
Nena tengah menyusun map-map di meja kerja Justin saat seseorang menarik lengannya yang membuat dia menoleh, dan terkejut mendapati sang atasan lah yang berdiri tepat di hadapannya.
Pandangan Nena menyapu penampilan sang bos, pria itu dengan percaya dirinya hanya mengenakan celana jeans panjang dan kaus pendek berwarna putih, terlalu santai jika dikatakan akan mulai bekerja lagi setelah beberapa hari menghilang.
"Bapak nggak salah pake baju?" Tanya Nena yang hanya ditanggapi decakan pelan oleh Justin.
"Saya tidak suka kamu berhubungan dengan si Bemo-Bemo itu," tutur Justin yang membuat Nena menatap pria itu dengan dahi berkerut.
Nena mengerutkan dahi. "Bimo maksudnya?" Tanyanya dan pria di hadapannya hanya melengos, menelan ludah yang membuat jakun di lehernya itu naik turun dan terlihat sexi. Wajahnya tampak geram.
"Saya punya firasat tidak baik dengan pria itu."
Nena membuang pandangannya kearah lain, "bukan urusan bapak, saya mau berhubungan dengan siapa pun, itu urusan saya," ujarnya.
"Tentu saja itu menjadi urusan saya, karena kamu adik saya," tukas Justin yang membuat Nena menoleh, pandangannya tampak terluka. Entah mengapa mendengar kenyataan itu keluar langsung dari mulutnya membuat gadis itu kecewa. Lalu, apa sebenarnya yang selama ini ia harapkan?
"Saya sudah memilih dia untuk menjadi pendamping saya, mau kamu suka atau tidak suka, saya tidak peduli." Nena mencoba untuk berani, dan sebelum pendiriannya goyah, gadis itu pergi meninggalkan Justin begitu saja.
Saat Nena meraih handle pintu dan menariknya, seseorang yang ia yakini adalah Justin, mendorongnya dari belakang membuat benda itu kembali menutup dan tanpa dia duga pria itu memeluknya dari belakang, Nena yang terkejut berusaha melarikan diri.
"Tolong tunggu sebentar lagi Serena, saya akan membuktikan bahwa kita bukan saudara." Justin semakin mengunci pelukannya saat dirasa gadis itu berusaha memberontak.
Dengan sengaja pria itu membenamkan wajahnya pada ceruk leher Nena yang tampak semakin keberatan dengan perlakuannya itu.
"Tunggu sebentar lagi, setidaknya sampai papa saya sadar dan kita bisa mendengarkan penjelasan darinya yang mungkin berbeda, saya yakin ada yang salah dari cerita sebenarnya. Saya mohon Serena." Justin terdengar memelas, dirasanya tubuh Nena mulai diam namun kalimat yang dilontarkan gadis itu mampu membuat Justin mematung, Nena yang menyadari hal itu langsung memanfaatkannya untuk melepaskan diri, dan dengan sekuat tenaga berlari sejauh-jauhnya menghindari pria itu.
"Kalaupun seandainya terbukti kita bukan saudara, kamu mau apa? Aku nggak cinta sama kamu, Mas," ucap Nena sebelum berlari meninggalkan Justin yang membeku di tempatnya.
Nena yang berlari tanpa arah, berhenti di toilet wanita. Dia yakin, ke tempat ini Justin tidak mungkin membuntutinya.
Gadis itu menenangkan diri di sana, membasuh wajahnya yang tampak pucat sekali, napasnya naik turun efek lari dari kenyataan yang ia lakukan beberapa menit barusan.
"Ya ampun, Na. Kebetulan banget gue ketemu lo di sini." Siska yang baru masuk langsung menghambur ke arah Nena yang sedang berdiri di depan wastafel berhadapan dengan bayangannya sendiri.
"Itu tadi Lee min ho, Song jongki apa Jungkook? Eh adek Jungkook kemudaan deh, ya Allah ganteng banget Pak Justin pake baju santai, Na," celoteh Siska panjang lebar. Mendengar nama pria itu, tanggul bendungan air mata yang semula tangguh langsung jebol. Siska yang kemudian panik dengan tingkah sahabatnya yang tidak biasa itu semakin kebingungan saat Nena menghambur ke pelukannya dengan sesenggukan.
"Gue nggak kuat nampung perasaan gue sama dia Sis, semakin lama, perasaan terlarang gue ini semakin dalam, gue nggak bisa terus biarin perasaan nggak wajar gue ini semakin tumpah ruah kemana-mana.
Dan jalan satu-satunya hanya dengan gue menerima lamaran Bimo. Gue mau nikah sama Bimo, Sis. Nggak peduli kalo siapapun bilang bahwa gue cuma jadiin dia pelampiasan, gue nggak bisa hancurin perasaan gue buat dia sendirian, gue butuh seseorang buat bantuin gue."
Orasi Nena yang berkoar terkobar-kobar hanya ditanggapi dengan erjapan beberapa kali dari kedua mata Siska, gadis itu tampak bingung setengah mati. Dan saat Nena menyadari bahwa dia belum sempat menceritakan apa-apa pada gadis itu, dia menghela napasnya berat.
Semakin berat saat mendapat tanggapan luar biasa berlebihan dari gadis itu saat dia telah menceritakan semuanya.