
Sore hari, begitu jam kantor telah berakhir, Amara dengan cepat keluar dari ruang penyimpanan, lalu berlari sepanjang koridor menuju pintu keluar. Ia bahkan tidak terlalu peduli saat melihat segerombolan wanita elegan dari bagian HRD yang sedang berkerumun di lobi, dengan santainya Amara menyeruak di antara gerombolan dan melanjutkan larinya tanpa memedulikan makian yang keluar dari para wanita itu.
Bukan tanpa alasan Amara terburu-buru ingin keluar dari gedung perkantoran. Ia ingin segera bertemu dengan Pelangi. Banyak hal yang ingin diceritakannya kepada gadis itu. Selain ingin mengadukan tindakan Suster An yang genit, ia juga ingin mencurahkan isi hatinya. Ada sedikit perasaan bingung yang sekarang ini sedang berkecamuk di dalam diri Amara yang membuatnya menjadi tidak tenang, dan menceritakan isi hatinya kepada Pelangi adalah satu-satunya cara yang bisa membuatnya tenang.
Setelah menaiki taksi kurang lebih setengah jam dari kantor menuju perumahan elite yang terletak di pusat kota, Amara akhirnya tiba di kediaman Farhan Andreas. Rumah besar bercat putih dan bergaya Eropa itu selama lebih kurang satu bulan telah menjadi rumah sementaranya. Sang tuan rumah yang merupakan mertua sahabatnya ingin agar ia menetap di sana untuk menemani Pelangi. Awalnya Amara bingung, kenapa pula Pelangi yang begitu diperhatikan oleh sang suami harus ditemani oleh dirinya. Namun, setelah beberapa hari tinggal dengan keluarga Andreas barulah ia mengerti kenapa Pelangi membutuhkan teman, karena ternyata sikap Gilang telah berubah 360 derajat. Dan hal itu pastilah membuat Pelangi sedih dan kesepian.
Amara menyeberangi halaman yang luas, lalu melompati undakan hingga tiba di teras, melepas sepatu dan mengganti dengan alas kaki yang bersih, kemudian memasuki rumah.
Saat melangkahkan kaki di ruang tamu, ia langsung bertemu dengan Suster An yang menatapnya dengan sinis. Tanpa memedulikan suster itu, Amara terus melangkah menuju tangga. Namun, teriakan Suster An kemudian menghentikan langkahnya.
"Puas telah memakan makanan yang kumasak secara istimewa untuk Pak Gilang?! Dasar tidak tahu diri."
Amara berbalik dan langsung bertatapan dengan Suster An yang mendelik ke arahnya. "Apa katamu? Tidak tahu diri? Aku atau kamu yang tidak tahu diri?! Tunggu sampai aku mengadukan tindakanmu pada Pelangi. Dasar suster ngesot! Bisanya cuma mengganggu suami orang. Tidak laku, ya?!" Setelah mengatakan itu, Amara langsung berbalik dan kembali menaiki tangga. Sementara suster An kembali meneriakinya dengan sumpah serapah yang terdengar tidak pantas diucapkan oleh seorang suster yang berpendidikan.
"Pelangi!" Amara berteriak, sembari membuka pintu kamar Pelangi yang tidak terkunci.
Pelangi yang saat itu sedang menyantap daging panggang dan kentang rebus seketika terkejut, daging yang ia potong sampai terlempar keluar dari piring.
"Yaaah," lirih Pelangi, menatap daging lezat yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Amara terkekeh geli. "Belum lima menit," ujar Amara, meraih daging dari atas tempat tidur dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Pelangi menggeleng melihat tingkah Amara. "Ada apa, sih, datang-datang sudah bikin kaget saja?" tanya Pelangi, sambil melanjutkan makannya.
Amara mengibaskan tangan, meminta waktu pada Pelangi sampai daging yang ada di mulutnya terkunyah dengan sempurna. Setelah menelan daging lezat tersebut, barulah Amara mengoceh panjang lebar.
"Aku punya kabar tentang Pak Gilang," ujar Amara, menggebu-gebu.
Pelangi menghela napas dengan malas. "Hal apa pun yang menyangkut tentangnya, aku tidak peduli," tegas Pelangi, lalu menyuapkan daging ke dalam mulutnya, sebelum mulai memotong daging kembali dalam potongan-potongan kecil di atas piringnya.
"Tapi ini tentang Pak Gilang dan Suster Anneth."
Pelangi menghentikan gerak tangannya, lalu menaikan sebelah alis dan menatap Amara dengan penasaran.
"Apa kamu tahu kalau si suster ngesot tadi siang datang ke kantor Pak Gilang?" tanya Amara, melanjutkan laporannya kepada Pelangi.
Pelangi menggeleng. "Tidak. Memangnya apa yang dia lakukan di sana? Apa ayah menugaskannya untuk melakukan sesuatu di sana?"
