OH MY BOSS

OH MY BOSS
WEEKEND



Pagi menjelang siang, setelah menyelesaikan ritual memasak untuk putra putrinya, Marlina beranjak ke ruang keluarga, menyalakan televisi untuk menonton sinetron hidayah kegemarannya itu.


 


 


"Ardi, Karin!" Marlina memanggil ke dua anaknya, dengan pandangan yang tetap fokus menatap benda persegi di hadapannya.


 


 


Ardi yang baru selesai mandi menghampiri sang ibu. "Apa sih, Bu?" Tanyanya, mendudukan diri di sebelah sang ibu sembari menggosok-gosok rambutnya yang basah.


 


 


"Telepon coba, Mbak sama Masmu. Kayaknya ibu kangen deh sama mereka, masa liat iklan sabun mandi di tv aja, mukanya jadi mereka berdua," ujar Marlina tampak serius.


 


 


Ardi menoleh ke layar tv yang menayangkan sebuah iklan kartu perdana. "Mana?" Tanyanya.


 


 


"Iih, tadi loh, mungkin Ibu cuma halusinasi aja kali." Marlina mengganti siaran, dan wajah putrinya muncul lagi di sana.


 


 


"Tuh, kan. Mirip Mbakmu loh itu," ucap Marlina yang membuat putranya ikut memberi perhatian ke layar datar di hadapannya.


 


 


Ardi tertawa pelan. "Iya, Bu mirip" komentarnya. Keduanya jadi senyum-senyum sendiri, bahkan Ardi mulai berpikir, sejak kapan kakaknya itu wajahnya ternyata sepasaran ini, tapi saat melihat pemeran prianya yang juga mirip Justin. Ardi mulai mengerutkan dahi.


 


 


"Iiih Bang Entin masuk Tv Bu." Karin yang baru keluar dari kamar  berseru, membuat keduanya menoleh terkejut. "Lah, Sama Mbak Nena juga. Ya ampun kerennya mereka main iklan." Karin menambahkan yang membuat Ardi dan sang ibu kembali menoleh ke layar tv, masih diam.


 


 


"Beneran, Mas Justin?" Tanya Ardi.


 


 


"Itu Mbakmu?" Marlina menambahkan.


 


 


Dan ketika Karin yang juga bingung mengangguk dua kali, kedua ibu dan anak itu berkata nyaris bersamaan. "Kirain cuma mirip."


 


 


***


 


 


Justin masih meringkuk di kasurnya ketika dering ponsel terdengar nyaring yang membuat tidurnya jadi terganggu, pria itu meraba-raba, mencari benda yang menjadi sumber suara, dan ternyata ponsel istrinya.


 


 


Menyentuh tombol silent, pria itu menuruni ranjang, mencari sang istri yang pasti berada di dapur.


 


 


Nena tengah sibuk dengan masakannya, hingga sang suami yang memeluknya dari belakang itu sontak membuatnya terkejut. "Kamu ngagetin aja, Mas," omelnya.


 


 


Justin tidak menanggapi, malah mengacungkan ponsel Nena yang tampak menyala-nyala menampilkan satu nama.


 


 


"Ardi? Kenapa nggak di angkat?" Tanya Nena, setelah itu mematikan kompor dan mengambil alih ponsel dari tangan suaminya.


 


 


"Aku ngantuk." Justin menjawab dengan suara serak bangun tidur, dan yang membuat Nena berdecak,  suaminya itu malah meneruskan tidur di pundaknya.


 


 


"Ini vidio cal, Mas. Kamu jangan gini." Nena mendorong pipi Justin menjauh.  Dan berhasil, suaminya itu menghampiri wastafel dan mencuci wajahnya di sana, namun setelah itu masih menguap juga.


 


 


Tidak mau berkomentar, Nena memilih menggeser tombol telepon, dan wajah Karin dengan pekikan cemprengnya muncul untuk pertama kali di layar hapenya.


 


 


 


 


"Mbak Nena masuk tv nggak bilang-bilang!" Ucapnya dengan wajah menggemaskan terlihat di layar ponsel Nena.


