
Enam bulan lalu.
Gunawan Adiguna mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamarnya. Sudah satu jam berlalu semenjak kepergian sang putra yang mengendap-ngendap dan berhasil meloloskan diri melalui jendela kamar yang tidak terkunci. Putranya, Arya Saputra Adiguna memang selalu bertingkah aneh semenjak kematian sang kekasih enam bulan lalu tepat di hari pernikahan mereka, dan tingkah anehnya itu membuat Gunawan ngeri bahkan sampai di tingkat yang menakutkan. Gunawan seolah tidak dapat mengenali putranya lagi semenjak hari nahas itu.
Gunawan terperanjat saat ponselnya berdering. Ia yang sejak tadi berdiri dengan gelisah di hadapan jendela kamar, segera melangkah menuju meja kerja yang terletak di tengah kamar, lalu meraih ponsel pintar miliknya dari atas meja, dan menerima panggilan yang berasal dari Maulana.
"Ya, Lana, bagaimana? kamu menemukannya?" tanya Gunawan dengan cemas.
Detik berikutnya wajah Gunawan menegang saat mendengar penjelasan Maulana dari seberang panggilan. Tangannya gemetar dan air wajahnya seketika menjadi khawatir dan rona di wajahnya menghilang, kini wajah pria tua yang berwibawa itu terlihat sepucat mayat.
"Selesaikan untukku. Jangan sampai ada jejak, dan amankan Arya. Pastikan tidak ada CCTV yang merekam dan pastikan pula tidak ada satu orang pun saksi yang melihat kejadian. Lakukan segera!" Gunawan membentak Maulana dengan suara yang ia buat sepelan mungkin agar tidak ada yang mendengar, bahkan dinding kamarnya pun seolah sebuah ancaman baginya saat ini.
***
Arya terbangun saat merasakan sengat sinar matahari yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar dan sinar panas itu langsung jatuh di atas wajahnya.
Arya membuka mata sedikit demi sedikit karena silau, lalu seketika kemarahan memenuhi dadanya saat dilihatnya tangan dan kakinya yang terikat pada tiang-tiang ranjang. Ia mengeluh dan memutar bola matanya dengan malas.
"Lepaskan aku!" bentaknya, pada seorang perawat berambut panjang yang tak lain dan tak bukan adalah Suster Anneth.
Suster An tetap tenang meskipun di hadapannya seorang pria bertubuh kekar sedang menatapnya dengan tajam. Wajah pria itu penuh dengan amarah, jelas sekali ia tersinggung dan tidak diragukan lagi jika pria itu ingin sekali menguliti Suster An yang menurutnya telah menginjak-nginjak harga dirinya karena telah berani mengikatnya seolah dirinya adalah binatang.
"Anda akan dilepaskan jika Anda bersikap lebih tenang," ujar Suster An.
"Sial! Siapa yang menyuruhmu melakukan ini semua padaku. Sudah aku bilang kalau aku tidak gila."
Suster An mengangkat kedua bahunya. Terlihat cuek pada amarah Arya, ia malah sibuk dengan ponselnya. "Entahlah, Tuan muda. Jika Anda ingin protes maka lakukan saja dengan dokter atau ayah Anda. Aku hanya perawat di sini. Aku tidak ikut campur selain menuruti perintah ini dan itu dari Dokter dan juga ayah Anda."
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan sosok tinggi dengan wajah masam juga tegas memasuki kamar dan melempar sedikit senyum pada Arya. Ia adalah Dokter Zayan, dokter kejiwaan yang selama setahun ini menangani segala tingkah abnormal Arya.
"Selamat pagi, Arya, bagaimana perasaanmu pagi ini?" tanya Dokter Zayan, sembari menarik sebuah kursi dan memosisikan kursi itu tepat di sebelah ranjang Arya.
"Bagaimana menurut Anda, Dok? Aku bangun dalam keadaan terikat. Memangnya apa lagi yang bisa kurasakan selain kesal. Lagi pula, apa sih yang sudah kulakukan, hingga kalian semua mengikatku seperti ini? Aku toh tidak mengamuk di jalan!"
"Kamu hampir saja mencelakai orang. Apa kamu tidak ingat," tanya Dokter Zayan.
