
Arya Saputra, adalah seorang pengusaha muda yang selalu tampil sederhana dan rendah hati. Tidak mengherankan jika penampilannya tidak terlihat seperti rekan bisnis Gilang kebanyakan yang selalu tampil dengan jas dan kemeja mahal, ditambah lagi pin dasi, juga jam tangan yang memiliki harga jutaan hingga puluhan juta menempel pada tubuh mereka.
Kesederhanaan Arya Saputra membuat Pelangi tidak mengenali pria itu. Pelangi pikir, Arya adalah salah satu pegawai di coffe shop tersebut, maka begitu melihat Arya yang sedang berdiri di sudut ruangan di dekat jendela, Pelangi yang tiba lebih dulu di dalam coffe shop segera memanggil Arya dan memesan satu Moccachino dingin untuk dirinya sendiri.
"Mas, satu moccachino dingin, ya," ujar Pelangi, lalu celingukan mencari rekan bisnis Gilang yang katanya sudah ada di dalam bangunan coffe shop.
Arya mengerutkan dahi, Pria yang memiliki tubuh tinggi dan berwajah tampan bak Kim So Hyun itu bingung akan perintah yang baru saja Pelangi berikan padanya. Namun, Arya tidak berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman Pelangi yang mengira dirinya adalah seorang pegawai coffe shop. Arya diam saja, ia malah melangkah ke meja pemesanan dan memesan apa yang baru saja Pelangi minta.
"Mas, satu moccachino dingin. Buatkan yang paling enak," ujar Arya, pada seorang pegawai coffe shop yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Pantas saja jika Pelangi menjadi salah paham, karena ternyata hanya ada Arya di dalam coffe shop tersebut beberapa waktu lalu.
Pegawai coffe shop segera membuat pesanan dan memberikan pesanan tersebut pada Arya. Arya membayar, kemudian melangkah menghampiri Pelangi dan memberikan segelas moccachino dingin di tangannya pada Pelangi.
"Terima kasih," ujar Pelangi, sembari memberikan senyuman manisnya untuk Arya, lalu mulai meminum moccachino dingin yang menyegarkan.
Arya membalas senyuman Pelangi dengan ramah. Jujur saja sebenarnya Arya terpikat pada kecantikan Pelangi sejak pertama kali ia melihat wanita itu. Saat Pelangi menyapanya, seolah seorang bidadari sedang memperkenalkan diri padanya. Ia terpaku, ingin rasanya menatap Pelangi lebih lama, tetapi suara wanita itu yang kemudian meminta segelas Moccachino membuat dirinya mau tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri.
"Menunggu seseorang?" tanya Arya, setelah Pelangi tidak lagi sibuk dengan sedotan.
Pelangi mendongak agar dapat menatap Arya. "Ya, aku datang dengan bosku dan kami--"
"Halo, Pak Arya."
Toni tiba bersama dengan Maulana yang selalu memasang senyum ramah di bibirnya. Pelangi pikir Toni sedang menyapa orang lain, itulah sebabnya ia bangkit berdiri dan menatap ke segala arah untuk mencari siapa yang sedang disapa oleh Toni, tetapi Pelangi tidak melihat siapa pun. Tidak lama kemudian, Toni tiba tepat di hadapannya dan tangan Toni langsung terulur ke pria yang baru saja memberikan moccachino dingin untuknya.
"Pak Arya," guman Pelangi, terlihat bingung untuk sesaat, lalu kemudian ia memukul dahinya dengan keras, membuat Toni, Arya, dan Maulana nenatapnya dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Toni, pada Pelangi.
"Dia Pak Arya?" tanya Pelangi, bukannya menjawab pertanyaan Toni, wanita itu malah balik bertanya sembari menunjuk Arya.
"Iya, Nona, manis, dia adalah Pak Arya Saputra. Bos saya." Maulana menjawab sembari terkekeh.
Pelangi tidak dapat berkata-kata, ia hanya menatap Arya Saputra dengan wajah memelas, lalu menyatukan kedua telapak tangannya untuk meminta maaf.
"Maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu bahwa Andalah rekan bisnis yang akan ditemui oleh bosku," lirih Pelangi.
