OH MY BOSS

OH MY BOSS
PANTI ASUHAN



Tidak ada obrolan di dalam mobil Justin, Nena tampak fokus pada jalanan yang sedikit macet di hadapannya, padahal masih terbilang siang, hari sabtu ini dia kerja setengah hari. Sedangkan Justin yang masih merasa canggung pada gadis itu masih menyusun kata-kata yang pas untuk menjelaskan kejadian nama kontak tadi.


 


 


"Serena," panggil Justin ragu.


 


 


"Iya." Nena menolehkan kepalanya, menghadap Justin yang tampak semakin gugup.


 


 


"Soal yang tadi—"


 


 


"William kan," tebak Nena, Justin menoleh sesaat kemudian kembali fokus pada kemudinya.


 


 


"Kamu tahu?" Tanya Justin.


 


 


"Nomor saya di ponsel William juga dinamai demikian, dan setahu saya, Bapak bukan orang yang seperti itu."


 


 


Justin tersenyum, sedikit merasa lega, tapi entah kenapa hatinya merasa diremas-remas. "Kalian sedekat itu?" tanya Justin.


 


 


Nena tampak berpikir sejenak. "Dulu saat saya dan William sekolah di SMA yang sama kami cukup dekat, bahkan hampir semua anak-anak satu sekolahan mengira bahwa kami itu pacaran, padahal nggak," ceritanya kemudian.


 


 


"Oh," tanggap Justin sekenanya. Kesunyian setelah obrolan itu membuat sura mesin mobil Justin  terdengar lebih mendominasi, "Serena?" Pria itu kembali memulai obrolan.


 


 


"Iya, Pak?"


 


 


"Saya sudah pernah bilang kan, jangan panggil saya bapak jika di luar kantor." Mengatakan itu, Justin menatap Nena lekat-lekat setelah mematikan mesin mobil. Mereka sudah sampai di tempat tujuan.


 


 


Nena yang merasa gugup ditatap sedemikian rupa segera mengangguk dan meminta maaf.


 


 


"Panti Asuhan Kasih Bunda, kamu sering kesini yah?" Tanya Nena membaca papan bertuliskan nama panti itu, saat mereka turun dari mobil. Justin mengangguk, tangannya dengan cekatan mengambil beberapa paper bag dari dalam mobil, mungkin isinya hadiah. Pikir Nena.


 


 


Mereka disambut dengan gadis kecil yang berlari begitu riang ke arahnya. Kemudian gadis itu melompat ke pelukan Justin yang langsung sigap ditangkap pria yang kini sudah menanggalkan jasnya di dalam mobil.


 


 


Beberapa anak yang lain ikut berhamburan, Justin memberikan paper bag di tangannya untuk mereka bawa masuk. Nena sedikit terkejut melihat keakraban mereka, pastinya bukan sekali dua kali Justin mengunjungi tempat ini. Mungkin kalau saja mereka tahu betapa galaknya pria bermata elang itu di dalam kantor, mereka tidak akan seberani itu.


 


 


"Om Justin. Bawa siapa?" Tanya salah satu anak laki-laki, mungkin usianya sekitar 8 tahun. Justin memperkenalkan Nena sebagai teman kerjanya, anak-anak itu begitu antusias, kecuali gadis kecil yang berada di gendongan Justin, usianya sekitar 6 tahun, tatapan matanya begitu sengit pada Nena.


 


 


"Tante kok cantik banget? Pacar Om Justin yah? aku tuh calon istrinya Om Justin tahu," Ungkap gadis itu polos, kemudian turun dari gendongan Justin.


 


 


Nena tampak menahan tawa kemudian berjongkok di hadapan gadis kecil itu, mencoba mengimbangi tingginya. "Oh, kamu calon istri temen aku?" tanya Nena, kepalanya menoleh pada Justin yang ikut tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Kemudian kembali pada gadis kecil itu yang kini mengangguk-anggukan kepalanya lucu. "Nanti undang tante Nena yah."


 


 


"Ok deh Tante," gadis kecil itu mulai jinak, tatapannya tidak semenakutkan tadi.


