OH MY BOSS

OH MY BOSS
PENGGEMAR RAHASIA



Pelangi terbangun setelah tubuhnya diguncang dengan begitu kasar oleh Alia. Ia menggeliat, lalu megucek kedua matanya yang masih ingin terpejam. Namun, rasa kantuknya seketika menghilang begitu dilihatnya Alia berdiri di tengah kamar sembari merapikan seragam kerja yang telah menempel di tubuh temannya itu.


"Memangnya sudah jam berapa sekarang?" tanya Pelangi, sembari bangkit dari tidurnya dengan terburu-buru. Rasanya ia baru saja tertidur, tetapi Alia malah sudah berseragam rapi.


"Sudah hampir jam delapan." Alia menjawab dengan singkat. Ia masih kesal pada Pelangi karena peristiwa semalam. Pelangi tidak pernah membentaknnya atau pun berucap kasar padanya, tetapi semalam Pelangi membentaknya dan memintanya untuk tidur di luar. Terang saja ia merasa sangat tersinggung dan sedikit sakit hati.


"Hah, jam delapan? kenapa tidak membangunkanku daritadi, Li?" Pelangi bergegas turun dari ranjang, lalu berlari keluar dari kamar menuju kamar mandi yang berada di ujung koridor. Sesampainya di dalam kamar mandi, Pelangi hanya menyikat gigi dan mencuci muka. Mana sempat ia mandi.


setelah berpakaian super kilat, Pelangi segera menyusul Alia yang ternyata telah pergi lebih dulu ke ruang penyimpanan. Namun, saat sedang dalam perjalanan menuju ruang penyimpanan, Handoko muncul di seberang koridor dan meneriakinya.


"Hai, kamu, kemarilah sebentar."


Pelangi menghentikan langkah dan segera menghampiri Handoko. Di dalam hati Pelangi mengeluh akan kemungkinan Handoko memarahinya karena ia terlambat.


"Semua ini karena si pria mesum itu!" batin Pelangi.


Ya, semalam memang Pelangi tidak bisa tertidur. Kehadiran pria asing di sampingnya sangat mengganggu. Bukannya karena pria itu berisik atau terus mengganggunya, bukan. Pria itu bahkan hampir tidak bersuara setelah mengucapkan selamat tidur untuknya.


Hanya saja kehadiran pria itu membawa efek yang tidak biasa pada dirinya, terutama tubuhnya yang merespon secara gila-gilaan. Ada dorongan liar di dalam diri Pelangi untuk merangkul pria itu, menenggelamkan wajah di dada bidang si pria dan merasakan detak jantung si pria yang terdengar seperti simfoni yang indah.


Pelangi juga sangat penasaran, bagaimana kehangatan tubuh pria itu, lengannya yang kekar yang terlihat di balik gulungan lengan kemeja yang digulung hingga siku membawa daya tarik tersendiri bagi Pelangi. Ia ingin meraskan lengan kekar itu menyentuhnya, memeluknya, dan membelainya hingga pagi.


Hal gila itulah yang memenuhi isi kepala Pelangi semalaman. Ia hanya berpura-pura tidur hingga si pria asing mengendap-endap pergi. Bahkan setelah si pria asing pergi pun ia masih tidak bisa tertidur. Tidak mengherankan jika pagi ini rasa kantuk masih mendominasi tubuhnya, membuatnya bangun terlambat dan terancam akan diomeli oleh pengawas pula.


"Ya, Pak, ada apa?" tanya Pelangi.


"Kamu bisakah bertugas di luar hari ini menggantikan Bu Lala. Dia tidak masuk kerja karena menantunya baru saja melahirkan."


Pelangi menghela napas karena lega, ternyata ia dipanggil oleh Handoko bukan untuk dimarahi. "Ya, Pak, tentu bisa. Tapi ngomong-ngomong Bu Lala itu bekerja di bagian apa, Pak? Saya orang baru jadinya tidak terlalu mengenal pekerja lainnya."


"Oh, begitu, pantas saja saya juga jarang melihatmu. Bu Lala itu bekerja di bagian kebun."


Pelangi mengangguk paham. Itu artinya sejak siang ini dirinya akan bekerja di luar, berurusan dengan lumut, tanaman rambat, semak, ranting kering dan tentu saja matahari. Bagi Pelangi pekerjaan itu lebih baik, dibandingkan membersihkan ruangan-ruangan yang suram dan gelap di lantai dua.


