OH MY BOSS

OH MY BOSS
IJAB KABUL



 


 


Nena menemui Justin di rumah besar kediaman Mr Juan yang katanya masih dalam tahap pemulihan di luar Negri dan tidak bisa di ganggu. Dengan arahan asisten rumah tangga di rumah itu Nena mengetuk pintu kamar Justin yang tidak begitu lama mendapat sambutan dari dalamnya.


 


 


Mengingat kejadian kemarin malam, Nena sebenarnya masih takut untuk menemui pria itu. Tapi dia tidak punya pilihan lain.


 


 


Nena menyerahkan undangan berwarna hijau muda dengan pita kecil di atasnya, Justin tahu itu apa, karena saat memilih benda itu Nena lakukan bersama dirinya. "Mas, dateng yah." Pinta Nena saat mereka duduk bersebelahan di sofa.


 


 


"Memangnya kalo saya nggak dateng, kamu bisa nikah?" Ucap Justin yang membuat Nena memberenggut. Kejadian tempo lalu menjadikannya begitu canggung.


 


 


"Siapa tahu, Mas nggak dateng biar aku nggak bisa nikah." Tuduh Nena yang mendapat senyuman getir dari pria itu.


 


 


"Niatnya sih begitu." Ungkap Justin dan Nena langsung memukul lengan pria itu dengan undangan ditangannya, yang belum sempat Justin terima.


 


 


Nena bangkit dari duduknya, berlama-lama ditempat itu membuat perasaannya tidak karuan. "Aku cuma mau nganter itu aja, Mas. Aku pamit ya." Nena nyaris melangkahkan kakinya saat Justin meraih tangan gadis itu.


 


 


Justin ikut berdiri di hadapan Nena, "Maaf dengan kejian kemarin malam," ucapnya, gadis di hadapannya itu hanya menunduk, mengangguk kecil. "Selamat menempuh hidup baru yah, adikku," ucap Justin dengan sepenuh rasa duka. Senyum di bibirnya tidak mampu menyembunyikan bahwa pria itu tengah kecewa.


 


 


"Resmi juga belum, Mas." Jawab Nena, pandanganya ia arahkan kemana saja asal bukan pria itu. Dan tanpa aba-aba, Justin memeluk gadis di hadapannya dengan begitu erat.


 


 


"Sebelum ijab kabul mengesahkan kalian berdua, biarkan perasaan ini tetap mengalir apa adanya, saya janji, perasaan yang tidak sewajarnya ini perlahan pasti akan memudar,"  ucap Justin yang tidak mendapat tanggapan dari Nena. Pria itu tertegun mendapati gadis itu tampak tersedu-sedu di pelukannya. "Kamu baik-baik saja, Serena?" Dan pertanyaan itu tidak juga membuat isakan Nena mereda. Membuat Justin merasa yakin bahwa gadis di pelukannya itu memiliki perasaan yang sama.


 


 


***


 


 


Nena tampak gelisah duduk sendirian di ruang tidur yang disulap menjadi kamar pengantinnya, setelah beberapa saat lalu, Siska yang menggodanya habis-habisan dimintai tolong oleh ibunya untuk mengurus keperluan di luar.


 


 


Gadis itu menoleh saat dilihatnya sang ibu, menarik-narik seseorang masuk menghampirinya. "Kamu temani adik kamu yah, ibu lagi nyari sesuatu, lupa naronya," ujarnya, kemudian wanita yang tampak cantik dengan kebaya putihnya itu bergegas pergi meninggalkan seseorang yang mematung di hadapan Nena.


 


 


Senyumnya tampak dipaksakan. Siapa lagi jika bukan Justin, pria itu begitu tampan dengan jas andalannya yang pas di badan.


 


 


"Cantik." Pujinya, satu kata yang nyaris menjatuhkan air mata Nena. Gadis itu tersenyum canggung.


 


 


Justin menghampiri sang adik, berlutut di hadapannya dan tanpa gadis itu duga kembarannya itu mejatuhkan kepala di pangkuannya. Bahu Justin tampak naik turun meski pria itu tidak meneteskan air mata sedikitpun. Hanya napasnya yang memburu, menahan gejolak di dadanya yang nyaris meledak. Dan saat dia mengangkat kepalanya, dilihatnya air mata Nena sudah luruh kemana-mana.


