OH MY BOSS

OH MY BOSS
KEPULANGAN PELANGI



"Aku ingin bercerai dari Pelangi. Aku sudah tahu semuanya."


Kalimat yang keluar secara langsung dari bibir Gilang itu sukses membuat Farhan dan Toni terkejut. Farhan bahkan terlihat hampir pingsan, untunglah ada Toni yang menahan tubuh pria tua itu agar tidak terjatuh.


"Tenanglah, Pak, tenang." Toni mendudukkan Farhan kembali di sofa dan menenangkan pria tua itu, lalu beralih menatap Gilang yang balas menatapnya dengan tatapan kosong.


"Ada apa? Kenapa mendadak." Toni bertanya kepada Gilang. Pura-pura tidak mengerti apa yang sedang Gilang bicarakan.


"Jangan berpura -pura bodoh, Toni. Aku tahu apa yang telah kamu lakukan kepadaku. Kamu yang kupikir sahabatku, tega-teganya bersekongkol untuk menjebaku. Tega sekali kamu menjadi bagian dari rencana ayah yang sangat tidak masuk akal." Gilang berkata dengan suara yang begitu lirih. Ia begitu sedih karena pengkhianatan yang Toni lakukan. Padahal selama ini hanya Tonilah satu-satunya orang kepercayaannya.


"Tenangkan dirimu, Gil. Kamu tidak bisa mengambil keputusan mendadak seperti ini. Memangnya siapa yang mengatakan semua omong kosong ini padamu? tanya Toni.


"Gisel."


"Dan kamu percaya pada ucapannya? Wah, apa kamu lupa kalau Gisel itu pembohong ulung--"


"Tidak, aku tidak lupa. Itulah sebabnya aku tidak percaya saat Gisel mengatakan bahwa dirinya hamil. Aku juga tidak lagi berhubungan dengannya sejak aku mengetahui bahwa selama ini dia membodohiku, karena kamu tahu bahwa aku tidak suka dibohongi, apalagi ditipu. Tapi, untuk kali ini aku percaya padanya." Gilang berkata dengan sinis, sambil bergantian menatap Farhan dan Toni. ”Gisel memiliki rekaman percakapanmu dengan Andrew beberapa waktu lalu. Saat Kalian berdua meributkan rahasia yang harusnya tidak kuketahui."


Deg!


Toni mengerti sekarang. Rupanya Gisel mengendap-endap ke dalam ruangannya dan merekam perdebatan antara dirinya dengan Andrew beberapa hari lalu. Menyadari kesalahan fatal yang dilakukannya, Toni membuang muka, mengusap wajah dengan kasar sembari mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Andai saja ia lebih berhati-hati lagi, semua ini pasti tidak akan terjadi.


Toni kemudian memberanikan diri untuk membalas tatapan Gilang dan berkata, "Apa masalahnya sekarang? Kamu mencintai Pelangi dan Pelangi sedang mengandung bayimu. Tidak ada yang salah dalam cinta kalian berdua, ’kan?"


Gilang menghampiri Toni dan meremas kerah kemeja pria itu, matanya merah, tangannya gemetar karena menahan amarah. "Mungkin cinta kami tidak salah, tetapi cara kalian memperlakukanku yang salah. Apa kamu tahu bagaimana rasanya ditipu, Toni? Apa kamu paham bagaimana rasanya dibohongi? Tidak, 'kan! Itulah sebabnya kamu menyederhanakan semuanya. Seolah semua ini tidak masalah terjadi padaku!"


Bug!


Gilang mendaratkan tinjunya di wajah Toni, sekali, dua kali, tiga kali.


Toni jatuh tersungkur di lantai, dengan wajah merah dan bibir berdarah.


"Cukup, Gilang, cukup. Sekali lagi kamu menghajar Toni, maka aku tidak akan segan-segan mencabut posisimu di kantor!" Farhan berteriak, berusaha menghentikan putranya yang kehilangan kendali.


Mendengar teriakan Farhan, Gilang malah tersenyum miring. "Lakukanlah, Pak Tua. Aku tidak butuh jabatan dan harta sialanmu."


