OH MY BOSS

OH MY BOSS
JATUH CINTA



"Lihat, aku seperti punya seorang istri di sini." Di pagi hari, William yang membuka kulkas dan mengambil botol air minum di dapur nyeletuk asal, membuat Lily yang tengah meracik secangkir kopi jadi terkejut, menoleh, kemudian kembali membuang muka.


 


 


"Bisa tidak, jika ada aku, kau jangan bertelanjang dada seperti itu." Lily protes.


 


 


Setelah meminum air langsung dari botolnya itu, William menoleh, sengaja mendekat, "hey, ayolah, kau bahkan pernah melihat lebih dari ini," ucapnya yang membuat Lily mendorong dada pria bule itu, merasa risi.


 


 


Lily menoleh, tatapannya tampak jengkel. "Aku mabuk, Will, aku bahkan juga tidak ingat."


 


 


William menyeringai jahil, membuat wanita di hadapannya mengerutkan dahi. "Mau mencobanya dalam keadaan sadar Nona?" Tawarnya yang nyaris mendapat tonjokan di hidung jika  pria itu tidak sigap menangkap pergelangan tangan Lily.


 


 


Lily menarik tangannya kasar hingga genggaman pria di hadapannya itu terlepas, "tidak akan," tukasnya kemudian kembali berbalik dan menyibukan diri dengan secangkir kopi.


 


 


William menyandarkan tubuhnya ke meja dapur, menatap wanita di sebelahnya, "ok, mulai besok aku tidak akan bertelanjang dada jika kau tidak nyaman," ucapnya.


 


 


Tanpa menoleh, Lily menjawab, "tidak akan ada hari esok, nanti siang aku akan pulang."


 


 


William terdiam, berpikir sejenak, "kau menyerah?" Tanyanya kemudian.


 


 


"Dari awalpun, aku tidak mendapat dukungan darimu, dan lagi, mereka pasangan yang cocok, aku tidak mungkin bisa membuat Justin berpaling juga." Lily berkata pelan, wanita itu mulai bisa menerima kenyataan.


 


 


William meraih cangkir kopi dari tangan Lily, kemudian menyesapnya sedikit, membuat wanita itu menoleh, namun tidak mengucapkan apa-apa.


 


 


"Bisakah kau tinggal lebih lama lagi?" Tanya William.


 


 


Lily tertawa sumbang, "untuk apa, satu-satunya orang yang membuat aku terbang ke sini adalah Justin, dan sekarang tidak lagi."


 


 


William menghela napas, menatap cangkir kopi di tangannya, "setidaknya bertahanlah sedikit lagi, untuk aku."


 


 


Lily menoleh, tersenyum. "Aku tidak punya alasan untuk itu."


 


 


William tertawa sumbang, mengangguk-angguk, "karena kau akan pulang," William menggantungkan kalimatnya, menatap Lily yang juga balik menatapnya, "aku punya alasan untuk ini," lanjutnya, kemudian dengan cepat mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Lily yang tampak membeku ditempatnya, William memejamkan mata, melumat, berbagi rasa manis kopi yang masih tertinggal di lidahnya, meski tidak membalas ciumannya, Lily tidak menolak.


 


 


Lily mengerjap bingung ketika William melepaskan pagutannya, meraih tangan kanan wanita itu kemudian menaruh cangkir di sana.


 


 


"Aku kembalikan," ucap William yang kembali membuat seorang Lilyana mengerjap kebingungan, "terlalu manis, aku tidak suka dengan rasa manis buatan, untuk sesuatu yang sudah seharusnya terasa pahit," tutur William kemudian melangkah pergi.


 


 


Lily yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh pria yang lebih sering bersikap gila itu hanya menatap cangkir di tangannya. Meletakan benda itu di atas maja dapur dan berdecak sebal. "Apa tadi aku berdebar-debar? Ah, yang benar saja lah," sangkalnya, dan memilih untuk mengabaikan perasaannya sendiri.


 


 


***


 


 


Justin dengan bersemangat membuka ruangan besar William, dan tidak menemukan pria itu di kursinya, melangkah lebih dalam, dia mendapati pria bule itu tengah tiduran di sofa dengan satu lengan yang menutupi matanya.


 


 


"Will." Justin membungkuk, menyingkirkan lengan pria itu hingga kelopak matanya membuka. "Tidur?" Tanyanya.


