OH MY BOSS

OH MY BOSS
MABUK



 


 


Dan di sinilah William. Setelah hampir dua tahun dia tidak mengunjungi tempat ini, dia kembali dengan hati yang ambalayah.


 


 


"Satu lagi!" Pinta William pada bartender. Kepalanya beberapa kali terkatup meja saking telernya, sebenarnya pria itu tidak bisa minum, karena saat mabuk dia akan benar-benar kehilangan kewarasannya.


 


 


"Anda sudah sangat mabuk tuan."


 


 


"Saya bayar, tenang saja, saya punya perusahaan besar! Ayah saya seorang milyader di Amerika kalau kau mau tahu."


 


 


William melempar gelas kosongnya asal, merasa kesal karena pintanya tidak juga dipatuhi.


 


 


Sang bartender tidak mau meladeni, baginya sudah biasa menghadapi pelanggan yang semacam itu. Dia hanya menghindar agar tidak menjadi sasaran.


 


 


William mengambil ponselnya mencari kontak dan menempelkan di telinga, saat tersambung pria itu mengoceh panjang lebar, bahkan tangisnya mulai pecah, hentakan musik yang keras membuat siapapun yang menoleh padanya bersikap tidak peduli, bahkan mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi, sudah biasa mereka melihat orang mabuk itu seperti orang gila.


 


 


Ada yang bilang, ucapan orang saat mabuk itu delapan puluh persen berasal dari hati, dan begitu juga dengan William, pria itu menumpahkan isi hatinya pada seseorang di seberang sana yang mungkin sudah mengerutkan dahi saking herannya.


 


 


Beberapa menit setelah sambungan terputus, William masih terus mengoceh dengan sesekali tertawa lepas, hingga akhirnya dia menyadari keberadaan seseorang yang ia kenal sedang menatap geram ke arahnya. Willia menghambur kearah seseorang yang sigap menangkap tubuhnya.


 


 


"Aku tidak rela," gumamnya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.


 


 


Seseorang yang benci bau alkohol dari mulut sahabatnya itu membuang muka. "Kambing bule sialan," umpatnya.


 


 


***


 


 


William mengerjap beberapa kali, beradaptasi dengan cahaya yang ditangkap kornea matanya. Tangan besarnya menjambak rambut, kepalanya begitu pusing, dia menyadari sesuatu.


 


 


"Aaaaa!!!" Teriaknya histeris, dengan kedua tangan bersilang di depan dadanya yang telanjang, persis anak perawan yang kedapatan terbangun di pagi hari dengan seorang pria.


 


 


"Berisik!!" Seseorang melempar handuk setengah basah yang beberapa detik lalu ia gunakan menggosok rambutnya. Justin. Pria itu mengambil kaus di lemari dan memakainya dengan santai.


 


 


"Kenapa aku ada di sini? Kau tidak  macam-macam padaku kan semalam," ucapnya panik.


 


 


Pertanyaan tidak senonoh yang keluar dari mulut pria bule itu cukup menjadi alasan untuk membuat sendal tidur Justin mendarat secara sempurna di kepala pria itu.


 


 


"Aw!!" Pekik William, kepalanya yang semula masih pusing bertambah kleyengan. Dia mengambil sendal yang dengan tidak hormat mampir di keningnya, alisnya bertaut memandangi sendal bermotif polkadot warna biru  dengan hiasan kepala doraemon besar di ujungnya.


 


 


"Sejak kapan doraemon kena cacar begini?" gumamnya pelan yang tidak di gubris oleh sahabatnya.


 


 


 


 


"Kenapa jadi bawa-bawa Agama. Memangnya kau pikir aku ini Babi." William bersungut sebal.


 


 


"Ya, semacam itulah kelakuanmu," jawab Justin enteng.


 


 


William mencibir, kemudian menyingkap selimut yang menutupi kakinya, dan menemukan ponselnya tergeletak di sana. Melihat benda itu dia langsung meloncat dari tempat tidur.


 


 


Baginya hal yang paling mengerikan selepas mabuk adalah benda persegi itu. William punya kebiasaan buruk saat otaknya dipengaruhi alkohol. Dia akan menelpon siapa saja dan mencurahkan isi hatinya.


 


 


"Aku tidak menghubungi siapa-siapa kan?"


 


 


Justin menoleh pada William, pandangannya mengarah pada benda yang ditunjuk pria itu.


 


 


"Menurutmu?"


 


 


Mendengar jawaban itu, William mendengus kesal. "Aku menghubungimu?" Tanyanya lagi, Justin menggeleng. pandangannya ia fokuskan kembali pada cermin, menggunting bulu kasar di sekitar rahang yang tertinggal saat dia mencukurnya di kamar mandi tadi.


 


 


"Terus, kenapa kau bisa tahu aku ada di sana?" William dengan malas meraih ponselnya dan memeriksa riwayat panggilan terakhir. Dan terkejut saat mendapati nama seseorang yang ia takutkan ada di sana.


 


 


"Serena!" Ucap kedua pria itu secara bersamaan. Justin menoleh. Dilihatnya William sudah kembali bergelung ke dalam selimut dan terus mengumpat.


 


 


"Ya Tuhan. Mau ditaruh di mana wajahku jika bertemu dia nanti." Gumam William, kemudian kembali terduduk. "Menurut riwayat panggilan di ponselku, aku menghubungi Serena semalam, dia bilang apa padamu?" Tanyanya kemudian.


 


 


"Kau pikir saja sendiri." Kalimat keramat yang biasa diucapkan kaum perempuan, terlontar dengan begitu fasihnya dari mulut Justin, membuat William misuh-misuh menggunakan bahasa ayahnya.


 


 


"Tolong ya, Just. Aku sedang tidak ingin bercanda," ucap William serius.


 


 


"Dengar ya, Will. Kau orang yang paling tahu kalau aku itu tidak bisa bercanda."


 


 


Justin mengambil ponselnya dan sebuah kunci, kemudian menoleh pada sahabatnya.


 


 


"Aku mau menemui psikiater yang katamu bisa membantu. Mimpiku semakin lama semakin aneh." Ungkap Justin.


 


 


"Mimpi apa lagi?" Tanya William penasaran.


 


 


"Masih tentang bayi kembar, dan entah sejak kapan ayahnya Serena ikut mampir di sana. Masuk ke dalam mimpiku."