 


 


Justin tertegun, tidak ada satu kalimatpun yang lolos dari tenggorokannya, keduanya tampak mengutarakan perasaannya dalam diam.


 


 


"Ini hari bahagia, jangan menangis." Justin menghapus air mata di pipi Nena dengan hati-hati, tidak ingin merusak riasan yang membuat gadis yang semula cantik itu tampak luar biasa mengagumkan.


 


 


Keharuan mereka terusik dengan kedatangan Siska yang tiba-tiba. Gadis itu nyaris melarikan diri saat diingatnya ia harus menyampaikan berita pada keduanya. "Anu, pengantin pria dan rombongan udah dateng," ucap Siska terbata, nyatanya meskipun si bos adalah kakak dari sahabatnya, gadis itu masih canggung sekali jika harus berakrap ria dengan Justin.


 


 


Justin beranjak lebih dulu, mengangguk dan bergegas keluar. Saat berhadapan dengan Siska, pria itu tersenyum dan menepuk pundak gadis itu yang membuat Siska membeku di tempatnya.


 


 


Siska yang terpesona segera menghambur pada Nena dan berlutut di hadapan gadis itu. "Pliss, Na. Tolong restuin gue buat jadi kakak ipar lo." Pintanya yang mendapat jitakan di jidatnya, dari gadis yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu.


 


 


***


 


 


"Benar anda kakak kandung saudari Serena?" Tanya Pak Penghulu. Saat mereka sudah berkumpul untuk melanjutkan acara.


 


 


"Katanya sih iya," Jawab Justin santai yang membuat pria paruh baya di hadapannya itu mengerutkan dahi. Dan Justin tidak peduli, saat ini dia tengah mempertahankan diri untuk tidak lari dari tugasnya sebagai wali Nena, nyatanya gadis yang luar biasa cantik di hadapannya itu selalu menggoyahkan pertahanannya.


 


 


Setelah Bapak Penghulu berceloteh panjang lebar yang tidak juga didengar oleh Justin, pria itu menjabat tangan Bimo saat ijab kabul akan dimulai.


 


 


"Se, saya, saya nikah—"


 


 


"Saudara Justin, tolong anda jangan ragu-ragu." Bapak penghulu memotong ucapan Justin, bagaimana pria itu tidak bisa ragu, melihat pujaan hatinya menikah saja dia sudah begitu merana, dan bonus menjadi seseorang yang berkewajiban menikahkan wanita kesayangannya dengan orang lain itu, apa tidak membuatnya ingin segera mengakhiri masa hidupnya? Astagfirulloh. Justin memejamkan matanya, kemudian mengangguk.


 


 


Nyatanya keraguan Justin berlangsung lama, membuat pria yang ternyata botak di bagian depan kepala saat melepas peci di hadapannya itu, tampak tidak sabaran. "Coba sekali lagi yah, tolong anda tenang, yang menikah ini bukan anda loh ya." Sindirnya saat Justin akan mengulang kalimatnya untuk keempat kalinya.


 


 


 


 


"Saya terima—"


 


 


"TUNGGU!" Teriak seseorang dengan lantang.


 


 


Saat semua pasang mata mengarah pada sumber suara yang sangat Justin kenal, pria itu berucap lagi. "Pernikahan ini tidak akan sah, karena Justin itu bukan kakak kandung Serena."


 


 


Dan berita tersebut membuat semuanya begitu terkejut. Bisik-bisik dari para tetangga dan tamu undangan tampak berdendangan.


 


 


Bapak penghulu yang tampak kebingungan itu meminta penjelasan dari pria yang mengaku sebagai ayah kandung Nena. Mr Juan, beliau yang mendadak pulang saat mendengar berita bahwa anak gadisnya akan menikah, nyatanya datang dalam waktu yang tepat, meskipun tidak tepat menurut Justin. pria itu tidak tahu harus bersikap bagaimana, senang atau tidak, Nena tetap tidak akan bisa menjadi miliknya.


 


 


Dan penjelasan dari Mr Juan itu membuat semuanya tercengang. Termasuk Bimo yang berusaha tidak terpengaruh dari rasa terkejutnya itu.


