OH MY BOSS

OH MY BOSS
PENGEJARAN



Delia terkejut begitu mendengar apa yang Andrew ucapkan. Bagaimana tidak, jika selama ini dirinya hanya menganggap bahwa perhatian yang Andrew berikan padanya hanyalah karena rasa iba atau semacamnya. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk kembali ke panti, agar ia tidak terlalu berharap pada cinta Andrew yang menurutnya sulit sekali untuk digapai. Namun, saat dirinya hendak pergi, Andrew justru menahannya dan mengajaknya menikah.Tidak mungkin Andrew tidak mencintainya dengan tulus jika pria itu mengajaknya menikah agar dirinya tidak pergi ke mana-mana.


"Ayo kita menikah setelah semua ini selesai. Maksudku setelah Gisel tertangkap dan keadaan menjadi sedikit lebih tenang," ujar Andrew, wajahnya memerah karena ia merasa gugup. Sebelumnya ia tidak pernah melamar seorang wanita, hingga rasanya tidak terlalu mengherankan jika jantungnya serasa hendak berpindah dari tempatnya saat ini.


"Jangan permainkan perasaanku, Ndrew. Aku tidak tahu apa tujuanmu melamarku, tapi jika kamu tidak mencintaiku dengan tulus, jangan paksakan dirimu."


Andrew berjalan mendekat dan menghentikan kegiatan lempar-melempar pakaian ke dalam koper yang sejak tadi Delia lakukan. Ia menatap langsung ke dalam mata sendu Delia yang dipenuhi kesedihan, tidak ada binar bahagia di sana seperti hari-hari sebelumnya.


"Aku tidak mungkin mengikat seorang wanita dengan ikatan suci pernikahan jika aku tidak mencintai wanita itu dengan segenap hatiku. Aku tidak sebodoh itu, Delia."


Delia menangis, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Andrew sekarang. Ia bimbang dan sulit sekali mengambil sebuah keputusan. Jika saja Exel masih ada, ia pasti akan menanyakan apa pendapat Exel tentang niat Andrew. Exel pasti bisa memutuskan apakah Andrew tulus padanya atau tidak.


Melihat Delia menangis, Andrew segera memeluk dan mengusap kepala wanita itu dengan lembut. Dadanya berdebar kencang dan ada dorongan liar yang muncul di dalam dirinya untuk membahagiakan Delia selamanya saat melihat wanita itu menangis. "Jangan ragu padaku. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku, Delia."


Delia semakin terisak mendengar ucapan Andrew. Ia terharu dan juga bahagia.


"Wah, wah, wah, si lajang yang tidak laku-laku ini akhirnya akan segera menikah rupanya." Toni dan Gilang bertepuk tangan. Keduanya berdiri di ambang pintu yang saat Andrew masuk ke dalam kamar Delia tadi tidak ditutup kembali oleh Andrew.


Delia dan Andrew memisahkan diri begitu mendengar keributan yang dibuat oleh Gilang dan Toni.


"Apa-apaan kalian ini. Tidak sopan sekali menguping pembicaraan orang lain." Andrew mengomel, sementara Delia terlihat malu. Wanita itu berdiri di samping Andrew dengan kepala menunduk menatap jari-jari kakinya. Ia tidak sanggup untuk menatap Gilang atau pun Toni.


"Delia, aku turut bahagia." Pelangi yang sejak tadi berdiri di belakang Gilang pun memaksa masuk, melewati Toni dan Gilang yang menghalangi jalannya, lalu memeluk Delia yang masih terlihat malu. "Pernikahanmu dan Andrew akan menjadi angin segar di rumah ini. Setelah semua kekelaman yang kita lalui, siapa sangka akan secepat ini hal yang membahagiakan terjadi."


"Terima kasih, Pelangi. Maaf karena beberapa hari lalu aku bertingkah tidak menyenangkan padamu tanpa alasan. Seperti yang sudah kukatakan juga, aku tidak marah padamu. Aku hanya kecewa karena Exel tega meninggalkanku demi menyelamatkanmu."


Pelangi mengusap punggung Delia sembari menangis. Mendengar nama Exel disebut tentu saja membuat rasa sedih di hatinya kembali menguar. Jika bukan karena pria itu, mungkin hari ini dirinya tidak akan berdiri di tengah-tengah cinta Gilang dan seluruh keluarga Andreas.


"Jangan minta maaf. Kamu sama sekali tidak salah jika merasa kesal padaku. Aku pun pasti akan bereaksi sama jika orang yang kucintai kehilangan nyawa demi menyelamatkan orang lain."


Gilang menyusul Pelangi masuk ke dalam kamar, lalu berdiri di samping wanita yang paling dicintainya itu sembari menunduk agar dapat menatap langsung ke dalam mata Delia.


"Aku secara khusus mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas tindakan Exel. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikannya sampai akhir hayatku. Tinggalah dengan kami mulai sekarang, Delia. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini, kecuali Andrew membelikanmu rumah baru berlantai lima."


