OH MY BOSS

OH MY BOSS
RUMAHKU ADALAH RUMAHMU JUGA!



“Pak Gilang sedang ada pertemuan di luar, Nona,” ujar Claudia, sekretaris Gilang.


“Kapan kira-kira dia akan kembali?” tanya Gisel. Ia terlihat tidak sabaran dan juga gelisah.


Wajar saja Gisel merasa begitu gelisah, karena ia merasa jika Gilang mulai berubah. Sejak kepergian Gilang ke Hotel Mentari, sejak saat itu juga Gilang jarang menghubunginya, membuat hubungan mereka berdua semakin renggang. Jika terus begini, Gisel takut Gilang tidak jadi melamar dan menikahinya.


“Pak Gilang tidak mengatakan jam berapa akan kembali,” jawab Claudia.


“Masa kamu tidak tahu, sih, kamu itu kan sekretarisnya. Apa saja kerjamu di sini, hah?!” bentak Gisel.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Sel?” Toni muncul tepat waktu sebelum Gisel mulai mencaci maki Claudia seperti yang biasa Gisel lakukan jika sekretaris itu melakukan sebuah kesalahan.


Melihat Toni, Gisel segera menghampiri pria itu dan menanyakan keberadaan Gilang. “Di mana Gilang? Apa kamu tidak ikut dengannya bertemu dengan klien?”


“Tadi aku pergi dengannya. Kami bertemu dengan Pak Ridwan dari Shava Group, tetapi setelah pertemuan aku langsung kembali ke kantor, sementara Gilang dan Raina memutuskan untuk—“


“Raina katamu? Untuk apa wanita itu mengikuti Gilang ke sana-kemari!”


Toni berdecak malas. “Bukan mengikuti, tapi memang itulah tugasnya. Apa kamu tidak tahu kalau Raina itu bukan hanya sekadar asisten bagi Gilang, tetapi asisten pribadi. Jadi tidak terlalu mengherankan jika ke mana Gilang pergi, Raina pasti langsung mengekor.”


Gisel cemberut sembari *******-***** tali tas tangannya. “Aku tidak suka pada wanita itu!”


“Tidak masalah kalau kamu tidak suka padanya. Dia juga belum tentu suka padamu.”


Gisel mendelik, menatap Toni dengan kesal. “Kamu membelanya?”


Toni menggeleng. “Tidak, aku hanya ingin membuatmu berpikir realistis, Sel, bahwa tidak semua yang terjadi di sekitarmu ataupun di sekitar Gilang adalah sesuatu yang kamu suka. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir di kehidupanmu dan Gilang. Jika kamu tidak suka, abaikan saja. Hal itu lebih baik daripada kamu harus setengah mati memikirkan cara untuk menjauhkan Gilang dari orang-orang yang tidak kamu suka.”


Dahi Gisel berkerut mendengar ucapan Toni. “Menjauhkan orang-orang yang tidak kusuka. Apa maksud pernyataanmu itu, Toni?”


Toni tertawa. “Jangan pura-pura bodoh, Gisela. Kita berdua tahu siapa kamu sebenarnya dan bagaimana perangaimu.  Hanya Gilang yang tidak tahu di sini karena dia sedang mengalami gangguan otak. Kuharap dia segera sadar dan mendapat kembali ingatannya. Oh, ya, jangan sekali pun kamu berpikir untuk menyingkirkan Raina. Jangan pernah, karena jika sampai kamu berani macam-macam lagi kali ini Gisela, aku tidak akan membiarkanmu. Aku benar-benar akan membuka rahasia kelam dalam hidupmu dan memenjarakanmu.”


Wajah Gisel memucat mendengar ancaman dari Toni, meski begitu, ia tidak terlihat takut sedikit pun. Wajah angkuhnya mendongak semakin tinggi, seolah menantang Toni katakan saja kalau berani.


“Perlu bukti yang kuat untuk memenjarakan seseorang dan juga saksi. Jika kamu tidak menemukan keduanya, maka aku akan tetap di sini, aku tidak akan mendekam di balik jeruji besi sampai kapan pun.”


Toni tersenyum miring dan maju selangkah menghampiri Gisel, sekarang jarak keduanya begitu dekat, Gisel bahkan dapat merasakan embusan hangat napas Toni di wajahnya saat pria itu menunduk dan membuat wajah mereka sejajar.


