
Tidak ada yang bisa mengobati luka hati seseorang, kecuali orang itu sendiri. Merelakan dan menyadari bahwa apa yang terjadi di dalam hidup merupakan; ketentuan Tuhan atau akibat dari suatu perbuatan diri sendiri.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa apa pun yang terjadi merupakan sebab akibat. Ada pepatah mengatakan, jangan mencubit jika tidak ingin dicubit.
Hal itulah yang sedang terjadi pada Gisel. Keangkuhannya untuk tidak mengakui kesalahan yang telah diperbuat, membuat dirinya menjadi sosok yang pendendam. Baginya segala hal buruk yang menimpanya adalah sebuah bentuk kejahatan dari orang lain kepada dirinya. Dalam kasusnya, ada Gilang, Farhan dan Pelangi yang telah menyakitinya hingga hidupnya hancur. Gisel tidak sadar, bahwa dirinyalah biang kerok dari semua permasalahan yang ada.
Bukankah Gisel yang telah menipu Gilang, Gisel yang memaksa masuk ke dalam kehidupan Gilang dengan cara menipunya. Gisel jugalah yang melakukan kejahatan pada Pelangi--menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh wanita itu. Saat rencananya berantakan, dirinya justru melarikan diri ke pedesaan dan membuat dirinya menderita di sana. Semua itu toh terjadi karena ulahnya sendiri. Namun, bagi Gisel, Pelangilah yang salah dan Pelangi juga yang membuatnya harus hidup menderita, karena Pelangi muncul dan masuk ke dalam kehidupan Gilang.
Maka, tidak mengherankan jika Gisel akhirnya berusaha mati-matian untuk menghancurkan hidup Pelangi. Ia tidak peduli dengan segalanya, termasuk dengan pelanggaran hukum dan tentu saja karma. Gisel dengan percaya diri mengatur rencana jahat, rencana yang hasilnya akan lebih menyiksa daripada sebuah kematian. Bagi Gisel, kematian saja tidak cukup untuk menghukum Pelangi. Pelangi hanya akan merasa tersiksa dan bersalah jika orang-orang terdekatnya satu per satu mengalami kehancuran.
Malam ini adalah waktu yang telah ditetapkan Gisel dan komplotannya untuk menjalankan rencana. Semua telah diatur sedemikian rupa agar tidak ada hambatan apalagi gagal. Baik Alex ataupun Surya telah ditempatkan di posisi masing-masing, tidak lupa beberapa antek-antek surya yang akan bergerak maju jikalau diperlukan.
Gisel tersenyum, menatap dirinya di cermin yang kusam. "Kembalilah padaku sebagai orang yang baru atau mati. Entah mana yang akan Tuhan takdirkan untuk kita."
***
Suster An cemberut saat menerima perintah dari Farhan untuk mengantarkan Pelangi berbelanja. Walaupun Suster An terobsesi pada Gilang, tetapi Farhan tahu bahwa Suster An tidaklah sejahat yang terlihat.
Pelangi sendiri terlihat tidak percaya jikalau sang mertua memintanya pergi ke pusat perbelanjaan bersama dengan rivalnya. Berbagai pikiran buruk merasuki pikiran Pelangi; bagaimana kalau Suster An menyakitinya, menculiknya, mendorongnya di jalan, meninggalkannya, dan lain sebagainya. Ingin rasanya ia menolak, tetapi seolah mengerti kekhawatiran Pelangi, Farhan meminta salah satu pelayannya untuk ikut serta dengan mereka
"Kalian bisa pergi bertiga. Suster An menemani Pelangi, sementara Bi Aminah membawa belanjaan. Kamu kan tidak boleh mengangkat beban yang terlalu banyak, Pelangi," ujar Farhan.
Aminah, adalah seorang pelayan muda berusia 19-an yang baru bekerja di kediaman Farhan selama enam bulan terakhir. Aminah sangat polos dan penurut, juga cekatan dalan melakukan pekerjaan, sehingga bisa dikatakan pelangi paling dekat dengan Aminah dibanding pelayan lainnya. Selama ini memang Aminah yang ditugaskan khusus untuk melayani Pelangi.
Setelah diam beberapa saat untuk memikirkan tawaran Farhan, akhirnya Pelangi pun setuju. Ia mengangguk dan segera berlalu menuju mobil yang telah disiapkan Farhan lengkap dengan sopirnya.
"Andai saja Amara tidak bekerja tadi, atau andai saja ayah tetap di kantor hingga sore, aku tidak akan mau pergi denganmu," ujar Pelangi sesaat sebelum kakinya melangkah memasuki mobil.
