OH MY BOSS

OH MY BOSS
MIMPI



Justin terbangun dari mimpi yang nyaris setiap hari mengganggu tidurnya. Mimpi yang sama, berulang-ulang dan entah kenapa memori otaknya seolah menolak ingat pada mimpi yang sangat mengganggu istirahatnya itu. Justin melihat ada sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan, selebihnya hanya bayangan-bayangan samar yang perlahan-lahan memudar, hanya itu mimpi yang bisa dia ingat, dan anehnya kenapa mimpi itu datang setiap malam.


Beralih dari mimpi, pemuda itu mengambil ponselnya yang semalam dia lemparkan kedalam laci. Bibir sexinya berdecak sebal, tidak ada balasan dari gadis itu. Begitu pikirnya.


Mungkin Nena bukan tipe perempuan yang suka berbasa-basi pada pengirim pesan dengan nomor baru, atau juga dia enggan meladeni orang-orang iseng. Dan memikirkan dirinya masuk kedalam golongan orang yang terbilang iseng telah mengirimkan pesan tidak penting, membuat moodnya sepagi ini sudah cukup buruk. Ditambah lagi persediaan air putih di kamarnya habis. Justin mengacak rambutnya dan berlari menuruni tangga menuju dapur.


"Selamat pagi calon anak tiri Tante!" sapaan genit dari wanita cantik yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari dirinya tidak serta merta membuat mood nya pagi ini kian baik. Entah kenapa bertemu dengan kekasih papahnya itu selalu membuat Justin mengetatkan rahang. Kesal.


"Sepagi ini sudah bertamu? Anda tidak punya kerjaan?" Justin mengambil air dingin dari dalam kulkas, menuangkannya kedalam gelas.


"Terimakasih." Dengan tidak sopan Carla, calon istri papanya, mengambil gelas berisi air itu dan meminumnya dengan gerakan menggoda yang sama sekali tidak membuat napsu birahi pemuda itu tersentuh sedikitpun, yang ada Justin sangat bernapsu sekali ingin mencekik leher tante girang di hadapannya itu.


Dengan emosi yang mulai merangkak naik Justin lebih memilih meminum air dingin yang dia pegang langsung dari botolnya, daripada harus mengambil gelas baru. Dia tidak sesabar itu.


Diam-diam atau bahkan dengan secara terang terangan Carla menunjukan ke-ter-pesonaannya pada cara Justin membuat jakunnya itu naik turun, air yang keluar dari sudut bibir calon anak tirinya itu mengalir melewati leher meninggalkan bercak basah pada kaos tipis lengan buntung yang ia kenakan. Dan hal itu teramat sangat sexi di mata Carla.


Justin meletakan botol minuman itu dengan kasar. Mata elangnya menyorot dingin pada Carla, namun wanita yang selalu berpakaian sexi dengan model baju yang belum selesai jahitannya itu, sama sekali tidak ter-intimidasi dengan tatapan Justin. Tangan Carla terangkat mengelus dada calon anak tirinya di bagian yang basah, pemuda itu terhenyak, mundur disambut dengan kekehan persis kuntilanak Carla.


"Kamu belum mandi saja sudah setampan ini yah, calon anak tiriku! Aku jadi bingung pilih papa kamu atau aku dengan kamu saja?"


Penawaran secara tidak langsung itu benar-benar membuat Justin nyaris muntah. Bisa-bisanya papanya itu jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada perempuan yang sama sekali tidak terendus kewarasannya.


Justin terlalu malas untuk meladeni wanita gila di hadapannya itu, dia lebih baik pergi.


"Justin!" panggil Mr. Juan, membuat langkah anak semata wayangnya itu terhenti. "Papa ingin bicara," lanjutnya kemudian.


***


"Nena!" Siska setengah berlari menghampiri teman kerjanya yang terlihat memberikan lambaian perpisahan pada tukang ojek. Oh ternyata bukan. Dia ....