Arya tertawa melihat wajah pelangi yang ketakutan dan merasa bersalah. "Jangan minta maaf, bukan salah Anda juga jika tampangku tenyata persisi seperti seorang pegawai coffe shop."
Pelangi segera mengibaskan tangan di depan Arya dengan cepat. "Bukan begitu, Pak, hanya saja Anda tidak terlihat seperti rekan bisnis Pak Gilang kebanyakan, itulah sebabnya aku tidak dapat mengenali Anda. Maafkan kekurangajaranku." Pelangi membungkuk.
Arya menghampiri Pelangi dan menyentuh kedua sisi pundak wanita itu. "Plis, jangan minta maaf. Aku jadi tidak enak. Santai saja."
"Ada apa ini?" Tanya Gilang yang baru saja tiba, wajahnya cemberut dan menatap Arya dengan tatapan tidak suka. Bagaimana ia tidak cemberut, kedua tangan Arya masih berada di pundak Pelangi, tentu saja Gilang merasa marah juga cemburu karena istri kesayangannya disentuh oleh pria lain.
Arya melepaskan tangannya dari pundak Pelangi begitu melihat Gilang datang ke arah mereka.
"Hai, Pak Gilang. Senang bertemu dengan Anda." Arya mengulurkan tangan.
"Senang bisa bertemu dengan Anda juga, Pak Arya." Gilang menyambut uluran tangan Arya tanpa senyuman, lalu kemudian ia menarik lengan Pelangi agar wanita itu berpindah posisi berdiri di sisinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gilang.
"Tidak ada. Hanya kesalahapahaman yang tidak terlalu penting." Arya menjawab sembari menatap Pelangi.
Melihat istrinya ditatap seperti itu, Gilang segera berdiri di hadapan Pelangi, menghalangi pandangan Arya yang terus tertuju pada Pelangi.
"Nah, karena kita semua sudah berkumpul, mari kita duduk dan mulai membicarakan kerjasama yang akan kita lakukan." Maulana melambaikan tangan ke kursi dan meminta Arya, Gilang, dan Pelangi untuk duduk.
Toni menyerahkan beberapa map dan amplop cokelat ke Pelangi, lalu berkata. "Aku pergi dulu kalau begitu. Ada beberapa pekerjaan di kantor cabang yang harus selesaikan. Fighting, Pelangi," desis Toni, lalu berpamitan pada Gilang dan Arya sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari kafe.
***
Pertemuan yang memakan waktu hampir dua jam lamanya itu akhirnya berakhir. Gilang segera bangkit berdiri dan bersalaman dengan Arya dan Maulana. Pelangi mengikuti apa yang Gilang lakukan, berdiri dan bersalaman dengan Maulana, tetapi saat ia hendak bersalaman dengan Arya, Gilang menghalanginya. Alih-alih menbiarkan Pelangi bersalaman dengan Arya, justru Gilanglah yang bersalaman dengan Arya untuk yang kedua kalinya.
"Aku mewakili Pelangi untuk berjabat tangan," ujar Gilang, saat Arya mmenatapnya dengan bingung karena Gilang kembali menyalaminya.
Arya tertawa. "Baiklah, Pak, sampai ketemu di lain kesempatan, dan sampai jumpa, Pelangi, senang bertemu denganmu."
Pelangi tersenyum kikuk. Ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa ucapan Arya.
"Ayo." Gilang menarik pergelangan tangan Pelangi dan segera meninggalkan coffe shop itu dengan cepat.
"Wah, sepertinya mereka ada main. Asisten dan bos." Maulana berkomentar.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Arya, masih menatap rambut Pelangi yang bergerak-gerak sebelum akhirnya wanita itu menghilang di balik pintu geser yang terbuat dari kaca.
"Siapa pun pasti akan mengira demikian dengan sekali lihat, Pak. Pak Gilang terlihat cemberut saat dia baru tiba, karena Anda menyentuh pundak asistennya itu, lalu saat Anda terus menatap asistennya itu, Pak Gilang juga terlihat tidak suka, dan terakhir saat Anda ingin bersalaman dengan asisten itu, Pak Gilang malah mewakilkan. Mana ada salaman diwakilkan. Dari situ saja sudah terlihat kalau si Pelangi itu adalah milik Pak Gilang dan tidak boleh disentuh sedikit pun."
