OH MY BOSS

OH MY BOSS
SELAMAT TINGGAL



Andrew berlari menyusuri selasar-selasar berkarpet merah. Ia bahkan menggunakan tangga saat elevator yang hendak ia naiki ternyata penuh. Ia tidak peduli pada rasa lelah dan nyeri di kedua kakinya. Baginya yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar secepat mungkin ia dapat mengetahui keadaan Pelangi dan juga Delia.


Setelah beberapa saat akhirnya Andrew tiba di depan pintu kamar yang telah ia sewa. Baru saja tangannya hendak mengetuk, ia menyadari bahwa pintu kamar itu tidak tetutup rapat. Andrew mengulurkan tangan dan mendorong pintu itu hingga terbuka dan segera menghambur ke dalam sembari berteriak memanggil-manggil Delia. Namun, tidak ada jawaban. Andrew hanya menemukan ponsel Delia yang tergeletak begitu saja di atas ranjang.


"Ke mana perginya dia?!" Andrew mengacak rambutnya dengan frustrasi, lalu segera melangkah keluar kamar dan berlari menuju kamar Gilang dan Pelangi.


Belum lagi Andrew tiba di kamar Gilang, seorang pria bertubuh kurus terlihat berlari dari arah berlawanan untuk menghampiri Andrew. Pria bertubuh kurus itu adalah Antonio. Wajahnnya yang terlihat khawatir membuat dada Andrew berdebar tak beraturan.


"Gisel melakukannya sendiri. Dia menabrak dengan mobilnya," ujar Antonio tanpa berbasa-basi lagi begitu ia telah tiba di hadapan Andrew.


"Apa katamu? Di mana mereka?" tanya Andrew, sembari berlari menuju elevator, diikuti oleh Antonio.


"Di seberang jalan, tepat di dekat apotek yang ada di sana. Aku tidak melihat kejadiannya secara langsung, tapi aku berpapasan dengan mobil Gisel di lampu merah di persimpangan, dan aku melihat kaca bagian depan mobil itu retak parah, juga banyak darah di bagian depan mobilnya. Firasatku buruk, tapi semoga bukan wanita itu yang Gisela tabrak."


Tubuh Andrew menegang begitu mendengar penjelasan Antonio. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika benar darah Pelangilah yang berhamburan di bagian depan mobil Gisela. Separah apa keadaan Pelangi hingga menyebabkan retak pada kaca bagian depan mobil Gisel?


Ting.


Pintu elevator terbuka saat Andrew dan Antonio tiba di lantai satu. Keduanya segera berlari menyeberangi lobi hingga tiba di pelataran hotel, lalu segera menyeberangi parkir area menuju jalan besar.


Dari tempatnya berdiri, Andrew dapat melihat kerumunan orang di tengah jalan, dan sebuah mobil patroli polisi. Dengan langkah tergesa, Andrew dan Antonio menyeberangi jalan, menyeruak di antara kerumunan hingga tiba di depan tempat kejadian perkara yang telah dikelilingi oleh garis polisi.


Andrew terkejut melihat darah kental yang begitu banyak menggenang di aspal. Siapapun yang kehilangan darah sebanyak itu kemungkinanannya kecil sekali untuk selamat.


"Andrew!" Suara teriakan seorang wanita mengejutkan Andrew. Ia menolah ke segala arah, mencari sumber suara yang baru saja memanggil namanya.


Andrew menghela napas lega saat dilihatnya Delia duduk di salah satu kursi yang berjejer di bawah sebuah pohon rindang. Wanita itu terlihat pucat dengan kedua mata yang merah dan suaranya serak, sedangkan di samping kanan dan kirinya terlihat dua orang polisi yang sekarang sedang menatap ke arah Andrew dengan penasaran.


Andrew menghampiri Delia dan segera meraup wanita itu ke dalam pelukannya dan membiarkan Delia menangis di dalam dekapannya.


"Katakan padaku, apa yang terjadi? Bukankah aku melarangmu keluar dari kamar. Kenapa tidak mendengarkanku, Delia?"


Delia melepas pelukan Andrew dan mendongak agar dapat menatap pria bertubuh tinggi itu. "Aku mengikuti Pelangi saat dia keluar dari kamar. Aku mengkhawatirkan keadaannya. Dan benar saja, saat aku menyusul Pelangi, Gisel sudah ada di sana, dia mengikuti Pelangi yang saat itu sedang ada di dalam lift." Delia menjelaskan sembari terisak.


"Lalu di mana Pelangi sekarang, hah? Apa dia terluka parah." Air mata Andrew menetes, ia tidak dapat menahan bulir bening itu agar tidak keluar dari kedua matanya. Membayangkan Pelangi kembali pergi meninggalaknnya untuk selamanya sukses membuat hati Andrew tercabik.


Delia menggeleng. "Jangan khawatir. Pelangi baik-baik saja. Dia dilarikan ke rumah sakit karena pingsan dan tidak kunjung sadarkan diri."