Andrew melayangkan tinjunya di pundak Gilang. "Diamlah."


Mereka semua tertawa, termasuk Amara yang berdiri di samping Toni di ambang pintu.


"Bahagia sekali menjadi Delia. Andrew melamarnya secepat itu. Jantan sekali Andrew." Amara berkomentar.


Mendengar ucapan Amara, Toni berdeham dan mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "Setelah semua ini, aku pun akan melamarmu. Bersiap sajalah."


Amara menoleh dan menatap Toni dengan bahagia. "Segeralah kalau begitu. Aku sudah sangat ingin menikah denganmu." Amara lalu mendaratkan kecupan di bibir Toni.


Toni tertawa. "Dasar, kamu ini agresif sekali."


"Kamu akan sangat menyukai Keagresifanku ini setelah kita menikah." Amara tertawa.


***


Perjalanan menuju Desa di mana posisi Gisel terakhir kali terlihat memakan waktu yang cukup lama. Sudah tiga jam Gilang dan Pelangi terombang-ambing di dalam mobilnya karena jalan utama menuju desa itu berbatu dan terdapat lubang di mana-mana.


"Aku harap Gisel masih di sana dan tidak terpikir olehnya untuk berpindah tempat," ujar Pelangi, saat Gilang menarik kepala wanita itu dan menyandarkannya di dada Gilang.


"Jangan cemaskan hal itu, polisi pasti bisa menangkapnya setelah kita tiba di sana nanti. Sekarang istirahat saja, sepertinya perjalanan kita masih panjang," ujar Gilang.


Pelangi memeluk pinggang Gilang, ia tidak peduli pada kehadiran Antonio yang sekarang sedang menyetir.


"Saat semua ini sudah berakhir, mari kita ke rumah Bu Siti. Wanita tua yang telah menyelamatkanku saat aku terjatuh ke jurang." Pelangi memberi saran. Ia sudah sangat merindukan wanita tua itu. Wanita tua itu pasti bahagia karena ia telah kembali mendapatkan kehidupan lamanya.


Gilang mengangguk. "Tentu, Sayangku. Aku memang ingin mengajakmu ke sana. Aku ingin mengunjungi makam anak kita."


Pelangi mengeratkan pelukannya pada pinggang Gilang. "Dia pasti akan senang sekali jika tahu bahwa ingatanku telah kembali. Dia juga pasti akan senang sekali karena aku memiliki suami yang baik sepertimu. Saat aku tinggal dengannya, dia selalu mengatakan bahwa jika suatu saat ada yang datang melamarku, maka pria itu harus pria baik-baik yang menyayangiku dengan tulus, jika tidak, ia tidak akan pernah mengizinkanku untuk menikah."


Gilang tertawa. "Benarkah?"


"Benar. Dia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Jika ada pria yang datang ke rumahnya untuk menemuiku, dia pasti akan marah-marah dan mengatakan bahwa Rainanya yang berharga tidak boleh menikah dengan pria dari desa yang sama. Masa depanku tidak akan pernah maju, begitu katanya. Joko bahkan sering sekali mendapat siksaan dari Bu Siti."


"Joko? Apa dia menyukaimu?"


Pelangi mendongak untuk menatap Gilang. "Tentu. Dia bahkan yang paling gencar dan pantang menyerah. Joko bilang kalau aku ini secantik bidadari yang selalu hadir di dalam mimpinya, jadi bagaimanapun caranya aku harus menjadi istrinya."


Gilang terlihat kesal. "Dia itu keterlaluan sekali. Lihat saja, saat aku bertemu dengannya nanti--"


Gilang mendekap Pelangi dan mengecupi kening wanita itu berulang kali. "Aku sangat bersyukur karena kamu selamat dan diselamatkan oleh orang-orang yang baik. Terima kasih karena sudah berusaha untuk bertahan, Pelangi. Aku sangat mencintaimu."


***


Gisel gelisah, ia merasa tidak enak hati sejak matahari mulai tenggelam. Langit yang kemerahan menambah kesan suram suasana kamarnya yang memnag sudah suram dan sempit.


Gisel yang sejak tadi berbaring di atas ranjang, sekarang bangkit berdiri, kemudian mondar-mandir di tengah ruangan untuk mengurangi kegelisahan di hatinya. Diraihnya ponsel yang sejak sore tadi kembali dinonaktifkannya. Hatinya bimbang, ingin rasanya ia menghubungi seseorang yang dikenalnya sekadar untuk berbincang santai. Beberapa hari tidak memiliki teman bicara membuatnya frustrasi. Apalagi rasa bersalahnya atas meninggalnya Exel terus menghantui pikirannya, membuatnya semakin merasa terpuruk.


Baru saja ia hendak mengaktifkan ponselnya, sebuah gedoran di pintu kamar yang rapuh mengalihkan perhatiannya. Gisel menjadi siaga, ia berjalan menuju pintu dan mengintip melalui lubang intip yang ada di pintu tersebut.