"Itu adek lo ya? titisannya Steven William?" Tanya Siska dengan menyelipkan nama aktor ganteng pemeran anak jalanan di salah satu stasiun tv.


"Iya. Bukan titisannya Bang Boy juga kali." Nena merapikan rambutnya dengan tangan, tidak mengenakan helm membuat rambutnya kian kusut.


"Sumpah, Nena. Ibu lo masaknya pake penyedap rasa macam apa si? Kok bisa anaknya secantik dan setampan kalian?" Selain rambut Nena yang kusut karena diterpa angin, sekarang otaknya juga mulai kusut karena pertanyaan tidak berfaedah sahabatnya itu.


"Jangan mulai deh, Sis. Masih pagi, otak gue masih fresh nih, sayang kalo tercemar."  Gigi Siska mendadak tonggos, bibirnya maju beberapa centi.


"Bilangin dia ya, kalo udah siap meminang seorang wanita terhormat suruh nyari gue gitu ya, gue tunggu."


Nena tidak lagi menggubris celotehan sahabatnya, gadis itu melangkah pergi sambil ngedumel dalam hati.


"Gue rasa ni anak lagi oroknya kurang bedong dah, gitu banget kelakuannya," pikir Nena.


"Kok tumben masuk lift aja ngantri gini? Kan lift kantor ini ada tiga." Siska mensejajari langkah Nena. Gadis itu bertanya pada teman kantornya yang ikut mengantri.


"Dua lift itu rusak, nggak tahu sejak kapan," jawab seorang wanita yang katanya sudah mengantri lebih dari lima menit. Nena jadi ingat kejadian semalam bersama pak bosnya. Dan dia tidak berniat sedikitpun menceritakannya pada Siska yang notabene kurang waras.


"Lewat tangga darurat aja yuk, Sis." Ajak Nena, Siska langsung menggeleng kuat.


"Ogah ah, gue belum sarapan," alibinya. Nena ingin melangkah kearah tangga darurat, tapi Siska menarik lengannya.


"Udah, sabar aja, entar juga dapet giliran." Nena manut dengan terpaksa.


Derap langkah mantap seseorang yang baru saja datang membuat barisan antrian terpisah menjadi dua, tanpa dikomando mereka secara otomatis memberikan jalan untuk si empunya perusahaan ini, siapa lagi jika bukan Justin.


Para karyawan yang berdiri di sisi kanan dan kiri Justin serentak menunduk, menyapa bosnya itu dengan hormat meskipun hanya dibalas dengan anggukan singkat tanpa senyum secuilpun.


TING


Lift terbuka, Justin melangkah sendiri, tidak ada yang berani satu lift dengan atasannya itu, mereka terlalu canggung bahkan untuk sekedar bertanya apakah mereka bisa ikut. Tapi mereka lebih memilih diam, Justin menekan tombol nomor lantai yang dia tuju, dengan gerakan slow motion pintu lift tertutup dengan sorot mata elang Justin yang mengarah pada satu titik.


"Sumpah demi apa, Na. Pak Justin ngeliatin gue tadi!" Siska memeluk lengan Nena agresif. Setelah lift benar-benar tertutup.


"Yakin dia liatin lo?" Tanya Nena iseng.


"Katanya lo mau nungguin titisannya Steven William."


"Nggak jadi. Bilangin aja, gantian dia yang suruh tunggu gue jadi janda cerai matinya si ganteng dulu." Nena memutar bolamatanya jengah.


Nena mendecih. "Selain kurang bedong, ni anak juga kurang asupan air susu ibu kayaknya," batinnya.


***


Siang ini Justin berkunjung ke ruangan kerja William, Nena sebagai sekretaris William mendapat ruang kerja persis di depan ruang kerja atasannya itu. Sehingga siapapun yang akan menemui William pasti akan lebih dulu bertemu dengannya. Seperti kali ini, Nena hanya mengangguk hormat mendapati Justin yang melewati dirinya dan membuka ruang kerja William tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.


