru terhenti ketika tedengar suara ketukan di pintu kamar. Saat ini mereka memang sedang berada di kamar Gilang dan Pelangi.
"Siapa?" teriak Gilang dari dalam kamar.
"Antonio, Tuan."
"Masuklah, Antonio," titah Gilang.
Gilang tersenyum kepada Antonio ketika pria itu melangkah melewati ambang pintu. Gilang memang langsung menyukai Antonio begitu Andrew memperkenalkannya pada pria kurus itu ketika mereka masih berada di rumah sakit. Gilang menyukai keloyalan Antonio dalam memata-matai Gisel dan melaporkan semuanya tepat waktu pada Andrew.
"Ada apa?" tanya Gilang.
"Aku rasa aku menemukan titik di mana Gisel berada saat ini," ujar Antonio tanpa berbasa-basi begitu ia telah tiba di hadapan Gilang
"Benarkah?" tanya Gilang, yang terlihat bahagia dan terkejut sekaligus.
"Benar, Tuan. Ponselnya sempat aktif beberapa saat yang lalu, dan langsung terdeteksi oleh ponselku, karena aku memasang pelacak pada ponselnyasaat aku masih bekerja padanya."
"Briliant. Ayo, cari Andrew dan mari kita datangi wanita itu. Jangan lupa kabari pihak kepolisian juga." Gilang memberi perintah pada Antonio.
"Baik, Pak, aku akan menghubungi kantor polisi sebelum kita berangkat."
Amara melayangkan tinju di udara, lalu berteriak, "Ayo kita datangi dia. Setelah bertemu dengannya nanti, akan aku jambak rambut wanita gila itu hingga ia botak."
Pelangi tertawa melihat tingkah Amara. "Kamu harus mengantre, Ra, karena akulah yang lebih dulu akan menjambaknya."
***
Andrew terlihat gelisah. Sejak tadi ia mondar-mandir di depan kamar Delia. Sejak wanita itu mengatakan ingin kembali ke panti asuhan, sejak saat itu juga Andrew tidak pernah merasa tenang. Andrew tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya tanpa Delia. Ia pasti akan merindukan wanita itu. Ya, meskipun hubungannya dengan Delia masih terbilang baru, tetapi Andrew merasa jika ikatan batinnya dan wanita itu cukup kuat.Lagi pula, kehadiran Delia sangat membantu Andrew agar dapat melupakan Pelangi.
Setelah beberapa saat memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan, akhirnya Andrew menutusksn untuk masuk ke dalam kamar Delia dan jika bisa ia ingin mengubah pikiran wanita itu agar tidak kembali ke desa untuk sementara waktu.
"Kamu serius ingin kembali?" tanya Andrew, saat melihat koper berukuran sedang tergeletak di lantai dalam posisi terbuka. Pakaian Delia terlihat dimasukkan asal-asalan ke dalam koper.
Delia mengangguk. "Tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal di sini lebih lama lagi. Toh, Exel sudah tidak ada di dunia ini
"Tapi, Del, bagaimana denganku?" tanya Andrew. Apa kamu tidak menganggap diriku ini penting sehingga kami memutuskan uuk pergi seenaknya.
Delia tertawa. "Kamu dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padamu. Kepergianku tidak akan berarti apa-apa bagimu, Ndrew. Kamu akan melupakanku dengan mudah.
"Tidak, aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh pergi. Jangan pernah berpikir untuk kembali ke panti, Delia."
Delia berdecak kesal. "Serius? Aku memiliki banyak pekerjaan di panti, mengurus anak-anak barangkali akan mengalihkan kesedihanku dari kepergian Exel.
"Kalau begitu mari kita buat anak kita sendiri."
Delia mengerutkan dahinya dengan bingung. "Maksudmu?"
Andrew berdeham. "Mari kita menikah."
Bersambung. ...