
Anneth tersenyum penuh kemenangan setelah panggilan terputus. Ia tahu bahwa yang baru saja menghubunginya dan meminta untuk bertemu di hotel adalah Arya.
Anneth mengatur napas. Ia sedikit gugup saat ini, apalagi tinggal beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Arya dan membicarakan pernikahan kontrak yang ia tawarkan pada pria itu. Itu juga jika Arya setuju. Jika tidak, maka Anneth mau tidak mau harus mengatakan pada Pelangi agar wanita itu harus berhati-hati pada Arya.
Bukan tanpa alasan ia berniat untuk menolong Pelangi agar keluar dari masalah pelik yang tengah wanita itu hadapi. Entah Pelangi tahu atau tidak, tetapi Anneth memiliki hutang budi pada keluarga Andreas yang tidak mungkin akan bisa ia balas sampai kapan pun jika bukan sekarang.
Saat Anneth bekerja sebagai suster yang merawat Farhan Andreas, sebenarnya saat itu ia sedang butuh banyak uang untuk pengobatan orangtuanya yang menderita kanker. Dan upah sebagai perawat di rumah sakit jelas tidak cukup untuk biaya pengobatan walaupun ia bekerja siang dan malam tanpa henti.
Saat itu Anneth mengatakan secara gamblang pada Farhan agar dirinya diberi upah yang sedikit lebih banyak, dan tanpa disangka-sangka, Farhan malah melunasi semua biaya rumah sakit orangtuanya dan memberinya upah yang besar pula. Walaupun ia telah kurang ajar karena dengan terang-terangan jatuh cinta pada Gilang, Farhan tidak pernah marah padanya, apalagi memecatnya.
"Anakku memang tampan, tidak heran jika kamu jatuh cinta padanya. Tapi harus kamu ketahui Anneth, Gilang sangat mencintai Pelangi. Walaupun mereka sedang bertengkar, mereka saling mencintai." Itulah yang Farhan ucapkan saat pria itu mengetahui bahwa Anneth gencar mengejar dan menggoda Gilang.
Sejak saat itu, ia berhenti mengejar Gilang dan berniat jika suatu saat ia akan membalas perbuatan baik Farhan padanya. Dan sekarang Tuhan telah memberinya kesempatan, ia tidak akan membuang-buang kesempatan yang ada.
"Sekarang baru jam tiga sore. Haruskah aku bertemu dengan Pelangi lebih dulu?"Anneth bergumam seorang diri sembari memainkan rambut panjangnya.
Setelah memikirkan beberapa saat, Anneth akhirnya mengangguk dan memutuskan untuk menemui Pelangi. Setidaknya Pelangi harus tahu bahwa dirinya sedang berusaha untuk menyelamatkan Pelangi dari bahaya.
***
Anneth berkendara sekitar satu setengah jam dari apartemennya menuju komplek perumahan elite di mana kediaman keluarga Andreas berada.
Setelah tiba di komplek perumahan, ia hampir saja bertabrakan dengan sebuah minibus buruk rupa yang melaju dengan cepat dari arah berlawanan. Anneth menghentikan mobilnya dengan mendadak, hingga kepalanya terbentur roda kemudi yang ada di hadapannya.
"Sialan. Apa orang itu tidak bisa menyetir." Anneth berujar dengan marah, lalu segera keluar dari dalam mobilnya dan menendang bagian depan minibus yang hampir saja menabraknya. "Keluarlah!" titah Anneth, pada seorang pria kurus bercambang tipis yang duduk di balik kemudi.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Alex. Sejak semalam Alex memang mengawasi kediaman keluarga Andreas. Ia tidak tidur sama sekali, sehingga rasa kantuk melanda saat ia sedang menyetir.
Alex membuka pintu mobil dan berhadapan dengan Anneth. Anneth terkejut, tetapi dengan cepat ia mengendalikan dirinya agar keterkejutannya tidak terlihat dengan jelas.
"Maaf, aku bersalah. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang." Alex membungkuk sedikit, laku kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan cepat meninggalkan Anneth.
"Astaga, bukannya dia sudah mati?!" Anneth mengelus dada, ia benar-benar terkejut akan kehadiran sosok Alex di hadapannya, padahal setahunya pria itu telah tewas di tangan Gisel beberapa tahun lalu.
Gisel buru-buru kembali masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan kendaraannya menuju kediaman keluarga Andreas.
Sesampainya di kediaman keluarga Andreas, seorang petugas keamanan menghentikan mobil Anneth.
"Maaf, apa Anda sudah membuat janji." Salah seorang petugas keamanan bertanya.
