
Surya menghentikan mobilnya di depan stasiun bus. Ia kemudian keluar dari dalam mobil setelah memasang topi serendah mungkin di kepalanya agar wajahnya tidak terlihat. Walaupun ia yakin tidak akan ada yang mengenalinya saat ini, tetapi tetap saja ia merasa harus berjaga-jaga.
Surya menutup pintu mobil, lalu melangkah menuju halte dan mulai mengedarkan pandangan, mencari sosok yang tidak asing di dalam ingatannya.
Setelah memindai daerah sekitar dengan saksama, akhirnya ia menemukan sosok yang dicari. Seorang pria dengan jaket hitam bergambar kelinci di bagian belakangnya. Ya, itulah tanda yang dikatakan oleh pria yang akan ditemuinya. Walaupun Surya telah lama mengenal pria itu, tetapi mereka sempat terpisah selama satu tahun. Waktu yang tidak terlalu lama sebenarnya, tetapi karena sebuah insiden dan hidup yang cukup keras, si pria berjaket hitam mengatakan kepada Surya kemungkinan Surya tidak mengenalinya lagi saat mereka bertemu. Maka si pria memberi Surya tanda kelinci pada jaketnya.
Surya tersenyum kecil, lalu menghampiri si pria berjaket hitam dan menepuk pundak pria itu begitu jarak mereka sudah dekat. Si pria berjaket hitam terlonjak keget. Ia berbalik dan langsung melayangkan tinju ke wajah Surya.
"Sial. Ini aku!" Surya menyentuh hidungnya yang berdarah.
Alex nyengir. "Maafkan aku. Anggap saja sebagai salam pertemuan dari teman lama."
Ya, pria itu adalah Alex. Mantan kekasih Gisel yang dengan kejam Gisel habisi saat Gisel berusaha untuk menolong Gilang.
Surya meringis, lalu memindai penampilan Alex dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Apa yang terjadi padamu, Lex? Lihatlah, dirimu berubah drastis." Surya meninju pundak Alex sembari tertawa.
Alex memang terlihat berbeda kali ini. Pria yang dulunya memiliki wajah tampan, penampilan elegan dan tubuh kekar itu terlihat buruk rupa sekali. Wajahnya tirus, tubuhnya kurus dan penampilannya seperti seorang tuna wisma. Tidak ada kesan mewah pada diri Alex seperti yang dulu selalu terlihat.
Alex merapikan rambutnya yang tumbuh sepanjang leher dan terlihat kusut seperti tidak pernah dikeramas selama satu tahun lamanya.
"Aku terlihat seperti gembel, ya?" tanya Alex, lalu melanjutkan, "Jika bukan karena Gisela, aku tidak akan pernah menjadi seperti ini. Wanita sialan itu jahat sekali. Apa dia lupa kalau akulah yang paling berjasa di dalam hidupnya. Saat dia menjadi gembel, siapa yang memungutnya di jalan dan menampungnya. Berani sekali dia menembakku dan--"
Surya menutup mulut Alex dengan tangannya, untuk menghentikan ocehan pria itu. "Jaga bicaramu. Nanti kalau ada yang dengar bisa gawat."
Alex mengangguk, lalu mendorong surya menjauh. "Apa keselamatanmu sekarang sedang terancam?" tanya Alex.
Surya menggangguk. "Keluarga Andreas menyebar mata-mata di mana-mana. Mereka sedang mengejarku. Ayo masuk ke mobil, kita bicara di rumah."
"Mengejarmu?"
"Ya, mereka menangkap semua orang yang terlibat dalam kasus Gilang dan istrinya. Gisel dan salah satu temannya bahkan sudah ditahan, tetapi yang satu lagi meninggal dunia saat berusaha menolong Pelangi."
"Siapa?" Alex terlihat penasaran.
Surya terdiam sejenak, terlihat sedang memikirkan sesuatu, kemudian ia berkata. "Exel namanya. Ya, kalau aku tidak salah, namanya adalah Exel." Setelah nengatakan itu, Surya langsung berbalik dan berjalan dengan cepat menuju mobil.
