
Gedung apartemen yang Anneth tempati bukanlah sebuah gedung Apartemen mewah seperti yang pernah ditempati oleh Gisel. Bisa dibilang Apartemen Anneth adalah gedung Apartemen paling sederhana yang pernah Pelangi kunjungi. Bagian depan gedungnya terlihat berjamur dan terdapat tanaman rambat yang menjuntai dan tumbuh tidak beraturan dari teras lantai dua hingga ke lantai satu. Taman yang terdapat di samping gedung apartemen pun terlihat tidak terawat sehingga rumputnya tumbuh lebih tinggi dan lebih subur daripada tanaman yang ada di taman tersebut.
Toni memarkirkan kendaraannya di halaman parkir luas yang berbatu dan berlubang. Halaman yang luas itu menandakan pastilah dulunya gedung di hadapan mereka adalah gedung yang mewah dan populer hingga banyak pengunjung yang berdatangan, karena memang pada lantai pertama terdapat papan iklan bertuliskan "Night Bar" yang sekarang papan itu menggelantung miring di tiang berkarat yang juga hampir roboh.
"Ini tempatnya?" tanya Toni pada Pelangi. Ia terlihat ragu.
Pelangi mengangguk. "Ya, aku pernah berkunjung ke sini dulu sekali." Pelangi menjawab, kemudian ia bergegas keluar dari dalam mobil, disusul oleh Amara dan juga Toni.
"Tidak terlihat seperti bangunan berpenghuni," ujar Amara.
Toni mengangguk setuju. "Seandainya saja tidak ada mobil yang terparkir di sini, aku pasti tidak akan percaya jika Suster An tinggal di sini. Gedung ini lebih mirip seperti gedung berhantu yang ada di film-film horor."
Pelangi berdecak. "Jangan cerewet. Ayo cepat kita masuk saja." Pelangi melangkah menuju gedung utama, diikuti oleh Amara dan Toni.
Ketiganya melangkah dengan cepat, meniti anak tangga satu per satu hingga lutut mereka terasa kebas. Kebetulan saat ini elevator satu-satunya yang ada di gedung itu sedang tidak berfungsi, membuat mereka mau tidak mau harus menaiki tangga agar tiba di lantai atas.
Setelah beberapa saat, akhirnya Pelangi, Toni dan Amara tiba di lantai tujuh.
"Astaga, yang benar saja." Amara berkomentar sembari bersandar di dinding dan perlahan tubuhnya merosot karena kelelahan.
Toni segera membantu Amara untuk berdiri dan menyeka keringat yang membanjiri wajah wanita itu.
Pelangi menggelengkan kepala melihat tingkah Amara. Ia tahu sahabatnya itu bersikap manja hanya karena ada Toni di dekat mereka. Padahal saat masih bekerja di Andreas Group, ia dan Amara sering sekali naik ke lantai tiga belas menggunakan tangga sembari membawa peralatan tempur seperti ember, alat pel, sapu, hingga semprotan serangga. Sekarang, baru lantai tujuh saja Amara sudah kelelahan, padahal mereka menuju lantai tujuh dengan tangan kosong.
"Ayolah. Jangan manja, ini baru lantai tujuh. Masa sudah lelah." komentar Pelangi.
Mendengar komentar Pelangi, Amara hanya nyengir, kemudian ia kembali mengekor langkah Pelangi menyusuri selasar yang lantai keramiknya retak di mana-mana.
"Kalau lelah sekali bilang saja padaku. Aku akan menggendongmu," ucap Toni pada Amara, ia terlihat serius pada ucapannya, sepertinya ia sama sekali tidka tega melihat wajah Amara yang berkeringat dan kelelahan.
Amara melirik punggung Pelangi. Seandainya saja tidak ada Pelangi saat ini, ia pasti akan mengangguk dan meminta untuk digendong oleh Toni. Namun, karena ada Pelangi, mana mungkin ia mengatakan hal. itu. Toh Pelangi yang paling tahu bahwa ia tidak lemah secara fisik, sehingga Pelangi pasti akan memperoloknya dan mengatasinya manja kalau sampai ia terlihat kelelahan.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka tiba di sebuah pintu berwarna merah muda. Pintu itu yang paling cerah dan paling bersih dibanding pintu lain di sekitarnya yang terdapat banyak coretan dan warnanya kusam, juga catnya mulai mengelupas.