"Siapa dia?" gumam Gisel, saat dilihatnya seorang pria berdiri di depan pintu kamarnya. Wajah pria itu yang telrihat serius membuat Gisel penasaran.


Ptia itu kembali menggedor, kali ini lebih kuat dari sebelumnya dan lebih cepat. Gisel mundur selangkah, perasaannya semakin tidak enak.


"Apa dia polisi?" Gisel kembali bergumam. Ia kemudian berjalan menuju jendela dan memutuskan membuka tirainya sedikit, dan di sanalah ia melihat Pelangi dan Gilang juga Antonio berdiri di tengah halaman. Selain kehadiran Pelangi, kehadiran beberapa pria berkaos oblong pun menarik perhatian Gisel.


"Polisi yang sedang menyamar," guman Gisel. "Sial!" Ia kemudian meraih pisau lipat yang ada di dalam tas tangannya, lalu membuka pintu dengan mendadak dan menusukan pisau lipat tersebut pada perut seorang pria yang diduganya adalah seorang polisi.


Pria itu berteriak, walau sempat memegangi lengan Gisel, tetapi Gisel lebih gesit. Gisel menggigit tangan pria itu dan segera berlari menuju pintu belakang.


Dor!


Sebuah tembakan peringatan dilepaskan oleh pria yang sekarang tengah terluka parah di perutnya. Suara tembakan itu terdengar hingga ke luar bangunan penginapan.


"Kepung bangunan ini! Kepung!" teriak seorang pria bertubuh tegap dan tinggi yang berdiri di tengah halaman penginapan.


Sekumpulan pria bersenjata segera menyebar, menghampiri setiap area penginapan yang dapat dijangkau agar buronan yang mereka incar tidak dapat melarikan diri.


Pelangi merapatkan tubuhnya pada Gilang, ia takut jika tiba-tiba Gisel muncul dan menyerangnya lagi.


"Lebih baik kamu masuk ke dalam mobil. Kunci pintunya dan jangan buka siapa pun yang datang kecuali aku," ujar Gilang, lalu menuntun Pelangi menuju mobil dan memaksa wanita itu agar bersedia masuk ke dalam mobil.


"Kamu akan ke mana?" tanya Pelangi.


"Menangkap Gisel. Pasti rasanya akan memuaskan sekali saat akulah yang berhasil memojokannya." Gilang kemudian mengecup bibir Pelangi dan segera menutup pintu mobil, lalu ia pun berlari ke bagian belakang penginapan bersama dengan beberpa orang pria bersenjata.


Pelangi memandangi punggung Gilang yang menghilang dalam keremangan senja. Ia ingin melarang saat Gilang memutuskan untuk mencari keberadaan Gisel, tetapi Pelangi tahu, percuma saja melarang Gilang yang keras kepala. Gilang pasti tidak ingin jika Gisel kabur lagi, karena sebelum Gisel tertangkap dan ditahan, kehidupan mereka semua tidak akan pernah tenang.


Sementara itu petugas kepolisian mulai menyisir setiap area penginapan, terutama halaman belakang di mana terdapat gudang dan garasi mobil yang sudah tidak terpakai.


Gilang bergerak dengan gesit, melewati barang rongsokan yang menumpuk di sepanjang jalan menuju gudang.


"Periksa gudang dan garasi. Tetaplah waspada, tersangka bersenjata," teriak salah seorang petugas polisi.


"Dia bersenjata?" Gilang bergumam seorang diri.


Salah seorang petugas kepolisian yang berdiri di samping Gilang mengangguk. "Salah satu anggota kami terluka. Wanita itu menusuk perut anggota kami dengan senjata tajam."


Gilang terkejut. Ia tidak menyangka jika Gisel seberani itu. Gisel yang dikenalnya sebagai wanita yang lembut dan menyenangkan ternyata bisa bertindak begitu kejam dan mengerikan.


"Diam di tempat. Kami telah mengepung tempat ini."


Suara teriakan salah seorang anggota polisi di kejauhan mencuri perhatian Gilang. Ia dan beberapa orang segera berlari ke asal suara.


Dor!


Suara tembakan yang baru saja terdengar semakin mempercepat langkah Gilang.


Dor!


Tembakan kedua kembali terdengar.


"Berhati-hatilah, tersangka membawa senjata api!"


"Sial!" gumam Gilang. Gilang terkejut. Ia pikir suara tembakan yang sejak tadi terdengar berasal dari salah seorang anggota polisi yang mengejar Gisel, tetapi ternyata ia salah. Suara tembakan itu bukan berasal dari anggota kepolisian, tetapi dari Gisel.


Mengetahui hal itu, Gilang segera berbalik arah. Bukan mengejar Gisel yang penting baginya sekarang, tetapi melindungi Pelangi. Jika Gisel seberani itu mengarahkan pistolnya ke para pengejar, tidak menutup kemungkinan jika Gisel pada akhirnya akan mengarahkan senjata apinya itu ke Pelangi.


Bersambung ....