OH MY BOSS

OH MY BOSS
GOLONGAN DARAH



Nena sedang berada dalam perjalanan menuju kantor diantar oleh adiknya saat dilihatnya sebuah mobil menghantam pohon besar kemudian terbalik, tentu saja hal itu menimbulkan kemacetan karena kendaraan naas itu sedikit memakan bahu jalan, beruntung tidak ada kendaraan yang melintas saat itu.


 


 


Jika orang lain memilih ikut berkerumun menyaksikan apa yang telah terjadi, Nena dan adiknya sibuk menghindar menembus kemacetan. Nena terkejut saat didapatinya seseorang yang dia kenal, dengan luka berdarah-darah berusaha membuka pintu mobil yang sepertinya masih ada seseorang yang terjebak di dalamnya.


 


 


"Pak Justin!"


 


 


Kejadiannya begitu cepat, saat kemudian Nena dan adiknya memilih menepi dan Ardi serta pengendara yang lain ikut membantu membuka paksa pintu mobil yang ternyata mengunci. Dan di dalamnya Nena tahu, itu Mr Juan, ayah bosnya.


 


 


Justin begitu gelisah, dengan raut kusut, pria itu mondar-mandir begitu kalut di depan ruang gawat darurat. Membuat Nena ikut merasa panik meski tampak lebih tenang duduk di kursi tunggu, bayangan kehilangan seorang ayah masih membekas dalam hatinya. Entah mengapa perasaan takut yang seperti itu kembali ia rasakan, bahkan efeknya begitu kuat melebihi saat ia kehilangan ayah kandungnya sendiri, mungkin karena ia ikut menyelamatkan ayah Justin, melihat betapa lemah dan tidak berdayanya pria paruh baya itu, membuatnya begitu khawatir.


 


 


Baju seragam Ardi yang berlumuran darah membuatnya urung sekolah. Anak itu ikut menemani kakaknya. William yang sejak lima menit yang lalu sampai kerumah sakit yang langsung disambut dengan keluhan Justin betapa lamanya para dokter menangani ayahnya.


 


 


Pria bule itu nyaris lupa berkedip saat bergantian menatap Ardi dan Justin, melihat anak SMA di hadapannya mengingatkan ia pada Justin saat pertama bertemu dulu, William tahu adik Nena, tapi melihatnya dalam versi remaja ia lihat baru kali ini, karena saat ayah Nena dikabarkan meninggalpun, pria bermata hazel itu masih berada di LA


Saat pintu ruang IGD terbuka, seorang suster keluar dengan tergesa entah ke arah mana, dan dokter yang menangani ayah Justin ikut keluar dan langsung disambut dengan pertanyaan beruntun dari pria itu.


 


 


"Pasien kritis," tuturnya, sembari membenarkan letak kacamata yang nyaris melorot, dan Justin yang limbung nyaris saja merosot ke lantai, jika William tidak sigap menangkap bahunya. "Bliau terluka cukup parah di bagian kepala, tulang kakinya retak dan sekarang pasien kehabisan banyak darah," tambahnya yang tidak juga membuat Justin sedikit lebih tenang.


 


 


Dan kehadiran suster yang mengatakan stok darah yang dibutuhkan oleh ayahnya sedang habis, nyaris saja membuat Justin ingin membumi hanguskan rumah sakit yang didirikan sang kakek puluhan tahun sebelum dia lahir itu.


 


 


Snelli sang dokter menjadi saksi betapa bringasnya seorang Justin memucat pasikan pemilik jas putih itu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain berkata akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya, William yang tahu betul dengan sifat buruk sahabatnya, langsung merangkul Justin dan meminta maaf kepada sang dokter yang tampak ketakutan.


 


 


"Ambil darah saya, Dok! Saya anaknya," pinta Justin yang mulai bisa berpikir jernih.


 


 


"Baiklah, kita cek dulu yah, Pak," ucap sang suster, dan tanpa diduga, Nena ingin ikut menyumbangkan darahnya juga jika mungkin kebetulan sama, dan disusul oleh Ardi juga William yang sontak membuat Justin merasa terharu.


 


 


 


 


"Bagaimana mungkin darah saya tidak cocok!" Lantangnya, yang membuat sang suster mundur satu langkah. "Saya anak kandungnya," tambahnya yang sama sekali tidak membuat suster yang ketakutan itu berani memberikan alasan.


 


 


William merangkul bahu Justin yang dengan beringas menyongsong suster cantik yang nyaris pingsan itu, "sudah lah, Just. Anak kandung tidak harus memiliki golongan darah yang sama, kan?" Ucapnya menasehati.


 


 


Dan Nena yang sedikit merasa lega langsung mengajak sang suster untuk segera memberikan pertolongan pada ayah Justin, dia tidak ambil pusing bagaimana golongan darahnya bisa sama dengan ayah bosnya itu, toh pendonor darah di luar sana juga memiliki darah yang berrbeda-beda, dan pasti ada saja yang cocok dengan pasien setiap rumah sakit, seperti kasus pada dirinya ini.


 


 


Bisa jadi golongan darah Justin sama dengan mamanya yang sudah meninggal, dan untuk itu dengan sang ayah jadi sedikit berbeda. Nena pernah dengar mengenai hal itu.


 


 


Beberapa saat setelah keluarnya Nena dari dalam ruangan yang membuat Justin panik setengah mati karena gadis itu tampak pucat sekali, dokterpun keluar dengan wajah yang tampak lega, dan mengabarkan bahwa pasiennya sudah melewati masa kritis dan berangsur membaik.


 


 


Nena ikut merasa bahagia saat Justin mengucap syukur dengan kondisi ayahnya itu, dan tanpa ia sangka, pria yang beberapa menit yang lalu nyaris membuat detak jantungnya berhenti, karena tatapan ingin menguliti para petugas kesehatan di rumah sakitnya ini, memeluknya dengan begitu erat dan tidak berhenti mengucapkan terimakasih. Nena hanya bisa terlongo mendapatkan perlakuan spontan seperti itu, dan saat Justin melepaskan pelukannya dia tersenyum.


 


 


"Terimakasih sama Allah, Pak. Dan sama dokter juga tentunya," tutur Nena dan membuat Justin sedikit kikuk mengingat kelakuannya yang sudah bersikap kasar, dan diapun meminta maaf yang disambut dengan anggukan memaklumi dari mereka.


 


 


"Pak Justin," panggil Nena yang membuat pria itu menoleh.


 


 


"Iya, Serena?"


 


 


"Bagaimana kalo sekarang kita obati luka bapak," usul Nena yang membuat tangan Justin reflek menyentuh kepalanya, dia lupa dengan luka yang membuat darahnya menetes mengotori kemeja putihnya sendiri.


 


 


Pria itu pun mengangguk patuh yang berhasil membuat senyum Nena mengembang, dan juga membuat Justin merasa semakin menyatu dengan gadis dihadapannya itu.


Kau tahu, sesungguhnya manusia telah membawa jodoh dari lahir, mungkin dulu di alam ruh, kita telah saling berjanji untuk saling mencari. Dan kini aku telah menemukanmu. Serena.