"Ini kamar Suster An," ujar Pelangi pada Amara dan Toni.
Toni mengulurkan tangan untuk mengetuk, tetapi setelah beberapa saat pintu tetap bergeming. Tidak menunjukan adanya kehidupan di balik pintu yang tertutup itu.
"Biar aku saja," ujar Pelangi, kemudian ia mulai mengetuk dan memanggil-manggil Anneth. Namun, nihil, tidak ada jawaban sama seperti sebelumnya.
"Mungkin dia sedang tidak ada di rumah," ucap Amara. "Bisa saja kan dia sedang ada di suatu tempat atau mungkin sedang bekerja."
Ceklek.
Sebuah pintu yang gagangnya mulai berkarat terbuka, pintu itu berada tepat di samping kamar Anneth. Seorang wanita tua keluar dari dalam ruangan yang terlihat suram dan berbau kol busuk.
"Kalian berisik sekali," ujar wanita tua itu, sorot matanya yang tajam menatap Pelangi dan Amara dengan tatapan sinis.
Pelangi membungkuk dan meminta maaf atas keributan yang telah ia lakukan. "Maafkan kami. Kami sedang mencari teman kami yang tinggal di sini," ujar Pelangi.
"Oh, si Anneth itu. Dia tidur kurasa. Beberapa hari ini dia hanya teriak-teriak dan menangis di dalam. Membuat aku tidak bisa tidur karena berisik. Suaranya terdengar sampai ke rumahku. Mungkin dia sedang putus cinta," ujar wanita tua itu.
"Suster An menangis, tapi kenapa?" tanya Amara pada si wanita tua
"Ya, mana aku tahu. Kalian pikir aku ini ibunya, hingga aku tahu segalanya tentang si Anneth itu." Wanita tua itu mendelik tak suka ke arah Pelangi dan Amara, lalu segera menutup pintu dengan kasar sembari mengomel tak keruan.
"Ish, dasar tua bangka." Amara mengacungkan tinju ke pintu yang sekarang sudah kembali tertutup.
"Sudahlah, jangan diambil hati. Seluruh orang tua yang ada di dunia ini memang secerewet itu jika mereka hidup sendiri dan kurang perhatian," komentar Toni.
"Tetap saja seharusnya dia tidak boleh begitu pada orang lain." Amara masih mengomel, ia terlihat tidak terima diperlakukan tidak baik oleh orang asing.
Pelangi tidak menghiraukan ocehan Amara yang menurutnya sangat tidak tepat. Sekarang ia sedang khawatir pada keadaan Anneth, tetapi Amara malah sibuk mengomel tentang wanita tua yang tidak mereka kenal.
"Suster An, Suster An, buka pintunya. Ini aku Pelangi. Aku ingin bicara padamu, Sus." Pelangi kembali mengetuk dan memanggil-memanggil Anneth, tetapi masih tidak ada jawaban dari dalam. "Dobrak saja, Ton," pinta Pelangi kemudian.
"Nanti pintunya akan rusak. Apa tidak apa-apa?" tanya Toni.
Pelangi mengangguk. "Aku yang akan bertanggung jawab. Tidak ada pilihan lain sekarang, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di dalam?"
"Oke. Kalian berdua menjauhlah, aku akan mendobrak," perintah Toni, kemudian ia mundur beberapa langkah, memasang kuda-kuda dan mulai menabrak pintu di depannya dengan kaki dan tubuhnya.
Sekali, dua kali, dan ....
Bruk!
Pintu merah muda itu ambruk hanya dengan dua kali dorongan dari Toni.
"Pintunya ringkih sekali," komentar Toni.
Pelangi menghambur ke dalam ruangan yang pengap dan gelap. Sementara Amara mencari saklar lampu yang biasanya terdapat di samping pintu. Dan benar saja, Amara mendapatkan apa yang sedang ia cari dan segera menekan saklar tersebut.
