OH MY BOSS

OH MY BOSS
PENGORBANAN BERUJUNG DUKA



Pelangi dan Gilang sama-sama terkejut mendengar penuturan dari Anneth. Mereka berdua tidak percaya jika Alex masih hidup.


"Mana mungkin Alex masih hidup, Sus, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat itu bahwa Alex telah meninggal. Bukan hanya satu atau dua peluru yang bersarang di tubuhnya. Aku yakin Gisel menembaknya berkali-kali, karena lukanya banyak sekali." Gilang berujar, memberi penjelasan yang masuk akal. Saat itu ia memang melihat Alex tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah dengan banyak luka tembak di tubuhnya Dengan luka sebanyak itu mana mungkin Alex masih hidup.


"Apa Anda yakin saat itu Alex benar-benar telah tewas?" tanya Anneth, dengan tatapan menyelidik.


Gilang diam sejenak. Ia memikirkan kembali kejadian di mana ia pun hampir kehilangan nyawa. "Aku tidak tahu, tapi lukanya sangat banyak."


"Sebanyak apa pun lukanya, jika tidak mengenai organ vital kemungkinan besar dia masih bisa diselamatkan," ujar Anneth. "Aku tidak mungkin salah lihat. Aku pernah melihat fotonya beberapa kali dari Toni dulu sekali, dan aku masih ingat bagaimana wajahnya. Memang dia terlihat kurus dan tidak terawat sekarang, tetapi aku yakin sekali jika pria itu adalah Alex."


Keheningan menyergap, baik Gilang atau pun Pelangi sama-sama berusaha memikirkan kemungkinan bahwa Alex memang selamat. Tapi mau dipikirkan bagaimana pun, Gilang tetap tidak percaya jika Alex masih hidup.


"Dia kehilangan banyak darah. Tidak mungkin dia selamat, Sus." Gilang bergumam, rasanya sulit sekali untuk percaya bahwa Alex masih hidup.


"Tapi, jika memang orang itu adalah Alex, apa yang sedang dilakukannya di sini?" tanya Pelangi.


"Apalagi jika bukan untuk mengawasi kalian. Apa tidak pernah ada kejadian aneh yang terjadi di sekitar sini? Semacam teror atau apalah. Jika kedatangannya untuk membalas dendam, dia pasti sudah mulai bertindak, hanya saja kalian yang belum sadar."


"Astaga, mungkinkah ...!" Gilang tidak menyelesaikan ucapannya. Ia tiba-tiba saja ingat pada sesuatu hal.


Pelangi segera berlutut di hadapan Gilang. "Ada apa, Sayang? Apa pernah terjadi sesuatu?" Pelangi bertanya dengan perasaan cemas.


"Ya, waktu itu ada seseorang yang mengirim email padaku dan mengancam akan mengacau di hari pernikahan Andrew jika aku tidak mengirimnya sejumlah uang. Tapi hanya sampai disitu, toh ancamannya tidak terjadi juga. Hari pernikahan Andrew berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan." Gilang menjelaskan.


"Email? Email seperti apa?"


"Email itu berisi foto-foto buram lokasi di mana kamu terjatuh ke jurang. Sepertinya foto itu hasil screenshot video yang direkam."


Tubuh Pelangi gemetar. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi dan berkeringat dingin. Kejadian di tepi jurang itu hingga sekarang masih menyisakan trauma yang mendalam bagi Pelangi. Sehingga membayangkan saja membuatnya merasa ngeri, apalagi jika ia sampai melihat foto-foto yang Gilang katakan.


"Di mana sekarang foto-foto itu?" tanya Pelangi.


"Ada di laptopku. Aku sengaja tidak menghapusnya, karena aku dan Toni berniat untuk mencari tahu siapa gerangan si pengiriman email."


Anneth menghela napas dengan kesal. "Kurang ajar si Alex itu. Biar nanti aku yang urus dia setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Arya. Aku akan membantu kalian, tenang saja, kalian tidak perlu terlalu khawatir. "


Pelangi menatap Anneth yang terlihat serius pada ucapannya. "Terimakasih, Sus, tapi urusan apa yang akan kamu selesaikan dengan Arya?"


Anneth tersenyum, kemudian mengatur napas sebelum ia mengatakan, "Aku akan menikah kontrak dengan Arya."