“Jangan terlalu percaya diri, Gisela, aku sudah memiliki saksi. Sekarang aku hanya perlu mencari bukti. Dan dengan keadaan yang semakin membaik seperti sekarang ini, aku dan Andrew akan lebih fokus untuk mencari bukti kejahatanmu dan komplotanmu. Ya, memang butuh waktu yang lama, tapi daripada tidak sama sekali.” Toni menepuk pipi Gisel, kemudian berbalik pergi meninggalkan Gisel yang sekarang wajahnya terlihat sepucat mayat.


“Saksi. Atika.” Gisel bergumam, kemudian berjalan dengan cepat menuju elevator dengan perasaan was-was yang memenuhi ruang di dadanya.


***


Farhan Andreas tidak pernah merasa selega dan sebahagia ini sejak satu tahun yang lalu. Sejak Pelangi menghilang dan putranya mengalami hilang ingatan, dirinya memang seolah tidak memiliki semangat lagi untuk hidup. Hari-hari yang ia jalani terasa suram dan mengerikan, bahkan lebih suram dibandingkan saat perusahaannya jatuh ke tangan Surya dan seluruh harta bendanya terkuras habis.


Siang ini Farhan memutuskan untuk kembali ke kota setelah ia mendapatkan semua informasi yang ia butuhkah tentang Raina. Awalnya wanita tua bernama Bu Siti itu tidak mau bekerja sama dengan Farhan dan tidak mau mengatakan yang sebenarnya tentang identitas asli Raina. Bu Siti terus-terusan mengatakan bahwa Raina adalah putrinya yang sejak kecil dirawatnya dan lahir dari rahimnya sendiri.


Akan tetapi, pendirian dan ucapan wanita itu berubah saat Tito menunjukkan sebuah majalah bisnis yang mengulas berita tentang kecelakaan hingga hilang ingatan yang dialami Gilang. Di majalah tersebut juga terdapat berita tentang hilangnya sang menantu dari putra tunggal keluarga Andreas yang sedang mengandung.


Bu Siti tidak lantas percaya, meskipun ia melihat potret Raina terpampang di majalah bisnis tersebut, karena Bu Siti buta huruf.


Maka, Bu Siti memanggil kepala desa dan meminta kepala desa untuk membacakan majalah itu untuknya. Sang kepala desa terus membaca dan ekspresi terkejut juga kagum terpancar jelas di wajahnya yang berminyak. Saat kepala desa mengatakan bahwa Raina adalah orang yang sama dengan Pelangi, di saat itu juga Bu Siti menceritakan segalanya pada Farhan. Di mana ia menemukan Pelangi, lalu membantu persalinan Pelangi yang bayinya lahir dalam keadaan tidak bernyawa, dan ingatan Pelangi yang menghilang. 


Sekarang, setelah mengetahui segalanya, Farhan tinggal mengatakan semuanya pada Andrew dan Toni, sisanya biar menjadi urusan keduanya. Toh selama ini setiap penyelidikan dan penyelesaian masalah selalu ia limpahkan pada Toni dan Andrew, keduanya memang selalu bisa diandalkan.


“Tuan, apakah kita langsung ke rumah, atau Anda ingin ke kantor dahulu?” tanya Tito, yang sedang mengemudi.


“Langsung ke rumah saja. Tapi jangan lupa mampir ke toko kue, aku ingin membelikan croissant untuk menantuku. Pelangi sangat suka croissant.”


***


“Ck, makanlah. Jangan cemberut saja.” Gilang memberikan dua buah croissant pada Pelangi yang sedang marah kepadanya.


Saat ini Gilang dan Pelangi sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, Big Market. Gilang bersikeras untuk mengajak Pelangi berbelanja bahan makanan, tetapi setiap apa yang dipilih oleh Pelangi selalu ditolak oleh pria itu dengan alasan makanan itu tidak sehat. Hal itu membuat Pelangi kesal dan akhirnya ia menolak untuk memilih apa pun dari puluhan rak yang berjejer di sepanjang supermarket.


