OH MY BOSS

OH MY BOSS
PURA-PURA



Gilang menyesal saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia tidak tahu jika ternyata Pelangi pun tidak memiliki pilihan lain saat akan bergabung dengan Andrew dan Toni untuk menjebaknya. Namun, jika dipikirkan lagi, Pelangi seperti menukar Gilang sebagai pelunasan hutang-hutangnya, dan kenyataan itu mampu membuat Gilang merasa seperti barang. Ia bimbang, tentu saja. Haruskah ia memaafkan Pelangi dan belajar untuk melupakan semuanya, walaupun masih ada rasa yang mengganjal di hatinya.


Gilang menghela napas, memilih untuk memikirkan hal itu besok saja. Sekarang ia lelah dan butuh istirahat. Apalagi ada seseorang yang paling ia cintai berbaring di atas ranjangnya, tidak mungkin ia menunda-nunda agar dapat menghabiskan waktu bersama walaupun dalam diam.


Gilang dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas ranjang agar tidak membangunkan Pelangi yang telah tertidur pulas. Gilang memiringkan tubuh agar dapat memandangi Pelangi. Kedua mata indah yang sekarang tengah tertutup itu terlihat sembab, pipi Pelangi bahkan masih basah, menandakan bahwa gadis itu menangis hingga jatuh tertidur.


Perlahan tangan Gilang terulur, mengusap bulir-bulir bening yang masih tampak di sudut mata pelangi, lalu menyingkirkan rambut Pelangi yang menempel di sekitar wajahnya.


"Maafkan aku," ujar Gilang, kemudian tangannya turun ke bawah, berhenti di perut Pelangi yang mulai membuncit. Membelai dengan lembut, berharap bayi yang ada di dalam perut Pelangi menyadari kehadiran dirinya. "Pasti berat sekali menanggung beban yang selama ini kamu simpan sendiri. Seharusnya aku membahagiakanmu, bukannya malah membuatmu makin terbebani dengan sikap kekanakanku. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk membuat hidupmu sulit, Pelangi." Gilang menangis, menyesali perbuatannya yang selama ini menyiksa batin sang istri, wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya.


Seandainya ia tahu sejak awal bahwa Pelangi pun mendapat paksaan dari Toni dan Andrew, ia pasti tidak akan semarah ini pada Pelangi. Andai pun ia marah, ia pasti akan melampiaskan kemarahannya kepada Andrew dan Toni, alih-alih bersikap tidak peduli pada Pelangi.


***


Pelangi menggeliat saat merasakan geli pada tengkuknya. Seperti ada sesuatu yang lembut dan sedikit basah menempel di sana. Perlahan Pelangi membuka mata dan menoleh ke belakang.


Pelangi seketika menutup mulutnya dengan tangan saat dilihatnya Gilang tertidur di belakangnya dengan posisi memeluknya. Rasa hangat dan sedikit basah yang ia rasakan di tengkuknya tadi ternyata adalah bibir Gilang.


Hati Pelangi melonjak. Ingin rasanya ia melakukan salto dan melompat-lompat di atas ranjang saking bahagianya. Siapa sangka jika Gilang mau memeluknya, walaupun Pelangi yakin sekali, kali ini Gilang pastilah tidak sengaja melakukannya. Toh, Gilang masih marah padanya. Kemarin saja Gilang masih bersikap dingin dan bermusuhan, mana mungkin jika dalam waktu satu hari tiba-tiba saja Gilang berubah pikiran dan mau menyentuhnya.


Pelangi diam saja, ia tidak berusaha membangunkan Gilang sama sekali, karena ia menikmati saat-saat Gilang menyentuh tubuhnya, memeluknya dan berbagi kehangatan dengannya. Itulah sebabnya ia memilih untuk kembali memejamkan mata dan pura-pura masih tertidur.


Gilang yang sebenarnya sudah terbangun berusaha untuk tidak tertawa melihat apa yang Pelangi lakukan. Ia mengucap syukur dalam hati, karena Pelangi masih mau berada di sisinya, walaupun ia telah menyakiti hati Pelangi dengan begitu kejam selama satu bulan ini.


Keduanya pun larut dalam kehangatan yang mereka ciptakan dari perasaan cinta dan rindu yang mereka pendam, walau keduanya juga sedang berpura-pura tertidur agar tidak perlu mengakui bahwa mereka saling membutuhkan, dan berpelukan seperti sekarang ini adalah hal yang paling mereka inginkan. Ya, gengsi memang sesuatu yang sulit untuk ditaklukkan.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu, lalu disusul suara Suster An yang memanggil-manggil nama Gilang.


