OH MY BOSS

OH MY BOSS
SUSTER GENIT



Senyum di bibir Gilang seketika menghilang saat dilihatnya Suster An memasuki ruangan sembari membawa rantang tiga susun berwarna merah muda. Gilang pun terlihat bingung akan kedatangan suster itu yang tidak memiliki urusan di kantornya. Karena Suster An hanya berurusan dengan Farhan yang dirawatnya.


"Selamat siang, Pak," ujar Suster An, senyum mengembang di bibirnya yang berwarna peach dan mengilat karena lip gloss.


Gilang mengangguk, tetapi tidak menjawab sapaan yang terlontar dari bibir Suster An. Gilang kembali sibuk dengan tumpukan dokumen di hadapannya dan tidak terlalu memedulikan kehadiran Suster An.


Merasa dirinya tidak dihiraukan, Suster An langsung menghampiri Gilang dan meletakkan rantang berwarna merah muda yang ia pegang di atas meja Gilang, setelah sebelumnya ia menyingkirkan beberapa Dokumen yang berantakan.


"Aku membawakan makan siang untuk Anda, Pak, karena aku tahu tadi pagi Anda kesiangan. Anda tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke kantor. Jadi aku memasak makanan ini untuk Anda." Suster Anneth berkata degan penuh percaya diri.


"Siapa yang suruh?" tanya Gilang, tanpa memandang Suster An.


"Tidak ada, Pak. Ini semua inisiatif saya sendiri." Suster An menjawab dengan malu-malu. Ia yakin sekali bahwa Gilang akan senang pada perhatian yang ia berikan, apalagi saat di rumah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Gilang dan istrinya selalu ribut bagaikan Tom dan Jerry. Maka sedikit perhatian dari wanita lain pastilah akan membuat Gilang klepek-klepek.


Di saat itulah Amara datang untuk mengerjakan tugasnya seperti biasa, menyemprot kaktus-kaktus milik Gilang yang berjejer di sepanjang jendela. Amara sangat terkejut saat melihat Suster An berdiri di depan meja Gilang sambil tersenyum genit. Pakaian yang dikenakan Suster An pun sangat tidak pantas menurut Amara, rok pendek dan kemeja yang super ketat dengan beberapa kancing yang dibiarkan terbuka.


Amara mengepalkan tangannya karena marah. Akhirnya ia tahu alasan kenapa Gilang menjadi berubah pada Pelangi, ternyata Gilang sedang bermain api dengan suster genit itu. Itulah yang Amara pikirkan.


Tanpa pikir panjang, Amara segera melangkah menuju jendela, saat melewati Suster An, Amara dengan sengaja menabrak tubuh wanita itu hingga wanita itu terjatuh dan membuat beberapa dokumen yang ada di atas meja Gilang berantakan.


"Punya mata tidak, sih?" pekik Suster An, yang masih terduduk di lantai.


"Aku tidak sengaja," ujar Amara, dengan santainya. Ia lalu melanjutkan aktifitasnya sembari menajamkan pendengaran, ia penasaran apa yang diobrolkan Gilang dengan Suster An saat tidak ada Pelangi seperti sekarang ini.


"Makanlah, Pak, aku sudah sudah payah membuatnya untuk Anda." Suster An berkata saat ia telah berhasil berdiri.


"Aku tidak lapar. Lagi pula, tidak seharusnya kamu membawakanku makanan. Aku tidak memintanya, 'kan? Tugasmu hanyalah merawat ayah, jika kamu sibuk memasak kemudian mengantarkan makanan ini ke sini, lalu siapa yang merawat ayah?"


"Ada Pelangi, 'kan. Sesekali menantu harus merawat mertua." Suster An menjawab dengan santainya tapa rasa tidak enak sedikit pun. Hal itu membuat Gilang geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa ada wanita yang tidak punya harga diri seperti Suster An.


Bukan kali ini saja Suster An bertindak semaunya dan terang-terangan ingin mendekati Gilang. Namun, Gilang selalu berusaha menjaga jarak. Gilang tidak ingin ada rumor buruk yang beredar, yang menyangkut pautkan dirinya dan juga Suster An.


Gilang menghela napas, kemudian menatap Suster An degan malas. "Pelangi sedang dalam masa pemulihan. Dan dia juga sedang mengandung. Jika ayahku mau merepotkan Pelangi, sudah sejak beberapa hari lalu dia memintamu kembali ke rumah sakit dan membiarkan Pelangi merawatnya. Tapi, hal itu tidak ayahku lakukan, karena dia tidak ingin Pelangi kerepotan dan lelah menjaganya. Jadi, kusarankan padamu sekarang, kembalilah ke rumah dan jalankan kewajibanmu yang seharusnya."


Suster An cemberut. "Lalu makanannya bagaimana, Pak? Aku kan hanya khawatir pada Anda, aku takut Anda tidak diurus dengan baik oleh istri Anda."


