OH MY BOSS

OH MY BOSS
KELUARGA 4



Justin kembali terbangun di pagi hari untuk memuntahkan semua isi perutnya, gejala morning sick yang seharusnya dialami oleh sang istri justru rutin dilakukan oleh seorang Justin, beruntung menjelang siang, rasa mualnya itu berangsur menghilang.


"Minggu ini kita nggak usah ke rumah ibu deh, Mas. Kamu pucet gitu, kita istirahat aja." Nena mengusap wajah basah sang suami dengan handuk di tangannya.


Saat periksa ke dokter beberapa hari yang lalu Nena menanyakan tentang keadaan sang suami, dan dokter bilang itu hal yang wajar dan sering dialami oleh beberapa calon ayah. Kenapa suaminya itu pingsan dan mimisan pun Nena tanyakan yang di jawab tidak ada masalah selain faktor kelelahan. Nena merasa lega, namun couvade syndrome, atau yang biasa disebut sindrom simpatik yang menyebabkan suaminya itu muntah-muntah seperti orang ngidam tetap saja membuat wanita itu merasa kasihan.


"Ibu pasti nungguin, katanya kamu pengen makan masakan ibu," ucap Justin yang membuat Nena dengan cepat mengangguk, entah kenapa dirinya merasa rindu sekali dengan masakan rumahan itu.


"Yaudah ayo."


***


Di perjalanan ke rumah sang ibu, Justin kembali merasa mual, padahal ia sudah berjanji untuk mengantar istrinya itu beli kamera, entah ngidam macam apa sang istri itu amat menginginkan sekali sebuah kamera , padahalkan jika hanya untuk berfoto, di hape pun bisa.


"Mas Justin ke rumah ibu duluan deh, lagian udah deket ko, nanti aku naik ojol aja," ucap Nena saat sang suami menurunkannya di depan toko elektronik.


"Kamu bisa?"


"Iya."


Dengan terpaksa Justin meninggalkan sang istri yang berjanji akan menghubunginya jika terjadi apa-apa. Justin yang baru datang dan langsung muntah-muntah di kamar mandi membuat Marlina terkejut. Sang ibu yang baru menyelesaikan ritual masaknya itu menghampiri putranya.


"Kamu masuk angin itu," ucap Marlina sembari memijit pelan tengkuk Justin.


Justin menggeleng, "nggak apa-apa kok, Bu," jawabnya.


Marlina berdecak, "dibilangin kok, ngeyel, bentar-bentar ibu ambil minyak dulu," ucapnya kemudian pergi ke dapur dan beberapa saat kemudian kembali lagi dengan piring kecil juga uang koin yang biasa ia gunakan untuk mengusir angin jahat dari tubuh putra putrinya.


"Bu, aku mau diapain?" Tanya Justin saat sang ibu menyeretnya dan mendudukkan di sofa ruang keluarga.


"Sudah ayo buka baju kamu," perintah sang ibu yang sontak membuat Justin terkejut, "mau dikerokin biar nggak masuk angin," tambahnya lagi yang bukan membuat seorang Justin lega malah semakin terperangah tidak percaya.


"Nggak usah, Bu. Aku nggak apa-apa." Justin berkata sembari mempertahankan bajunya yang mulai ditarik-tarik oleh Marlina.


"Kamu tuh nggak bakalan sembuh kalo belum dikerokin, percaya saja sama ibu."


Justin menurut pasrah saat sang ibu mulai berubah galak, dia melepaskan kaus putih lengan pendek dan mendekapnya di dada, tak apalah, toh hanya dikerok saja. Pikir Justin sebelum dia tahu bahwa dikerok ternyata semenyakitkan itu.


"Aduh, aduh sakit, Bu. Bu udah, Buuuu!" Justin mulai mengeluh, mengaduh sampai berteriak ampun-ampun pun sang ibu terus melancarkan jurus andalannya itu.


"Sabar ini sebentar lagi, dijamin anginnya pasti minggat!" Ucap Marlina mengerahkan segenap kemampuannya.