 


 


"Anak Rahadi dan Ibu Marlina itu bukan kembar, mereka hanya memiliki satu anak laki-laki yang menderita kelainan jantung bawaan, dan untuk kepentingan saya pribadi, saya dan Rahadi memutuskan untuk menukar anak kandung saya, Serena. Dengan anak laki-laki mereka sebagai penerus kekayaan ayah mertua saya." Jelasnya panjang lebar yang membuat sang penghulu melepaskan peci di kepalanya, kemudian memasangnya lagi. Wajahnya tampak kusut, dan setelah pertimbangan cukup panjang, pernikahan ini dilanjutkan meski hanya dengan nikah siri kerena data-data yang ada harus diubah ulang.


 


 


Justin yang masih terhanyut dengan perasaannya akhirnya ditunjuk sebagai saksi, dan seharusnya posisi itu tampak lebih mudah karena hanya mengucapkan kata 'sah' dari mulutnya, meski nyatanya satu kata itu akan terasa lebih berat terucap pastinya.


 


 


Pria itu menoleh pada Nena yang tampak berusaha menguasai diri dari rasa terkejut dengan kenyataan yang ada, entah apa yang mereka utarakan dalam diam, keduanya menghela napas berat merasa tidak juga bisa banyak berharap.


 


 


Mr Juan yang kini sebagai wali, berhadapan dengan Bimo dan menjabat tangan calon menantunya, kalimat yang keluar dari mulutnya tampak tegas dan sempurna, giliran pria itu yang melanjutkan bagian kalimatnya.


 


 


"Saya terima nikah dan kawinnya Serena Ayu Kinanti binti Martin Juandika dengan mas kawin tersebut tunai!"


 


 


"Bagaimana saksi? sah?"


 


 


Semua pasang mata mengarah pada Justin penuh harap, benar saja. Satu kata itu nyatanya melesak terlalu dalam tersangkut di tenggorokannya ogah keluar. Membuat semua tamu undangan merasa was-was dibuatnya.


 


 


"Bagaimana saksi? sah?" Ulang Pak penghulu yang membuat Justin nyaris membuka mulutnya.


 


 


"Mas Abim." Panggil seorang wanita dengan sembab di kedua matanya. Bimo menoleh, hanya ada satu wanita yang memanggilnya seperti itu, Pria itu tampak tidak lagi mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.


 


 


"Bapak!" Seorang anak perempuan berusia lima tahunan, yang dengan setia bergandengan dengan wanita yang mungkin ibunya, ikut mengagetkan kedua mempelai dan semua tamu undangan.


 


 


Bimo tampak panik, dan para tamu undangan mulai berbisik-bisik. Pria itu menoleh penuh harap pada Nena.


 


 


"Serena?" Bimo menelan ludahnya, menatap gadis cantik di sebelahnya yang menjawab iya tanpa suara, pandangannya begitu bingung. "Kamu mau kan, jadi istri ke dua saya?" Tanyanya yang mendapat serangan membabi buta dari Ardi, dan Nena sendiri memilih tidak sadarkan diri di pangkuan ibunya.


 


 


***


Nena tersadar beberapa saat kemudian, dan langsung menangis menghambur pada ibunya. "Maafin Nena, Bu. Nena udah bikin malu ibu." Sesalnya, sang ibu tampak tersenyum memaklumi.


 


 


"Sudahlah sayang, tidak usah dipikirkan, sekarang kamu beri salam dulu sama suami kamu." Suruh sang ibu yang membuat tangis Nena semakin pecah. Gadis itu menggeleng kuat.


 


 


"Nena nggak mau jadi istri keduanya Mas Bimo, Bu. Nena nggak bisa."


 


 


Marlina dengan penuh kasih sayang membelai kepala Nena. "Kamu sekarang menantu ibu, Na. Ayo kasih salam sama suami kamu, kasian dia sudah menunggu dari tadi."


 


 


"Menantu?" Tanya Nena bingung, kemudian menoleh ke arah mimbar tempat ia melaksanakan ijab kabul beberapa menit yang lalu.


 


 


Dilihatnya Justin tampak tersenyum bahagia di depan sana, melambaikan tangannya pada gadis itu dengan jumawa. Nena kembali menoleh pada sang ibu.


 


 


"Mas Justin, Bu?" Tanyanya yang mendapat anggukan dan senyum tulus dari ibunya. Dan gadis itu memilih tidak sadarkan lagi untuk kedua kalinya.