"Kamu selalu memperhatikanku dengan sangat detail, Maulana, kamu bahkan memperhatikan jika aku terus menatap wanita itu."
"Ya, aku memperhatikan segalanya. Anda menyukai wanita tadi, benar?" Maulana berkedip nakal.
Arya tersenyum kemudian berkata, "Cari tahu informasi apa pun tentang wanita itu. Jika sudah, kabari aku."
Maulana mengacungkan ibu jarinya. "Sip, perintah dilaksanakan."
***
"Seharusnya kita kembali ke kantor sebentar, setelah itu kita ada satu pertemuan lagi dengan rekan bisnismu, Bos," ujar Pelangi, mengingatkan Gilang, barangkali saja suaminya itu lupa.
Gilang tidak menjawab, ia malah menepikan mobilnya di jalanan yang sepi dan segera menarik tubuh Pelangi agar posisi wanita itu berpindah ke atas pangkuannnya. Setelah Pelangi duduk di atasnya, Gilang segera ******* bibir wanita itu dengan lembut, lalu perlahan turun ke leher, dan memberi gigitan kecil di sana.
"Gil, apa-apaan ini?" tanya Pelangi, sembari menggeliat, berusaha menghindari bibir Gilang yang masih berjelajah di sekitar wajah dan lehernya.
Gilang tidak menjawab. Pria itu membuka blazer yang Pelangi kenakan lalu mendaratkan bibirnya di pundak Pelangi.
"Gil ... astaga, aku kegelian." Pelangi menjauhkan wajah Gilang dari tubuhnya.
"Katakan di mana lagi dia menyentuhmu?" tanya Gilang.
Dahi Pelangi mengernyit. "Dia siapa?" tanya Pelangi kebingungan.
"Siapa lagi kalau bukan si Arya yang mata keranjang itu." Gilang menggerutu.
"Oooh, yang tampan itu. Pengusaha muda yang tampan, sederhana, menggemaskan dan juga baik hati. Dia bahkan tidak marah saat aku mengira bahwa dirinya adalah pegawai di kafe tadi."
Gilang memeluk tubuh Pelangi semakin erat. "Katakan lagi, maka aku akan mengurungmu di kamar dan menghukummu dengan cara bermain cinta denganku hingga 24 jam tenpa henti."
Pelangi berpura-pura terkejut. "Wah, aku ingin sekali dihukum seperti itu. Baiklah, akan aku katakan lagi. Si Arya itu sangat tampan, baik hati, dan ...."
Pelangi tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena Gilang kembali ******* bibirnya dan meraba bagian sensitif tubuhnya. Membuatnya ingin berteriak saat itu juga agar Gilang jangan berhenti dan lebih bagus lagi jika Gilang melakukan hal yang lebih dari sekadar menyentuhnya saja.
"Bukannya aku menolak apa yang ingin kamu lakukan padaku, tapi aku harus mengingatkanmu bahwa kita sedang berada di pinggir jalan sekarang. Bisa-bisa kita ditangkap dan dibawa ke kantor polisi," ujar Pelangi, dengan napas yang terangah-engah karena berusaha menahan gai-raah.
Gilang merapikan blazer yang Pelangi kenakan, merapikan rambut wanita itu, lalu membantu Pelangi agar kembali duduk di kursi penumpang seperti sebelumnya.
"Aku akan cari hotel terdekat," ujar Gilang. Wajahnya masih cemberut dan terlihat marah.
Pelangi mengulurkan tangan untuk menyentuh pundak Gilang. "Jangan cemburu padanya. Dia bukan siapa-siapa bagiku. Kita bahkan baru bertemu saat di kafe tadi."
"Tapi dia terus menatapmu. Aku tahu dia menyukaimu. Jangan sampai saja dia menjadikanmu sebagai calon ibu dari anaknya."
"Shut, jangan bicara sembarangan. Memangnya aku ini semurahan itu, sampai-sampai aku mau begitu saja mengandung anaknya." Pelangi mengomel, ia merasa tersinggung atas komentar Gilang. Apa Gilang pikir dirinya seekor kucing, yang mengandung dan melahirkan semudah itu.