Farhan mengatur napas, lalu bangkit berdiri dan dengan langkah goyah ia menghampiri Gilang. "Pelangi adalah gadis baik-baik. Aku akui caraku salah. Tapi tidak ada cara lain untuk memisahkanmu dari Gisel saat itu. Sedangkan aku tahu betul siapa Gisel, apa yang diinginkan wanita itu darimu. Aku tahu segalanya. Aku tahu kalau dia hanya memanfaatkanmu."


"Seharusnya ayah katakan padaku. Bukannya menjebakku dan membuatku harus menikah dengan seseorang yang tidak kucintai." Gilang membanting vas bunga yang ada di dekatnya, membuat vas mahal itu berubah menjadi serpihan-serpihan kecil.


"Apa kamu akan mendengarkanku jika aku mengatakan semua itu? Tidak, Gilang. Kamu telah dibutakan oleh cinta. Gisel segalanya buatmu, walaupun pada kenyataannya kamu hanyalah mainan bagi Gisel. Salah satunya cara agar kamu menjauh dari Gisel adalah dengan sebuah tindakan. Bagimu, Gisel adalah wanita sempurna yang tidak ada cacatnya sama sekali. Hal buruk apa pun yang dikatakan orang lain tentang Gisel tidak akan kamu dengarkan. Mana bisa aku membongkar rahasia Gisel, maka satu-satunya cara adalah membuat dirimu merasa bersalah dan kemudian bertanggung jawab atas kesalahan itu. Itulah sebabnya aku merencanakan semua itu. Semua demi kebaikanmu."


Gilang diam saja mendengarkan setiap penjelasan Farhan. Ia tahu, sekeras apa pun ia berusaha menjelaskan pada sang ayah, pada Toni atau pada siapa pun bahwa apa yang mereka lakukan telah sangat menyakiti hatinya, tetap saja tidak akan ada yang mau mengerti.


"Maafkan Ayah, Gil. Ayah harap kamu tidak menceraikan Pelangi. Mengingat dia sedang mengandung dan ayah juga tidak akan pernah setuju jika kamu berpisah darinya."


Gilang menggeleng. "Ayah paling tahu kalau aku bukanlah orang yang pintar bersandiwara. Sejak dulu aku tidak suka berpura-pura. Bahkan saat ayah memintaku untuk berpura-pura tersenyum ketika Andrew datang, aku tidak bisa melakukan hal sederhana itu. Apalagi di situasi sekarang ini. Aku tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku tidak bisa bersikap sama seperti sebelumnya pada Pelangi. Aku benar-benar tidak bisa bersamanya lagi. Aku akan mengurus perceraian kami besok. Jika persidangan tidak bisa diadakan karena kondisi Pelangi yang sedang hamil, maka aku yang akan pergi dari rumah."


Farhan melayangkan tinjunya ke wajah Gilang. Ia sangat marah karena Gilang tidak mau mendengarkannya. "Sudah aku bilang, jangan berani-berani kamu menceraikan Pelangi. Dia itu menantuku dan dia sedang mengandung penerus keluarga Andreas. Jika kamu tetap mau menceraikannya, kamu harus melangkahi mayatku dulu." Tepat setelah mengatakan itu, tubuh Farhan Andreas jatuh ke lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.


***


Kondisi Pelangi semakin membaik setelah ia mendapatkan perawatan intensif selama satu minggu penuh. Selama itu juga ia tidak pernah bisa tenang, karena tidak sekali pun Gilang datang untuk mengunjunginya. Hanya Toni yang sesekali muncul untuk menengoknya, memberinya buket bunga mawar yang katanya bunga itu adalah titipan Gilang. Ayah mertuanya pun tidak pernah absen menelepon untuk menanyakan kabarnya dan memberinya semangat agar lekas sembuh, tetapi Gilang tidak pernah menelepon sekali pun.


Pernah suatu kali Pelangi meminta pada Toni agar dirinya dapat berbicara dengan Gilang melalui telepon. Awalnya Toni menolak, dengan alasan Gilang sedang sibuk mengurus tender. Namun, Pelangi terus memaksa, dan akhirnya Toni pun menyerah.


Pelangi tersenyum sumringah saat mendengar suara Gilang dari seberang panggilan. Akan tetapi, senyum itu seketika menghilang karena Gilang tiba-tiba saja memutus panggilan secara sepihak. Hal itu membuat Pelangi kecewa dan tidak lagi mencoba untuk menghubungi Gilang.


