OH MY BOSS

OH MY BOSS
SINAR YANG HILANG



Langit masih menurunkan hujan dengan derasnya. Tidak ada pertanda bahwa langit akan membagi sinar matahari yang cerah hari ini. Awan hitam yang menggumpal masih terlihat tebal dan semakin gelap saja. Seolah tahu bahwa hari yang terlalu cerah akan melukai perasaan seseorang yang baru saja kehilangan sinar di dalam hidupnya.


Ya, Gilang tidak memiliki semangat untuk hidup. Hatinya hancur lebur. Kepergian Pelangi merupakan luka terbesar yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Terlebih lagi Pelangi pergi bersama dengan bayi yang sedang dikandung. Harapan Gilang sirna, bayangan yang sering terlintas di dalam kepalanya pun memudar. Bayangan dirinya yang bermain-main dengan seorang bayi kecil, menggendong bayi kecil itu dengan Pelangi yang berdiri di sebelahnya sembari tersenyum manis tidak akan pernah menjadi nyata. Kenyataan itu menghantam kesadaran Gilang, membuatnya refleks meronta saat Gisel berusaha untuk memapahnya menuju mobil.


"Biarkan aku mati di sini," lirih Gilang, berusaha menjauhkan tangan Gisel dari tubuhnya. Apa yang dilakukannya itu kemudian membuat tubuhnya limbung dan akhirnya terjatuh ke dalam genangan air yang berwarna merah karena bercampur dengan darah.


Gisel menunduk, berusaha membantu Gilang untuk bangun kembali. Namun, Gilang menolak. Pria itu terus menjauhkan tangan Gisel dari lengannya.


Gisel menjadi kesal karena Gilang begitu keras kepala, apalagi tubuhnya ikut menggigil saat ini karena kedinginan. "Gil, dengarkan aku. Kamu harus membantuku, kamu harus bangun dan berjalan ke mobilku. Hanya dengan begitu kita berdua akan selamat. Aku yakin sekarang ini orang yang telah mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhmu akan kembali mengirim anak buahnya. Aku tidak mau mati konyol di sini," teriak Gisel, suaranya yang nyaring dan tegas teredam oleh suara hujan.


"Kalau begitu kamu saja yang pergi Aku tidak mau meninggalkan Pelangi. Aku tidak mau." Gilang menggeleng sembari terisak.


Gisel mengusap air hujan yang membasahi wajahnya. "Kamu pikir Pelangi akan suka melihatmu seperti ini? Kamu pikir Pelangi bahagia melihatmu terpuruk seperti ini? Dia sangat mencintaimu, Gil, hingga dia rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu. Dan beginikah caramu membalasnya? Kamu menyia-nyiakan nyawa Pelangi. Dia memberimu kehidupan, tetapi kamu malah ingin melenyapkan kehidupan itu! Dasar bodoh. Bodoh sekali! Pelangi sekarang pasti sangat menyesal karena telah merelakan nyawanya demi pria sepertimu yang tidak tahu terima kasih." Gisel menangis, ia melihat semuanya tadi dari dalam mobil, saat Pelangi dengan berani merangkak dan mendorong seorang pria yang akan memukul Gilang. Perut Pelangi yang membuncit tidak serta merta menjadi penghalang bagi wanita itu untuk mendorong si pembunuh bayaran ke tepi jurang yang menyebabkan kaki Pelangi terpeleset dan tubuh wanita itu ikut terjun ke dalam jurang.


Mendengar apa yang Gisel katakan, Gilang melunak. Tangisnya semakin menjadi saat ia mengingat kejadian itu.


Gisel perlahan menyentuh pundak Gilang, mencoba untuk menguatkan pria itu, walaupun ia tahu semuanya tidak mungkin. Tidak ada penghiburan yang dapat menenangkan orang yang baru saja kehilangan. Apalagi kehilangan seseorang yang paling dicintainya.


