
Exel tidak dapat memejamkan mata walaupun sejak tadi tubuhnya telah berbaring di atas ranjang dalam posisi miring. Bahkan dalam keremangan cahaya yang berasal dari lampu tidur yang menyala di atas nakas pun kantuknya tidak kunjung datang.
Ucapan Delia sejak tadi terus menghantui pikiran Exel. Ia menyelami perasaannya sendiri, berusaha memahami benarkah semua yang dikatakan oleh Delia bahwa ia menyukai Pelangi?
Exel menggeleng. Ia tahu jika ia memang memiliki perasaan khusus terhadap Pelangi. Namun, bukan berarti ia mencintai Pelangi, ia hanya suka dan iba pada wanita itu. Tidak lebih. Lagi pula, jika semisal ia mencintai Pelangi, apa yang bisa dilakukannya? Pelangi kan sudah menikah.
Exel menghela napas, lalu menarik selimut hingga menutupi kepala, sebelum akhirnya ia memaksa agar kedua matanya tertutup. Jika tidak, bisa-bisa ia akan terus memikirkan pelangi hingga pagi, dan hal itu sangatlah tidak benar. Mana bisa ia memikirkan istri orang. Ia bukanlah pria seperti itu.
"Ah, Pelangi, sialan," keluh Exel.
***
Gilang mengunyah sarapannya sembari membaca selembar undangan yang beberapa waktu lalu Farhan berikan padanya sebelum pria tua itu berangkat ke kantor. Undangan bergaya elegan di tangan Gilang menarik perhatian Pelangi. Pelangi penasaran, apa yang begitu menyibukkan Gilang hingga Gilang begitu serius dan tidak sekali pun menatapnya yang tampil seksi dengan mengenakan dress pendek untuk menggoda Gilang.
Segera Pelangi menghampiri Gilang dan duduk di pangkuan pria itu, kemudian mengalungkan lengan di leher Gilang yang wangi. "Sedang baca apa?" tanya Pelangi.
Gilang mengangkat kepala, menatap Pelangi sembari tersenyum sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. "Undangan. Besok malam akan ada pesta di hotel Blossom, pesta pembukaan perusahaan milik Surya Permana. Kita diundang ke sana."
Pelangi tidak tampak antusias, ia bangkit dari pangkuan Gilang dan memilih untuk duduk di samping pria itu sembari menyantap semangkok sereal dan susu segar. Ia tidak tertarik pada hal apa pun yang berkaitan dengan Surya Permana.
"Ada apa?" tanya Gilang, yang melihat perubahan sikap Pelangi. Biasanya Pelangi banyak bertanya, tetapi kali ini tidak. Sikap genitnya pun memudar dengan cepat, secepat datangnya.
"Tidak apa-apa." Pelangi menjawab pertanyaan Gilang dengan singkat.
"Kita akan datang ke sana bersama besok malam," ujar Gilang.
Pelangi terlihat bimbang, kemudian ia berkata. "Aku kan tidak punya gaun pesta. Mana bisa aku ikut ke sana. Lebih baik aku tidak usah ikut, kamu pergilah sendiri dan nikmati pestanya dengan teman-temanmu yang lain."
Gilang mencubit pipi Pelangi dengan gemas. "Mana bisa begitu, Sayangku. Kamu harus ikut denganku, jika kamu tidak mau datang, maka aku pun tidak akan datang."
Pelangi memasang wajah cemberut yang membuat Gilang semakin gemas. "Kan aku sudah bilang kalau aku tidak punya gaun."
"Jika hanya gaun yang kamu keluhkan, maka berhentilah mengeluh, Sayang. Apa kamu lupa kalau suamimu ini kaya raya." Gilang tertawa terbahak-bahak, ia senang sekali menggoda Pelangi dengan hartanya.
Pelangi memutar bola matanya. "Ah, benar. Aku mengeluhkan sesuatu yang tidak perlu," lirih Pelangi, lalu kembali sibuk dengan serealnya. Berusaha mengalihkan pikirannya dari sosok Surya yang sangat mengganggu.
Gilang menyentuh puncak kepala Pelangi dan mengusapnya dengan lembut. "Makanlah yang banyak. Aku usahakan pulang cepat nanti."
Pelangi mendelik, beberapa hari ini Gilang memang selalu pulang larut malam. Itulah sebabnya ia bisa berkunjung ke hotel tempat Delia tinggal hingga larut malam kemarin, karena Gilang baru akan pulang setelah lewat tengah malam. Setiap hari selalu begitu.
"Mana mungkin kamu pulang cepat. Bukankah kemarin dan kemarinnya lagi kamu juga mengatakan seperti itu. Kamu mengatakan akan menemaniku untuk memeriksa kandungan. Aku bahkan sudah menghubungi Dokter Virzha, tapi kamu tidak kunjung datang. Aku rasa Dokter Virzha menunggu kedatangan kita berdua hingga rambutnya memutih."
Gilang berlutut di hadapan Pelangi, lalu meletakan sebelah tangan di dada. "Maafkan hamba, Yang Mulia Ratu. Hamba tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi." Gilang menggoda Pelangi.
Pelangi tertawa melihat tingkah Gilang. Mana bisa ia marah pada Gilang, jika pria itu selalu menggodanya seperti itu.