 


 


 


 


***


 


 


"Anak itu siapa?" Tanya Nena pada pria yang baru saja datang, membawa dua kaleng minuman bersoda. Justin.


 


 


Kini mereka berada di taman sebelah utara panti, duduk di sebuah bangku panjang. Halamannya begitu luas, di depan sana anak-anak termasuk gadis kecil yang memanggil Nena dengan sebutan tante, sedang bermain kejar-kejaran bersama temannya.


 


 


"Namanya Jeni, usianya baru lima tahun. Dulu saya yang membawa dia ke sini saat masih bayi dan ditinggal kedua orangtuanya." Justin sedikit bercerita, Nena mengangguk prihatin.


 


 


"Seandainya Jeni itu anak kamu, mungkin sangat sulit untuk kamu menjelaskan padanya perihal seseorang yang cukup istimewa selain anak itu." Nena mulai terbiasa berbicara menggunakan kalimat-kalimat formal dengan Justin.


 


 


Justin tersenyum. "Dia hanya anak kecil," tutur Justin santai, tangannya membuka minuman kaleng dan memberikannya pada Nena.


 


 


Nena menerima minuman kaleng, kemudian berucap. "Jangan salah, Justru lebih sulit menjelaskan pada anak kecil dari pada orang dewasa," tuturnya.


 


 


Justin menatap Nena begitu intens, sampai gadis itu merasa sedikit salah tingkah. "Sepertinya tidak salah, saya belajar memahami tentang perempuan dari diri kamu," Ungkapnya, Nena mengerjap beberapa kali, masih awam dengan perjanjian belajar mengajar yang entah kapan mereka sepakati.


 


 


"Kamu suka anak kecil?" Nena mencoba mengalihkan obrolan. Justin memandang anak-anak di kejauhan sana.


 


 


"Saya punya ayah, tapi tidak punya ibu, dan saya punya segalanya dalam bentuk uang, kata ayah saya, itu sudah lebih dari cukup untuk seseorang merasa bahagia, menurut kamu, apa ayah saya itu benar?"


 


 


Justin menoleh, meminta jawaban, Nena yang sedikit terhanyut dengan ungkapan tidak terduga bosnya itu hanya diam, membiarkan saja pria itu menjawab pertanyaannya sendiri.


 


 


"Tentu saja beliau itu selalu benar, setiap kalimat yang dia lontarkan tidak pernah salah. Menurutnya." Justin menunduk, menatap kaleng minuman di tanganmu. "Mungkin itu juga yang membuat saya tumbuh menjadi sosok yang seperti ini." Justin kembali menoleh, kali ini pria itu ingin mendengar kalimat yang mungkin berbeda dari gadis di sampingnya.


 


 


"Tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang seorang ibu, termasuk uang." Nena tidak berani menatap pada manik Justin dengan pernyataan menentangnya itu.


 


 


"Memang benar," balas Justin, "untuk itu saya berpikir, mereka." Justin mengarahkan telunjuknya ke arah anak-anak panti yang sedang bermain, pandangan Nena mengikuti arahan itu, "tidak punya ayah, ibu, ataupun uang. Lalu dengan cara apa mereka bisa bahagia?" Lanjutnya kemudian.


 


 


"Cinta." Jawab Nena dengan tatapan mengawang. "Mereka bahagia dengan cinta yang ibu asuh mereka berikan."


 


 


Justin menoleh, raut wajahnya tampak berpikir. Ibu asuh di panti ini cukup banyak termasuk Bu Fatma pemilik panti asuhan ini.


 


 


"Mereka juga mendapatkan cinta dari para donatur, termasuk kamu, yang mungkin anak di luar sana yang memiliki keluarga lengkap pun tidak bisa merasakannya, orangtua mereka sibuk mencari sumber kebahagiaan. Uang kan?" Tutur Nena, kali ini gadis itu memberanikan diri menatap pria di sebelahnya.


 


 


Kedua bolamata yang memiliki sorot berbeda itu saling bertabrakan, berbagi rasa juga luka yang tampak tidak sama.