Andrew mengernyitkan dahi, kebingungan dan mulai bertanya-tanya jika bukan Pelangi yang mengalami kecelakaan lantas siapa? Belum sempat Andrew menanyakan hal itu, Delia kembali membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.


"Exel ... Exel datang tepat saat mobil Gisel berada sangat dekat dengan tubuh Pelangi. Dia berdarah, Ndrew. Exelku berdarah." Delia meraung, wanita itu tidak dapat mengendalikan dirinya, tubuhnya gemetar hebat. Bayangan Exel yang terbaring di aspal dalam genangan darahnya sendiri dan mata yang terpejam terus melintas di dalam kepalanya, membuatnya hampir gila dan rela menukar apa pun agar dapat mengulang waktu saat itu juga.


Andrew terkejut. "Exel."


"Ya, Exel mendorong tubuh Pelangi untuk menghindari mobil Gisel."


Andrew kembali meraup tubuh Delia ke dalam pelukannya dan berusaha membuat wanita itu tenang, walaupun ia tahu tidak akan ada gunanya. Bagaimana pun juga Delia dan Exel memiliki hubungan yang begitu dekat. Ia tahu jika sekarang hati dan jiwa Delia sedang hancur.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ujar Andrew.


Akan tetapi seorang petugas kepolisian menahan langkah Andrew. "Kami butuh kesaksian Nona Delia. Datanglah ke kantor nanti."


Andrew mengangguk. "Pasti, Pak, kami pasti akan datang ke kantor. Kami akan menuntut Gisela, orang yang telah melakukan kejahatan ini pada teman kami."


***


Gilang mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh membelah ramainya jalanan kota. Rona merah senja yang terlihat di langit menambah kesan kelam pada diri Gilang. Setelah menerima kabar dari Andrew tentang kejadian yang menimpa Pelangi, Gilang segera beranjak dari pertemuan yang sedang berlangsung dengan beberapa penanam modal asal luar negeri. Ia tidak peduli jika kerjasama antara Andreas Grop dan perusahaan asal luar negeri itu akhirnya gagal. Tidak ada yang penting selain Pelangi sekarang, bahkan sebuah kontrak kerjasama pun tidak.


Gilang menghentikan mobilnya di sebuah rumah sakit swasta yang alamatnya beberapa waktu lalu Andrew kirimkan melalui pesan whatsapp. Ia segera keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya dan berlari menuju ruang rawat inap di mana Pelangi tengah dirawat.


Selasar-selasar terasa panjang sekali, hingga setiap detiknya saja seperti berjam-jam bagi Gilang.


"Gil, Gil." Toni berlari menghampiri Gilang. "Mereka semua di kamar jenazah. Pelangi bahkan sejak tadi tidak mau beranjak dari sana."


Gilang mengangguk paham. Saat di telepon tadi Andrew memang telah menjelaskan kejadiannya secara mendetil. Exel tidak selamat. Pria itu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Pelangi.


Gilang berlari-lari kecil menuju kamar jenazah, diikuti oleh Toni.


Pintu terbuka. Pemandangan memilukan menyambut kedatangan Gilang. Delia menangis sembari memeluk tubuh Exel yang terbujur kaku, sementara Pelangi berlutut di hadapan Delia sembari terisak.


"Andai dia tidak menyelamatkanmu ... andai aku tidak mengikutimu. Andai aku tidak peduli, semua ini tidak akan terjadi." Delia bergumam dengan lirih."


Pelangi mendengar semua apa yang Delia katakan, walaupun suara wanita itu sangat pelan, sepelan bisikan, tetapi suasana yang hening membuat suara napas sekali pun terdengar seperti teriakan.


"Maafkan aku." Pelangi berujar, suaranya gemetar, seirama dengan getaran pada tubuhnya yang susah payah menahan tangis.


Gilang melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, menghampiri Pelangi dan menyentuh pundak wanita itu. Pelangi hanya mendongak, menatap Gilang dengan tatapan putus asa dan sedih yang begitu dalam. Melihat keadaan Pelangi yang begitu terpukul, Gilang berlutut dan mengusap air mata Pelangi yang terus mengalir membasahi pipi.


"Dia meninggal, Gil. Exel meninggal karena menolongku," lirih Pelangi. Air mata semakin deras mengalir dari kedua mata indahnya.


Gilang memeluk tubuh Pelangi dan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya.


"Gisela. Gisela yang menabrak Exel, Gil. Aku tidak akan melepaskan wanita itu, bahkan jika kamu memohon padaku sekali pun agar aku mengampuninya, aku tidak akan pernah mengampuninya. Setelah semua yang dia lakukan padaku dan pada kita semua, aku tidak akan pernah memaafkannya," ujar Pelangi yang masih berada dalam dekapan Gilang.


"Tidak, Raina, aku tidak akan memohon padamu untuk mengampuninya. Sama sekali tidak."


