OH MY BOSS

OH MY BOSS
AKU ADALAH BOSMU!



Gilang tertawa terbahak-bahak begitu melihat apa yang tengah Pelangi lakukan. Baginya, wanita itu sangat menggemaskan dan sangat menarik. Bukan hanya wajahnya saja yang cantik, tetapi setiap ekspresi yang ditunjukan Pelangi itu baik saat sedang marah, saat sedang panik dan saat sedang bahagia, Gilang menyukainya.


Gilang segera masuk ke dalam kamar, membuka pintu dan berlari sepanjang selasar berkarpet merah, kemudian menuruni anak tangga dua-dua sekaligus dengan tidak sabaran.


"Pak Gilang." Tito yang baru saja tiba dari kantor pusat memanggilnya saat kebetulan mereka berpapasan di aula utama.


"Hai, Pak Tito. Sedang apa Anda di sini?" tanya Gilang, terlihat penasaran karena setahunya Tito tidak termasuk dalam rombongan yang ditugaskan di Hotel Mentari.


"Ayah Anda mengirimku kemari. Dia khawatir kalau-kalau Anda menggunakan kekuasaan Anda untuk mengundang Gisela tanpa izin untuk berzina bersama di sini." Tito menjelaskan dengan gamblang. Pria tua itu memang selalu mengungkapkan segalanya secara terang-terangan.


"Gisela? Ah, iya, aku hampir lupa padanya." Gilang memukul dahinya. Ia sama sekali tidak mengingat Gisela sejak tiba di Hotel Mentari kemarin. Ia bahkan tidak mengabari Gisela dan anehnya Gisel pun tidak menghubunginya.


Tito mengernyitkan alis, terlihat bingung pada apa yang baru saja Gilang ucapkan. "Anda melupakan Gisel sama halnya dengan Anda melupakan bahwa Anda itu hidup di bumi, Pak," komantar Tito.


Gilang mengibaskan tangan di hadapan Tito, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya untuk memeriksa apakah ada pesan yang terlewat dari Gisel atau panggilan yang tidak ia terima. Namun, Gilang tidak menemukan keduanya. Hal itu tentu saja membuatnya penasaran. Karena biasanya Gisel akan meneleponnya setiap setengah jam.


"Sial," gerutu Gilang, begitu dilihatnya bahwa nomor kontak Gisel terblokir di ponselnya. "Ini pasti kerjaan Andrew dan Toni," gumamnya lagi.


Gilang masih ingat malam sebelum ia berangkat ke Hotel Mentari, Toni dan Andrew meminjam ponselnya dengan alasan ponsel Toni lupa di mana meletakan ponsel, sementara ponsel Andrew tidak ada pulsanya untuk melakukan panggilan ke ponsel Toni. Terdengar agak aneh memang, mana mungkin Andrew tidak punya pulsa. Namun, saat itu Gilang tidak menaruh curiga sama sekali.


Setelah membatalkan blokir, Gilang pun melambai ke arah Tito dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti menuju halaman samping hotel. Di ambang pintu ia berhebti dan berteriak ke arah Tito. "Aku pergi dulu, katakan pada Ayah kalau aku tidak mengundang Gisel kemari, dan istirahatlah sebelum kembali ke kota, Pak."


"Pak, Anda mau ke mana?" Tito balas berteriak.


Akan tetapi, Gilang tidak memedulikan teriakan orang kepercayaan ayahnya itu. Baginya menemui Raina adalah hal terpenting saat ini. Bukannya ia mata keranjang atau tidak setia pada Gisel, ia hanya penasaran saja pada sosok Raina yang menarik perhatiannya sejak pertama kali ia bertemu dengan wanita itu.


Pelangi yang kembali sibuk dengan pekerjaannya dikejutkan dengan kehadiran Gilang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Astaga!" pekik Pelangi, saat menyadari Gilang berdiri begitu dekat dengannya sesaat setelah ia melempar tumpukan rumput yang baru saja dibabat ke dalam gerobak dorong.


"Kaget?" Gilang nyengir, tidak merasa bersalah sama sekali.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kerja sana. daripada kamu mengganggu pekerjaan orang lain."


"Aku sedang bekerja sekarang," ucap Gilang, enteng.


