
Pelangi mengunjungi rumah sakit sebelum ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Tadinya ia memang berencana untuk langsung pulang ke rumah bersama dengan Gilang. Namun, di dalam perjalanan ia mendapatkan panggilan telepon dari Toni yang mengatakan bahwa Anneth telah sadar dan wanita itu memaksa agar segera dipulangkan saja.
Sekarang Pelangi sedang melangkah sembari mendorong kursi roda Gilang menyusuri selasar rumah sakit yang tidak terlalu ramai menuju ruangan di mana Anneth dirawat.
Sesampainya di ruangan VVIP, Pelangi segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Aku ingin pulang. Pokoknya pulangkan aku sekarang juga! Aku tidak ingin berada di sini lebih lama lagi." Suara Anneth yang sedang berdebat dengan Toni dan Amara menyambut kedatangan Pelangi dan Gilang.
Detik berikutnya Anneth mendorong Amara yang tengah menghalangi Anneth agar tidak mencabut selang infus di punggung tangannya, Pelangi segera berlari menghampiri Amara dan menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
"Hati-hati, Ra" ujar Pelangi.
Amara menoleh ke belakang. "Pelangi. Syukurlah kamu datang tepat waktu. Kami tidak bisa menanganinya." Amara mengeluh, sembari menegakkan tubuhnya yang hampir terjatuh.
"Maaf karena aku datang terlambat. Kami baru pulang dari kantor," ujar Pelangi pada Amara.
"Tidak masalah. Cepat tangani dia. Dia cerewet sekali," keluh Amara lagi.
Pelangi mengangguk, lalu menghampiri Anneth yang masih duduk di atas ranjang dengan wajah pucat dan mata merah. Tidak diragukan lagi wanita itu pasti terus menangis sejak mendapatkan kembali kesadarannya.
"Suster An, bagaimana keadaanmu?" tanya Pelangi, sembari menghampiri Anneth dan berdiri di samping ranjang wanita itu.
"Apa kamu yang datang ke apartemenku dan membawaku ke rumah sakit?" tanya Anneth.
Pelangi mengangguk. "Aku bersama dengan Toni dan Amara memang datang ke apartemenmu, dan kami segera membawamu ke rumah sakit saat kami menemukanmu tidak sadarkan diri di belakang sofa."
Tanpa mengatakan apa pun, Anneth segera melompat turun dari atas ranjang dan mencekik leher Pelangi yang berdiri di samping tempat tidurnya.
"Aku tidak memintamu untuk menyelamatkanku. Kenapa kamu lakukan, Pelangi, kenapa? Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja. Aku ingin mati!"
"Lepaskan dia. Apa yang kamu lakukan, Sus! Toni cepat tolong istriku." Gilang berteriak, walaupun sebenarnya tidak perlu, karena Amara dan Toni sudah berada di tengah keributan dan berusaha melepaskan tangan Anneth dari leher Pelangi.
Setelah beberapa saat akhirnya Amara dan Toni berhasil melepaskan tangan Anneth yang melingkar di leher Pelangi. Pelangi terbatuk, sementara Anneth menangis dan berontak saat Toni berusaha untuk menarik tubuh wanita itu dari Pelangi.
"Tekan tombol hijau itu, Amara, agar dokter datang." Toni berujar pada Amara.
Amara membantu Pelangi untuk duduk di sofa yang terdapat di tengah ruangan, lalu segera melangkah dengan cepat ke samping tempat tidur Anneth dan menekan tombol hijau sesuai dengan yang Toni katakan.
"Jika kamu sudah selesai, tolong ambilkan Pelangi minum, Amara. Maaf merepotkanmu," ujar Gilang, saat dilihatnya sang istri masih kesulitan bernapas akibat dari cekikan Anneth. Ia merasa tidak berguna sekarang, karena tidak dapat melakukan sesuatu untuk Pelangi.
Amara mengangguk, kemudian segera melangkah menuju lemari pendingin mini yang terdapat di sudut ruangan dan mengambilkan sebotol air mineral untuk Pelangi.
"Minumlah, Pelangi," ujar Amara, saat ia telah tiba di samping Pelangi dan menyerahkan air itu untuk Pelangi.
"Trims, Ra." Pelangi tersenyum sembari menerima air mineral dari Amara.
Tidak berapa lama kemudian seorang dokter memasuki ruangan diikuti dengan beberapa orang perawat yang melangkah dengan tergesa di belakang sang dokter.
"Dia mengamuk, Dok," ujar Toni, yang masih kualahan menahan tubuh Anneth.
Dokter segera menghampiri Anneth dan menyuntik wanita itu dengan obat penenang.
"Apa yang telah dia alami sampai-sampai dia berubah 360 derajat?" tanya Amara, pada siapa pun yang ada di ruangan itu.
Pelangi dan Gilang saling pandang. Keduanya memiliki pikiran yang sama tentang apa yang telah menimpa Anneth. Di dalam pikiran Pelangi dan Gilang pastilah Anneth mengalami pelecehan dari Arya, jika tidak mana mungkin wanita setegar dan sepercaya diri Anneth menjadi sedemikian terpuruk hingga ingin mengakhiri hidup dan begitu putus asa hingga menganggap kematian adalah hal yang paling tepat untuk dirinya.
"Beberapa hari yang lalu dia masih begitu ceria. Dia masih terlihat bahagia. Tidak mungkin dalam waktu singkat ia ingin mengakhiri hidup," gumam Pelangi. Ia sekarang menangis sembari melihat tubuh Anneth yang perlahan mulai melemah dan akhirnya wanita itu tidak sadarkan diri.