"Tidak, aku tidak melakukannya. Aku tidak berniat untuk menghampiri Pelangi dan juga suaminya si Gilang itu. Aku tidak berniat untuk menghabisi nyawa mereka. Tidak sama sekali." Napas Arya terengah-engah setelah ia berteriak dan mengungkap semua niat di dalam hatinya secara tidak sengaja.
"Nah. Kurasa baru saja kamu mengatakannya. " Dokter Zayan mencatat di ponsel pintarnya. Sementara Suster An begitu terkejut saat mendengar apa yang baru saja Arya katakan.
Pelangi dan Gilang, nama itu jelas keluar dari bibir Arya. Beribu tanya seketika menumpuk di dalam kepala Suster An, apakah Pelangi dan Gilang yang Arya maksud adalah Pelangi dan Gilang yang ia kenal? Apa kiranya yang sedang terjadi. Kenapa bisa Pelangi dan Gilang terlibat masalah dengan orang gila yang berbahaya macam Arya?
"Aku akan memberitahu Pelangi nanti," batin Suster An.
***
Alex mengguncang tubuh Surya dengan kuat yang masih meringkuk di balik selimut. Sehingga Surya mengeluh dan bangkit dengan enggan. Pria bercambang tipis itu seketika memelototi Alex yang mengganggu tidurnya, padahal semalam saja ia tidak bisa tidur hingga hampir pagi, karena terlalu sibuk memikirkan nasib malang yang menimpanya.
"Apa yang kamu lakukan, hah? Aku masih mengantuk. Berhentilah menggangguku." Surya mendorong tubuh Alex dari hadapannya, hingga tubuh Alex terjatuh dari atas ranjang dan menghantam lantai dingin di bawahnya dengan keras.
"Ck, bangunlah sebentar. Ada yang ingin kutanyakan padamu, setelah itu kamu tidurlah lagi sampai kiamat pun tak masalah." Alex bangkit berdiri dan menarik selimut yang kembali menyelubungi tubuh Surya.
"Apa, hah, apa?!" teriak Surya yang sudah kembali duduk di atas ranjang dan melempar selimutnya ke sudut ranjang dengan kesal.
Alex segera duduk di hadapan Surya dan bertanya. "Kamu memiliki banyak kenalan di dunia bisnis, 'kan? Apakah kamu mengenal pria ini? Kalau tidak salah namanya adalah Arya." Alex memperlihatkan sebuah potret di ponselnya yang berhasil ia ambil diam-diam saat Arya tidak melihat di kafe tadi siang.
Surya meraih ponsel Alex dan menatap seseorang yang terlihat pada layar ponsel Alex. "Ya, dia putra tunggal keluarga Adiguna. Arya Saputra Adiguna. Aku beberapa kali berbisnis dengannya dulu sekali. Pria muda yang baik hati dan sederhana. Kenapa memangnya?"
"Bagaimana hubungannya dengan Gilang. Apakah mereka berteman atau bagaimana?" Alex kembali bertanya, tidak memedulikan pertanyaan dari Surya.
"Setahuku mereka tidak berteman. Tetapi Farhan dan Gunawan Adiguna merupakan teman lama, meski tidak terlalu dekat kurasa. Arya banyak menghabiskan waktu di Belanda, karena ayahnya memiliki beberapa hotel di sana. Dia jarang sekali berkunjung ke Indonesia. Ada apa, sih?" Surya terlihat penasaran sekarang.
Alex mengelus cabang tipisnya yang juga mulai tumbuh karena tidak pernah dicukur. "Aku melihat si Arya ini sedang ribut dengan Andrew di sebuah kafe. Aku tidak tahu mereka meributkan apa. Tapi jika aku bisa mencari tahu, aku yakin bisa mengambil keuntungan dari keributan anak-anak orang kaya ini. Aku bisa memeras mereka dan akhirnya aku bisa hidup dengan layak seperti dulu lagi."
Surya tertawa sinis. "Ya, hal itu bisa terjadi jika Andrew dan Gilang begitu bodoh dan membiarkanmu untuk hidup bebas di luaran. Asal kamu tahu saja, Lex, jika salah satu dari squad Andreas ini ada yang melihatmu, maka tamatlah riwayatmu. Mereka pasti akan memenjarakanmu, sama seperti mereka memenjarakan Gisel dan Atika."
"Ck, jangan pesimis. Aku tidak akan bernasib sepayah itu. Lihat saja nanti, aku pasti akan mengambil hati Arya dengan mudah, tapi sebelumnya aku harus mencari tahu dulu apa penyebab kedua orang itu bersitegang."