Karena Pelangi merajuk, maka Gilang mengajaknya untuk menghampiri kafe pastry yang ada di dalam supermarket tersebut. Ia ingat jika Pelangi sangat menyukai croissant. Dulu sekali, saat masih bekerja di Andreas Group sebagai office girl, Pelangi bisa menghabiskan tiga sampai empat potong croissant di saat jam makan siang. Namun, sekarang wanita itu hanya memandangi dua buah croissant di hadapannya tanpa menyentuhnya sama sekali.


“Aku masih kenyang. Bukankah aku sudah makan banyak tadi saat bertemu dengan Pak Ridwan,” ujar Pelangi.


“Jangan bohong. Aku melihat dengan mataku sendiri, kamu hanya makan sedikit.”


“Kalau begitu, kenapa kamu mengatakan pada Pak Ridwan tadi kalau makanku banyak,” protes Pelangi. Ia masih kesal pada pernyataan Gilang tadi yang mengatakan bahwa dirinya makan terlalu banyak.


“Itu karena dia ingin agar aku membawamu lagi jika bertemu dengannya di lain waktu. Apa kamu tidak tahu kalau dia itu mata keranjang, bisa-bisa kamu dijadikan target untuk menjadi istrinya yang ke sekian. Apa kamu mau?”


Pelangi diam sejenak, terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Melihat Pelangi diam saja dan tidak menanggapi pertanyaannya, membuat Gilang berpikiran buruk. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Raina? Kamu tidak sedang mempertimbangkan sesuatu yang  buruk kan?” Gilang bertanya dengan menyipitkan matanya. Seolah dapat menebak isi kepala Pelangi.


Pelangi mengelus dagunya, lalu menatap Gilang lamat-lamat. “Aku sedang mempertimbangkan, apakah lebih baik aku menjadi istrinya saja.”


Gilang mendengkus kesal, lalu segera bangkit berdiri dan meninggalkan Pelangi sembari menggerutu.


“Hai mau ke mana? Tunggu aku.” Pelangi berteriak, dan segera menyusul Gilang.


Gilang tidak menghiraukan teriakan Pelangi, pria itu terus saja melangkah hingga keluar dari Big Market. Pelangi berhenti tepat di depan tangga menuju halaman beraspal hitam. Ia melihat Gilang berdiri di salah satu anak tangga, sedang mengobrol dengan seseorang.


Pelangi yang kelelahan berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Kemudian ia merasa pening dan sesak, seperti ada sesuatu yang menekan isi kepala dan dadanya.


Seorang pria berlari ke arahnya saat ia sedang menyeberangi halaman. Pria itu terlihat khawatir, kemudian pria itu mengatakan sesuatu dan ... pria itu ambruk di hadapannya dengan darah yang berceceran di aspal.


Pelangi berjalan perlahan, berusaha menghampiri Gilang yang masih asyik mengobrol.


Seorang wanita tua menangis di hadapannya dan mengatakan bahwa mereka sudah memakamkan putri mereka.


Ia merasa bersalah dan berjanji akan menanggung biaya hidup wanita itu dan suaminya. Karena anak mereka tewas saat sedang Melindunginya.


Sedikit lagi Pelangi akan tiba di belakang Gilang.


Segerombolan pria berbaju hitam menghampiri mobilnya dan mobil Gilang yang baru saja menabrak pohon.


Tangan Pelangi terulur, ingin menyentuh pundak Gilang, karena ia kesulitan untuk bersuara sekarang.


Gilang turun dari mobil, sementara ia mulai melakukan panggilan telepon dengan beberapa orang.


Seorang pria bertubuh besar mengayunkan sebuah kayu balok ke perut Gilang, membuat tubuh Gilang ambruk, lalu sebuah pukulan lagi mendarat di punggung Gilang.


Gilang menoleh saat merasa ada yang menyentuh pundaknya.


Ia mendorong seorang pria yang hendak memukul kepala Gilang ke jurang yang ada di dekatnya, dan ia pun ikut terjatuh.


“Raina, apa yang ...?” Gilang menangkap tubuh Pelangi yang ambruk tepat waktu sebelum tubuh wanita itu terjatuh di tangga.


***


Pelangi membuka matanya perlahan, menatap ke sekeliling ruangan serba putih dan berbau obat-obatan tempatnya sekarang berada. Kepalanya berkedut, sakit sekali hingga penglihatannya menjadi buram.