Justin terus berteriak, rasanya sakit sekali untuk dirinya yang memang belum pernah melakukan pengobatan semacam ini, dia lebih memilih baku hantam pukul-pukulan, biarpun lebam tapi bisa ditahan. Sedangkan ini? Ya Tuhan, semakin ditahan semakin tubuhnya kelojotan. "Ibuuuuu!!"


Di depan rumah, Nena yang tengah asik mengotak-atik kamera canggih bertuliskan Canon di tangannya itu sontak mendongak terkejut saat mendengar teriakan-teriakan sang suami.


Beruntung Nena tidak sampai menjatuhkan kamera baru di tangannya. Mendekap erat benda itu di dada, dia berlari cepat hingga membuat sebelah sendalnya lepas tertinggal didepan pintu, wanita itu tertegun menatap nanar suaminya yang tergolek di sofa ruang tamu.


"Mas," panggilnya lemah, melangkah dengan perlahan untuk terus mendekat.


Justin mendongak, tatapannya sayu, sorot matanya menyiratkan sebuah kepedihan. Dan kalimat yang ia dapatkan dari mulut manis sang istri adalah.


"Foto dulu, Mas. Kamera baru," ujarnya, mengarahkan fokus pada sang suami yang masih meringis menahan sakit, dan anehnya Justin malah mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V dengan memamerkan deretan gigi yang tertata rapi.


Sang ibu ikut berpose di belakang, namun tangannya terus menggosok kulit punggung Justin dengan koin dan merasa puas saat garis merah tercetak di sana.


"Sayaang! Tolong aku. Udah Bu sakit, Buuu."


"Bu, Mas Justin kenapa dikerok?" Nena berhambur ikut duduk di sofa, di hadapan suaminya yang setengah membungkuk menahan sakit.


"Dia masuk angin sampe muntah-muntah, Memangnya ngapain aja." Marlina mengomel.


Nena mulai berpikir, mengingat-ingat.  "Cuma beli martabak naik ojek tengah malem doang Bu," jawabnya.


Dan tidak dimakan karena ketiduran, Justin menjawab dalam hati, masih sibuk meringis menahan nyeri di sekujur punggungnya.


"Tuh, jelas ini masuk angin, ngidamnya jangan aneh-aneh, Na, suami kamu kasian," ucap Marlina, mencelupkan koin ke dalam minyak dan kembali menggosok punggung di hadapannya yang membuat Justin kembali mengaduh. Padahal yang harusnya merasa kasihan kan ibunya itu.


"Enggak, Bu. Kata dokter Mas Justin itu mengalami sindrom simpatik, ikut merasakan ngidam kaya aku, makanya dia muntah-muntah." Nena memberi penjelasan, membuat sang ibu menghentikan gerak tangannya, kemudian berkata oh dengan polosnya. Dan Justin merasa lega.


Nena memotret sang suami yang bergaris merah di sebagian punggungnya, kemudian berkomentar. "Ih jelek banget, masa cuman sebelah merah-merahnya."


"Eh iya, kerja nggak boleh setengah-setengah, pamali." Marlina kembali mencelupkan koin ke dalam minyak, "sabar ya, Tong, dikit aja di tahan ini nanggung. Lagi kayaknya beneran masuk angin sampe merah begini kok." Marlina memberikan alibi.


"Buuu! Jangan." Teriak Justin menirukan lirik lagu Bang aji roma, tanpa cengkok dandut tentu saja, pria itu beralih menggigit kaus di pelukannya.


"Ibu!" Panggil Nena sembari berdiri. Marlina menghentikan gerakannya, Justin menghela napas. "Foto dulu," lanjutnya dengan mengacungkan kamera.


"Sayaaaang!!"


***


Karin yang baru pulang membeli peralatan sekolah dengan diantarkan oleh Ardi yang masih sibuk memalkirkan motornya itu melangkah masuk rumah lebih dulu, namun didepan pintu, ia menemukan secarik kertas dengan uang limapuluh ribu terlipat di sana.