Gilang memutar bola matanya. "Aku baik-baik saja, oke, tidak usah mengkhawatirkan aku, karena istriku mengurusku dengan baik. Dan untuk makananmu ini pasti akan habis termakan." Gilang kemudian menatap punggung Amara dan meneriaki gadis itu. "Amara, kemari sebentar!"


Amara berbalik. "Ya, Pak, ada apa?" tanyanya, saat telah tiba di hadapan Gilang.


"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Gilang.


Amara menggeleng.


"Makanlah. Aku tidak lapar." Gilang melirik rantang berwarna merah muda yang ada di hadapannya dan meminta Amara untuk mengambil rantang itu.


Suster An yang merasa tidak terima, segera meraih rantang itu dari atas meja sebelum Amara yang terlebih dulu mengambil rantangnya. "Aku memberikannya untuk Anda, Pak. Kenapa bisa Anda berikan pada orang lain?"


"Kata siapa Amara adalah orang lain. Amara sahabat istriku, dia bukan orang lain. Lagi pula, makanan itu telah menjadi milikku, mau aku berikan pada siapa pun itu terserah padaku."


Amara mengangguk. "Ya, Suster An, camkan itu, aku bukan orang lain." Amara merampas rantang dari pelukan Suster An, lalu kembali berkata, "Datanglah lagi besok jika kamu begitu gabut sampai-sampai menyempatkan diri untuk masak. Dan jika kamu sudah sampai di kantor, langsung saja antar rantang ini ke ruang penyimpanan di lantai satu. Aku akan ada di sana saat jam makan siang. Terima kasih, Suster An." Amara terkikik geli sambil melambai ke arah Suster An, sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan dengan senyum riang. Ia puas, karena ternyata Gilang tidak bermain api dengan Suster ngesot itu. Suster itu saja yang keganjenan dan tidak tahu diri.


Sementara itu, Gilang setengah mati menahan tawanya agar tidak meledak. Ternyata Amara dan Pelangi memiliki sifat yang sama. Keduanya sama-sama periang dan sama-sama menyebalkan. Tidak heran jika keduanya telah bersahabat selama bertahun-tahun.


***


Amara mengetuk pintu ruangan Toni saat jam istirahat dimulai. Ia membawa rantang milik Suster An yang beberapa waktu lalu Gilang berikan padanya. Setelah dipikirkannya lagi, memakan makanan buatan Suster An sama saja dengan mengkhianati Pelangi.


"Masuklah." Suara Toni terdengar dari dalam ruangan.


Amara segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan asisten direktur itu.


"Hai, Amara," sapa Toni.


"Hai juga, Pak? Apa Anda sudah makan siang?"


Amara memindai ruangan Toni, memang benar jika Toni mengatakan pekerjaannya sangat banyak. Amara dapat melihat dua laptop menyala sekaligus di atas meja Toni, belum lagi kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya. Semua itu membenarkan ucapan Toni bahwa ia memang sedang sibuk.


Amara duduk di sofa tamu yang ada di tengah ruangan, lalu meletakan rantang di atas meja. "Aku membawakan Anda maka siang. Anda pasti tidak akan sempat makan di luar."


Toni melihat sebuah rantang yang ada di atas meja, lalu beralih memandang Amara. "So sweet sekali. Apa kamu mulai naksir padaku, sehingga repot-repot membawakanku makan siang?"


Amara tergelak. "Astaga, Pak, jangan kepedean. Rantang ini kudapat dari Pak Gilang."


Toni menaikan sebelah alisnya. "Gilang. Maksudmu, Gilang memintamu untuk memberikanku makan siang? Itu berarti dia sudah tidak marah lagi padaku." Kedua mata Toni berbinar. Ia merasa sangat senang jika benar Gilang tidak lagi marah padanya dan telah memaafkannya.


Amara menggeleng, dan ekspresi riang di waja Toni seketika menghilang. "Buka begitu, Pak. Pak Gilang sama sekali tidak memintaku untuk memberikan makanan ini kepada Anda. Aku hanya tidak ingin menghabiskan makanan ini, karena makanan ini datangnya dari si nenek lampir."


"Nenek lampir siapa maksudmu?" Toni terlihat bingung.


"Siapa lagi kalau bukan suster genit itu. Suster itu datang kemari dan memberikan Pak Gilang makan siang. Apa dia itu gila, kenapa coba dia mendekati Gilang yang sudah beristri? Apa di dunia ini sudah kehabisan stok pria." Amara menggebrak meja di hadapannya dengan kesal, membuat Toni terkejut.


"Jadi dia berusaha mendekati Gilang?" tanya Toni setelah beberapa saat.


"Ya, dia sedang pedekate. Dasar pelakor."


Toni bangkit berdiri dan menghampiri Amara, lalu duduk di sofa tunggal yang ada di hadapan Amara. "Coba kita lihat, apa yang wanita itu bawa." Toni membuka rantang dengan perlahan. Aroma lezat seketika menguar saat tutup rantang mulai terbuka satu per satu, memperlihatkan menu istimewa yang terlihat menggiurkan. "Sepertinya enak. Serius kamu tidak mau?" Toni bertanya pada Amara.


