OH MY BOSS

OH MY BOSS
CINTA GISEL



"Sial, sial, sial! Istrinya itu memang pembawa sial. Kenapa juga Surya tidak memintaku untuk menabrak istrinya terlebih dahulu. Kenapa Surya harus suka pada si Pelangi itu?!" Alex memukul kemudi pada mobil yang ia kendarai. Ia kesal setengah mati karena baru saja target yang seharusnya ia tabrak dan mati di hadapannya lolos hanya karena teriakan seorang wanita yang merupakan istri dari si terget.


Ponsel Alex berdering saat ia masih sibuk mengomel, dan nama Gisel terlihat pada layar ponselnya.


"Ya, halo--"


"Alex katakan padaku bagaimana keadaan Gilang, hah, katakan padaku, cepat!" Gisel menggila. Baru beberapa saat yang lalu ia mendengar percakapan antara Surya dan seorang pria yang mengatakan bahwa Alex sedang ditugaskan untuk mematai-matai Gilang dan mencelakainya jika ada kesempatan.


Begitu mendengar ucapan Surya, Gisel segera berlari menuju kamarnya dan menghubungi Alex dengan harapan pria itu belum melakukan perintah Surya. Gilangnya tidak boleh celaka, apalagi sampai meregang nyawa di tangan Alex.


"Aku akan menghabisimu jika kamu berani menyentuhnya, apalagi sampai berani mencelakainya. Aku tidak bercanda, Lex, aku benar-benar tidak bercanda." Gisel kembali berteriak pada ponselnya yang masih terhubung dengan Alex.


"Hai, Gisel, pelankan suaramu. Kalau Surya sampai dengar, maka kamu pun akan tamat. Jangan bodoh, Sel!" Alex membentak Gisel agar wanita itu tidak lagi berteriak-teriak seperti orang kesetanan.


"Aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak peduli. Katakan di mana kamu sekarang, hah? Lex ... sial, Alex, katakan di mana kamu sekarang. Kurang ajar, argh! Kurang ajar!" Gisel melempar ponselnya ke atas ranjang saat Alex memutuskan panggilan begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali.


Pikiran Gisel sangat kalut saat ini. Berbagai macam pikiran buruk dan pertanyaan datang dan pergi di dalam kepalanya.


Di mana Gilang?


Apa Gilang baik-baik saja?


Bagaimana jika Gilang sekarang sudah tewas?


Gisel sama sekali tidak sanggup membayangkan dan menerima kenyatan jika Gilang memang benar-benar telah tewas. Ya, mungkin memang benar jika dulu ia hanya memanfaatkan Gilang dan menguras harta pria itu demi kepentingannya. Namun, setelah lama berpisah dari Gilang dan mengetahui bahwa hidup pria itu dalam bahaya, Gisel menyadari bahwa ia mencintai Gilang. Ia kesepian dan hampa, ia merasa tidak bisa hidup tanpa Gilang, bahkan saat Gilang tidak memiliki apa pun lagi, ia tidak akan mungkin membiarkan Gilang mati begitu saja.


Gisel mengatur napas, ia harus tetap tenang agar bisa berpikir jernih dan mencari cara untuk menyelamatkan Gilang dari rencana jahat Alex dan Surya.


Gisel pun kembali meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang, lalu melacak keberadaan Alex melalui GPS. "Asal ponselnya tetap menyala, aku bisa melacaknya," gumam Gisel dengan suara gemetar karena panik, tangannya bahkan ikut gemetar tak keruan.


Bebarapa saat kemudian Gisel mengelus dada dan menghela napas lega saat posisi Alex terlihat jelas di layar ponselnya. Ia bersyukur karena Alex tidak menonaktifkan ponselnya sehingga Gisel tidak kesulitan melacak keberadaan pria itu.


"Sekitar rumah sakit," gumam Gisel, "apa yang dilakukan Alex di sana? Apa Gilang sedang ada di sana juga? Ya, Gilang pasti ada di sana." Gisel kembali bergumam seorang diri sembari menyentuh bibir bawahnya, ia terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk segera menuju rumah sakit dan mengawasi Alex di sana. Ia tidak boleh membuang-buang waktu.