Siang ini Dokter Arnold akhirnya memberikan izin kepada Pelangi untuk pulang. Keadaannya sudah membaik dan hanya perlu sesekali datang ke rumah sakit untuk melakukan kontrol. Namun, sebelum kembali ke rumah, Dokter Arnold memberi saran kepada Pelangi agar menyempatkan diri memeriksa kehamilannya ke dokter kandungan. Kebetulan sekali, praktek Dokter Virzha--dokter kandungan Pelangi--berada di rumah sakit yang sama di mana Pelangi dirawat.


"Aku akan menemanimu untuk memeriksakan kandungan sebelum sopir yang dikirim mertuamu tiba." ujar Amara yang sedang memasukkan pakaian Pelangi ke dalam tas.


Pelangi menggeleng. "Tidak usah. Aku tidak akan periksa."


Amara menyikut Pelangi dengan pelan. "Jangan lembek begitu. Sebagai calon ibu, kamu itu harus kuat, harus tegar. Seorang anak yang masih berada di dalam kandungan tidak bisa melakukan sesuatu kecuali ibunya yang melakukannya, termasuk menjaga kesehatannya. Semua itu tugasmu Pelangi."


Air mata Pelangi menetes begitu mendengar ucapan Amara. "Aku bukannya tidak ingin tegar demi bayiku. Aku hanya merasa sedang sangat terpuruk sekarang ini. Gilang berubah. Aku merasa kalau dia menjaga jarak dariku, dan kenyataan itu mampu membuatku stres, Ra."


Amara menghampiri Pelangi dan memeluk sahabatnya itu. Tanpa sadar ia pun ikut menangis. Sebenarnya Amara pun merasa bingung pada perubahan sikap Gilang. Saat bertemu di kantor beberapa hari yang lalu, Gilang bersikap dingin padanya dan pada semua orang. Amara juga merasa bahwa Gilang sedang bermasalah dengan Toni, karena beberapa kali ia melihat Gilang menatap Toni dengan tatapan benci.


"Semua akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu, Pelangi. Semua demi bayimu. Masih ada aku di sini. Oke."


"Dan aku." Pintu mendadak terbuka, dan Andrew muncul dari balik pintu sambil menutup wajahnya dengan sebuah boneka kelinci berwarna merah muda.


Karena wajah Andrew tertutup, Pelangi terlihat cuek. Ia tidak terlalu memedulikan kehadiran pria yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Sudah lupa padaku?" tanya Andrew lagi, sambil menggerakkan boneka di depan wajahnya.


"Andrew," ujar Pelangi dengan mata berbinar.


"Ya, ini aku. Apakah tidak ada ritual peluk cium?” tanya Andrew, mendekat ke tempat Pelangi berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.


Pelangi menghambur ke dalam pelukan Andrew, dan menangis sesenggukan di sana, tangis yang selama satu minggu ini ditahannya setengah mati.


Andrew mengusap rambut panjang Pelangi. "Maaf, aku tidak tahu kalau kamu mengalami kejadian seperti ini. Aku sungguh tidak tahu."


Pelangi mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku bukan selebritis yang saat terkena musibah akan langsung disiarkan di semua stasiun televisi."


Andrew memeluk Pelangi semakin erat. "Aku khawatir sekali saat orang-orang di kantor memberitahuku. Aku langsung meluncur kemari begitu mengkonfirmasi kebenarannya."


"Dari mana saja kamu? Kenapa tidak pernah datang menjengukku? Aku sudah akan pulang hari ini," tanya Pelangi, karena memang ia tidak pernah melihat Andrew sekali pun datang mengunjunginya selama dirinya di rawat.


"Aku ada urusan di luar kota saat kejadian buruk ini menimpamu. Seandainya saja aku ada di tempat kejadian hari itu. Mungkin aku bisa menyelamatkanmu dan kamu tidak akan merasakan kesakitan seperti ini." Andrew mengusap kedua pipi Pelangi yang basah karena air mata.


"Tidak apa-apa. Jangan salahkan dirimu, aku sudah sehat sekarang."


Andrew mengangguk, lalu melepaskan rangkulannya dari tubuh Pelangi. "Kamu akan pulang hari ini? Apa Gilang tidak menjemputmu?"


