
Kabar kehamilan Delia menjadi angin segar di kediaman keluarga Andreas. Farhan terlihat sangat bahagia dan wajah keriputnya terlihat jauh lebih muda dari usianya saat ia mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan memiliki seorang cucu.
Pria tua yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar untuk membaca buku itu segera bangkit dari kursi goyangnya, saat seorang pelayan mengumumkan kabar bahagia itu dengan suara lantang di dalam kamarnya.
"Selamat, Tuan besar, selamat. Anda akan menjadi seorang kakek," teriak seorang pelayan yang telah lama bekerja dengannya.
"Apa maksudmu?" Saat itu Farhan masih kebingungan.
"Nona Delia sedang mengandung. Baru saja dokter datang untuk memeriksanya karena nona terus saja muntah, dan ternyata nona tengah mengandung."
Setelah mendengar kabar itu, Farhan segera meraih tongkatnya dan berjalan keluar kamar dengan cepat. Ia tertawa dan terus mengucapkan terima kasih pada Andrew dan Delia karena akan memberikan seorang cucu untuknya.
Akan tetapi, Farhan tidak berlebihan dalam menunjukan rasa bahagianya, karena ia tidak ingin melukai perasaan Gilang yang pasti saat ini merasa sedih. Jika saja ia tidak menahan diri, saat ini ia pasti akan mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambut kehamilan menantunya.
***
Siang ini seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga. Sudah hampir dua jam mereka berbincang santai sembari menyantap hidangan manis yang mendadak sangat digemari oleh Delia. Ada bermacam-macam cake, pai, hingga waffle yang Farhan pesan dari salah satu toko kue ternama di pusat kota. Delia dan Amara menyantapnya dengan rakus. Lagi pula, wanita mana yang tidak suka makanan manis. Namun, tidak dengan Pelangi, semua makanan yang terhidang di atas meja tidak ada yang menarik perhatiannya dan tidak menggugah seleranya sama sekali. Ia hanya menyantap sepotong bolu pandan, itu pun tidak habis.m sejak tadi.
Di akhir perbincangan, Gilang mengumumkan sesuatu yang membuat seluruh anggota keluarga terkejut.
"Aku akan pergi ke kantor mulai besok," ujar Gilang
Pelangi menghentikan kegiatan mengunyah yang memang enggan ia lakukan.
"Kenapa tiba-tiba, Nak?" tanya Farhan.
"Sebenarnya tidak tiba-tiba, Ayah. Pelangi telah mengutarakan hal ini sejak beberapa hari lalu. Dia mengajakku kembali ke kantor dan menjalankan kegiatan seperti sebelumnya. Aku pun telah membahasnya dengan Pak Tito saat dia datang kemari kemarin. Hanya saja kami belum membahasnya dengan serius." Gilang menjelaskan.
Andrew dan Toni terlihat senang. Mereka memang selalu menanti kehadiran Gilang agar pria itu kembali ke kantor. Masa bodoh dengan keadaan Gilang yang cacat, toh Gilang masih bisa melakukan segala hal dengan bantuan seorang asisten.
"Aku setuju. Aku dan Toni sangat senang menyambut kedatanganmu kembali." Andrew mengacungkan ibu jarinya ke arah Gilang, yang hanya dibalas Gilang dengan senyuman.
"Aku akan mencarikan asisten untukmu secepatnya, Gil. Kamu tenang saja." Toni mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk menelepon agen yang menyalurkan pekerja-pekerja profesional.
Akan tetapi, dengan cepat Gilang menolak. "Tidak perlu, Toni, kamu tidak perlu mencari seorang asisten untukku, karena aku sudah memilikinya."
"Siapa?" tanya Andrew dan Toni berbarengan. Mereka berdua terlihat bingung karena Gilang telah memilih asisten tanpa sepengetahuan mereka.
"Pelangi."
Pelangi tersedak jus yang baru saja ia minum. "Serius?" tanyanya. Ia terlihat tidak percaya pada ucapan Gilang yang memilihnya menjadi asisten pria itu.
Gilang tersenyum. "Tidak mau?"
"Tentu aku mau. Aku sangat mau." Pelangi bangkit berdiri dan menghampiri Gilang, lalu segera duduk di pangkuan pria itu dan memeluk Gilang dengan erat. "Aku senang sekali, Gil," bisik Pelangi di telinga Gilang.
Pelangi terlihat sangat bahagia. Hal itu membuat Gilang ikut merasa bahagia juga.