Karin memungutnya, membaca sekilas kertas yang bertuliskan nama toko elektronik. "Rezeki anak soleha," ujarnya yang kemudian menoleh terkejut saat seseorang menariknya.


"Duit gue," ucap Ardi setelah merebut lembaran uang di tangan gadis itu.


Karin merebutnya kembali, "enak aja," sungutnya. "Orang gue yang nemuin, jadi milik gue lah udah."


"Pepatah macam apa itu, yang namanya nemu pasti ada yang punya," Ardi menasihati.


Namun yang dinasihati malah sibuk menerawang selembar uang yang ia acungkan ke udara. "Asli nggak sih ini, Bang Ar?"


Ardi berdecak, melengos. Kemudian melangkah lebih dulu ke  dalam rumah, "coba taro di pinggir jalan sana, kalo ilang berarti asli," sarannya.


"Diambil orang dong duit Karinnya."


Karin yang hanya menggunakan sendal jepit lebih mudah melepaskannya, kemudian berjalan lebih dulu, melewati ruang keluarga. "Walaah, Bang Ceo dikerokin," Karin menghampiri Justin yang duduk membelakanginya dengan mengenakan kaus dalam berwarna putih, gadis itu menangkupkan tubuhnya ke kepala sofa yang disandari Justin. "Bayar rumah sakit mahal ya, Bang. Daftar bpjs aja lah, gratis." Karin terus berceloteh yang hanya mendapatkan gumaman pelan dari sang abang yang tampak sibuk dengan ponsel di tangannya itu.


Ardi ikut nimbrung, "dikerok ibu ya, Bang? Pake kampak 212," komentarnya yang membuat Justin menoleh, mencebikkan bibir.


"Besok tolong dibuang itu koinnya."


"Yah, Abang mah nggak tahu aja si, nggak ada koin sendok pun jadi," ucap Ardi yang memang sering dibully dengan dalih masuk angin oleh ibunya itu.


"Karin, Ardi!" Panggil Nena yang tiba-tiba muncul dari pintu dapur, "foto dulu," ucapnya, sembari mengarahkan kamera, dan entah kenapa ke dua remaja tanggung itu sigap berdiri dan tersenyum.


Nena setengah berlari menghampiri sofa tunggal dan duduk di sana, mersa puas dengan hasil jepretannya, Karin mengerjap bingung, entah sejak kapan dirinya menjadi budak sadar kamera, dan Ardi yang tampak menggaruk rambut kepala pun tampak sama bingungnya.


Karin menghampiri Nena dengan setengah berlari, "Widih, kamera baru ya, Mbak," ujarnya yang mendapat anggukan dan senyum dari mbaknya itu. Dari merk kamera yang ia baca Karin tahu, duit yang ia temui di depan tadi itu milik Nena. "Keren, Mbak Nena ngidamnya kamera mehong. Minta mobil baru lah," hasut Karin yang mendapat lirikan tajam dari Justin, pria itu menggelengkan kepala, mengancam.


"Ya biarin aja lah Bang, mobil baru mah biasa, dari pada Mbak Nena ngidam suami baru kan rempong."


Dan ucapan Karin itu mendapat lemparan bantal sofa dari abangnya. "Hasut teruuuss," ujarnya.


"Karin juga mau ah, ntar kalo ngidam minta yang mewah-mewah kaya gini," ucap gadis itu ngasal yang entah kenapa membuat Ardi yang sedari tadi duduk kalem di sofa memainkan hp di sebelah abangnya itu tersedak ludahnya sendiri, air putih di meja ia sambar sebagai pengalihan.


"Ngak usah nungguin ngidam lah, nanti abang beliin." Justin berkata sembari menatap pemuda di sebelahnya dengan curiga.


"Ngapa sih, ngeliatinnya gitu banget." Ardi sewot sendiri.


"Nggak diapa-apain kan ya," ucap Justin hati-hati, "anak orang."


Ardi yang mengerti jadi berdecak kesal, "Astagfirullah, nggak napfsu gue Bang, bocah gitu. Emangnya gue pedofil. Ah kesel gue lama-lama," Ardi beranjak berdiri. "Awas-awas," lanjutnya sembari menyibak kaki sang abang yang menghalangi jalannya, pemuda itu ngeloyor pergi begitu saja.


