OH MY BOSS

OH MY BOSS
KECEWA



Terlepas dari insiden si bos yang mengenakan piyama doraemon sepanjang jalan dengan kaki telanjang, dan berakhir dengan mengalahnya Nena kemudian diantarkan pulang oleh pria itu. Kini sudah beberapa hari berselang. Tampaknya si bos sudah tidak lagi menyinggung tentang perasaan, saat mereka diserang kesibukan menjelang akhir pekan.


Atasannya itu sangat profesional menurut Nena, tanpa ia tahu bahkan pria itu telah menyusun rencana sedemikian rupa, termasuk memaju mundurkan janji temu bersama kliennya asal bisa makan siang dengan assistantnya itu. Apa itu yang disebut profesional? dan sayangnya Nena tidak pernah tahu.


Hari ini tepat dua minggu batas waktu yang Nena berikan pada Bimo, namun gadis itu masih sangat dilema, sebelum ia tahu perasaan Justin, hatinya sudah mantap untuk sendiri dulu, karena nyatanya Bimo sama sekali belum bisa membuat jantungnya berdebar kencang. Atau mungkin hal itu dikarenakan Nena sudah terjerat pesona Justin sejak lama? Yang jelas gadis itu takut, jika menolak Bimo itu artinya dia ingin memberi kesempatan pada Justin, bisa-bisa bosnya itu besar kepala, tapi jika ia terima, belum tersangkut nama Bimo di hatinya, Nena benar-benar merasa putus asa. Dia harus bagaimana.


"Ini berkas yang bapak minta, saya duluan yah, Pak." Nena meletakan map berwarna biru di atas meja kerja Justin, pria itu mendongak, meletakan pena yang selesai ia gunakan pada tempatnya.


"Mau pulang bareng saya?" tawar Justin, Nena menggeleng.


"Saya ada janji, Pak," tolak Nena hati-hati.


Justin beranjak dari kursi kebesarannya, tangannya bertumpu di atas meja. "Menemui Bimo?" tebaknya.


Nena terkesiap, bahkan bosnya itu masih ingat dengan kesempatan dua minggu itu, dia diam saja.


"Kamu mau terima atau menolaknya?" tanya Justin. Nena menoleh.


"Bukan urusan bapak." Jawabnya berani, pandangannya ia arahkan ke tempat lain, terlalu extrim memandang wajah si bos lama-lama, jantungnya selalu nyaris lepas dari tempatnya.


"Akan jadi urusan saya jika kamu menolak pria itu, karena saya tidak akan melepaskan kamu." Tutur Justin yang diartikan sebuah ancaman oleh Nena, gadis itu mundur satu langkah, matanya mengerjap panik.


"Kalo gitu saya akan terima Mas Bimo sebagai pacar saya," ancam Nena.


Justin menghembuskan napas, tatapannya tajam mengarah pada Nena, "Jangan karena menghindari saya, kamu menerima dia, dia akan terluka."Justin berkata dengan begitu lembut, hati Nena merasa terenyuh.


"Nanti saya antar, menemui calon pacar kamu." Nena mendongak, Justin sudah berdiri di hadapannya. Tatapannya sulit diartikan.


"Tidak perlu, Pak Justin. Saya bisa sendiri." Tolak Nena halus, namun tampaknya pria di hadapannya itu enggan menyerah.


"Saya hanya akan mengantar, selepas itu pergi. Jangan khawatir, saya tidak akan mengacaukan kencan kalian."


Mendengar kalimat itu, hati Nena merasa disobek-sobek. Setegar itu kah? Mungkin benar jika Justin tidak akan mengacaukan acaran kedua sejoli itu, tapi Nena tidak bisa yakin pada perasaannya sendiri, bisa saja malah dia yang akan mengacaukan semuanya.


"Tolong, Pak. Untuk kali ini, biarkan saya menentukan kemauan saya sendiri. Dan saya mau bapak tidak usah mengantar saya kemanapun hari ini, termasuk menemui Mas Bimo."


Bahu Justin merosot, namun pria itu tampak mengangguk lemah, dan persis saat Nena menerima panggilan telepon entah dari siapa, Justin berbalik ke mejanya, langkahnya terhenti saat terdengar benda jatuh, ia menoleh, dilihatnya gadis yang sempat berdebat dengannya itu terduduk lemas di lantai.


Justin berlutut di hadapan Nena, gadis itu tampak bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. "Ada apa Serena?" Tanyanya.


Nena menoleh dengan tatapan kalut, membuat Justin begitu takut. "Ayah saya, Pak."


***


Lebih dari tiga jam Bimo menunggu kedatangan Nena, duduk sendiri di sebuah cafe yang mereka janjikan, pria itu mengenakan celana jeans dan kemeja lengan pendek berwarna coklat, begitu tampan dan sangat sayang jika dianggurkan, beberapa gadis muda mencoba menyapa dan hanya dibalas anggukan dan senyum sopan pria yang memandang sekuntum bunga ditangan yang mulai layu. Pujaannya belum juga datang.


Seolah ikut menertawakan kepiluan hatinya, lagu melow milik BCL yang berjudul kecewa dibawakan dengan begitu merdu mendayu-dayu merasuk hatinya. Bimo menghela napas berat, lirik lagu itu begitu pas dengan perasaannya saat ini.


Sedikit waktu yang kau miliki


Harap secepatnya datangi aku


S'kali ini kumohon padamu


Ada yang ingin kusampaikan


Sempatkanlah...


Bimo melengos, diliriknya jus mangga yang sudah gelas kedua, pesanannya setengah jam yang lalu itu nyaris tandas. Dia memanggil pelayan untuk memperpanjang durasi menunggu pujaannya itu, satu gelas kopi espresso menjadi pilihan. Pahit memang, namun tidak sepahit kisah cintanya kali ini.


Hampa kesal dan amarah


S'luruhnya ada di benakku


Tandai seketika


Hati yang tak terbalas


Oleh cintamu...


Kuingin marah, melampiaskan


Tapi kuhanyalah sendiri di sini


Ingin kutunjukan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku kecewa...


Lagu melow yang semakin merasuk kedalam kalbu itu, mulai ia nikmati dalam diam, secangkir espresso yang beberapa menit lalu diantarkan pelayan dengan senyum yang kontras dengan rasa kopi itu masih saja tidak bisa membuat perasaannya kian membaik. Dihubunginya gadis itu sekali lagi. Tidak aktif, pria yang mulai goyah akan penantiannya itu melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.


Sedetik menunggumu di sini


Seperti seharian


Berkali kulihat jam di tangan


Demi membunuh waktu


Tak kulihat tanda kehadiranmu


Yang semakin meyakiniku


Kau tak datang...


Bimo menoleh pada kelompok penyanyi cafe, vokalis perempuan tampak cantik dengan gaun hitam dan melambaikan tangan kearahnya, namun bukan hal itu yang menarik perhatian Bimo. Bait lagu terakhir yang mereka lantunkan seolah menerangkan pada pria itu, bahwa calon kekasihnya itu tidak akan pernah menemui dirinya saat ini, Bimo pun memutuskan untuk pulang, memanggil pelayan untuk membayar.


Pria itu membuka dompet dan tertegun melihat foto yang ia sisipkan di dalamnya, dan menatap foto itu membuatnya merasa seperti seorang pria yang tidak berguna.


***