 


 


"Nggak muat, Dek, masa aku masuk tv."


 


 


"Iih nggak lucu." Ujar karin, namun sedetik kemudian wajah sang ibu tampak menyerobot memenuhi layar.


 


 


"Nenaaaa! Akhirnya ibu bisa pamer kamu jadi artis," ucapnya heboh sendiri. Padahal kan cuma iklan. Ngomong-ngomong soal iklan, Nena baru ingat semalam lewat ponsel suaminya, Samuel mengabarkan jika hari ini iklan yang beberapa minggu yang lalu mereka garap akan tayang perdana.


 


 


"Masmu mana?" Tanya Marlina membuat Nena mengerjap sadar dari lamunannya. Dan tiba-tiba sang suami sudah menyandarkan dagunya di pundak Nena, tersenyum ke arah layar dengan melambaikan tangan.


 


 


"Anakku kamu ganteng banget muncul di tipi," ucap marlina heboh. Dan tiba-tiba wajah Karin kembali menyerobot memenuhi layar.


 


 


"Apaan muka datar gitu, cakepan juga bajunya," ujar karin meledek membuat Justin tertawa pelan.


 


 


Wajah sang ibu kini muncul bersebelahan dengan Karin, kemudian berkata. "Nanti main yaa.. Ibu udah masak banyak."


 


 


"Iya, Nanti agak siangan kita ke sana," ucap Nena, menoleh ke belakang saat sang suami beranjak pergi menghampiri sofa. "Eh, Ardi mana?" Nena kembali menghadap kamera dan menanyakan sang pemilik ponsel yang sedari tadi tidak kelihatan juga.


 


 


Karin tampak mengarahkan kamera ke sebelah, Ardi tengah duduk dengan setoples camilan di pangkuannya. "Ngomong, Bang Ar." Suruh Karin.


 


 


Pemuda itu tampak melirik pada Karin yang kini merapat di sebelahnya, wajah mereka berdua kini tampak jelas di layar ponsel Nena, membuat wanita itu tersenyum sendiri.


 


 


"Ngomong dong, diem aja kaya patung pajangan kucing cina."


 


 


"Patung kucing cina? Tangannya doang dong yang gerak." Ardi protes sembari memasukan makanan ke mulutnya.


 


 


"Dari tadi Bang Ar tangan doang yang gerak, ngambil makanan, kalo bukan patung kucing cina, patung pajangan guguk di dashboard mobil deh,"


 


 


"Emh, gue kunyah juga lu. Sembarang kalo ngomong." Ardi mengomel, Nena yang melihat itu jadi tertawa, ke dua adiknya itu malah asik sendiri.


 


 


Ardi menoleh ke layar ponsel yang dipegang Karin, tampak kebingungan mau mengucapkan kalimat apa. "Bagi-bagi royaltinya ya," ucapnya kemudian yang membuat Nena tertawa.


 


 


 


 


Wajah sang ibu kini muncul di layar, dengan ke dua adiknya yang tampak masih bergulat di belakangnya. "Tuh, Na. Mereka tuh tiap hari kerjaannya berantem. Pusing ibu," adu Marlina. Mengarahkan kamera ponselnya pada Karin yang tampak tertawa-tawa, juga Ardi yang terus berusaha menutup mulutnya.


 


 


***


 


 


Nena menghampiri Justin dengan sepiring nasi goreng, suaminya itu bukannya menyalakan tv malah kembali melanjutkan tidur di sofa.


 


 


Wanita itu menaruh piring di tangannya ke atas meja, mengambil remot dan duduk dengan memangku kepala sang suami di pahanya.


 


 


"Bangun, Mas. Liat tuh iklan kita." Nena mengusek wajah Justin dengan telapak tangan, memaksa pria itu untuk terjaga.


 


 


Nena kembali fokus ke layar tv, tersenyum ketika dirinya muncul di sana. Dan hal itu tidak lepas dari perhatian Justin di pangkuannya.