"Tidak, Pak, habiskan saja."


Toni segera mengambil sendok yang telah disediakan di dalam rantang, lalu menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri potongan demi potongan daging lada hitam dan kentang, lalu capcay dan telur dadar. Toni terlihat serius sekali menyantap makanannya, sampai-sampai melupakan kehadiran Amara di depannya.


"Apa seenak itu?" tanya Amara, saat melihat Toni makan dengan lahap.


Toni mengangguk dan mengacungkan jempol. "Dia calon istri yang sempurna. Siapa pun yang menikah degannya nanti, pasti akan sangat beruntung."


Mendengar komentar Toni, entah kenapa perasaan Amara menjadi tidak enak. Ia bangkit berdiri dan berlalu pergi dari hadapan Toni tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.


Melihat kepergian Amara yang tiba-tiba, Toni pun berteriak. "Hai, Amara, mau ke mana? Setidaknya ambilkan aku minum dulu?"


"Telan saja rantangnya." Amara balas berteriak, kemudian menghilang dari hadapan Toni


***


Roda berputar, terkadang ada bagian yang di atas, lalu ada bagian yang di bawah. Saat perputaran pada roda terjadi, keadaan akan berbalik. Membuat yang di atas menempati posisi di bawah, begitu pula sebaliknya.


Hal itulah yang terjadi pada Gisel. Setelah hampir satu bulan hidup dalam pelarian bersama degan Atika, ia pun merasa muak. Tidak pernah ia merasakan hidup sesulit sekarang ini, apalagi sebelumnya ia hidup dalam kemewahan yang Gilang berikan, sehingga hidup dalam kemelaratan membuatnya frustrasi dan ingin gila.


Malam ketika Gisel berhasil mengacaukan pikiran Gilang, di malam itu jugalah ia memutuskan untuk melarikan diri. Gisel terlalu takut jika Gilang kembali datang dengan membawa polisi, atau bisa saja Gilang kembali dan mencoba untuk membunuhnya. Siapa yang tahu, 'kan?"


Saat sedang dalam perjalanan menuju basement, ia bertabrakan dengan Atika yang juga terlihat ketakutan dan wajahnya pucat. Ternyata Atika sengaja datang padanya untuk meminta perlindungan. Awalnya Gisel menolak, tapi jika dirinya tidak membawa Atika sekalian, lalu siapa yang akan menjadi babunya. Maka, dengan sangat berat hati ia mengizinkan Atika untuk ikut.


Saat akan melarikan diri, Gisel memenuhi ranselnya dengan uang dan perhiasannya yang berharga. Dengan begitu ia tidak akan hidup dalam kesulitan. Namun, karena kecerobohannya, ranselnya ditarik oleh segerombolan pencopet dan dibawa kabur begitu saja.


Sekarang, sudah hampir satu bulan ia dan Atika terluntang-lantung di jalanan sebuah pedesaan yang jaraknya lumyan jauh dari kota, hanya tersisa mobil sedan mewahnya yang juga tidak bisa menyala karena kehabisan bahan bakar.


"Kita jual saja mobil ini, Nyoya, untuk menyambung hidup. Bagaimana?" Atika memberi saran. Saat ini keduanya tengah berada di tepi jalan dalam keadaan kedinginan dan kelaparan.


Gisel melotot begitu mendengar ucapan Atika. "Enak saja kamu berkata seperti itu. Seharusnya Kamulah yang mencari cara agar kita bisa bertahan hidup. Bukannya memintaku menjual mobilku. Gila kamu."


Atika menghela napas. "Mau bagaimana lagi, Nyonya. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk sekarang ini. Aku sebenarnya bisa saja melamar pekerjaan, tapi bagaimana kalau aku tertangkap. Kita tidak tahu sejauh mana tindakan yang akan diambil Pak Gilang dalam mencari keberadaan kita berdua. Bisa saja dia telah menyebar selebaran yang isinya adalah foto kita berdua. Kan bisa gawat jadinya."


Gisel tidak terlalu mendengarkan ucapan Atika. Ia sibuk dengan ponselnya, berusaha mencari keberadaan Exel atau Alex lewat media sosial. Sekarang ini hanya Exel dan Alex harapannya. Jika ia dapat menemukan salah satu dari mereka, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkannya lagi.


"Nyonya, bagaimana saranku? Kita jual saja mobil Anda ini dan belilah mobil yang murah."


"Aaah, diamlah kamu Atika! Aku sedang mencari cara agar kita bisa kembali ke kota. Semua ini gara-gara si Pelangi itu. Seandainya dia tidak hadir di dalam hidupku dan hidup Gilang, kami berdua tidak akan terpisah, dan aku tidak perlu hidup susah seperti ini. Sialan si Pelangi itu. Lihat saja, setelah aku kembali, akan kuberi pelajaran dia."


Bersambung ....