"Terserah kamu sajalah. Yang penting, jangan pernah libatkan aku. Aku tidak mau." Surya kembali meraih selimutnya dan menyelubungi tubuhnya dengan selimut.
"Ya, ya, ya, saat aku kaya nanti, aku pun tidak akan melibatkanmu." Alex menggerutu saat dilihatnya Surya kembali berbaring tanpa memedulikan dirinya.
***
Gilang tidak dapat bergerak. Jika semalam ia hanya merasakan sakit pada bagian kakinya, dini hari rasa sakit di kakinya itu seolah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit luar biasa yang menyerang punggungnya. Dan sekarang ini ia tidak merasakan sakit di mana pun. Ia hanya merasa seluruh anggota tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan saat ini, walaupun ia telah berusaha sekuat mungkin untuk menggerakkan kakinya.
"Ayo duduklah. Jangan manja dan mari kita sarapan. Aku sengaja membawakan sarapan ke kamar agar kamu tidak harus turun ke bawah, Sayang." Suara Pelangi memenuhi seisi ruangan, bagai melodi indah yang menyapa Gilang di pagi hari yang cerah.
Detik berikutnya wanita itu terlihat oleh sudut mata Gilang, berjalan ke arahnya sembari membawa nampan berisi roti panggang dan susu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Pelangi, mempercepat langkahnya dan segera duduk di samping Gilang.
"Tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan," ujar Gilang. Akhirnya ia bicara jujur. Toh percuma saja menutupi kenyataan itu dari Pelangi sekarang, cepat atau lambat Pelangi akan tahu bahwa ia tidak bisa bergerak.
"Jangan bercanda." Pelangi mencubit pinggang Gilang sembari tertawa. Ia tahu jika suaminya itu pasti sedang mengerjainya. Gilang memang terkadang sering mengusili Pelangi. Namun, tawa Pelangi seketika menghilang saat dilihatnya wajah Gilang semakin menegang. Kedua mata pria itu bahkan memerah, seolah sedang menahan tangis.
"Cubit lagi," pinta Gilang.
"Hah, tapi kenapa?" Pelangi terlihat bingung.
"Aku bilang cubit lagi, Sayang." Gilang menatap Pelangi dengan tajam. Nada suaranya terdengar semakin khawatir sekarang.
Pelangi menuruti permintaan Gilang. Ia mengulurkan tangan dan mencubit pinggang Gilang sedikit, ia tidak mau menyakiti Gilang tanpa alasan.
"Lebih kuat bisakah?" Gilang kembali meminta. "Plis," tambahnya.
Nada suara Gilang yang begitu serius membuat Pelangi tidak berani membantah. Ia kembali mencubit Gilang, kali ini sedikit lebih kuat.
"Lagi, Sayang, kerahkan seluruh tenagamu," pinta Gilang.
Pelangi mengangguk, dan kembali mencubit pinggang Gilang dengan kuat. Sekarang ia ikut merasa khawatir, karena tubuh Gilang tidak bereaksi pada cubitan yang ia berikan di pinggang pria itu.
"Apa artinya ini?" tanya Pelangi.
"Aku tidak tahu. Aku sungguh tidak tahu, Pelangi. Tangan dan kakiku bahkan tidak bisa bergerak." Gilang terlihat frustrasi.
Pelangi mulai menangis. Ia lalu bangkit berdiri. "Tunggu di sini. Aku akan segera kembali," ujarnya, lalu ia berlari keluar kamar dan menutup pintu kamar perlahan.
Setelah pintu kamar tertutup, Pelangi mengusap air matanya dan mengatur napas. Ia berharap semoga tidak terjadi sesuatu yang serius pada kesehatan Gilang. Ia kemudian berlari menyusuri selasar-selasar berkarpet merah hingga tiba di tangga, dengan cepat ia menuruni anak tangga dua-dua sekaligus. Ketika tiba di lantai bawah, Pelangi melambatkan langkahnya. Ia tidak ingin kekhawatirannya menular ke orang lain, terutama Delia dan Andrew. Apalagi sekarang semua orang sedang sibuk memasang hiasan-hiasan di ruang tengah dan di halaman, karena pernikahan Andrew dan Delia akan dilaksanakan dua hari lagi.
