OH MY BOSS

OH MY BOSS
AMNESIA RETROGRADE



Toni dan Gisel saling melempar tatapan bingung. Keduanya keheranan dengan pertanyaan yang baru saja terucap dari bibir Gilang. Bagaimana bisa Gilang tidak ingat tentang Amara? Padahal selama ini Gilang cukup akrab dengan wanita itu, terlebih lagi Amaralah yang menjaga Pelangi saat Pelangi sedang dalam proses pemulihan setelah mengalami kecelakaan.


"Amara itu teman Pelangi, Gil, mereka bersahabat" ujar Toni.


Gilang mengernyitkan dahi, dan terlihat semakin bingung. Namun, beberapa saat kemudian ia terlihat masa bodoh dan beralih menatap Gisel.


"Maaf, karena telah membuatmu khawatir. Padahal aku sudah menyetir dengan hati-hati tadi, tapi motor itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku dan membuatku terkejut. Mau tidak mau, daripada aku menabrak orang itu lebih baik jika aku membanting setir dan menabrak pohon." Gilang menjelaskan sembari meraih tangan Gisel lalu mengecupnya dengan lembut. "Kamu pasti menungguku semalaman di restoran Jepang itu, 'kan? Tapi aku malah tidak datang."


Gisel tidak mampu berkata-kata, ia hanya melirik Toni yang sekarang tengah menatapnya dan Gilang dengan mulut terbuka lebar seolah sedang melihat hantu.


Tanpa pikir panjang, Toni menarik tangan Gisel dan membawanya keluar dari ruangan itu. Sementara Gilang berteriak memanggil Toni, ia tidak suka jika Gisela disentuh oleh pria lain, walaupun yang menyentuh adalah sahabatnya sendiri.


Toni tidak memedulikan teriakan Gilang, Ia terus melangkah keluar ruangan dan menutup pintu dengan keras di belakangnya.


"Dia ... apa yang barusan itu? Apa terjadi eror di otaknya karena terlalu banyak terkena pukulan!" seru Toni.


Gisel menggeleng. "Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada Gilang, tapi kejadian yang baru saja dia katakan adalah kejadian tiga tahun lalu saat dia mengalami kecelakaan tunggal, bukan? Aku ingat sekali saat itu aku mengomel karena Gilang tidak kunjung datang menepati janjinya, lalu beberapa menit kemudian kamu menelepon untuk mengabariku bahwa Gilang menabrak pohon dan kondisinya kritis. " Gisel meremas rambutnya. Ia masih ingat dengan jelas bahwa kejadian itu adalah kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Gilang tiga tahun lalu. "Aku tidak tahu banyak tentang gangguan otak dan segala macamnya, tapi jika aku tidak salah menyimpulkan, sekarang ini sebagian ingatan Gilang hilang dan ingatannya kembali ke waktu tiga tahun lalu." Gisel melotot, seolah tidak percaya pada apa yang terjadi.


"****!" Toni memukul dinding di sebelahnya. "Kita harus segera memberitahu Dokter Angga."


"Tidak ada yang perlu dicemaskan. Toh Gilang baik-baik saja. Dan jika boleh kukatakan, hal ini lebih baik untuknya, karena dengan begini Gilang tidak akan bersedih karena kehilangan Pelangi."


Toni meremas pundak Gisel dengan kasar, tatapannya begitu tajam dan menusuk, sehingga membuat Gisel merasa sedikit ketakutan.


"Gilang tidak boleh melupakan hal terpenting dalam hidupnya. Pelangi dan perusahaan yang direbut dengan paksa dari tangan ayahnya adalah sesuatu yang harus selalu Gilang ingat," desis Toni.


Gisel menepiskan tangan Toni dari lengannya. "Untuk apa? Untuk apa semua itu harus bertahan di ingatan Gilang jika hanya akan membuatnya menderita. Ya, mungkin Gilang memang harus tahu tentang perusahaan, dengan begitu Gilang dapat menyusun strategi agar dapat kembali merebut perusahaan itu. Tapi tentang Pelangi ... lebih baik jika Gilang tidak mengingat Pelangi sama sekali. Wanita itu sudah tiada.".


