OH MY BOSS

OH MY BOSS
DELIA BERGABUNG



Toni menghela napas dan merebahkan tubuhnya di atas sofa berbahan beledu yang berada di ruang tamu kediaman keluarga Andreas. Setelah perjalanan panjang dari panti sosial yang berada di pinggiran kota, Toni merasa sekujur tubuhnya bagai ditinju oleh puluhan petinju dengan sarung tinju super besar.


"Melelahkan sekali," keluh Toni.


Andrew melemparkan sebotol air mineral ke arah Toni yang menangkap botol air mineral itu dengan sigap sebelum mengenai wajahnya.


"Semua ini tidak sia-sia. Setidaknya kita berada satu langkah di depan Gisel. Antonio bilang--"


"Siapa Antonio?" Toni memotong ucapan Andrew.


"Salah satu orangku." Andrew menjawab dengan kesal, ia benci sekali saat ada orang yang memotong ucapannya.


"Banyak sekali orangmu. Kemarin Aldo, sekarang Antonio. Apa kamu itu semacam agen rahasia yang memiliki banyak anak buah yang tersebar di seluruh penjuri bumi?"


Andrew tersenyum miring. "Hidup yang kujalani sangat pahit, Ton. Kepahitan itu membuat aku lebih suka berada di jalan dan bergaul dengan banyak anak jalanan. Berteman dengan mereka lebih baik bagiku dibanding harus berteman dengan teman-teman Gilang yang hampir semuanya adalah penjilat. Dan terbukti, teman-temanku sangat berguna dibandingkan teman-temanmu dan teman-teman Gilang."


"Ya, ya, baiklah. Lanjutkan apa yang ingin kamu katakan tadi. Jadi, siapa itu Antonio dan apa yang Antonio bilang padamu."


"Antonio adalah orang suruhan Gisel, yang merupakan temanku juga. Antonio mengatakan padaku jika Pelangi dan Gilang sedang berada di Hotel Savari dan akan menginap di sana selama satu minggu lamanya. Gisel akan menyusul mereka besok. Aku rasa, Gisel akan membuat kegaduhan di sana. Itulah sebabnya aku akan pergi ke hotel itu juga malam ini dan menyewa kamar di sana." Andrew menjelaskan.


"Wah, hebat sekali Gilang. Apa yang dia pikirkan saat mengajak Pelangi untuk menginap di hotel salama satu minggu. Kenapa dia ceroboh sekali."


"Entahlah. Aku juga tidak bisa menebak apa yang tengah Gilang pikirkan." Andrew terlihat kesal.


Toni diam untuk sejenak, kemudian berkata, "Jadi, si Antonio ini adalah orang yang bekerja dengan Gisel dan bekerja denganmu juga? Apa orang seperti itu bisa dipercaya? Bisa saja dia hanya membohongimu. Jika pada Gisel yang membayarnya saja ia bisa berkhianat, apalagi padamu."


Andrew menggeleng. "Sebenarnya sejak awal dia memang bekerja denganku. Aku mengatur sedemikian rupa agar saat Gisel membutuhkan seorang penguntit untuk menguntit Gilang, dia memilih Antonio."


"Cerdas sekali. Aku akan bersiap-siap kalau begitu." Toni kemudian bangkit berdiri dan berbalik meninggalkan Andrew.


"Hai, siapa yang bilang kalau aku akan mengajakmu?" Andrew berteriak saat Toni sudah setengah perjalanan menuju ke kamarnya yang berada di salah satu koridor lantai satu.


Toni berhenti dan berbalik untuk menatap Andrew, tepat saat Exel dan Delia memasuki ruangan.


"Aku akan berangkat ke sana dengan dia." Andrew menunjuk ke pintu masuk, membuat Exel dan Delia menatap bingung satu sama lain.


"Aku?" tanya Exel.


Andrew berdecak. "Delia. Bukan kamu."


"Kenapa harus dia? Wah, mana bisa begitu. Dia itu perempuan." Toni protes.


"Cuma namanya yang tidak pernah didengar oleh Gisel. Untuk berjaga-jaga saja, aku ingin agar Delia yang reservasi."


"Siapa bilang Gisel tidak pernah mendengar nama Delia, mereka berteman sejak kecil, apa kamu lupa?" Toni masih tidak terima pada keputusan Andrew yang akan membawa Delia menginap di Hotel Savari.