Pelangi melepaskan pelukan Gilang di tubuhnya, lalu ia menatap langsung ke dalam mata Gilang. "Namaku Pelangi. Bukan Raina."


Gilang diam mematung, berusaha untuk mencerna apa maksud dari ucapan Pelangi.


"Dia ingat segalanya." Toni menepuk punggung Gilang.


"Sungguh?" tanya Gilang, terlihat tidak percaya pada ucapan Toni. Namun, anggukan kepala Pelangi membuat keraguan Gilang memudar. Ia menangis dan memeluk tubuh Pelangi dengan lebih erat dari sebelumnya.


***


Pemakaman dilakukan keesokan harinya di pemakaman keluarga Andreas. Gilang secara khusus meminta pada sang Ayah agar Exel dimakamkan di pemakaman keluarga mereka. Farhan tentu saja setuju, apalagi Exel meninggal karena menyelamatkan Pelangi dati kejahatan Gisel.


Usai pemakaman, mereka semua kembali ke kediaman Farhan. Delia awalnya menolak dan memaksa agar dirinya diizinkan kembali ke panti asuhan. Hatinya masih merasa tidak terima atas kepergian Exel yang sia-sia.


Pelangi menyadari kemarahan yang tengah Delia rasakan. Ia pun menghampiri Delia yang mengurung diri di kamar tamu sejak pemakaman usai.


"Hai, Del, boleh aku masuk," tanya Pelangi, mengintip dari celah pintu yang ia buka sedikit.


Delia mendelik, tetapi memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan Pelangi.


Pelangi memaklumi, ia tetap masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Delia yang tengah duduk di lantai sambil bersandar pada dinding dan menatap langit-langit.


"Aku tahu, aku tidak pantas untuk minta maaf padamu. Bahkan pada Exel pun tidak," ucap Pelangi, kemudian melanjutkan, "Andai saja bukan karena diriku, mungkin hingga saat ini dia masih ada di antara kita. Aku sungguh menyesal, Delia, aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu, tapi aku sama sekali tidak berharap semua ini terjadi. Andai saja aku bisa menggantikan posisinya, maka aku bersedia. Lebih baik aku yang pergi, bukan Exel." Pelangi mengusap air matanya.


Delia yang mendengar setiap perkataan Pelangi pun ikut menangis. "Jangan minta maaf. Kamu sama sekali tidak bersalah. Aku tahu, semua ini tidak akan terjadi andai saja Exel tidak menginginkannya. Exel yang memutuskan untuk menyelamatkanmu. Dia tahu setiap konsekuensi yang akan terjadi pada setiap keputusan yang dia ambil. Aku tidak marah padamu, Pelangi, aku hanya kesal dan kecewa pada Exel, kenapa dia begitu peduli padamu sampai-sampai dia rela mengorbankan dirinya. Dia tega meninggalkaku seorang diri, padahal dia tahu kalau aku sebatang kara di dunia ini. Selama imi aku hanya memiliki Exel, aku tidak memiliki siapa pun lagi di dalam hidupku. Sekarang aku sendirian. Benar-benar sendirian." Delia menutup wajah dengan kedua tangannya dan kembali menangis.


Andrew yang sejak tadi mendengarkan percakapan antara delia dan Pelangi, memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan berlutut di hadapan Delia.


"Kata siapa kamu sendirian sekarang? Apa kamu tidak menganggapku, Delia? Apa aku tidak penting bagimu?" Andrew meraih tangan Delia, dan memaksa wanita itu untuk memperlihatkan wajahnya.


Delia menatap Andrew beberapa saat, kemudian berkata, "Tidak ada yang setulus Exel. Bahkan dirimu pun tidak."


"Penilaianmu sungguh tidak adil." Andrew terlihat kecewa pada ucapan Delia. Namun, Delia diam saja. Ia tidak ingin berdebat dengan siapa pun sekarang ini. "Keluarlah, plis. Aku lelah."


***


Tiga hari telah berlalu semanjak kejadian nahas yang menimpa Exel. Polisi datang dan pergi bertandang ke kediaman Farhan untuk meminta keterangan pada Delia dan Pelangi yang berada di tempat kejadian. Bahkan sesekali Pelangi yang datang ke kantor Polisi dengan ditemani oleh Gilang.


Mereka semua kompak melaporkan segala kejahatan yang telah Gisel lakukan. Mulai dari kejahatannya yang terbaru dan yang paling lama, saat Gisel memerintahkan Exel untuk menghabisi nyawa Pelangi bertahun-tahun yang lalu.


Gilang tidak sekali pun membiarkan Pelangi pergi seorang diri tanpa pengawasan. Ia tidak ingin hal buruk kembali menimpa Pelangi, apalagi Gisela hingga saat ini masih buron. Bisa saja wanita itu bersembunyi di suatu tempat dan diam-diam mengawasi Pelangi seperti yang sudah-sudah.


Bersambung ....


Bye Exel 😢😢