Mendengar suara Suster An yang berisik di depan pintu kamarnya, pelangi segera bangkit untuk duduk dan bersiap kembali meneriaki Suster An, meminta Suster An untuk masuk agar wanita itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ia dan Gilang memiliki hubungan yang normal dan mereka berdua baik-baik saja.


Akan tetapi, Pelangi mengurungkan niatnya. Berbaring berdua di atas ranjang saja tidak cukup untuk membuat Suster An patah hati, sadar diri dan menyerah. Maka dengan cepat Pelangi melepaskan baju tidurnya, hingga hanya tersisa pakaian dalam yang memperlihatkan kedua bahunya yang putih bersih. Kemudian ia mengacak rambutnya agar terlihat berantakan, lalu beralih ke rambut Gilang yang juga dibuatnya seberantakan mungkin.


"Nah, beres," gumam Pelangi, sebelum ia kembali berbaring di samping Gilang dan berteriak, "Masuklah."


Pintu terbuka, lalu terlihat Suster An masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi roti panggang dan susu segar. Bibirnya yang merah menyunggingkan senyum lebar, terlihat licik dan genit.


Pelangi tersenyum sinis. "Apa suaraku yang barusan memintamu untuk masuk terdengar seperti suara suamiku?" tanya Pelangi. "Apa yang kamu lakukan di kamar kami pagi-pagi? Biasanya Bi Sari yang mengantarkan sarapan ke atas sini. Apa kamu sudah beralih profesi menjadi pelayan di rumah ini?"


Suster An menghela napas dengan malas, lalu meletakan nampan di atas meja kerja Gilang. "Itu untuk Pak Gilang."


Pelangi menaikan sebelah alisnya, lalu menyingkap selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengenakan CD dan bra. Dengan santai Pelangi berjalan memutari ranjang, menuju meja kerja di dekat pintu tanpa merasa tidak nyaman karena tubuhnya begitu terekspos sekarang.


Sesampainya di depan meja, ia segera meraih segelas susu yang Suster An bawa, lalu meminumnya hingga habis. Melihat hal itu, Suster An menjadi kesal.


"Kuberitahu padamu, Anneth. Jangan pernah ganggu Gilang. Seburuk apa pun hubungan kami, dia adalah suamiku dan aku adalah istrinya. Kalau kamu tahu malu, tidak seharusnya kamu mendekatinya, apalagi kamu melakukannya secara terang-terangan. Apa yang membuatmu begitu percaya diri? Apa kamu itu tidak waras, hah?!" ujar Pelangi.


"Aku tidak akan berdebat dengan orang sepertimu!" desis Suster An, lalu ia segera keluar dari kamar.


Pelangi mengatur napas agar emosinya kembali stabil. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Suster An bertingkah begitu tidak masuk akal. Setertarik apa wanita itu pada Gilang, hingga perbuatannya terkesan tidak tahu malu.


Pelangi kembali berjalan menuju ranjang, kemudian meraih baju tidurnya yang tadi ia lepaskan dengan terburu-buru. "Sebelum Gilang bangun, aku harus sudah pakai baju ini lagi," gumam Pelangi.


Akan tetapi, baru saja tangan Pelangi menyentuh ujung baju tidurnya, sebuah tangan yang kekar menarik pergelangan tangannya, hingga tubuhnya jatuh ke atas ranjang.


"Gilang. Kamu sudah bangun?!" Kedua mata Pelangi melotot ketika dilihatnya Gilang telah memposisikan tubuhnya di atas tubuh Pelangi.


"Sejak tadi," jawab Gilang. "Kamu memancingku, Pelangi? Katakan apa yang kamu inginkan. Jika kamu ingin aku menyentuhmu, maka akan aku lakukan. Jika kamu ingin aku menciumi, akan kulakukan juga, dan jika kamu ingin aku memasuki dirimu, akan kulakukan segera dengan senang hati." Gilang menunduk, dan mendaratkan kecupan di leher Pelangi, membuat gadis itu mendesah karena nikmat.


"Tidak, aku tidak ingin satu pun dari semua itu." Pelangi berusaha menahan diri, karena ia tidak ingin hanya menjadi tempat Gilang untuk melampiaskan nafsu.


"Bohong. Aku tahu kamu berbohong. Jika tidak, tidak mungkin kamu dengan sengaja melepas semua pakaianmu, padahal ada aku di sini."


"Itu karena aku ingin membuat suster itu ... mmph." Ucapan Pelangi terhenti, karena Gilang secara tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibir Pelangi, lalu ********** dengan rakus.


Pelangi berusaha untuk mendorong tubuh Gilang. Namun, pada akhirnya ia menyerah. Ia tidak mampu menolak dan menyangkal bahwa ia memang menginginkan Gilang seutuhnya saat ini juga.


Bersambung ....


Duuuh, gerah, gerah 😅😅