Delia menatap Andrew dengan mata melotot dan mulut yang sedikit terbuka. "Kamu mengajakku bermalam di hotel? Kenapa tiba-tiba sekali?"


Exel menyikut Delia yang sekarang terlihat berbinar bahagia.


Andrew bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Delia dan Exel. "Maaf mendadak memberitahumu, karena aku pun baru mendapat kabar ini beberapa saat lalu."


Andrew dan Toni mengangguk berbarengan. "Kita memang sedang berusaha melindungi Pelangi dan menjebak Gisel." Toni yang menjawab. "Jadi apa pun yang kita lakukan, selalu hal yang saling terhubung dengan sosok Pelangi, Gilang, dan Gisela."


Delia menghela napas, sedikit kecewa karena lagi-lagi kebersamaannya dengan Andrew terjadi karena Pelangi. Bukan atas kemauan andrew sendiri.


"Baiklah. Katakan saja padaku apa yang harus kulakukan," ujar Delia.


Andrew menyentuh pundak Delia dan meremasnya dengan lembut. "Istirahatlah dulu. Kita akan berangkat tepat jam tujuh malam."


Delia mengangguk. "Aku juga butuh istirahat. Karena sepertinya bergabung dan mengurusi urusan kalian akan sangat menyita waktu dan sedikit menyakiti perasaanku." Setelah mengatakan itu, Delia langsung menghampiri Toni dan menanyakan di mana ia harus beristirahat.


Setelah Toni memberitahu di mana letak kamar Delia dan Exel, wanita itu langsung pergi meninggalkan Andrew yang menatapnya dengan bingung.


"Aku tahu, kamu pasti tahu kenapa dia bertingkah seperti itu. Dia menyukaimu." Toni melayangkan tinjunya di dada Andrew.


"Ya, aku tahu. Andai saja dia tahu kalau aku tidak mencintainya, apa dia akan kecewa padaku?" Andrew menatap punggung Delia yang sekarang menghilang di belokan yang terdapat di bawah tangga.


"Buka hatimu untuknya dan lupakan Pelangi. Hanya itu satu-satunya cara agar kamu bisa mencintainya. Jangan kecewakan dia. Dia wanita yang baik. Apalagi dia sebatang kara di dunia ini. Saat Exel harus mempertanggungjawabkan perbuatannya nanti, maka Delia hanya memiliki dirimu. Hanya kamu yang dia percaya."


Andrew menghela napas. "Aku bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Jika hatiku sudah tertambat pada sosok sederhana Pelangi, mana bisa aku berpaling darinya begitu saja walaupun aku ingin."


***



Delia tampil berbeda malam ini. Jika biasanya wanita itu tampil sederhana dengan sweater tebal dan celana kulot yang kebesaran di tubuh langsingnya, tidak demikian dengan malam ini.


Delia tampil cantik dengan gaun putih sebatas lutut dan tanpa lengan. Rambut panjangnya yang lurus ia biarkan tergerai membingkai wajah cantiknya.


Andrew terlihat terpesona. Ia yang sejak tadi menunggu di halaman depan segera menghampiri Delia dan membantu wanita itu berjalan menuju mobilnya.


"Sudah siap?" tanya Andrew.


"Tentu. Apa pun perintahmu."


Perjalanan menuju Hotel Savari tidak membutuhkan waktu yang lama. Apalagi jalanan kota tidak terlalu padat seperti biasanya, membuat Andrew dapat melajukan mobilnya dengan lancar tanpa hambatan.


Sesampainya di hotel, Andrew menghentikan mobilnya di depan pintu masuk, membantu Delia untuk turun dan menyerahkan kunci mobil pada petugas valet.


"Seperti yang sudah kukatakan tadi, kamu yang reservasi, sementara aku menunggu di sofa yang ada di ujung sana. Oke," ujar Andrew, sesaat setelah mereka melangkah memasuki lobi hotel.


Delia mengangguk mengerti, lalu mulai melangkah menuju meja resepsionis dengan perasaan gugup. Bukan gugup karena ia harus memesan kamar, tetapi gugup karena memikirkan apa yang akan terjadi di kamar hotel nanti saat ia dan Andrew hanya berdua saja tanpa ada Toni dan Exel.



Bersambung ....


***