"Hay, Just," sapa William sedikit terkejut, Justin tidak membalas sapaan sahabatnya itu. Dia langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa.


"Tumben kau mampir kemari?" Tanya William berbasa-basi sembari melemparkan paper bag ke arah Justin yang langsung sigap ditangkap oleh sahabatnya itu. Pandangannya seolah bertanya ’apa nih?’


"Buat acara nanti malam." Jawab william, mengerti isi kepala sahabatnya itu.


"Harus yah?" tanya Justin, setelah mengintip isi paper bag di tangannya.


"Aku sudah baik hati yah, jangan sampai tidak kau pakai," ancaman secara halus keluar dari bibir tipis William, Justin hanya membuang napas kasar. "Kau kesini mau menemuiku, atau mau lihat  sekretaris cantikku?"


’Dua-duanya’, jawab Justin dalam hati. "Aku bermimpi itu lagi." Justin mengabaikan candaan William, pria itu memang sudah menceritakan perihal mimpi yang setiap malam mengganggu tidurnya.


"Bisa jadi itu tentang masa lalumu, Just."


"Aku sudah tanya ayahku, apakah aku mempunyai saudara kembar dan dia hanya menggeleng sebagai jawaban."


"Apa kau cerita padanya, soal mimpi yang tiap hari mengganggu tidurmu.?"


"kami tidak sedekat itu." Jawaban Justin hanya mendapatkan anggukan lemah dari William, pria itu tahu  tentang  hubungan antara ayah dan anak itu bagaimana.


"Aku punya kenalan psikiater, kau  konsultasi saja dengan beliau." William memberikan sebuah kartu nama.


"Aku harus kembali ke ruangan." Putus Justin setelah memasukan kartu nama itu kedalam dompet. William hanya mengangguk sebagai balasan, dan setelah Justin sudah berjalan beberapa langkah.


"Jangan lupakan ini, Just!" William melemparkan paper bag kearah sahabatnya, yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Justin, kemudian pemuda itu benar-benar meninggalkan ruang kerja William.


Nena kembali mengangguk hormat saat didapati Justin keluar dari pintu ruang kerja William dan menutupnya. Justin tidak langsung pergi, pria itu menghampiri Nena.


"Mana ponsel mu?" Justin menengadahkan tangannya ke hadapan Nena, kalimat yang tidak seperti pertanyaan itu berhasil membuat Nena mengerjap bingung, Justin hanya menggerakan jari-jarinya dengan code meminta, gadis itu menyerahkan ponselnya yang dia ambil dari dalam tas.


Justin mengambil ponsel Nena, android merk biasa yang sudah ketinggalan beberapa jaman. Pria itu nampak mengetikkan sesuatu.


"Saya paling tidak suka diabaikan," ucapnya seraya mengembalikan ponsel alakadarnya itu pada pemiliknya. Kemudian pergi meninggalkan Nena yang masih kebingungan dengan tingkah dan ucapan bosnya itu.


"Dia kenapa si?" Nena bertanya entah pada siapa. Dan gadis itu merasa tidak penasaran dengan apa yang dilakukan si bos pada ponselnya.


TRING


Nada pesan di ponsel Nena, gadis itu membuka benda persegi itu dan membaca dari siapa pesan masuk itu.


"Justin? Emang gue punya nomornya yah? Apa tadi Pak Justin minjem hp gue buat nulisin nomor dia doang? iseng amat!"


makan siang nanti pesankan saya menu seperti kemarin, antarkan ke meja saya.


Nena terkejut, bukan karena pesan perintah itu, tapi ada pesan sebelumnya yang dikirimkannya semalam.


"Jadi yang semalem ngirim pesan, Pak Justin? kenapa nggak whatsaap aja coba, gue kan nggak punya pulsa," ucap Nena mendramatisir kalimat akhir, persis iklan kartu perdana.


’Gue jadi bingung, sebenernya gue ini sekretaris siapa si?’ Tanya Nena dalam hati, yang pastinya untuk dirinya sendiri.


***