OH MY BOSS

OH MY BOSS
AYAH



 


 


Justin dan seorang gadis yang mengatakan terjadi apa-apa pada ayahnya itu, sampai juga di rumah sakit dengan selamat. Setelah beberapa menit perjalanan yang pria itu tempuh nyaris tidak menggunakan rem. Sabtu ini masih terbilang siang untuk dirundung kemacetan, dan membuatnya dengan cepat menuju ke tempat tujuan, meskipun ternyata keduanya telah terlambat.


 


 


Nena melangkah ragu memasuki ruangan serba putih yang dipenuhi dengan suara isak tangis, gadis itu terlalu percaya diri bahwa sang ayah tidak akan secepat itu akan menyerah. Dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca, setelah beberapa menit yang lalu berhasil menyurutkan genangan air yang mengaliri pipinya, nyatanya cairan bening itu berhasil luruh lagi dan lagi, disertai dengan isakan tercekat dari tenggorokannya tampak lolos begitu saja.


 


 


"Bu...." Dipanggilnya sang ibu dengan suara bergetar, beliaupun tampak kacau dengan masih mengumandangkan sedu sedan walau pelan, dan hal itu membuat Nena semakin goyah dengan keyakinan bahwa seseorang dibalik kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya itu bukan sang ayah.


 


 


Perlahan Nena mengarahkan tangannya yang bergetar untuk membuka kain putih yang menutupi wajah seseorang yang berbaring di hadapannya. Merasa tidak akan kuasa, sang ibu memilih berlalu dengan bantuan Ardi yang juga dirundung pilu, kesedihan tampak jelas di raut wajahnya walau terlihat lebih tegar.


 


 


Nena reflek menutup mulutnya untuk meredan suara tangisnya yang mulai pecah agar tidak melengking, saat didapatinya benar-benar wajah sang ayah yang tampak damai dan pucat pasi di hadapannya. Tubuhnya nyaris ambruk jika Justin tidak sigap menangkap gadis yang berdiri di sebelahnya itu.


 


 


Kehilangan seorang ayah yang sangan dicintai, siapapun pasti akan merasakan kepedihan yang amat dalam, terlebih untuk Nena yang memang lebih dekat dengan ayahnya.


 


 


Justin yang merasa ikut terhanyut dengan kesedihan assistantnya, hanya bisa menarik gadis itu kedalam pelukan, dan Nena tampak lebih leluasa menumpahkan seluruh airmata kesedihan pada dada bidang atasannya itu, yang bilamana dalam keadaan sadar, gadis itu pasti akan menghindar sejauh-jauhnya dari pria yang berstatus bos besarnya itu.


 


 


Dengan satu tangan yang bebas, Justin meraih kain putih yang disingkapkan Nena untuk memastikan siapa seseorang di baliknya. Perlahan Justin menutupkan kembali selimut rumah sakit itu pada jenazah ayah Nena, sedikit ragu saat pandangannya terpaku pada wajah pucat yang tampak damai dengan senyum kecil di bibirnya itu, Ada denyutan rasa nyeri di sudut hatinya yang entah karena apa.


 


 


Entah mengapa, dalam hati ia berjanji pada ayah Nena bahwa dia akan selalu menjaga putrinya itu. Dan kain itupun menutup dengan sempurna.


 


 


Membiarkan seseorang yang dicintai tenang di alam sana adalah keputusan yang terbaik bagi siapapun yang pernah merasa di tinggalkan keluarganya.


 


 


Proses pemakaman berjalan dengan lancar, seluruh anggota keluarga dari ayah Nena yang memang di Jakarta pun sudah berkumpul, begitu pula dengan keluarga dari sang ibu di Tangerang.


 


 


Justin dengan setia menemani gadis yang masih sering melamun di sebelah ibunya, bahkan pria itu ikut menyolatkan dan sampai turun ke pusara ayah Nena, untuk memastikan Almarhum beristirahat dengan tenang di rumah terakhirnya. meskipun waktunya banyak dihabiskan mengobrol dengan Ardi dan selalu tidak jauh dari bocah belasan tahun itu, tapi perhatiannya selalu ia tujukan pada Nena, pria itu tidak berhenti menghembuskan napas prihatin.


 


 


"Minum, Pak Justin." Nena meletakan cangkir berisi teh hangat ke atas meja di hadapan pria itu, Justin yang sedang mengobrol serius dengan Ardi seketika menoleh.


 


 


 


 


"Kamu sudah baikan?" Tanya Justin, Nena mengangguk.


 


 


"Makasih, Pak. Sudah membantu proses pemakaman ayah saya, bahkan sejak tadi siang bapak belum pulang." Nena berucap, pria itu hanya tersenyum, kemudian mengangguk.


 


 


Justin mengangsurkan benda persegi yang sempat Nena lupakan, "ponsel yang kamu jatuhkan di ruangan saya tadi siang, saya menyimpannya dalam keadaan mati mungkin karena benturan."


 


 


Nena menerima benda itu dan mengaktifkannya. Ada banyak pesan masuk, juga panggilan tak terjawab dari Bimo tentunya. Gadis itu menghembuskan napas, merasa bersalah.


 


 


"Hubungi saja, dia pasti mengerti," saran Justin, Nena menoleh, namun tidak mengucapkan apa-apa, hanya anggukan kecil yang ia unjukan sebagai tanggapan


 


 


Justin meraih cangkir teh di hadapannya, menyesapnya sedikit, dan setelah meletakan gelas itu kembali ia menilik jam tangan kemudian menoleh pada Nena. "Saya harus pulang, maaf malam ini tidak bisa ikut tahlilan, karena saya harus membersihkan diri," tutur Justin, Nena mengangguk mengerti, setelah mengantarkan atasannya itu berpamitan pada saudaranya juga sang ibu, Nena mengantar pria itu sampai memasuki mobil, karena kebetulan di depan jalan persis rumah Nena itu sebuah lapangan kosong, jadi siapapun yang datang membawa kendaraan bisa di parkirkan di sana.


 


 


Selepas kepergian Justin, Nena langsung menghubungi Bimo, berharap pria itu tidak akan marah karena dia baru sempat memberi kabar.


 


 


Di tempat lain, Bimo yang baru saja keluar dari kamar mandi kosannya, menoleh saat ponselnya berbunyi, melihat siapa yang menghubungi, pria itu berubah semangat, ada banyak pertanyaan dibenaknya. Namun yang ia dengar malah berita duka, reflek pria itu mengucapkan kalimat istirja.


 


 


Bimo telah bersiap-siap akan kerumah Nena. Sambungannya dengan gadis itu sudah di akhiri keduanya beberapa menit yang lalu, namun saat membuka pintu, pria itu terpaku di tempatnya. Terkejut dengan siapa yang berdiri di hadapannya itu.


 


 


"Mas Abim!"


Bimo menoleh saat seseorang memanggilnya dengan sebutan itu, hanya ada satu orang yang memanggil dirinya seperti itu. Diapun membeku.