Pelangi menggeleng.


Melihat gelagat Pelangi yang tidak bersemangat dan ekspresi wajahnya yang menjadi sedih ketika nama Gilang disebut, Andrew lantas mengalihkan pembicaraan.


"Ada aku di sini. Tenang saja. Ayo kita pulang." Gilang meraih tas Pelangi yang tergeletak di atas ranjang, lalu menggenggam tangan gadis itu untuk keluar dari dalam ruang rawat inap.


"Hem, tunggu!" teriak Amara tiba-tiba.


Andrew menghentikan langkah dan segera berbalik untuk menatap Amara. "Ada apa?" tanya Andrew.


"Periksa kandungannya bagaimana?"


Andrew terlihat bingung. Sehingga Amara pun mulai menjelaskan. "Dokter yang merawat Pelangi mengatakan kalau Pelangi harus melakukan pemeriksaan kandungan sebelum pulang ke rumah, untuk mengetahui keadaan si bayi. Tapi Pelangi tidak mau, karena Pak Gilang tidak datang untuk menemaninya."


"Benarkah?" tanya Andrew, sambil menatap Pelangi.


Pelangi mengangguk.


Andrew menghela napas. "Ayo, aku yang akan menemanimu. Jangan hanya gara-gara Gilang, kamu jadi tidak peduli pada kandunganmu. Hal seperti itu tidak benar, Pelangi."


"Tapi, Ndrew--"


"Sudahlah. Jangan ada tapi di antara kita. Kamu ini kekanakan sekali."


***


Farhan Andreas menekan bel yang ada di samping tempat tidurnya untuk memanggil seorang perawat. Sejak pertengkarannya dengan Gilang beberapa hari lalu, kesehatan Farhan tiba-tiba saja memburuk. Ia sering pingsan, mudah lelah, dan sesak napas. Dokter mengatakan bahwa ada gangguan pada jantungnya, yang mengharuskan Farhan untuk terus beristirahat dan tidak boleh banyak pikiran.


Karena alasan kesehatan Farhanlah, Gilang mengurungkan niatnya untuk bercerai dengan Pelangi. Dokter pribadi keluarga Andreas mengatakan bahwa Gilang tidak boleh membuat Farhan stres dan merasa tertekan. Jika hal itu sampai terjadi, maka bisa berakibat fatal bagi kesehatan Farhan.


Setelah beberapa saat seorang perawat wanita bertubuh tinggi dan langsing terlihat memasuki kamar Farhan. Wajahnya yang cantik menyunggingkan senyum ramah seperti biasanya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Suster cantik itu, suster yang biasa disapa dengan sebutan Suster An.


"Ah, Suster Anneth, maaf merepotkanmu. Tapi, bisakah tolong ambilkan ponselku. Aku rasa aku meninggalkan ponsel itu di atas meja kerja."


Suster An mengangguk, lalu melangkah menuju meja kerja Farhan. "Siapa yang ingin Anda telepon di jam segini, Pak? Seharusnya Anda tidur siang. Bukannya sibuk menelepon," ujar Suster An, yang terlihat begitu akrab dengan Farhan.


Farhan Andreas terkekeh. "Aku merasa seperti sedang dimarahi oleh anak perempuanku."


Suster An tersenyum. "Jadikan saya anak perempuan Anda kalau begitu, agar saya bisa memarahi Anda setiap hari."


Farhan tertawa. "Ah, tidak, tidak. Putraku sudah memiliki istri. Menantuku itu cantik dan baik sekali. Hari ini dia akan datang. Itulah sebabnya aku ingin menghubungi Gilang agar dia pulang lebih awal untuk menyambut istrinya."


Suster An mengernyitkan dahi. "Saya pikir Pak Gilang belum menikah. Saya tidak melihat adanya foto pernikahan di rumah ini."


"Itu karena semua foto pernikahan mereka memiliki galeri tersendiri di dalam kamar Gilang. Gilang sangat protektif terhadap istrinya. Sehingga potret istrinya tidak boleh dipajang sembarangan."


Suster An diam saja, ia lalu memberikan ponsel yang diminta Farhan.


"Halo, Gilang, pulanglah. Pelangi akan datang. Ingat perkataanku. Jangan berpikir untuk melanggar."


Bersambung ....