Amara menggeleng. "Tidak. Tidak sama sekali. Si suster itu ke sana untuk mengantarkan Gilang makanan, La."
Pelangi yang baru saja hendak menyuapkan daging ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja menghentikan sendoknya di udara. "Mengantarkan apa katamu? Makanan?"
Amara mengangguk. "Ya, dia mengantarkan makan siang untuk Gilang."
Pelangi menusukan garpu pada dagingnya dengan keras. "Berani sekali dia!"
Amara mengerutkan dahi. "Kupikir kamu tidak peduli."
Pelangi mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, lalu menyingkirkan piring dari atas pangkuannya. "Untuk kasus ini jelas berbeda. Aku sama sekali tidak suka dengan wanita yang merebut milik orang lain. Apalagi aku ini istri sahnya Gilang. Kalau dia mau menggoda Gilang dengan cara mengantarkan Gilang makanan, dia harus melangkahi mayatku dulu."
"Shut, jangan ngomong sembarangan." Amara mengetuk kepala Pelangi. "Jangan bicara tentang kematian saat sedang hamil."
Pelangi memukul mulutnya sendiri, lalu mengelus perutnya. "Maafkan mama sayangku. Mama tidak akan bicara sembarangan lagi."
Mendengar hal itu, Pelangi lantas tertawa, sambil memukul Amara dengan bantal.
"Ayo, cepatlah, kita harus balas perbuatan si suster genit itu."
Amara mengangguk, kemudian bangkit berdiri dan membuntuti pelangi. "Setelah urusan kita dengan si suster ngesot itu selesai, aku mau mengatakan sesuatu padamu." ujar Amara, saat mereka telah tiba di koridor menuju lantai satu.
"Sepertinya penting?" Pelangi berbalik dan menatap Amara dengan penasaran. "Tentang apa?"
"Tentang perasaanku laah. Aku sepertinya sedang fall in love." Amara menjawab sambil menerawang. Pikirannya jatuh pada sesosok pria yang belakangan ini mengganggu pikirannya.
Pelangi bersiul panjang. "Aku jadi penasaran."
"Ya, tapi singkirkan saja dulu rasa penasaranmu itu. Lihat siapa yang ada di bawah!"
Pelangi mengarahkan pandangannya ke lantai satu, sesuai dengan arah pandang Amara, kebetulan mereka berdua telah tiba di puncak tangga sekarang, sehingga dapat melihat ruang tamu di lantai satu dengan jelas, dibandingkan saat mereka masih berada di koridor.
Darah pelangi seketika mendidih saat dilihatnya Gilang dan Suster An berdiri di tengah ruangan dengan jarak yang begitu dekat. Suster An bahkan memiringkan kepalanya, terlihat seperti sedang mencicipi bibir Gilang.
Pelangi mengepalkan tangan, lalu berjalan dengan cepat menuju lantai bawah.
"Hati-hati," gumam Amara, saat melihat langkah besar Pelangi yang menuruni anak tangga dengan tidak sabaran.
Pelangi tidak menjawab, ia terus melangkah menghampiri Gilang, lalu menepuk pundak Gilang saat ia telah tiba di belakang pria itu.
"Apa yang kamu lakukan, Gil?"
Gilang terkejut, segera ia mendorong tubuh Suster An yang berdiri begitu dekat dengannya, kemudian ia berbalik untuk menghadapi pelangi.
"Pelangi. Jangan salah paham. Aku dan dia, maksudku ... dia--"
Pelangi mengangkat tangannya di hadapan Gilang, meminta Gilang untuk berhenti bicara.
"Tidak usah katakan apa pun jika kamu merasa gugup. Karena jika kamu tidak melakukan apa-apa, kamu pasti tidak akan gugup, Gil."
"Serius, Pelangi, aku tidak melakukan apa-apa. Bagaimana caranya aku menjelaskan padamu?" Gilang mulai terlihat bingung sekarang, apalagi saat melihat Pelangi yang hendak menangis, jujur saja ia menjadi semakin panik.
"Tega sekali kamu. Ternyata kamu tidak jauh berbeda dengan pria kebanyakan." Pelangi menatap Suster An dan Gilang bergantian. Jika Gilang terlihat bingung, tidak demikian dengan Suster An. Wanita itu malah terlihat senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Pelangi, plis, percayalah padaku. Tadi itu--"
"Aku tidak butuh penjelasan. Penjelasan darimu bisa saja hanya sebuah karangan. Aku ingin tunjukan penyesalanmu dengan tindakan." Pelangi memotong ucapan Gilang.
Gilang mengangguk. "Katakan, apa yang kamu inginkan."
Pelangi berusaha menahan senyum. "Aku akan buat list."
Bersambung ....
Happy reading 🥰🥰