Gisel kemudian memapah tubuh Gilang yang terluka dengan susah payah menuju mobilnya yang terparkir di bahu jalan. Gisel bergidik melihat kekacauan yang telah ia buat. Mayat bergelimpangan di atas tanah berbatu, tenggelam dalam genangan darah yang berbau anyir.


Ia seperti lupa diri saat dilihatnya Gilang tergeletak hampir mati di atas tanah. Tanpa pikir panjang, Gisel pun meraih senjata api yang dibawanya dari kediaman Surya, dan menembaki semua anak buah Surya satu per satu. Bahkan Alex pun yang mencoba untuk menghentikan Gisel ikut menjadi korban. Tanpa ragu Gisel menembak Alex tepat di kepala, hingga menyebabkan tubuh pria itu ambruk seketika.


Sekarang Alex yang dulu sempat Gisel cintai tak ubahnya hanyalah mayat dari seseorang yang tidak penting bagi Gisel. Gisel bahkan membenci Alex, sebab jika bukan karena perintah dari Alex, Gilang tidak akan sekarat seperti sekarang ini dan menderita karena kehilangan Pelangi.


"Masuklah, dan bertahanlah, Gil, kita akan ke rumah sakit."


***


Akhir November 2022


Gilang masih belum sadarkan diri sejak Gisel membawanya ke rumah sakit. Insiden mengerikan yang terjadi pada pertengahan November itu menyisakan luka yang mendalam bagi orang-orang yang mengenal Gilang dan Pelangi.


Amara terkhususnya, wanita itu sampai saat ini masih terus bersedih. Ia terisak dalam tidurnya, saat pagi hari, saat siang hari dan setiap dirinya melakukan aktivitas apa pun bayangan Pelangi tidak pernah hilang dari pikirannya.


Tidak jarang Amara datang ke tempat kejadian, hanya untuk meneriakkan nama Pelangi di tepi jurang, berharap Pelangi mendengar dan muncul entah dari mana dan bagaimana. Jika sudah begitu ia akan berjongkok selama berjam-jam hingga langit mulai gelap dan Toni muncul untuk menjemputnya. Keesokan harinya Amara akan melakukan hal yang sama lagi dan lagi.


Jika semuanya bersedih dan lebih banyak menangis, menyesali dan berandai-andai; andai saja Pelangi dan Gilang tidak berkunjung ke kota hari itu! Lain halnya dengan Andrew. Alih-alih tenggelam dalam kesedihan dan meratapi takdir buruk yang terjadi pada Gilang dan Pelangi, ia lebih memilih untuk memberi pelajaran pada dalang di balik musibah mengerikan itu.


Malam itu juga setelah Gisel membawa Gilang ke rumah sakit dan menghubungi Toni juga Andrew, Andrew langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit untuk menanyai segala hal pada Gisel. Gisel yang saat itu merasa sedih dan bersalah, tentu saja mengatakan semuanya pada Andrew. Tentang Surya dan semua rencana gila pria itu. Termasuk rencana Surya untuk merebut Pelangi dari Gilang. Tidak ada satu pun yang Gisel tutup-tutupi.


"Bagaimana keadaannya? Apa ada perubahan?" tanya Toni begitu ia masuk ke dalam ruang perawatan.


Gisel yang selalu berada di samping Gilang semenjak pria itu tidak sadarkan diri hanya bisa menggeleng dengan kecewa. Jika mau dihitung sepertinya Gisel telah menggelengkan kepala sebanyak ratusan kali selama dua minggu terakhir. Semua yang masuk ke dalam ruang perawatan selalu menanyakan hal yang sama, membuat Gisel berharap ia bisa menjawab salah satu pertanyaan dengan anggukan kepala, bukan gelengan.


"Sudah dua minggu. Kenapa dia tidak sadar juga?" Toni mengusap wajahnya dengan kasar. Ada rasa takut di dalam dirinya tentang sebuah kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Ia takut jika Gilang tidak akan pernah sadar lagi.