***


Semak Bougainvillea yang tumbuh subur di seberang rumah sakit menjadi pilihan Gisel untuk bersembunyi. Ia segera mengemudikan mobilnya ke seberang jalan dan dengan perlahan memarkirkan mobil sedan itu tepat di antara semak yang tumbuh subur.


"Tidak masalah aku mati-matian begini, yang penting aku bisa melindungi Gilang," gumam Gisel, sambil menyibak ranting yang tersangkut di roknya saat ia keluar dari dalam mobil dan memindai daerah sekitar untuk mencari keberadaan Alex. "Tenang saja, Gil, aku akan melindungimu. Demi Tuhan, aku tidak akan membiarkanmu celaka."


***


Pelangi menahan lengan Gilang saat pria itu ingin masuk ke dalam mobil dan kembali pulang ke rumah. Sia-sia kedatangan mereka ke rumah sakit, karena Dokter Virzha tidak bisa datang hari ini. Dokter tua itu terjatuh saat sedang berada di kamar mandi, membuat kakinya cidera dan tidak bisa berjalan untuk sementara waktu.


Sekarang setelah lelah menunggu, Gilang mengajak Pelangi untuk kembali ke rumah. Sebenarnya bisa saja mereka mencari dokter lain, tetapi Pelangi menolak jika harus berpindah ke rumah sakit lain. Jangankan berpindah rumah sakit, untuk kembali ke rumah saja wanita itu tidak berani. Bayangan sebuah mobil yang melaju dengan kencang ke arah Gilang sesaat setelah mereka tiba di rumah sakit masih terbayang dengan jelas di ingatan Pelangi. Sehingga hal itu membuatnya takut untuk melakukan perjalanan.


"Kita tidak usah ke mana-mana, Gil, pasti ada seseorang yang mengikuti kita kalau kita sampai keluar dari rumah sakit ini. Orang yang ingin menabrakmu tadi adalah bukti bahwa masih ada yang mengincar kita dan mengikuti kita. Aku tidak mau pulang," rengek Pelangi.


Gilang tersenyum, lalu meraup tubuh Pelangi ke dalam pelukannya. "Aku selamat tadi berkatmu. Sebagai balasannya aku akan melindungimu. Tidak peduli apa pun yng terjadi, aku pasti akan melindungimu."


Pelangi membalas pelukan Gilang, dan ia pun mulai terisak karena merasa takut dan sedih. Bagaimana ia tidak merasa takut jika hidupnya seolah penuh dengan kejadian mengerikan yang tiada habisnya.


"Aku tidak butuh sebuah janji atau apa pun yang nantinya akan membuatmu berada dalam bahaya. Yang aku ingin bukan hanya aku yang selalu terlindungi, tapi kamu juga. Kamu sangat penting buatku, Gil. Aku sungguh tidak ingin melihatmu terluka, apalagi sampai meregang nyawa."


Gilang mengeratkan pelukannya pada tubuh Pelangi, berusaha memberi ketenangan pada wanita itu, meskipun ia tahu hal itu tidaklah mungkin. Ia pernah berada di posisi Pelangi, mengkhawatirkan orang yang disayanginya dan sebuah kata-kata penenang tidak akan mampu untuk mengurangi rasa khawatir yang terus menghantui.


"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada kita. Percayalah padaku. Jadi berhentilah merasa takut dan khawatir. Kita harus kembali ke rumah sekarang sebelum sore tiba," ujar Gilang.


Pelangi mengangguk dan mendongak agar dapat menatap wajah Gilang. "Baiklah. Tapi, kalau ada sesuatu yang mencurigakan kamu harus mau mendengarkanku."


Gilang mengangguk. "Apa pun yang kamu katakan, pasti akan kudengarkan."


"Jika ada kendaraan mencurigakan yang mengikuti kita, kita harus berbalik arah dan segera menuju kediaman Delia. Aku lebih baik menginap di sana daripada harus kembali ke rumah," ujar Pelangi.


"Tentu, sayang, tentu. Jadi, mari masuk ke dalam dan duduklah dengan manis semtntar aku menyetir."


Pelangi menuruti kehendak Gilang. Ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang. Tanpa ia sadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan dan bersiap untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah sekali pun terbayang olehnya.


Bersambung ....