Lampu berwarna kuning yang tidak terlalu terang menyala di tengah ruangan. Cahayanya yang pudar berpendar menerangi seluruh ruangan. Karena sinarnya yang tidak terlalu terbang, seluruh barang yang ada di ruangan itu terlihat samar dna menyeramkan.
Pelangi menjelajahi seisi ruangan dengan kedua matanya, fokus mencari sosok Anneth yang mungkin saja meringkuk di sofa atau di sudut ruangan, tetapi ia tidak menemukan keberadaan Anneth di mana pun.
"Suster," gumam Pelangi, dan segera menghampiri wanita itu, lalu berlutut di sampingnya.
"Astaga, apa dia masih hidup?" tanya Amara, saat dilihatnya genangan darah di sekitar lengan sebelah kanan Anneth.
"Dia melukai pergelangan tangannya," ujar Pelangi dengan suara yang bergetar. "Ton, bagaimana ini?"
"Yang benar? Coba kulihat." Toni menghampiri Pelangi dan berlutut di samping wanita itu agar dapat memeriksa keadaan Anneth. "Kita bawa dia ke rumah sakit. Ayo!" ucap Toni.
Pelangi mengangguk. Ia kemudian bangkit berdiri dan menyingkir dari hadapan Toni, membiarkan pria itu menggendong tubuh Anneth yang tidak sadarkan diri dan berlumuran darah. Sedangkan Pelangi meraih tas tangan Anneth yang tergeletak di meja. Ia berniat untuk mencari tahu apa yang telah Anneth alami hingga wanita tegar itu memutuskan untuk mengakhiri hidup.
***
GEDUNG ANDREAS GROUP
Gilang bergeming. Ia tidak mengerti pada apa yang Andrew ucapkan tentang foto yang didapat dari ponsel Pelangi.
"Apa artinya itu? Bagaimana bisa foto itu semua didapatnya dari ponsel Pelangi?" tanya Gilang, pada Andrew.
Andrew menghela napas panjang sebelum menjelaskan pada Gilang. "Jadi, saat kejadian ternyata Pelangi meletakan ponsel di mobil dan merekam segala yang terjadi di sana. Tidak ada yang menyadari hal itu kecuali Alex yang melihat cahaya blitz dari mobilmu yang terparkir tidak jauh dari mobil Alex. Saat kemudian mendapat kesadarannya kembali, ia meminta temannya untuk mengambil ponsel itu dan memberikan ponsel itu padanya. Ya, Alex beruntung tidak tewas saat itu, dan kebetulan juga petugas medis yang mengangkat tubuhnya ke ambulans adalah kenalan Alex, maka dengan mudah Alex memalsukan kematiannya."
Gilang terhenyak, tidak menyangka jika kejadian seperti itu. Andai saja ponsel Pelangi yang merekam kejadian itu jatuh padanya, ia pasti akan lebih cepat mengingat tentang Pelangi, karena melihat kejadian yang menimpanya itu pasti dapat merangsang ingatannya yang sempat hilang dengan lebih cepat.
"Sekarang, di mana ponsel itu?" tanya Gilang.
"Ada di kediaman Alex kurasa. Sore ini aku memutuskan untuk menyerahkan mereka berdua ke polisi, beserta bukti yang ada agar mereka segera dijatuhi hukuman. Kuharap hukuman mati."
"Ya, lakukan saja apa yang menurutmu baik, Ndrew. Aku tidak bisa melakukan apa pun sekarang."
Andrew bangkit dan menepuk pundak Gilang. "Jangan berkecil hati. Kamu adalah pemikir yang hebat, Gil. Perusahaan ini dapat kembali ke tangan kita dan bangkit kembali setelah mengalami krisis semua berkatmu. Kamu hanya perlu berpikir, dan ada Pelangi, aku, juga Toni yang akan menuruti semua perintahmu. Kita semua akan bekerja sama."
Gilang tersenyum. "Setelah menikah dan akan memiliki anak kamu terdengar lebih bijaksana."
Andrew tertawa. "Aku sudah bijaksana sejak dulu. Hanya saja kamu yang tidak tahu. Kamu terlalu sibuk dengan urusan asmaramu yang memusingkan. Gisel itu sungguh memusingkan!"