"Dia akan baik-baik saja, Sayang," ujar Gilang.
"Aku akan menempatkan beberapa perawat di sini agar saat dia sadar perawat dapat segera menanganinya," ujar dokter yang sedang menangani Anneth.
Pelangi bangkit berdiri dan menghampiri sang dokter. "Ya, lakukan yang terbaik untuknya, Dok, tolong."
Dokter mengangguk. "Tentu. Anda jangan khawatir. kami akan mengusahakan yang terbaik bagi pasien."
Dokter kemudian pamit undur diri dan keluar dari ruangan.
"Kalian kembalilah ke rumah, biar aku yang berjaga di sini," ujar Amara, pada Pelangi.
Pelangi menggeleng. "Tidak, biar aku saja yang di sini. Akulah penyebab semua ini. Jika bukan karena ingin menolongku, dia tidak akan seperti ini," ucap pelangi, terlihat menyesal dan juga sedih.
Amara menyentuh pundak Pelangi, "Jangan keras kepala, Pelangi. Gilang pasti kelelahan. Lihatlah wajahnya sudah begitu pucat dan terlihat lelah. Mungkin bagi tubuhmu tidak masalah melakukan banyak aktivitas, tetapi tidak bagi tubuh Gilang."
Pelangi memandang Gilang yang tengah melamun. Wajah suaminya itu memang terlihat pucat dan berkeringat. Seketika Pelangi merasa bersalah karena membiarkan Gilang kelelahan dan terlibat masalah karena dirinya, padahal seharusnya Gilang beristirahat dengan nyaman di rumah.
Pelangi melangkah menghampiri Gilang dan berlutut di hadapan pria itu. "Kita pulang," ujarnya, sembari menyeka keringat di wajah Gilang.
Gilang tersenyum seperti biasanya, karena hanya itu yang bisa aja lakukan sekarang. "Terserah padamu."
Pelangi membalas senyuman Gilang dan mendaratkan kecupan di punggung tangan pria yang paling dicintainya itu. "Ayo," ucapnya, lalu ia beralih memandang Toni dan juga Amara. "Kalian apa tidak masalah jika aku kembali ke rumah. Suamiku perlu beristirahat?" tanya Pelangi pada Toni.
"Tentu. Pulang dan istirahatlah. Kami berdua tidak apa-apa." Toni menjawab sembari menghampiri Gilang dan menepuk pundak pria itu. "Asalkan hari ini dihitung lembur saja." Toni terkekeh.
Gilang tertawa mendengar ucapan Toni. "Dasar mata duitan. Tapi baiklah, aku akan menghitung hari ini sebagai lembur."
Amara mengacungkan tangan. "Aku juga, Bos! "
Pelangi tertawa. Ia tahu apa yang dilakukan Amara dan Toni hanyalah agar suasana menjadi lebih ceria. Gilang butuh sesuatu yang dapat membuatnya merasa dibutuhkan. Dan menaikkan gajih karyawan adalah wewenang Gilang. Gilang sangat dibutuhkan untuk hal yang satu itu.
"Tentu, Amara, aku akan memberimu upah lima kali lipat hari ini, jangan khawatir," ucap Gilang.
Amara bertepuk tangan. "Terima kasih, Bos, Terima kasih."
***
Delia kembali ke rumah bersama dengan sopir. Tadinya ia sempat menunggu Andrew agar mereka bisa pulang bersama, tetapi Andrew tidak kunjung kembali ke ruangannya. Membuat Delia akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah seorang diri.
Delia melangkah dengan enggan menuju ke kamarnya. Suasana hatinya sedang kacau saat ini. Selain karena desakan dari Gisel untuk menghilangkan barang bukti yang dimiliki Alex, ia juga merasa terganggu pada sikap Andrew yang menurutnya sedikit aneh.
Baru beberapa hari ini ia memperhatikan jika sikap Andrew sedikit berbeda. Pria itu kerap melamun dan menyendiri hingga larut malam di ruang kerja, dan sudah beberapa hari ini mereka tidak berc_umbu. Setiap kali dirinya menyentuh Andrew, Andrew terlihat tidak nyaman, padahal sebelumnya Andrew tidak seperti itu.
"Ada apa dengannya?" gumam Delia, sembari duduk di sofa yang ada di kamarnya. Ia mulai bertanya-tanya dan mencoba mencari kesalahan yang mungkin telah dilakukannya dengan tidak sengaja, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Ia merasa telah menjadi istri yang baik bagi Andrew.
Wajah Gisel tiba-tiba muncul di dalam kepalanya lengkap dengan ucapan wanita itu beberapa bulan lalu yang mengatakan bahwa Andrew mencintai Pelangi.
"Apa mungkin Andrew masih belum bisa melupakan Pelangi? Tidak. Mana mungkin Andrew begitu. Dia sendiri yang mengatakan kalau dia mencintaiku sekarang. Tidak mungkin tiba-tiba dia kembali mencintai Pelangi." Delia bergumam seorang diri. "Ah, ini begitu memusingkan," ucapnya lagi, lalu bangkit berdiri untuk berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian, Delia keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang depan. Sesampainya di ruang depan ia melihat Andrew ternyata ada di sana, sedang diam berdiri sembari menatap ke luar jendela ruang utama.
Delia menghampiri Andrew perlahan. Ia penasaran apa yang sedang dilihat oleh Andrew dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Pelangi," gumam Delia.
Bersambung.