Gilang mengecup punggung tangan Pelangi, lalu bangkit berdiri. "Siap, aku akan pulang cepat nanti. Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu. Sampai jumpa nanti sore, Sayangku."
"Sampai jumpa, daaah!" Pelangi melambai hingga punggung Gilang tidak lagi terlihat.
***
Gisel merentangkan tangan sesaat setelah ia turun dari dalam bus. Senyum tersugging di bibirnya yang merah merekah. Matanya yang tajam menjelajah, memandang apa pun yang ada di hadapannya dengan antusias. Bukan hal yang mudah meninggalkan Kota Jakarta yang telah menjadi tempat tinggalnya selama ini dan melanjutkan hidup di desa terpencil dengan segala macam derita yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sebulan lebih. Ya, hampir dua bulan Gisel menghilang dari dunia glamor dan segala kemewahan yang dimilikinya. Bukan perkara mudah saat ia melanjutkan hidup tanpa sepeser pun uang. Ia dengan susah payah mencari keberadaan Alex. Walaupun sebelumnya ia berniat untuk kembali ke panti dan bertemu dengan Exel juga Delia--sahabatnya dulu sekali. Namun, Gisel mengurungkan hal itu. Daripada kembali ke panti dan memulai hidup di sana, ia memilih untuk mencari Alex, karena hanya Alex yang bisa membantunya untuk membalas dendam dengan Pelangi dan Gilang. Benar saja, Alex telah membantunya sejauh ini, termasuk mengirim Surya Permana yang akan menghancurkan bisnis keluarga Andreas hingga ke akarnya sekaligus.
Gisela melangkah menuju sebuah penginapan yang berada di seberang jalan. Dengan uang yang dimilikinya sekarang, hotel bintang lima bukanlah pilihan yang tepat.
Sesampainya di depan meja resepsionis, Gisel memesan kamar bertipe standar, dan makanan paling murah yang disediakan di penginapan tersebut. Seorang pelayan memberikan sebuah kunci yang sedikit berkarat sembari tersenyum kepada Gisel, yang diterima Gisel dengan senyum masam.
"Semoga harimu menyenangkan, Nona, dan selamat beristirahat," teriak Pelayan itu, sementara Gisel terus melangkah menaiki tangga yang mengeluarkan suara derit aneh saat diinjak.
Gisel memasukan anak kunci pada lubang kunci dan membuka pintu di hadapannya, setelah ia tiba di depan kamar bernomor 13.
"Kamar angker," gumam Gisel, ketika menatap angka tiga belas yang mulai berjamur di daun pintu.
Gisel melangkah masuk, menutup pintu, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur berbau apek. Seketika debu beterbangan di sekitar tubuh Gisel, membuatnya terbatuk. "Ranjang sialan!" omelnya.
Karena berbaring ternyata bukan pilihan yang tepat, Gisel kembali duduk, mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya dan memilih untuk menghubungi Ringgo.
"Halo, siapa ini?" Suara berat Ringgo terdengar pada dering pertama.
"Hai, Pak Ringgo. Masih ingat padaku?" ujar Gisel. Sebelum Ringgo menjawab, gisel melanjutkan, "Aku tahu kalau kamu tidak melakukan perintahku dengan baik. Itulah sebabnya aku kembali untuk menagih janjimu. Bukankah aku sudah membayarmu waktu itu, tapi kenapa sampai sekarang aku belum mendengar kabar kematian Pelangi?"
Ringgo menegang. Ia tahu bahwa yang meneleponnya sekarang adalah Gisel. Dulu, sebelum Gisel memilih untuk kabur dan bersembunyi, Gisel memerintahkannya untuk membunuh Pelangi. Namun, perintah itu tidak Ringgo lakukan. Dirinya memang kejam, sering menagih orang-orang yang berhutang dengannya secara kasar. Akan tetapi, ia bukanlah pembunuh. Mana mungkin ia membunuh Pelangi dengan tangannya. Ia tidak akan tega.
Ringgo berdeham, dengan susah payah ia berusaha untuk menjawab pertanyaan Gisel. "Apa kabar Nona Gisela? Lama aku tidak mendengar kabar dari Anda. Hmm, perihal Pelangi, aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melakukan apa pun padanya. Terlalu berisiko. Andrew terus mengawasinya. Mana bisa aku mencelakainya."
Gisela berdecak. "Selalu ada jalan jika kamu berniat, tapi jika kamu tidak memiliki niat, semua akan menemui jalan buntu," ujar Gisel dengan malas. "Aku hanya ingin bilang padamu, jangan lakukan apa pun mulai sekarang, karena aku sudah memiliki rencana yang lebih menakjubkan. Pelangi harus hidup dan berumur panjang agar bisa menerima kejutan dariku." Usai mengatakan hal itu, Gisel memutuskan panggilan dan melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Lihat saja Pelangi. Permainan yang sesungguhnya akan segera dimulai. Perbanyaklah tertawa sekarang. Karena tangismu akan dimulai sebentar lagi."
Bersambung ....
Terima kasih untuk semua pembaca setia.
Harap bersabar dalam membaca cerita ini, karena konflik sebenarnya baru akan dimulai 😀😀