 


 


William membuang muka, kembali memejamkan mata, "ada apa?"


 


 


 


 


"Apa itu penting?"


 


 


Merasa ada yang salah dengan ceritanya, Justin meralat. "Maksudku, tadi kami periksa ke rumah sakit." Justin tidak meneruskan ceritanya, sibuk tersenyum-senyum sendiri.


 


 


"Dan kau dinyatakan hamil?" William menebak, dan Justin sontak tertawa.


 


 


"Iyah, eh bukan aku, tapi Serena, dan aku akan menjadi seorang ayah," ucap Justin, dari binar wajahnya, pria itu tampak amat bahagia.


 


 


William tersenyum, menonjok kaki sahabatnya itu pelan, "selamat," ucapnya.


 


 


Justin yang menyadari keanehan sikap sahabatnya itu jadi curiga. "Kau kenapa?" Tanyanya.


 


 


William menurunkan kakinya, duduk di sofa. "Lily, dia akan pergi," ucapnya.


 


 


Justin ikut duduk di sebelah William, menatap sahabatnya itu dengan sedikit senyum. "Kau tidak rela?"


 


 


"Entahlah, ku kira setelah ini aku akan baik-baik saja, tapi tanpa aku bisa kendalikan, isi kepala ini penuh dengan wajahnya." William menunjuk kepalanya sendiri, senyum Justin semakin lebar.


 


 


"Kau jatuh cinta?" Tanya Justin yang membuat William menoleh.


 


 


"Kurasa bukan itu." William menceritakan semua kejadian saat Lily mabuk, menceritakan bagaimana berusahanya dia untuk menolak pesona seorang Lilyana kala itu, hingga saat dia kalah, dan menyadari bahwa itu adalah pengalaman pertama untuk Lily, dia benar-benar merasa amat bersalah. William tidak pernah merasa se brengsek ini sebelumnya. "Aku harus bagaimana?"


 


 


Justin menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, "seharusnya kau lebih merasa bersalah padaku, tuduhanmu tempo lalu bahkan masih membuat aku kesal." Justin kembali mengingat kala ia melempar sepatu.


 


 


"Ya, aku tidak menyangka kau sebersih itu." William membela diri. "Memangnya apa yang akan orang pikirkan saat kalian sering bermalam bersama, bermain abc lima dasar? Menebak nama hewan yang di awali dengan huruf yang ditentukan. Ah yang benar saja, kalian kan sama-sama dewasa, aku sendiri amat sulit mengendalikannya saat seorang wanita menyodorkan dada dan paha." William berceloteh panjang lebar.


 


 


"Itulah perbedaannya kau dan aku, bumi dan langit, surga dan neraka."


 


 


William reflek menendang kaki Justin. "Sialan!" Umpatnya.


 


 


Justin menghindar, tertawa, dan saat sahabat bulenya itu kembali membahas masalah Lily dan bertanya dia harus bagaiman, Justin menjawab, "harus bagaimana lagi, tanggung jawab lah," sarannya.


 


 


"Yang dia inginkan itu kau, bukan aku."


 


 


Justin menghela napas, menepuk pundak sahabatnya, "kau tahu, dulu sebelum dekat denganku, Lily itu menyukaimu," ucap Justin yang membuat William menoleh, namun tidak menanggapi. "Dia tahu kau sering bergonta-ganti pacar dulu, dan dia tidak mau menjadi salah satunya, dipacari stelah itu ditinggalkan, semua wanita ingin menjadi satu-satunya Will." Justin memberi jeda pada ceritanya, menebak reaksi William yang tampak tenang di tempatnya. "Jadi, tinggalkan kebiasaan burukmu itu, kejar Lily, dia wanita yang baik."


 


 


"Menurutmu aku harus apa, perasaannya terhadapku kan dulu, sekarang mungkin berbeda." William berucap pasrah, membuat Justin berpikir, baru kali ini dia melihat sahabatnya seputus asa itu.


 


 


"Tunjukan kesungguhanmu, yakinkan Lily bahwa kau akan berubah," ucap Justin menatap William yang balik menatapnya. "Fokuslah pada satu wanita. Dan kau akan bahagia." Justin memberi semangat. Melihat William yang tampak menyunggingkan senyum, dia ikut senang.


 


 


"Aku mendukungmu, Will."


 


 


***


AN; aku potong soalnya kepanjangan. Jangan lupa like komen ya.