 


 


Justin ikut menoleh ke layar tv, menyaksikan sang istri yang berendam di bathtub dan dengan penuh penghayatan menuangkan sabun cair merk love di tangannya. gambar bunga-bunga berterbangan seolah memancarkan keharuman yang membuat pemeran pria yang adalah dirinya tampak mencari-cari di antara juntaian kain putih.


 


 


Adegan beralih pada jemari tangan Justin yang menelusuri kulit halus lengan Nena, merapatkan tubuhnya kemudian mencium pundak wanita itu. Sama persis seperti yang ia tonton di ponselnya saat Semuel mengirimkannya kemarin.


 


 


Melihat itu berulang-ulang tentu Justin merasa bosan, dan mengalihkan perhatiannya pada wajah sang istri di atasnya itu tentu lebih menyenangkan.


 


 


Bulu mata lentiknya bergerak-gerak seiring kedipan di matanya yang bulat. hidung mancung dengan pipi yang mulus terawat, dan bibir tipis tapi penuh miliknya itu selalu memunculkan rasa candu untuk terus dan terus ia lumat.


 


 


Nena menunduk, pandangan keduanya bertemu, binar mata itu membuat Justin tidak pernah merasa rugi, telah menjalankan prosesi syuting yang amat menjengkelkan waktu lalu.


 


 


"Seneng?" Tanya Justin.


 


 


Nena mengangguk, senyumnya merekah. "Seneng banget," ucapnya.


 


 


Justin menggerakkan kepalanya, mencari posisi nyaman di pangkuan Nena, menghadap ke dirinya. "Kalo gitu kasih bonus dong," ucapnya yang membuat Nena tertawa.


 


 


"Bonus apa? Cium?" Tawar Nena yang sulit untuk ditolak oleh Justin. Namun dia ingin sedikit jual mahal.


 


 


"Bonus jatah preman." Justin berucap dan malah mendapat cubitan di lengannya.


 


 


Nena kembali tertawa, "Tapi premannya jadi bintang iklan sabun love."


 


 


"Turun pamor dong ya." Justin ikut tertawa pelan. Dan beberapa saat kemudian keduanya terdiam.


 


 


"Makasih ya, Mas." Nena berucap lebih dulu, memecah keheningan. Dan entah keajaiban dari mana wanita pemalu itu berinisiatif mencium bibir suaminya lebih dulu.


 


 


Justin menahan tengkuk sang istri, membuat pagutannya terjalin lebih lama, dan saat tangan Nena mulai memukul-mukul dada bidangnya, pria itu baru melepaskan cengkramannya.


 


 


"Nggak bisa napas akutuh." Nena mengomel dan membuat suaminya itu tertawa. Bangkit dan mengubah posisi menindih sang istri di bawah tubuhnya.


 


 


"Kita coba di sofa," ucap Justin dengan tersenyum mesum andalannya itu.


 


 


Nena menggeleng. "Kamu kan pasang cctv, nanti kerekam gimana," tolaknya.


 


 


Justin menoleh ke arah kamera cctv, kemudian kembali ke istrinya. "Nggak apa-apa, biar sekalian nanti diputar ulang kalo lagi iseng."


 


 


"Idih, ogah! Sana-sana."


 


 


"Sekali aja."


 


 


"Nggak."


 


 


"Nolak, dosa."


 


 


"Bodo amaat."


 


 


 


 


 


 


**iklan**


 


 


Netizen; plis thor jangan bikin iklan dulu untuk kali ini, terusin thor, terusin. Gue mau jadi kamera cctv.


Author; Gue malah kepikiran sama nasi gorengnya, kesian dianggurin. Tadi mah jangan tulis nasi goreng ya, nasi garing aja udah.


Netizen; Terserah thor, bodo amat, nggak penting.


Author; anjir gue merasa terzolimi lu ngomong gitu.


Netizen; gue yang terzolimi thooor di phpin mulu.


Author; sabar ya. Bayangin aja sendiri.


Netizen;Tidak semudah itu Ferguso.


Author; buset, gue dipanggil Ferguso. Guguknya Marimar.


Netizen; bodo amat.