Meski demikian, ia masih dapat melihat bagian belakang kepala seorang pria yang duduk di sebelahnya sambil memunggunginya. “Pak Gilang,” lirih Pelangi, berharap bahwa yang duduk di sebelahnya memang Gilang.


Pria itu menoleh ke Pelangi, dan ternyata memang Gilang. Gilang segera menyentuh punggung tangan Pelangi dan meremasnya dengan lembut. “Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja?” tanya Gilang dengan khawatir.


Beberapa saat kemudian, Farhan Andreas dan Toni yang sejak tadi duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan segera menghampiri Pelangi dengan wajah khawatir. Terutama Farhan, pria itu terlihat sangat khawatir.


“Nak, katakan padaku, bagian mana yang sakit?” tanya Farhan.


Pelangi menggeleng. “Tidak, Pak, aku tidak apa-apa.”


“Syukurlah, syukurlah kamu tidak apa-apa, Nak.” Farhan menangis, dan hal itu membuat Pelangi dan Gilang bingung. Namun, tidak dengan Toni. Toni paham apa yang sekarang tengah Farhan rasakan, karena beberapa waktu yang lalu Farhan mengatakan pada Toni bahwa ia tahu jika Raina adalah Pelangi.


“Jangan menangis, Pak, aku sungguh tidak apa-apa.” Kali ini Pelangi ikut terisak. Menyadari bahwa seluruh keluarga Andreas sangat sayang dan perhatian padanya, membuatnya terharu.


“Katakan kepadaku, apa yang terjadi. Kenapa kamu tiba-tiba pingsan?” tanya Gilang, sembari mengusap air mata Pelangi yang mengalir menuruni pipinya.


“Tidak tahu. Tiba-tiba saja kepalaku sakit dan aku tidak ingat apa-apa lagi.”


“Kamu membuatku khawatir, Raina. Lain kali jika kamu merasakan sakit atau tidak nyaman, atau apa saja, katakan padaku. Jangan diam saja. Jika kamu lelah berjalan, pasti aku akan menggendongmu.” Gilang berucap dengan sungguh-sungguh.


Pelangi tertawa. “Kamu ini bos yang baik sekali. Apa kamu sebaik ini pada semua karyawanmu?”


Gilang menggeleng. “Tidak, aku hanya begini padamu.”


Kedua pipi Pelangi merona merah begitu mendengar apa yang Gilang ucapkan. Ingin rasanya ia salto dan melompat saat itu juga.


Ia tidak menyangka jika ternyata Gilang begitu romantis.


"Raina, Raina, apa yang terjadi padamu?!" Suara cempreng Amara mengejutkan Pelangi yang sedang salah tingkah karena ucapan Gilang.


"Shut, jangan berisik, Amara, kita sedang di rumah sakit sekarang, dan jaga sikapmu." Toni menghampiri Amara, lalu meminta wanita itu untuk bersikap wajar dan tidak terlalu berisik.


Amara menutup mulut dengan tangan, merasa bersalah karena kehadirannya membuat gaduh. "Maaf, aku lepas kendali," ujar Amara.


Pelangi tersenyum. "Tidak apa-apa. Jangan minta maaf. Aku justru senang sekali karena kalian semua sangat perhatian padaku," ujar Pelangi dengan mata yang kembali berair.


Hingga saat ini bayangan tentang Amara belum muncul di dalam ingatan Pelangi, tetapi ia tahu jika Amara pastilah salah satu orang terpenting di dalam hidupnya. Jika tidak, mana mungkin Amara begitu khawatir melihat dirinya yang terbaring di atas brankar.


"Terima kasih atas perhatianmu, Amara," ucap Pelangi sembari tersenyum. "Terima kasih untuk kalian semua," tambahnya.


Gilang kembali meremas tangan Pelangi. "Terima kasih kembali, dan cepatlah sembuh agar kita bisa kembali ke rumah."


Pelangi tertawa. "Rumah? Saat kamu mengatakannya, terdengar seperti aku adalah bagian dari kalian, dan rumahmu adalah rumahku juga."


"Mungkin memang begitu seharusnya. Rumahku adalah rumahmu juga," gumam Gilang.


Bersambung ....