"Hah, yang benar. Tapi kenapa? Maksudku, apa kalian memang memiliki hubungan istimewa? Bukankah tadi kamu mengatakan kalau si Arya itu kurang waras." Pelangi terkejut akan berita yang baru saja Anneth ucapkan. Rasanya jantungnya hendak copot sekarang, karena dalam waktu singkat ia mendengarkan dua berita mengejutkan sekaligus. Pertama, fakta bahwa Alex masih hidup. Kedua, Anneth akan menikah pada Arya yang ternyata tidak waras.


"Aku sebelumnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Arya. Aku mengajukan pernikahan kontrak padanya hanya sampai dia memiliki keturunan. Sebenarnya hanya hal itu yang Arya cari. Hanya saja dia tidak memilih sembarang wanita untuk mengandung anaknya. Dia kebetulan bertemu padamu dan tertarik padamu, Pelangi, itulah sebabnya dia memilihmu. Dia bahkan tidak peduli dengan status pernikahanmu." Anneth berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, " Aku harap dia mau menikah denganku agar dia tidak lagi mengejarmu, karena asal kalian tahu saja, Arya sangat berbahaya jika penyakitnya kumat."


Kedua mata Pelangi berembun mendengar penjelasan Anneth. Ia tidak percaya jika Anneth melakukan hal itu demi dirinya. Dengan kata lain Anneth berkorban untuknya.


"Maksudmu, kamu mengajukan diri menikah dengannya agar dia tidak lagi menggangguku?"


Anneth mengangguk. "Ya, bisa dikatakan begitu. Aku tidak sengaja mendengarnya menyebut namamu saat dia menjalani sesi terapi dengan Dokter Zayan. Arya berniat mencelakaimu dan suamimu beberapa hari lalu."


"Astaga, Sus, terima kasih. Aku sungguh mengucapkan banyak terima kasih padamu. Tapi, untuk apa kamu melakukan ini semua?" Pelangi merangkul Anneth sembari menangis .


Anneth mengusap punggung Pelangi. "Aku sedang membalas kebaikan Tuan Farhan, dan anggap saja aku melakukan ini sebagai bentuk permintaan maafku padamu, karena dulu aku sempat menggoda suamimu."


Pelangi tertawa, begitu juga dengan Gilang. Ya, mereka dulu sempat bermusuhan karena Anneth secara terang-terangan mengincar Gilang untuk dijadikan kekasihnya, padahal saat itu Anneth tahu jika Gilang telah memiliki seorang istri.


***


Alex masuk ke dalam kontrakan kecil milik Surya dengan langkah terhuyung, kemudian ia segera menghempaskan tubuhnya di atas sofa lusuh dan berdebu yang ada di ruang tamu. Seketika debu beterbangan disaat Alex menjatuhkan dirinya dan menenggelamkan wajah di sandaran sofa yang berjamur.


Surya yang kebetulan sedang berada di ruangan itu pun menjadi bersin-bersin disebabkan oleh debu-debu kecil yang menggelitik lubang hidungnya.


"Sial, kalau tidur, tidurlah di kamar, jangan di sini." Surya berkomentar, sembari menghalau debu yang beterbangan di sekitarnya.


Alex menggeliat sembari menguap. "Aku berjaga di depan rumah Gilang semalaman."


"Ya, dan apa hasilnya? Kamu hanya menjadi sekuriti gratisan di sana. Setiap hari mengawasi dan mengawasi, tetapi tidak menghasilkan apa pun. Apa kamu tidak bosan? lagi pula, aku jadi tidak bisa pergi ke mana pun karena mobilku selalu kamu bawa ke sana dan kemari." Surya mengomel.


Benar apa yang dikatakan oleh Surya, karena semenjak Alex datang, Alex terus saja bepergian hanya untuk menguntit keluarga Andreas, atau sekadar memata-matai kediaman pria itu, hingga Surya kesulitan untuk menggunakan mobilnya sendiri, karena mobilnya akan hilang dari parkiran begitu pagi menjelang dan tidak kunjung kembali hingga pagi berikutnya


"Ck, aku hanya pinjam sebentar, kenapa pelit sekali. Nanti saat aku berhasil memeras si Gilang itu atau si Arya, aku akan membelikanmu sepuluh mobil sport yang pastinya jauh lebih bagus daripada mobil bobrokmu sekarang."


Surya tertawa terbahak-bahak. "Jangan berkhayal. Dasar gila. Mana bisa kamu membeli sepuluh mobil sport, makan saja kamu menumpang padaku."


"Bagaimana kalau aku yang belikan?"


Surya dan Alex terperanjat begitu telinga mereka menangkap suara berat dan tegas dari pintu yang terbuka.