"Baik, Pak, saya akan segera ke bawah dan mengerjakan semua pekerjaan Bu Lala." Pelangi memberi hormat, lalu bersiap untuk berlari menuruni tangga menuju halaman depan. Namun, langkahnya lagi-lagi terhenti karena teriakan Handoko.


"Hai, mau ke mana kamu? Memutarlah lewat pintu samping, karena Pak CEO sedang memberi sambutan di halaman depan. Setelah kamu memutar, maka bergabunglah dengan barisan dan jangan berisik," teriak Handoko, mengarahkan Pelangi.


Pelangi mengangguk, lalu berbalik arah, menuju pintu samping seperti arahan dari Handoko.


Sesampainya di halaman samping, Pelangi segera menghampiri barisan para pekerja yang berdiri dengan begitu rapi di halaman depan. Ia berdiri tepat di samping Alia yang memasang wajah cemberut begitu melihatnya.


"Eh, ada apa, sih? Kok cemberut begitu," tanya Pelangi, penasaran.


Alia menaikan sebelah alisnya, dan memasang tampang sinis yang meyakinkan. Namun, bukannya menjadi takut atau segan, Pelangi malah tertawa dan mencubit kedua pipi Alia dengan gemas. Pelangi sudah sangat hafal dengan sifat Alia, temannya itu jarang sekali marah, hingga tampang sinisnya sama sekali tidak memengaruhi Pelangi.


"Ish, aku ini sedang kesal," desis Alia.


"Karena apa kalau boleh tahu?" tanya Pelangi.


Alia menghela napas, lalu menatap ke depan sejenak untuk memastikan bahwa keributan yang ia dan Pelabgi buat tidak sampai menarik perhatian sang CEO yang sedang berpidato di depan barisan.


"Semalam kamu membentakku dan memintaku untuk tidur di luar! Jahat sekali."


Pelangi mengeluh. "Ah, aku tidak ingat sama sekali, sepertinya aku mengigau, Li. Kamu kan tahu kalau aku ini mengalami gangguan otak. Terkadang sebagian dari masa laluku muncul di saat aku sedang tertidur. Bu Siti sering bilang kalau aku terkadang memang berbicara dalam tidur. Otakku memang payah sekali. Mana mungkin aku memintamu tidur di luar." Pelangi memberikan alasan yang masuk akal atas tindakannya semalam. Ia tahu semalam ia sudah keterlaluan karena meminta Alia untuk tidur di luar.


Semua gara-gara si pria mesum itu. Ancaman pria itu sungguh menbuatnya takut, hingga ia tidak bisa berpikir panjang dan memilih untuk membentak Alia demi menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang wanita.


Ekspresi keras di wajah Alia seketika melunak. Ia menepuk-nepuk pundak Pelangi, berusaha menyampaikan pada Pelangi bahwa ia tidak lagi marah dan semua yang Pelangi lakukan telah ia maklumi dan maafkan.


"Sorry, ya," ujar Pelangi.


***


Gilang melonggarkan dasinya sembari melangkah menuju balkon yang ada di kamarnya. Seharusnya siang ini setelah berpidato ia turun ke lapangan untuk memeriksa beberapa pekerjaan di bagian belakang hotel, termasuk pembangunan taman bermain di dekat kolam renang yang sudah tidak terpakai. Namun, cuaca yang begitu panas membuatnya enggan untuk melakukan pemeriksaan itu. Toh ia memiliki waktu selama satu bulan, tidak dilakukan hari ini, maka ia akan melakukannya besok.


Gilang memilih duduk di kursi yang terletak tepat di pinggir pagar. Dari atas sana ia dapat melihat seluruh halaman samping, termasuk para pekerja wanita yang sibuk memasukan rumput-rumput, ranting pohon, hingga sampah ke dalam sebuah gerobak besar dan mendorongnya menuju tempat pembuangan.


"Kasihan sekali mereka," gumam Gilang.


Sebelumnya, Gilang memang tidak pernah melihat seorang wanita melakukan pekerjaan kasar di bawah terik sinar matahari yang begitu menyengat.


"Raina, jangan gila!"