Alex segera mengekor langkah Surya menuju sebuah minibus tua yang wana catnya sudah mulai memudar.
"Serius ini mobilmu?" Alex melotot, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Surya dengan sengit.
"Jelek sekali," komentar Alex.
"Masuk sajalah. Gembel jangan cerewet."
***
Suara denting garpu dan piring juga pisau roti beradu memenuhi ruang makan kediaman keluarga Andreas. Aroma roti panggang yang manis menggugah selera siapa pun yang menghirupnya.
Di atas meja makan tersaji beraneka ragam menu sarapan yang biasanya selalu dikonsumsi oleh penghuni rumah, seperti oat, roti, selai, dan asinan sayuran. Namun, kali ini ada menu yang berbeda. Terdapat menu baru berupa nasi, ayam goreng, telur goreng dan aneka tumisan. Semua menu baru itu diperuntukkan untuk Amara dan Delia yang memang sudah terbiasa mengkonsumsi nasi saat sarapan.
Farhan Andreas tersenyum riang. Wajah tuanya terlihat lebih bahagia daripada biasanya. Binar di kedua matanya yang bening dan sayu bagai berlian yang tertimpa sinar sang surya.
Farhan berdeham setelah mengunyah roti panggang dengan selai kacang kesukaannya, lalu berkata, "Aku ingin buat pengumuman. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya pada salah satu putraku. Apa ada sesuatu hal yang ingin kamu katakan dan bahas padaku, Nak? Andrew?"
Andrew yang baru saja menyeruput cokelat hangatnya langsung terbatuk. Farhan menyebut dirinya dengan sebutan 'Nak' adalah hal yang langka bahkan mendekati mustahil. Selama ini Farhan tidak pernah menyebutnya dengan sebutan seperti itu.
"Ayah bertanya padaku?" tanya Andrew, sembari menunjuk wajahnya sendiri.
Farhan mengangguk. "Memangnya ada berapa Andrew di sini. Hanya ada kamu, 'kan? Itu berarti aku sedang bertanya padamu."
"Oh, begitu." Andrew terlihat cuek seperti biasanya, lalu kembali sibuk dengan makanannya.
"Sst, Tuan Andrew. Jawab pertanyaan ayah Anda." Tito yang kebetulan berada di kediaman Farhan dan ikut sarapan di rumah itu menegur Andrew yang menurutnya tidak menghargai Farhan sama sekali.
Andrew mendongak sembari mengigiti roti panggangnya dengan santai. "Aku tidak biasa banyak bicara saat sedang makan. Ibuku bilang tidak baik makan sambil bicara."
Saat Tito terlihat ingin mendebat Andrew, Farhan mengangkat sebelah tangannya, melarang Tito untuk mngatakan satu patah kata pun. "Biarkan saja, aku akan menunggu dia selesai makan."
Semua yang ada di ruang makan terlihat takjub, karena Farhan bukanlah sosok yang terbiasa menunggu. Justru Farhanlah yang biasanya ditunggu oleh orang-orang. Andrew juga sedikit terkejut, tetapi dengan cepat ia menutupi rasa terkejutnya dan kembali sibuk dengan rotinya.
Delia yang melihat tingkah Andrew seketika mendengkus kesal. Ia iba melihat pria tua seperti Faarhan harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Andrew yang merupakan putranya sendiri.
"Makan sambil bicara memang tidak baik, tetapi bicaralah selagi masih ada waktu. Toh kamu tidak harus menyerocos seperti seorang penyiar radio kan," ujar Delia, sembari mendelik kesal ke arah Andrew.
"Memang tidak, tetapi tetap saja aku tidak mau bicara sampai roti dan cokelat panasku habis." Andrew menjawab sambil mengedipkan sebelah matanya ke Delia.