"Pintunya tidak dikunci, jadi aku langsung masuk saja," ujar suara itu lagi.


Alex melotot ketika dilihatnya Arya tengah berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang tampan dan penampilannya yang rapi sangat kontras dengan keadaan di sekitarnya. Arya terlihat seperti malaikat yang sedang tersasar di tempat pembuangan sampah.


"Anda? Sedang apa Anda di sini dan dari mana Anda tahu alamatku?" Alex bertanya, sembari mempersilakan Arya untuk masuk dan duduk di sofa yang tadi ia duduki.


"Bukan hal yang sulit bagiku untuk mencari keberadaan seseorang." Arya menjawab seadanya, lalu ia duduk di sofa yang melesak ketika bokongnya mulai menyentuh permukaan sofa.


"Anda Arya, putra dari Gunawan Adiguna?" Surya berkomentar dengan kedua mata yang membelalak lebar. Ia sungguh tidak percaya jika Arya yang terhormat dan kaya raya tengah berdiri di dalam gubuk kumuhnya.


"Ya, aku putra Adiguna dari GG Group. Aku memiliki pekerjaan untukmu. Itu juga jika kamu tidak keberatan dan bersedia."


"Tentu aku bersedia," ujar Alex dengan cepat. "Pekerjaan apa yang Anda inginkan aku lakukan untuk Anda?"


Surya mencondongkan tubuhnya ke tempat Alex duduk. "Ini tentang keluarga Andreas."


"Aah, pasti Gilang, kan? Dia memang menyebalkan sekali dan juga sangat sombong." Alex berdecak, terlihat kesal sekali.


"Tidak, tidak, si cacat itu akan menjadi urusanku sendiri. Yang aku maksudkan adalah Andrew dan Toni."


"Si cacat? Andrew, Toni? Apa maksud Anda, Pak?" Surya bingung, kenapa Arya menyebut Gilang dengan sebutan si cacat.


"Aah, aku lupa mengatakan padamu kalau si Gilang sekarang tidak bisa melakukan banyak hal alias lumpuh. Dia hanya diam di atas kursi roda dari pagi hingga pagi lagi. Aku sering melihat dia di balkon kamarnya saat pagi hari." Alex diam sejenak sembari tertawa, lalu melanjutkan, "Kasihan sekali si putra kesayangan Farhan itu."


Surya ikut tertawa. Mendengar kabar tentang keadaan Gilang yang tidak berdaya membuatnya merasa senang. "Ah, ingin sekali aku memperoloknya. Sayang tidak bisa kulakukan."


"Pokoknya Gilang adalah urusanku. Jangan ada yang berani menyentuhnya," Arya memperingatkan, lalu ia kembali berkata, "Bagian kalian adalah Toni dan Andrew. Sebenarnya jika dilihat-lihat, Gilang itu bukanlah siapa-siapa tanpa kehadiran ayahnya yang kaya, Toni yang loyal, Andrew yang pemberani, dan Pelangi yang setia. Tanpa mereka semua Gilang hanyalah sampah yang mudah terbakar dan musnah."


Alex dan Surya mengangguk setuju.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan pada Toni dan Andrew?" tanya Alex.


Arya tersenyum sinis. "Dengarkan aku baik-baik."


***


HOTEL BLOSSOM 21.00


Anneth merapikan gaun selutut berwarna merah maroon yang ia kenakan. Ia baru saja tiba di pelataran hotel dan berjalan dengan anggun memasuki lobi dan tergesa-gesa, karena sejak tadi Arya terus menghubunginya. Sesampainya di lobi seorang petugas hotel menghampirinya.


"Nona Anneth?" tanya petugas pria itu dengan suara yang dalam dan tegas.


Anneth mengangguk dengan cepat. Wajah petugas hotel yang kaku dan cemberut itu membuat Anneth tidak mampu berkata-kata, terlebih lagi saat ini dirinya sedang gugup karena akan bertemu dengan Arya.


"Saya Arsen, salah satu staf hotel. Tolong ikuti saya," perintah petugas hotel itu, kemudian berbalik pergi meninggalkan Anneth, membiarkan Anneth mengekor langkahnya sampai mereka tiba di elevator.


"Anda dari mana saja? Tuan Arya telah menunggu Anda sejak tadi, tetapi Anda tidak kunjung datang."


"Aku harus berdandan. Tidak mungkin aku menemuinya dengan penampilan seadanya, bukan?" Anneth menjawab dengan santai, berusaha agar tidak terlihat gugup. "Apa dia marah?"