Karin yang bingung dengan perdebatan itu jadi bertanya pada Nena yang tampak fokus dengan benda di tangannya. "Bang Ar ngapa sih, Mbak Nena? Bawa-bawa pedofil segala, siapa yang melecehkan anak di bawah umur emang?" Tanyanya.


"Hn? Oh, Ardi suka sama kamu tapi kamunya masih kecil jadi nggak berani," ucap Nena tanpa sadar, masih fokus dengan kameranya.


Karin jadi berbinar, beranjak mengejar Ardi yang nyaris mencapai pintu kamarnya. "Bang Ar suka sama Karin? Ayolah tembak Bang, nanti Karin tolak, Karin pengen liat Bang Ar patah hati."


Mendengar itu Ardi jadi berhenti, berbalik. "Kenapa ditolak, dah?" Tanyanya, lalu kaget sendiri. "Gue nggak suka sama lo. Jan geer," ralatnya kemudian.


"Jangan gitu Bang, Ar. Nanti kalo Karin diambil orang, abang nangis di bawah sower kamar mandi baru. Gini-gini di sekolah, Karin laku tau."


"Idih, enek banget gue, jadi Cewek nggak ada jual mahalnya lo."


"Nanti kalo Karin jual mahal abang nggak mampu beli."


"Sialan." Ardi jadi mengumpat, kemudian menoyor kening gadis yang semakin lama makin mendekat, "jauh-jauh lo sono, muntah gue bisa-bisa," ucapannya yang memang selalu pedas di tanggapi dengan gelak tawa oleh seorang Karin yang sudah sangat terbiasa.


Marlina yang mendengar Ardi berkata mau muntah jadi menoleh saat melewati keduanya. "Kamu masuk angin juga, sini ibu kerokin," ujarnya.


"Idih, nggak, Bu. Untuk hari ini biar abang aja yang jadi korban, aku jangan," ucap Ardi yang membuat Justin menoleh.


"Hey kalian!" Nena berteriak membuat ketiganya menoleh. "Foto dulu," ujarnya, mengacungkan kamera. Namun ketiganya malah melengos, kemudian pergi menuju tempat tujuan masing-masing.


Nena jadi lemas, kemudian menoleh pada sang suami yang duduk di sofa di hadapannya.


Justin balik menoleh, "apa?" Tanyanya.


"Foto dulu."


Justin berdecak, namun bukan berfose tersenyum pria itu dengan cepat menghampiri sang istri dan merebut kamera di tangannya.


"Gantian sini kamu aku foto."


"Nggak mas, nanti kecantikan aku berkurang."


"Ayo cepetan senyum."


"Nggak." Keduanya terus bergulat berebut kamera dengan Justin yang terus berusaha mengambil gambar istrinya.


***Nggak niat iklan***


Author; gue bingung namatin ceritanya bagaimana. Jadi biarin aja lah santai aja tamatnya.


Netizen: terus kontesnya gimana thor?


Author; berhubung kemenangan contes ditentukan oleh banyaknya viewers. Jadi cerita gue yang nggak bisa mencium bau kemenangan ini, tetep gue terusin aja.


Netizen: lama bangt thor nggak update.


Author: monmaap ya, hp jadul author ini eror, udah pengen di lem biru.


Netizen; bilang aja thor kalo mau minta sumbangan buat beli hp, nggak usah sepik.


Author; kenapa kamu tau banget perasaan aku, jangan jangan kita jodoh.


Netizen; wah iya thor barangkali.


Author; ketemuan hayu, gue pengen nyulik orang ini.


Netizen; idih ngeri.


Author; gue nggak minta sumbangan kok. Minta doa aja di komentar biar bisa menang nanti hadiahnya buat beli hape. Haha


Netizen: jangan ngarep thor.


Author; bodo amat.


Dan kalo ada yang mau request momen boleh, misal momen Ardi karin, atau William Lily. Ditunggu komen hebohnya ya. 😘😘