Gilang yang menyadari bahwa ia salah bicara segera meraih pergelangan tangan Pelangi dan meremasnya dengan lembut. "Bukan begitu. Aku tidak menganggapmu murahan, Pelangi, hanya saja aku dengar dia itu sedang mencari rahim seorang wanita yang dapat dititipi benihnya."
"Hah." Pelangi melotot. Ia terkejut mendengar ucapan Gilang. "Apa istrinya tidak bisa mengandung? Ada masalah pada rahim istrinya?"
Gilang tersenyum sinis, lalu perlahan mulai menginjak pedal gas. "Bukan begitu. Dia itu anti menikah, tetapi dia adalah pewaris tunggal di keluarganya. Dia harus memberi keturunan, darah dagingnya sendiri entah bagaimana pun caranya." Gilang menjelaskan.
"Dengan kata lain dia ingin menyewa rahim?" tanya Pelangi penasaran.
"Ya, begitulah kira-kira, agar dia tidak terikat pada wanita mana pun."
Pelangi diam sejenak, menatap jalanan yang arus lalu lintasnya tidak terlalu padat. Ia tidak habis pikir kenapa di dunia ini masih ada orang-orang yang anti menikah.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Gilang saat dilihatnya sang istri sedang melamun.
Pelangi terkejut, kemudian menatap Gilang. "Aku hanya sedang menebak-nebak, kenapa si Arya itu anti menikah. Apa dia memiliki kelainan?"
"Entahlah. Mungkin dia malas berurusan dengan makhluk yang bernama wanita. Kamu kan tahu kalau wanita itu merepotkan," ujar Gilang, membuat Pelangi kembali terlihat cemberut.
Gilang tertawa, lalu mengagkat tangan Pelangi dan mengarahkan ke bibirnya. "Maaf, aku hanya bercanda, Sayangku. Lagi pula untuk apa kita berdua sibuk memikirkan orang aneh itu. Lebih baik sekarang kamu tentukan hotel mana yang akan kita datangi." Gilang mengedipkan mata dengan nakal ke Pelangi, membuat Pelangi tertawa melihat tingkah sang suami yang begitu genit dan menggemaskan.
***
Sinar rembulan yang berwarna kuning keemasan menembus kaca jendela ruang baca kediaman Arya Saputra. Pria itu duduk di ruang baca sejak beberapa jam lalu, duduk pada sebuah kursi berlengan dan bersandaran tinggi yang menghadap langsung ke jendela tanpa tralis. Kepalanya mendongak menatap rembulan dengan tangan yang secara refleks menyentuh dagu dan mengelusnya tanpa henti.
Pikiran Arya melayang pada sosok yang ditemuinya siang tadi. Tidak biasanya kehadiran seorang wanita begitu memengaruhi suasana hatinya. Namun, Pelangi berbeda, bayangan wanita itu selalu muncul di dalam kepalanya dan membuatnya gelisah. Ada dorongan di dalam dirinya untuk dapat bertemu lagi dengan wanita itu dan memiliki wanita itu untuk selamanya.
"Ah, tidak, tidak, ada apa denganku?!" Arya menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran gila yang baru saja melintas di dalam kepalanya. "Aku tidak boleh menjadi pengkhianatan. Tidak boleh." Arya kembali bergumam.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu lumayan membantu Arya untuk menyingkirkan perasaan gila yang baru saja hinggap di kepalanya.
"Masuklah," perintah Arya.
Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Maulana yang berjalan dengan cepat menyeberangi ruangan baca dan menghampiri Arya.
"Ada kabar baik?" tanya Arya, binar kebahagiaan terpancar di kedua mata indahnya.
"Bukan kabar baik sebenarnya. Malah sebaliknya, kabar ini lumayan buruk untukmu."
Arya menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar, lalu menatap Maulana lekat-lekat. "Katakan padaku."
Maulana mengatur napas sebelum ia mengatakan informasi tentang Pelangi yang baru saja ia dapatkan dari sumber yang dapat dipercaya.
"Pelangi adalah istri Pak Gilang. Mereka itu ternyata adalah pasangan suami dan istri."
Bersambung.