Suster An yang mendengar perkataan pelangi hanya bisa mendengkus kesal. Ia sama sekali tidak beminat untuk berdebat dengan istri pria idamannya. Menatap Pelangi saja ia cemburu, apalagi mendengar suaranya, malas sekali!
"Oh, ya, Suster An--"
"Panggil saja aku Anneth. Rasanya tidak nyaman sekali di telingaku saat kita berada di luar nanti dan Anda memanggilku dengan sebutan suster." Suster An memotong ucapan Pelangi.
"Ah, baiklah, begini Anneth, aku ingin bertanya padamu."
"Ya, tanyalah, akan kujawab jika aku ingin menjawab." Suster An berucap dengan angkuh sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, membuat Pelangi ingin menghajar suster muda itu hingga babak belur.
"Kenapa kamu tidak kembali ke rumah sakit, padahal ayah mertuaku sudah sehat. Apa ayah tidak memintamu untuk kembali?" tanya Pelangi.
Suster An menegakkan tubuhnya, lalu menatap Pelangi sebelum menjawab. "Aku yang tidak ingin kembali, karena aku suka bekerja dengan Pak Farhan."
Pelangi mengernyitkan dahi. "Memangnya bisa begitu? Maksudku memangnya bisa kamu yang menentukan ingin kembali atau tidak?"
"Sebenarnya tidak bisa karena tidak ada lagi yang perlu aku kerjakan, itulah sebabnya Pak Farhan memintaku untuk menjagamu sementara, karena memang aku akan masuk dalam katagori karyawan pemakan gaji buta jika tidak melakukan apa pun tapi tetap tinggal di rumah Pak Farhan."
Pelangi menghela napas. "Apa semua ini kamu lakukan karena kamu menyukai Gilang?" tebak Pelangi.
Suster An membuang muka. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Beberapa saat kemudian ia pun menjawab pertanyaan yang Pelangi ajukan. "Sebenarnya iya. Pada awalnya aku memang mengincar Gilang. Hanya wanita buta yang tidak akan jatuh cinta padanya. Dia begitu tampan dan luar biasa. Aku menyukainya, jujur saja."
Pelangi menyeringai mendengar jawaban jujur dari Suster An. "Kamu tidak malu mengakui semua ini di hadapanku. Padahal aku ini adalah istri sah Gilang."
Suster An menggeleng. "Aku tidak malu mengakuinya, toh itulah yang sebenarnya aku rasakan. Tapi, Nona, dulu dan sekarang sudah berbeda. Ada perbedaan yang begitu jauh."
Pelangi terelihat bingung, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Pelangi takut, saat ia mulai berbicara maka yang keluar adalah sebuah kalimat makian panjang lebar beserta dengan semburan api. Ia kesal sekali pada jawaban yang terlontar dari bibir Suster An, hingga rasanya darahnya mendidih dan ada lidah api yang menyala di dalam dadanya.
Melihat kemarahan di wajah Pelangi, Suster An kembali berucap, "Dulu, saat pertama kali tiba di kediaman Pak Farhan, aku melihat Pak Gilang adalah sosok suami yang tidak mencintai istrinya. Dia terlalu pendiam, kaku, dan juga terlalu dingin untuk ukuran seorang suami yang bahagia pada pernikahannya. Terlebih lagi saat Anda tiba dari rumah sakit, Pak Gilang tidak sekali pun menyambut kedatangan Anda dengan baik. Dia selalu saja cemberut dan menghindar saat melihat Anda. Aku menarik kesimpulan bahwa kalian adalah pasangan yang dijodohkan. Berpegangan pada kenyataan itulah aku akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Pak Gilang, walaupun hasilnya selalu zonk. Dia selalu menghindariku, bahkan saat kutawarkan tubuhku untuknya."
Pelangi terbatuk mendengar ucapan Suster An. "Menawarkan tubuh! Maksudmu, tidur bersama?" tabya Pelangi dengan kedua mata yang melotot.
Suster An mengangguk, "Bukan hanya tidur bersama, tapi bercinta juga."
"Beraninya kamu--"
Pelangi menghela napas karena lega. Kekesalannya sedikit berkurang, walaupun tetap saja ia merasa harus berhati-hati pada bibit-bibut pelakor macam Suster An.
"Kami memang sempat bersitegang. Ada sedikit kesalahpahaman dalam hubungan kami, tapi begitu kesalahpahaman itu sudah kami selesaikan, hubungan kami pun membaik dan kembali seperti sebelumnya. Aku mencintai suamiku, begitu juga sebaliknya." Pelangi menjelaskan sedikit pada Suster An.
Suster An mengangguk. "Ya, bisa kulihat dari cara kalian berinteraksi selama beberapa hari ini. Kalian bahkan tidak segan berciuman di mana pun, melukai hatiku saja."