Arsen mengangguk. "Sepertinya begitu."


"Oh." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Anneth.


Ting.


Pintu elevator terbuka, memperlihatkan selasar berkarpet merah dengan dinding berukiran rumit yang terlihat mewah dan elegant


"Pressidential suite," ujar Arsen. "Kamar ini disewa khusus untuk Anda."


Anneth kembali mengangguk. Kemudian mengikuti langkah Arsen keluar dari dalam elevator menuju satu-satunya pintu melengkung yang terlihat di ujung lorong.


Setibanya di depan pintu, Arsen secara tiba-tiba menarik tangan Anneth dan menyerahkan sebuah kunci kepada wanita itu.


"Apa ini?" Anneth memperhatikan benda berkilau di tangannya.


"Aku tidak seharusnya memberikan ini pada Anda. Tapi jika terdesak, ini adalah kunci darurat dari salah satu pintu yang ada di ruang ganti dekat kolam renang." Arsen berucap dengan cepat, membuat Anneth merasa bingung. "Gunakanlah dan ikuti saja tangga yang menuju ke bawah. Jika Anda mengikuti tangga itu, Anda akan tiba di gudang penyimpanan yang ada di lantai dasar."


Dahi Anneth mengernyit. "Untuk apa semua ini? Aku akan bertemu dengan seorang bos dari GG Group, bukannya bertemu dengan seorang penjahat." Anneth sengaja mengucapkan hal itu untuk memancing informasi dari Arsen. Sepertinya pria itu mengetahui banyak hal tentang Arya.


"Sekretaris Pak Arya juga terakhir berada di kamar itu, dan dia tidak pernah keluar setelahnya." Arsen kemudian membungkuk rendah sebelum berbalik pergi meninggalkan Anneth.


Anneth menatap kepergian Arsen dengan dada berdebar. "Entah apakah hal yang kulakukan ini sudah benar atau belum. Oh, God, lindungi aku." Anneth berujar, kemudian ia membuka pintu yang ada di hadapannya dan segera berhadapan dengan Arya yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Hai," ujar Arya.


Belum lagi Anneth sempat menjawab, Arya segera menempelkan sebuah sapu tangan pada hidung Anneth.


"Apa itu?" tanya Anneth, sembari menjauhkan tangan Arya dari wajahnya.


"Agar kamu tidak banyak melawan. Aku suka wanita yang penurut." Arya berbisik di telinga Anneth, kemudian menjulurkan lidah dan menjilati daun telinga Anneth dengan perlahan.


Anneth mundur selangkah sambil terhuyung Kepalanya tiba-tiba saja pusing dan pandangannya menjadi tidak fokus.


"Apa yang kamu berikan padaku?" tanya Anneth.


"Hanya sesuatu yang membuatmu sakit kepala, tetapi tidak sampai membuatmu tidak sadarkan diri. Aku rasa kamu harus menikmatinya juga, bukankah itu yang kamu inginkan?" Arya menarik Anneth ke dalam pelukannya, dan menggendong wanita itu menuju ranjang berukuran king size yang sekarang permukaannya di penuhi dengan kelopak mawar merah.


"Lepas. Aku ingin turun, aku ... mmh, mmh." bibir Arya ******* bibir Anneth dengan rakus, tidak membiarkan wanita itu untuk menyelesaikan apa yang ingin diucapkan.


Anneth berusaha berontak, tapi percuma saja. Arya begitu liar. Dalam sekejap Arya berhasil merobek pakaian Anneth dan menenggelamkan wajahnya di dada Anneth.


Anneth mengigit bibir, berusaha menahan dorongan untuk mengerang. Karena bagaiman pun juga yang dilakukan Arya adalah sebuah bentuk pelecehan.


"Aku tidak berniat menikah, karena aku tidak ingin mengkhianati Clara, tapi kamu malah mengajukan pernikahan kontrak pada ayahku. Maka, rasakanlah hukumanmu, Sayang." Arya merobek celana Anneth dengan kasar, lalu segera menghujam berkali-kali ke dalam bagian sensitif Anneth.


Tindakan Arya itu membuat Anneth menangis. Ia merasakan perih dan nyeri yang teramat sangat pada bagian sensitifnya. Namun, suara erangan dan tangisan Anneth justru membuat Arya semakin menjadi. Ia bahkan merasakan klim_aks berkali-kali, hingga Anneth tidak sadarkan diri.


Bersambung.