Gilang ikut tertawa bersama dengan Andrew. "Jangan sebut nama Gisel. Entah kenapa aku enggan mendengarnya."
***
Delia berbaring di kamar sembari menatap langit-langit. Sudah sejak pagi hanya berbaring yang dapat dilakukannya, karena semua orang sedang berada di kantor sekarang, sedangkan ayah mertuanya baru saja pergi ke suatu tempat dengan beberapa pengawal. Sepertinya mereka semua sedang mengurus sesuatu yang penting.
Delia menghela napas, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari untuk berganti pakaian. Saat sedang sendiri seperti ini dirinya merasa sedih. Pikirannya sejak tadi membayangkan wajah dan senyum Exel yang ramah, suara Exel yang lembut, serta perhatian Exel yang selalu membuatnya tidak merasa sendiri.
Perlahan air matanya jatuh, saat ia menemukan hoodie milik Exel yang terselip di antara tumpukan pakaiannya.
Delia menarik hoodie itu lalu memutuskan untuk mengenakan hoodie milik Exel di atas celana kulot yang ia kenakan. Perutnya memang belum berukuran besar, hingga tidak sulit baginya untuk mengenakan celana.
Setelah selesai berganti pakaian, Delia berjalan keluar dari kamar. Tadinya ia hanya berniat untuk bersantai di halaman depan yang terlihat sejuk. Namun, setibanya di depan pintu ia teringat pada Gisel.
Ya, mengingat Exel, pasti akan membuat Delia teringat pada Gisel juga. Bukankah dulu hubungan mereka sangat dekat. Bukankah mereka besar bersama di tempat yang sama.
Delia mengalihkan langkah kakinya yang tadinya menuju taman sekarang melangkah menuju gerbang depan.
Seorang sekuriti yang berjaga segera menghampiri Delia yang terlihat berjalan dalam kebingungan. Wanita itu memang tengah mengalami dilema, antara haruskah ia pergi mengunjungi Gisel atau tidak.
"Nyonya, Anda mau pergi ke mana?" tanya sekuriti ber-nama tag Angga.
Delia diam sejenak sembari memainkan ujung rambut panjangnya. Ia bingung harus mengatakan apa agar sekuriti itu tidak curiga. "Ke minimarket," jawabnya kemudian. Ia tidak mungkin berkata jujur, karena sekuriti itu pasti akan melarangnya, apalagi ia belum meminta izin pada Andrew untuk menemui Gisel.
"Biar saya panggilkan sopir kalau begitu--"
"Jangan. Tidak usah. Aku berjalan kaki saja. Kan jaraknya tidak begitu jauh." Delia menolak. Bisa kacau rencananya jika sampai Angga memanggil sopir untuk mengantarnya.
"Anda tetap harus pergi dengan sopir, Nyonya, karena begitulah perintah yang turun langsung dari Tuan Farhan. Kecuali Anda pergi dengan Tuan Andrew. Tunggu sebentar, saya tidak akan lama." Angga bersikeras. Ia laku masuk ke dalam pos jaga dan meraih gagang telepon.
Delia memperhatikan dari luar dengan perasaan kesal. "Sekarang bagaimana. Aku sungguh merasa terpenjara jika begini."
Tidak lama kemudian Angga muncul dan tersenyum pada Delia. "Itu mobilnya datang."
Delia menoleh ke belakang, dan benar saja, sebuah sedan berwarna merah menuju ke arahnya dan berhenti tepat di sampingnya.
Delia tersenyum masam, lalu mengucapkan terima kasih pada Angga yang membukakan pintu mobil untuknya.
Setelah pintu mobil tertutup dan mobil telah berada di luar area rumah keluarga Andreas sang sopir bertanya, "Ke mana tujuan kita, Nyonya?"
"Apa sekuriti tadi tidak bilang padamu aku ingin ke mana?" tanya Delia.
"Tidak, Nyonya, dia hanya memintaku untuk mengantarkan ke mana Anda hendak pergi."
Delia Mendengkus. Ia berpura-pura kesal. "Padahal aku sudah mengatakan padanya kalau aku ingin menemui Gisel."
Bersambung.