"Hai, Pelangi, menurutmu mawar mana yang cantik. Putih atau merah muda?" Delia berteriak ketika melihat Pelangi melintas di ruang depan.
Pelangi menoleh ke arah wanita itu, lalu tersenyum. "Yang mana saja bagus. Tapi aku lebih suka yang putih." Pelangi menyahut.
Delia mengacungkan ibu jari. "Aku suka apa yang kamu suka. Yang putih saja kalau begitu." Delia kemudian menyerahkan bingkai mawar putih itu ke salah seorang petugas wedding organizer yang kemudian memasang bingkai itu pada sebuah kaki-kaki yang terbuat dari besi berukuran kecil yang akan digunakan untuk menempatkan foto Andrew dan Delia nanti.
Pelangi melambai ke Delia dan melanjutkan langkah hingga tiba di halaman. Terakhir kali ia melihat Toni, pria itu sedang berada di halaman, dan benar saja, ia langsung melihat Toni yang sedang mengobrol dengan Andrew di tengah halaman.
Pelangi berlari-lari kecil menghampiri Toni. "Aku ingin bicara," ujarnya, begitu ia telah tiba di samping Toni. Walau sedang panik, Pelangi masih berusaha memasang senyum di wajahnya. Ia tidak ingin Andrew ikut khawatir juga kali ini. "Bukan masalah yang begitu penting, aku hanya ingin membicarakan sesuatu pada Toni." Pelangi meyakinkan Andrew yang sekarang menatapnya dengan penasaran. Detik berikutnya Pelangi sudah menarik pergelangan tangan Toni dan menuntun pria itu ke lantai atas.
"Ada apa, sih?" tanya Toni, yang berlari-lari kecil di belakang Pelangi. Ia bingung, karena Pelangi tidak biasanya bertingkah seperti ini.
Pelangi menghentikan langkah tepat di depan pintu kamarnya. "Tubuh Gilang tidak dapat digerakkan. Dia bahkan tidak merasa sakit saat aku mencubit pinggangnya. Dia sama sekali tidak bisa bergerak, Ton." Pelangi terisak.
"Di mana dia?"
"Di kamar."
Toni langsung menghambur memasuki kamar Gilang dan mendapati Gilang terbaring kaku di atas ranjang.
"Gil, apa yang kamu rasakan?" tanya Toni, ia terlihat cemas.
"Sekarang tidak ada, tapi beberapa waktu lalu aku masih merasakan nyeri di punggungku."
"Punggungmu? Aku rasa ini masalah serius. Aku akan menghubungi dokter."
"Ton, usahakan agar tidak terlalu kentara. Aku tidak mau jika Delia dan Andrew lagi-lagi menjadi khawatir karena keadaan ini. Mereka sedang sibuk mempersiapkan pernikahan di bawah sana," pinta Pelangi, saat Toni hendak keluar dari dalam kamar.
Toni mengangguk. "Aku mengerti. Aku hanya akan mengatakan bahwa kaki Gilang sedikit bengkak karena terjatuh kemarin."
Pelangi mengangguk, lalu membiarkan Toni berlari keluar dari kamar. Sepeninggalan Toni, Pelangi segera menghampiri Gilang dan duduk di samping pria itu. Tangannya terulur, membelai rambut Gilang yang basah karena keringat.
"Apa kamu kepanasan."
"Aku tidak merasakan panas atau dingin. Aku hanya merasa takut, itulah sebabnya aku berkeringat." Gilang menjawab pertanyaan Pelangi.
"Jangan takut. Aku selalu ada bersamamu. Semua pasti baik-baik saja, Sayang." Pelangi mengecup punggung tangan Gilang.
"Pelangi, apa kamu pernah mendengar tentang Spinal Cord Injury?" tanya Gilang.
Pelangi menggeleng. "Apa itu."
"Salah seorang temanku mengalaminya setelah dia mengalami kecelakaan. Kejadiannya sudah lama, beberapa tahun lalu kurasa, dan hingga sekarang dia tidak bisa bergerak sama sekali."
"Jangan menakut-nakutiku, Gilang."
Gilang tersenyum masam. "Aku tidak menakutimu. Bagaimana aku bisa menakutimu jika aku sendiri merasa takut saat ini. Tapi firasatku mengatakan bahwa aku pun sedang mengalaminya sekarang."
Bersambung.