Anneth menurunkan kaca jendela mobilnya, kemudian menjawab, "Belum, tapi aku adalah seorang suster. Aku ada urusan penting dan mendadak dengan Bu Pelangi. Sejak tadi dia tidak bisa dihubungi, bagaimana aku bisa membuat janji." Anneth mengeluarkan kartu tanda pengenal dari dalam tasnya, agar petugas keamanan tahu bahwa ia tidak berbohong.
"Nyonya Pelangi sedang kursus menyetir seharian tadi. Mungkin karena itulah Anda tidak bisa menghubunginya, tapi sekarang Nyonya telah tiba dan ada di dalam. Masuklah."
Pintu gerbang terbuka lebar, memperlihatkan halaman luas yang hijau dan asri.
"Trims," ujar Anneth, sembari menutup kembali kaca jendela mobilnya dan mengemudikan mobil itu hingga tiba di garasi khusus mobil tamu.
Anneth keluar dari dalam mobil dan tersenyum ketika dilihatnya Pelangi dan Gilang sedang berada di halaman.
"Hai kalian!" Anneth berteriak sembari melambaikan tangan.
Pelangi menatap Anneth dengan bingung, karena ia belum melihat dengan jelas sosok wanita itu.
Pelangi menggeleng. "Tidak tahu, tapi sepertinya seseorang yang kita kenal."
Beberapa saat kemudian Anneth yang sejak tadi berlari-lari kecil menyeberangi halaman tiba di hadapan Pelangi.
"Suster An," gumam Pelangi, sembari tersenyum lebar.
"Yes, ini aku." Anneth membalas senyuman Pelangi.
Pelangi membuka lengannya lebar-lebar, lalu merangkul Anneth yang telah lama tidak ia temui. "Senang bertemu denganmu lagu. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Aku pun senang dapat bertemu dengan kalian berdua." Anneth kemudian memandang Gilang yang duduk di atas kursi roda. Wajahnya terlihat kebingungan, tetapi ia merasa tidak pantas untuk bertanya.
"Gilang menderita spinal cord injury." Pelangi menjelaskan begitu melihat raut kebingungan di wajah Anneth.
"Jangan bercanda," ujar Anneth.
Pelangi menggeleng. "Aku sama sekali tidak bercanda. Gilang terjatuh beberapa waktu lalu, dan tulang belakangnya mengalami cedera hingga sarafnya rusak permanen."
Anneth menutup mulut dengan kedua tangan. Ia sungguh tidak menyangka jika Gilang yang gagah perkasa akan bernasib begitu tragis. "Aku turut prihatin, Pelangi," ujar Anneth.
"Terima kasih, Suster An." Gilang yang menjawab, lalu ia menggerakkan tuas kursi rodanya agar posisinya menghadap ke Anneth.
"Walaupun Anda tidak bisa berjalan, wajah Anda tetap tampan seperti dulu. Pelangi beruntung sekali." Anneth berkomentar, begitu ia memandang Gilang.
"Ya, aku beruntung sekali. Terkadang aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menantapnya tanpa henti saat dia sedang tertidur." Pelangi membelai pundak Gilang dengan sayang.
"Seharusnya akulah yang berkata seperti itu. Akulah yang beruntung karena memiliki istri yang begitu sabar seperti Pelangi. Entah sudah berapa macam cobaan yang menghampiri pernikahan kami, tetapi dia tidak kunjung meninggalkanku."
Anneth mengusap sudut matanya yang mendadak mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Ia terharu akan kisah keduanya yang memang selalu penuh dengan cobaan.
"Oh, ya, sebenarnya tujuanku kemari karena aku ingin membicarakan perihal Arya Saputra Adiguna. Kalian berdua mengenalnya, bukan?" tanya Anneth.
"Ya, kami tekan bisnis. Ada masalah apa?" tanya Gilang.
"Kalian berdua rekan bisnis? Apa saat membicarakan pekerjaan dengannya, Anda pernah membawa Pelangi ikut serta?" tanya Anneth lagi.
"Ya, pertemuan pertama antara aku dengannya saat itu ada Pelangi juga."
"Heem, pantas saja. Dia tertarik pada Pelangi, apa kalian berdua sudah tahu hal itu? Kebetulan aku adalah suster yang merawatnya saat dia sedang kumat."
"Saat dia sedang kumat?" Pelangi mengernyitkan dahi begitu mendengar ucapan Anneth. "Apa dia memiliki riwayat gangguan jiwa."
Anneth mengangguk. "Ceritanya panjang. Akan aku jelaskan pada kalian. Tapi, sebelum aku membahas tentang Arya lebih jauh, ada satu hal lagi yang tidak kalah penting yang harus kalian ketahui."
"Apa itu?" Pelangi bertanya dengan penasaran.
"Alex masih hidup. Aku berpapasan dengannya saat di depan jalan masuk komplek. Apa kalian tahu kalau dia masih hidup?"
Bersambung.