Gilang dan Toni yang mendengar ucapan Andrew, dengan kompak bangkit berdiri dari kursi mereka dan menghampiri Andrew, lalu menghabiskan sarapan Andrew. Dalam sekejap Toni telah menghabiskan cokelat hangat milik Andrew, sedangkan Gilang menghabiskan beberapa roti yang ada di atas piring Andrew. Hanya remahan yang tersisa sekarang. Setelah membersihkan piring dan gelas Andrew, Toni dan Gilang kembali ke kursi mereka masing-masing dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
"Cerdas sekali," komentar Pelangi, yang disambut anggukan kepala oleh Delia dan Amara.
Andrew menghela napas, kemudian mengangkat kedua tangannya. "Oke, aku menyerah," ujarnya.
Farhan berdeham kemudian kembali mengajukan pertanyaan yang sejak tadi tidak dijawab oleh Andrew. "Jadi, Nak, adakah yang ingin kamu katakan padaku? Misalnya sesuatu yang penting dan menyangkut masa depanmu?"
Andrew mengigit pipi bagian dalaamnya, lalu menegakan tubuhmya dan menatap Farhan lekat-lekat. "Tidak ada. Lagi pula, kenapa tiba-tiba Ayah peduli pada masa depanku. Bukankah selama ini aku dapat bertahan hidup saja sudah cukup bagus, 'kan? Untuk apa membingungkan masa depanku." Andrew seperti biasanya, selalu bereaksi dengan ketus saat berbicara pada sang ayah.
Farhan yang sudah terbiasa dengan sikap Andrew tidak terlalu ambil pusing pada ucapan Andrew. Ia kembali berucap, "Apa kamu tidak ingin membahas rencana pernikahanmu denganku?"
Andrew membeku, ekspresi angkuhnya seketika menghilang begitu ia mendengar pertanyaan Farhan. Pipinya terasa panas, ia mengedarkan pandangan dan berhenti saat kedua matanya bertatapan dengan mata Delia.
"Katakanlah sesuatu. Jangan merona seperti itu. Seperti bukan kamu saja." Komentar Gilang, saat melihat Andrew diam saja dan terlihat tidak percaya diri.
"Pernikahanku adalah urusanku, jadi--"
"Kamu benar-benar tidak bisa menghargai ayahmu, ya?" Delia memotong perkataan Andrew. Wanita itu terlihat kesal dan gemas sekaligus karena baru kali ini ia melihat hubungan antara anak dan orang tua yang tidak akur.
"Bukan begitu, hanya saja--"
"Hanya saja apa? Bersyukurlah karena kamu masih memiliki ayah yang peduli padamu. Lihatlah aku. Aku sungguh ingin menceritakan segalanya kepada seseorang yang dekat denganku secara emosional, tetapi aku tidak memiliki siapa pun yang bisa mendengarkanku." Delia menangis, entah kenapa ia sangat perasa belakangan ini. Sejak kematian Exel, Delia memang mudah sekali menangis.
Andrew merasa bersalah. Ia bangkit berdiri dan menghampiri Delia. Seperti mendapatkan perintah, semua orang yang ada di sana tiba-tiba bangkit berdiri dan keluar dari ruang makan, memberi ruang bagi Andrew untuk menenangkan Delia. Tidak terkecuali Farhan yang juga bangkit berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan dibantu oleh Tito.
"Datanglah ke ruanganku nanti, setelah calon pengantinmu tidak lagi menangis. Payah sekali kamu ini, menikah saja belum tetapi sudah membuatnya menangis." Farhan berkomentar sembari terkekeh.
Andrew melihat punggung Farhan bergerak menjauh. Baru sekaranglah ia sadar bahwa ayahnya sudah begitu tua. Ditambah dengan penyakit yang diderita Farhan selama beberapa tahun terakhir membuat pria gagah itu terlihat semakin renta.
Setelah tidak ada siapa pun lagi di ruangan itu, Andrew menarik kursi yang tadi diduduki Pelangi, kemudian ia menyentuh pergelangan tangan Delia.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, aku--"
"Aku tidak peduli tentang diriku. Aku sudah biasa disakiti. Tapi, melihat ayahmu yang kamu perlakukan seperti itu, entah kenapa aku tidak tega. Dia sudah tua, dia bahkan sakit, bukannya bersikap baik padanya, kamu malah bersikap bermusuhan. Apa kamu tidak kasihan padanya?"