Toni tersenyum sinis pada Gisel. "Ah, ya, aku lupa bahwa kamu adalah salah satu wanita yang menginginkan gilang untuk dirimu sendiri. Kamu pasti senang sekarang karena mulai saat ini hanya ada dirimu di dalam memori Gilang. Tidak ada tempat lagi bagi Pelangi yang benar-benar Gilang cintai." Toni berbalik pergi menjauhi pintu kamar Gilang yang tertutup rapat. Ia memilih untuk menenangkan diri di luar rumah sakit alih-alih kembali masuk ke dalam kamar dan melihat bagaimana liciknya Gisel dalam menangani memori Gilang yang mundur tiga tahun ke belakang.


***


"Apa ini permanen, Dok?" tanya Gisela yang terlihat penasaran.


"Tergantung seberapa parah kerusakan yang terjadi pada jaringan otaknya. Tim dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh besok pagi-pagi sekali untuk memastikan apakah amnesia yang dialami Pak Gilang ini bersifat permanen atau sementara."


"Tapi, Dok, apakah normal amnesia yang Gilang alami. Dia bukannya kehilangan seluruh ingatannya. Tapi Gilang bersikap seolah dia masih berada di waktu tiga tahun yang lalu. Artinya, Gilang tidak ingat momen beberapa tahun terakhir, dia bahkan tidak ingat pada istrinya. Yang diingatnya hanyalah kejadian tiga tahun lalu."


Dokter Angga mengelus dagunya, ia terlihat sedang berpikir sebelum menjawab pertanyaan Toni. "Sebenarnya ini agak unik. Pak Gilang sepertinya mengalami amnesia Retrograde, di mana hanya sebagian ingatan yang hilang. Kasus seperti ini sesekali terjadi pada pasien yang mengalami cidera di kepalanya."


Toni dan Gisel mengangguk, kemudian keduanya pamit undur diri dari hadapan Dokter Angga, dan langsung berjalan beriringan menuju kamar Gilang.


Sesampainya di kamar perawatan, Toni dan Gisel mendapati Amara sedang berdiri di samping ranjang Gilang. Melihat hal itu, Toni lantas mengeluh. Ia belum menceritakan apa pun pada Amara tentang amnesia yang diderita oleh Gilang. Sehingga tidak mengejutkan ketika ekspresi bingung dan sakit hati tampak dengan jelas di wajah Amara.


"Hai, Ra, daritadi?" tanya Toni.


Mendengar suara Toni, Amara segera menghampiri pria itu dengan kedua mata yang berair. "Dia Melupakan Pelangi, Ton. Secepat itu dia melupakan istrinya. Dasar Gilang sialan!" desis Amara.


Melihat kemarah Amara yang sepertinya akan meledak, Toni segera menarik lengan wanita itu untuk keluar dari ruangan.


"Jaga bicaramu, Ra, jangan memaki Gilang. Apalagi di depannya seperti tadi," ujar Toni, saat mereka telah berada di luar ruangan.


Amara mengusap air matanya yang mulai mengalir dan membasahi kedua pipinya. "Jadi, maksudmu aku harus membungkuk rendah di hadapannya dan memberinya hormat, begitu?! Untuk apa aku melakukan itu pada pria macam Gilang. Apa kamu tahu kalu dia pura-pura tidak mengenalku tadi."


"Dia bukannya pura-pura tidak mengenalmu, Ra, dia memang tidak ingat kalau dia pernah mengenalmu," ujar Toni.


Amara mengernyitkan dahi. "Maksudmu Pak Gilang Amnesia? Tapi dia ingat pada Gisel. Saat aku berdiri di depannya tadi, dia terus mengatakan apakah aku teman Gisel."


"Itu karena amnesia yang dialami Gilang memang amnesia yang membuatnya melupakan memori baru di dalam kepalannya. Saat terbangun tadi, Gilang mengira bahwa karena kecelakaan tiga tahun yang lalullah dia dirawat. Dia tidak ingat jika dia sudah menikah. Dia bahkan tidak ingat pada Pelangi."


Bersambung ...