Pelangi terkekeh. "Semua itu refleks." Kedua pipi Pelangi merona merah, ia merasa malu karena ia dan Gilang tidak pernah berhati-hati dalam bertindak. Daya tarik Gilang yang begitu memikat memang membuat Pelangi ingin selalu mencium pria itu di mana pun mereka bertemu. Beruntung ia masih bisa mengendalikan diri agar tidak melucuti pakaian Gilang juga.
Mobil berhenti di sebuah pusat perbelanjaan, menghentikan obrolan antara Pelangi dan Suster An yang mulai akrab satu sama lain.
"Parkir di luar saja, Pak, tidak usah parkir gedung," pinta Pelangi.
Si sopir mengangguk, lalu segera menepikan kendaraannya di halaman parkir yang luas.
Pelangi dan Suster Ann segera turun dari dalam mobil, disusul oleh Bi Aminah yang berjalan di belakang keduanya.
Saat sedang menyeberangi lapangan parkir menuju gedung utama, seorang pria berlari menghampiri Pelangi sembari meneriakan nama Pelangi.
"Pelangi, Pelangi, tunggu."
Pelangi menoleh ke asal suara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Ringgo di kejauhan. Pria bertampang preman itu melambaikan kedua tangannya ke Pelangi, meminta Pelangi untuk berhenti.
Melihat Ringgo mendekat, Pelangi secara refleks bersembunyi di belakang tubuh Suster An yang memang memilik tubuh sedikit lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.
"Siapa dia?" tanya Suster An, terlihat penasaran.
"Orang gila. Dia orang gila," ujar Pelangi, sembari melepas sepatunya, bersiap untuk melempar Ringgo dengan sepatu itu jika Ringgo berani macam-macam dengannya.
Akan tetapi, sesampainya di hadapan Pelangi, Ribggo tidak melakukan kekerasan seperti yang biasanya ia lakukan pada Pelangi. Sebaliknya, Ringgo terlihat khawatir dan ketakutan. Bola matanya berputar dengan liar, seolah sedang memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya.
"Langsung saja Pelangi. Aku rasa aku harus memberitahukanmu bahwa ada seseorang yang ingin mengacau di keluargamu. Bukan hanya hubunganmu dan suamimu, tapi juga usaha mertuamu. Orang itu adalah--"
Dor!
Pelangi menutup mata dan telinga dengan kedua tangan saat mendengar suara ledakan. Kemudian di saat bersamaan dengan datangnya suara yang seperti suara petasan itu, ia merasakan sesuatu yang kental, hangat dan berbau anyir mengenai wajahnya, disusul suara riuh dari orang-orang yang berlarian di sekitarnya.
Pelangi membuka mata saat Suster An mengguncang tubuhnya. "Kembali ke mobil, ayo, cepat!" Suara suster An yang gemetar membuat Pelangi merasa ada yang tidak beres.
Pelangi mengusap pipinya dan mendapati darah di sana. Seketika Pelangi menunduk dan melihat Ringgo tergeletak di atas genangan darahnya sendiri. Ternyata yang barusan bukanlah suara petasan, melainkan suara tembakan, dan Ringgo tertembak tepat di depannya saat pria ituingin memberitahukan berita penting untuknya.
Pelangi berteriak, "Aaaah! Apa yang ... siapa yang ... kita harus bawa dia ke rumah sakit, Ann, kita harus membawanya--"
Dor!
Satu tembakan mendarat tepat di samping Pelangi, membuat telinga Pelangi berdenging.
"Tidak ada waktu lagi, aku rasa mereka mengincarmu. Ayo!" Suster An dibantu dengan Bi Aminah menuntun Pelangi berlari menuju mobil.
Dor!
Satu tembakan lagi terdengar, dan kali ini tepat mengenai kepala Bi Aminah.
"Aah, tidak, tidak! Bi, Bi!" Pelangi berteriak histeris, air matanya pun sudah sejak tadi membanjiri kedua pipi.
"Dia tertembak di kepala, kecil kemungkinannya dia selamat, ayo!"
Pelangi terlalu lemah untuk berontak, walaupun ia tidak ingin meninggalkan Bi Aminah tergeletak di sana seorang diri, ia terpaksa melakukannya.
"Aku akan menjemputnya nanti, Nyonya, sekarang masuklah." Sopir yang mengantarkan Pelangi dan Suster An muncul dari keramaian dan membantu Pelangi untuk masuk ke dalam mobil. Setelah Pelangi sudah berada di dalam mobil, mobil segera melaju dengan cepat meninggalkan kekacauan yang terjadi.
Bersambung ....