"Dia pasti sadar. Aku yakin itu." Gisel sudah mengatakan hal demikian sebanyak ratusan kali juga. Wanita itu selalu berpikir positif. Ia yakin jika pikiran positif pasti akan membawa pengaruh positif. Walaupun tidak dapat dipungkiri jika saat ini ia tidak kalah khawatir dibandingkan Toni.


"Ya, aku harap dia bangun sesegera mungkin. kondisi kesehatan Pak Farhan semakin memburuk, dan setiap Pak Farhan membuka mata, yang ia tanyakan hanyalah bagaimana kondisi Gilang? Dan apakah Pelangi sudah ditemukan?"


Tepat setelah mengatakan itu, jemari Gilang bergerak. Hal itu tentu saja membuat Gisel bahagia. Gisel berdiri dan dengan cepat menekan tombol yang berada tepat di samping tempat tidur Gilang. Tidak lama kemudian seorang dokter memasuki ruangan diikuti oleh beberapa perawat di belakangnya.


"Ada sesuatu yang terjadi sepertinya," ujar dokter spesialis saraf yang selama ini merawat Gilang, ia adalah Dokter Angga.


Gisel mengangguk. "Ya, Dok, tadi dia menggerakkan jarinya. Bukan hanya jari, tapi aku yakin melihat matanya sedikit terbuka tadi," jelas Gisel. "Lihat, astaga, lihatlah dia bangun." Gisela histeris saat dilihatnya kedua mata Gilang terbuka lebar dan langsung menatapnya dengan bingung.


Toni yang melihat hal itu pun seketika menjadi lega. Kedua matanya yang sendu tiba-tiba saja berair. "Syukurlah. Aku pikir kamu itu akan mati. Dasar!" gumam Toni, sembari menyeka sudut matanya yang basah.


Dokter Angga mendekat dan melakukan pemeriksaan dasar pada Gilang. "Bagus. Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan nanti dengan beberapa dokter spesialis lainnya untuk memastikan keadaan Pak Gilang secara keseluruhan," ujarnya.


Gisel yang sejak tadi terisak di samping Toni pun mengangguk. "Jadi, semuanya normal, Dok?" tanya Gisel. "Dia benar-benar sudah sadar, 'kan?"


"Ya, pemeriksaan dasar menunjukan bahwa semuanya normal. Tapi kita harus tetap memantau Pak Gilang dan berkonsultasi dengan dokter lain jika perlu. Banyak yang harus diperiksa, mengingat ada beberapa tulang yang retak dan juga sempat ada pendarahan di otak."


"Baik, Dok, lakukan semua yang terbaik untuk Gilang. Masalah biaya, katakan saja padaku, yang terpenting bagiku adalah kesembuhannya."


Dokter Angga tersenyum. "Aku akan menyiapkan segala yang diperlukan untuk pemeriksaan keseluruhan. Sementara menunggu, kalian bisa mengajaknya berbicara. Dia pasti bingung sekarang, hal yang sering terjadi pada pasien setelah mengalami koma." Setelah mengatakan itu, Dokter Angga berbalik pergi meninggalkan ruangan.


Setelah dokter Angga pergi, Toni dan Gisel mendekat dan duduk di tepi ranjang Gilang. Gilang sendiri masih belum mengatakan apa-apa, pria itu terlihat kebingungan.


"Gil, syukurlah kamu sadar. Aku ... aku pikir kamu tidak akan pernah sadar. Ya, Tuhan, aku tidak pernah merasa sebahagia ini." Toni memeluk Gilang, yang di balas Gilang dengan tepukan di punggung Toni. "Aku akan mengabari Ayahmu, Andrew, dan Amara. Mereka pasti akan senang."


"Amara?" Gilang terlihat bingung. Kebingungan jelas tergambar di wajahnya yang tampan. "Siapa dia?"


Bersambung .....