Andrew menghela napas dengan berat. Ia tahu alasan kenapa Delia bersikap demikian. Besar di panti asuhan tanpa kasih sayang ayah dan ibu pastilah membuat Delia lebih menghormati Farhan sebagai orang tua.
"Hubungan ayahku dan aku tidak terlalu baik, Del. Apa aku pernah mengatakan padamu kalau aku dan Gilang berbeda ibu. Aku baru tahu tentang Ayahku dan juga saudara tiriku saat aku sudah beranjak remaja. Saat itu Ayah memaksaku untuk tinggal dengannya, padahal putra kesayangannya tidak menyukaiku sama sekali. Hidupku bagai di neraka. Terlalu banyak batasan yang ayah berikan antara aku dan dirinya, juga antara aku dan Gilang. Seperti yang kamu lihat, aku lebih mirip asisten pribadi ayah daripada putranya. Orang-orang di kantor pun tidak ada yang tahu kalau aku adalah putra kedua CEO mereka, kecuali Tito dan Toni."
Delia mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Andrew. "Yang sudah terjadi lupakan saja, Ndrew, bukankah semua orang memiliki kisah sedih dalam hidupnya. Mungkin ayahmu berlaku tidak adil padamu selama bertahun-tahun, tapi hati manusia siapa yang tahu. Bisa saja sekarang ini dia menyesal dan ingin memperbaiki hubungannya denganmu. Tidak ada yang tidak mungkin. Berbaikanlah dengannya. Buka hatimu agar hubungan kalian membaik. Katakan padanya kalau kamu akan menikahiku, buat dia merasa dibutuhkan dan disayangi di usia tuanya. Menyimpan dendam terlalu lama tidak akan merubah apa pun." Delia mendekatkan wajahnya pada Andrew, lalu mengecup kedua pipi pria itu.
Andrew tersenyum dan merangkul Delia. "Kamu bijak sekali. Kamu pasti akan menjadi Nyonya Andreas yang rendah hati. Aku akan mencoba untuk berbaikan dengan ayah. Aku akan ke ruangan ayah nanti dan membicarakan tentang pernikahan kita."
Delia mendongak agar dapat menatap wajah Gilang. "Nah, itu baru Andrewku."
***
Gilang dan Toni menyeberangi lobi dengan langkah cepat menuju elevator yang akan membawa mereka ke lantai atas.
Di dalam elevator, Toni membacakan jadwal Gilang pada hari ini. Ada beberapa rapat, dan pertemuan dengan klien yang harus ia lakukan, dan juga kunjungan kerja di beberapa hotel milik Andreas Group.
"Sebanyak itu?" tanya Gilang, sembari melonggarkan dasinya.
"Ya, sebanyak ini. Dan perlu kamu ketahui, Gil, aku tidak bisa menemanimu hingga jadwal terakhir, karena aku harus berkunjung ke kantor pusat setelah jam makan siang."
Ting.
Pintu Elevator terbuka. Gilang segera keluar dari dalam elevator dengan langkah cepat.
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Aku akan mengirimkan asisten padamu. Asisten ini hanya bekerja untuk sementara sampai aku menemukan asisten yang baru untukmu."
"Terserah sajalah, yang penting aku harus memilik asisten. Aku tidak mungkin meminta Tito untuk mendampingiku. Bisa-bisa dia mengomel," ujar Gilang, begitu ia tiba di dalam ruangan dan duduk di atas kursi kerjanya.
Toni yang sudah bekerja dengan Gilang selama bertahun-tahun segera menyalakan laptop Gilang dan memeriksa email yang masuk. Raut wajah Toni seketika berubah begitu melihat pesan yang masuk di email Gilang.
"Gil," ujar Toni
"Hem." Gilang hanya berdeham, karena sekarang ia sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen.
"Kemarilah dan lihat ini."
Bersambung.