"Hanya ini yang bisa kuberi padamu. Aku senang jika kamu senang." Gilang membalas bisikan Pelangi.
Pelangi melepaskan rangkulannya pada tubuh Gilang, lalu beralih menatap Farhan. "Ayah serius?"
Farhan mengangguk. "Tentu ayah serius. Apa ayah terlihat sedang bercanda?"
Pelangi bangkit berdiri dan segera menghampiri Farhan, lalu menyalami dan mencium punggung tangan pria itu. "Terima kasih, Ayah. Ayah memang Ayah yang terbaik. Aku akan memikirkan kira-kira berapa gajih yang akan kuminta. Yang pasti tidak sedikit. Ayah jangan menyesal."
Lagi-lagi Farhan tertawa. "Ya, Nak, pikirkanlah dengan benar."
Jika di dalam rumah besar itu gelak tawa memenuhi ruangan, dan kebahagian jelas sekali terpancar dari setiap wajah yang ada di sana, berbeda dengan yang terjadi di luar rumah, tepatnya di bawah sebuah pohon akasia besar yang berada di seberang jalan.
Alex dan Surya mulai kegerahan. AC yang menyala di dalam mobil sudah tidak lagi mempu mendinginkan mereka apalagi membuat mereka menggigil seperti pagi tadi, karena memang cuaca di luar sangat panas. Matahari begitu terik hingga mereka merasa seperti sedang dipanggang di dalam oven bersuhu tinggi.
"Mana mereka? Sekarang sudah lewat tengah hari. Kita bahkan belum makan dan minum, tapi tidak ada satu pun dari kedua cecunguk itu yang memunculkan batang hidungnya." Surya mengomel, sembari mengusap wajahnya yang berkeringat.
"Tunggulah sebentar lagi. Salah satu dari mereka pasti akan keluar. Mana mungkin mereka mau berdiam diri seharian di rumah," ujar Alex.
Surya mendengkus kesal. "Daritadi kamu mengatakan tunggulah sebentar, tunggulah sebentar. Aku tidak mau menunggu lagi. Aku sudah sangat lapar, bosan dan haus. Kita sudah setengah hari berasa di sini, Lex. Kamu pikir aku mau menghabiskan waktu seharian hanya untuk duduk seperti ini. Kurang kerjaan sekali." Surya kemudian menyalakan mesin mobilnya dan mulai menginjak pedal gas, menjalankan mobilnya menuju jalan keluar komplek perumahan.
"Jangan gegabah. Apa kamu tidak menginginkan uang dan mobil sport? Ayo kita kembali dan menunggu sebentar lagi." Alex berusaha mengambil kendali roda kemudi yang tengah dioperasikan oleh Surya.
Akan tetapi, Surya yang sudah muak tentu saja enggan untuk kembali. Sehingga terjadi perdebatan di antara keduanya dan saling berebut roda kemudi dan ....
Buk!
Asap mengepul dari bagian depan mobil saat mobil menabrak sesuatu dengan begitu keras.
"Argh, kamu memang pembawa sial, Lex!" Surya menyentuh keningnya yang terasa sakit. Ia yakin pasti keningnya benjol sekarang.
Alex sendiri tidak berkata apa-apa, ia terlalu terkejut karena kepalanya membentur dasbor dengan keras hingga keningnya berdarah.
Seseorang kemudian mengetuk kaca jendela mobil dengan keras.
Surya membuka kaca jendela mobilnya. "Maaf, kami tidak sengaja."
"Keluarlah. Mesin mobil kalian mengeluarkan asap. Sepertinya akan terbakar," ujar seorang sekuriti yang tak lain adalah sekuriti yang bertugas di rumah keluarga Andreas.
"Kita harus turun, cepat." Surya mendorong tubuh Alex agar pria itu segera keluar dari dalam mobil.
Alex menurut. Keduanya pun segera keluar dari dalam mobil dan mata keduanya melotot begitu melihat apa yang baru saja mereka tabrak. Ternyata yang baru saja mereka tabrak adalah pembatas jalan yang berada tepat di depan kediaman keluarga Andreas.
"Astaga," gumam Alex.
Belum lagi Alex dan Surya pergi dari sana, sebuah sedan hitam muncul dari balik pagar. Kaca jendela bagian depan sedan itu terbuka, memperlihatkan Andrew yang sedang asyik mengobrol dengan Toni sembari menyetir. Namun, obrolan mereka terhenti saat Toni menepuk pundak Andrew dan menunjukkan ke luar jendela.
Andrew menoleh. "Baji_ngan!"
Bersambung.