Suara teriakan yang diiringi oleh gelak tawa itu menarik perhatian Gilang. Ia pun lantas mengedarkan pandangan, mencari sumber suara dan juga sosok Raina yang mungkin saja adalah Raina yang sama dengan Raina yang tidur di sampingnya semalam.


"Raina!"


Hahahahaha ....


Mata Gilang menangkapnya.


Raina. Wanita itu sedang menari di atas rerumputan kering dengan melingkarkan tanaman rambat di lehernya. Ia berputar dan berjinjit layaknya seorang balerina. Lalu meliuk bagaikan penari india. Sementara Raina menari, rekan-rekan kerjanya tertawa sembari bertepuk tangan. Beberapa bahkan ada yang ikut menari.


Melihat hal itu, Gilang tidak mau membuang kesempatan. Ia segera meraih ponselnya dan merekam semua kejadian seru di bawah sana hingga wanita itu merebahkan tubuh di atas rerumputan kering karena lelah.


Gilang yang baru saja berhenti merekam, segera mengirim pesan suara melalui whatsapp ke nomor Handoko. "Aku pesan lima puluh kaleng minuman dingin dan juga camilan dalam jumlah banyak. Berikan semua pesananku itu pada pekerja bagian kebun di halaman samping. Katakan saja, semua itu untuk Raina, dan jangan katakan kalau aku yang memesan semuanya."


Gilang menekan tombol send, lalu kembali memperhatikan Raina dari atas balkon. Wanita itu sekarang sedang sibuk memijat pundak seorang wanita lain sesama pekerja


"Raina, Raina, kenapa kehadiranmu begitu mengganggu?" gumam Gilang.


Handoko tergopoh-gopoh menuruni tangga menuju aula hotel begitu seorang kurir pengantar makanan datang dan menghubunginya.


"Ah, kalian sudah datang. Cepat bawa semua makanan itu ke halaman samping dan katakan kalau semua itu untuk Raina. Jangan bilang padanya kalau aku yang pesan semua ini. Kalau dia tanya, bilang saja tidak tahu, oke," perintah Handoko.


Kedua pengantar makanan hanya mengangguk dan segera keluar dari aula hotel menuju halaman samping.


"Pesan antar atas nama Nona Raina!" teriak si pengantar makanan begitu mereka telah tiba di halaman samping.


Pelangi yang sedang asyik memijati punggung Bu Nani yang sejak tadi mengeluhkan sakit punggung segera bangkit berdiri. "Saya Raina," ujarnya dengan bingung.


"Pesanan Anda, Nona, silakan terima dan tanda tangan di sini." Si pengantar makanan menyodorkan selembar kertas tanda terima, sementara si pengantar makanan satunya lagi meletakan makanan dan minuman di atas rerumputan kering.


"Saya tidak pernah memesan apa pun. Apalagi makanan dalam jumlah besar," ujar Pelangi, sembari menatap dua bungkusan besar yang sekarang tergeletak di atas rerumputan.


"Tapi pesanan ini dibuat atas nama Anda dan sudah dilunasi. Anda tinggal menerima saja, Nona."


"Terima saja, Nak Raina. Ini isinya minuman dingin, ada roti enak juga. Kalau kamu terima, kami bisa minta dong!" seru salah seorang pekerja yang sudah membongkar dua bungkusan besar itu.


Karena sudah terlanjur dibuka dan beberapa pekerja sudah mulai mengambil makanan dan minuman itu, mau tidak mau Pelangi pun menandatangani tanda terima. "Ngomong-ngomong dari siapa semua ini?" tanyanya.


"Tidak tahu, Nona. Mungkin penggemar rahasia Anda," jawab si pengantar makanan sambil terkekeh, lalu pamit undur diri.


Pelangi mengedarkan pandangan ke segala arah begitu si pengantar makanan pergi. Ia berusaha mencari siapa saja yang bisa dicurigainya sebagai pengirim makanan-makanan itu. Dan saat ia mendongak, ia melihat Gilang, pria misterius yang tidur dengannya semalam. Pria itu berdiri di balkon, bersandar pada pagar pembatas sambil melambaikan tangan ke arahnya, dan detik berikutnya Gilang memeragakan tarian balet yang beberapa waktu lalu Pelangi lakukan.


Seketika pipi Pelangi merona dan terasa panas. "Ya, Tuhan, sejak kapan dia di situ?" gumam Pelangi, sambil menutup wajah dengan kedua tangan karena malu.


bersambung ....