"Oh, ya. Lebih tepatnya pekerjaan apa yang kamu lakukan? Mengawasi kami?" Pelangi tersenyum sinis. Sebenarnya ia tidak ingin bersikap begitu sinis dan tidak bersahabat pada Gilang, hanya saja ia terlalu bingung harus bersikap seperti apa pada Gilang. Apalagi pria itu baru saja mengolok-ngolok dirinya dengan cara menirukan tariannya dari atas balkon. Tentu saja ia malu dan kesal.


Gilang menjentikan jari di hadapan Pelangi. "Pintar sekali. Aku memang sedang mengawasi kalian, karena itulah tugasku datang kemari. Aku kan seorang CEO."


Pelangi membelalak dan mulutnya terbuka lebar, terlihat terkejut akan pernyataan yang baru saja Gilang ucapkan. Namun, beberapa saat kemudian Pelangi tertawa terbahak-bahak. "Kamu adalah CEO dari Andreas Group, benar?" tanya Pelangi.


Gilang menggaruk tengkuknya yang sma sekali tidak gatal. "Kamu tidak percaya kalau aku adalah CEO di Andreas Group? Apa tadi pagi kamu tidak ikut berbaris dan mendengarkan pidatoku, hah?"


Pelangi mengibaskan tangan di hadapan Gilang dengan malas. "Aku berbaris, tapi aku tidak mendengar apalagi melihat. Kamu tahu karena apa?"


"Karena apa memangnya?" tanya Gilang.


"Karena aku sibuk meminta maaf pada teman sekamarku. Semalam aku mengusirnya dan memintanya untuk tidur di luar karena dirimu. Dia jadi marah padaku dan sepanjang pidato CEO tadi aku sibuk meminta maaf padanya."


Gilang mengangguk, dan memasang tampang pura-pura prihatin pada keluhan Pelangi. "Begitukah?"


"Ya, begitulah. Semua karena salahmu. Untuk itu aku akan memintamu untuk menebus kesalahanmu itu."


"Aku menebus kesalahan? Tidak. Aku tidak mau!" seru Gilang.


Akan tetapi, Pelangi yang sudah terlanjur merasa kesal pada Gilang, tidak peduli pada penolakan yang pria itu lakukan. Pelangi membungkuk, meraih pegangan pada gerobak dorong yang penuh terisi ranting dan rerumputan, kemudian mendorong Gilang agar mendekat ke arah gerobak dan menyerahkan pegangan gerobak tersebut pada Gilang.


"Apa maksudmu, Raina?" tanya Gilang.


Pelangi serasa ingin terbang begitu mendengar Gilang menyebut namanya. Hatinya seketika berbunga-bunga dan seolah ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalamnya, menggelitik hingga rasanya ia ingin terkikik terus-menerus tanpa henti.


Akan tetapi, dengan cepat Pelangi mengendalikan perasaan aneh yang datang begitu cepat menyerang dadanya. Ia berdeham, lalu menatap Gilang dengan mata melotot. "Dorong sampai ke tempat pembuangan. Hanya jika kamu melakukan ini, aku akan memaafkanmu."


Gilang tertawa terbahak-bahak. "Kamu serius memintaku melakukan ini? Kamu tidak akan menyesal di kemudian hari, hah?


Pelangi mengedikan pundak sembari berkata. "Aku tidak akan menyesal sampai kentut sigung berubah menjadi wangi."


Gilang tersenyum miring, senyum yang mampu membuat dada Pelangi menjadi berisik, seolah ada pemain simbal di dalamnya dan sibuk memukulkan simbal di rongga dadanya.


"Begini saja, Raina. Kita buat kesepakatan saja, bagaimana?" tanya Gilang. Begitu Pelangi mengangguk, Gilang pun melanjutkan, "Kamu harus mau bekerja denganku. Menjadi asisten pribadiku sebagai bentuk permintaan maafmu karena kamu telah memperlakukan seorang CEO seperti ini. Hanya dengan begitu aku bisa memafkanmu."


"Tapi aku kan tidak melakukan kesalahan, untuk apa membuat kesepakatan seperti itu? Aku tidak akan pernah minta maaf padamu sampai kapanpun. Memangnya kamu itu siapa?"


Gilang kembali tersenyum, lalu maju menghampiri Pelangi. Begitu jaraknya dengan Pelangi sudah cukup dekat, Gilang membunguk, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Pelangi. Detik berikutnya Gilang berbisik di telinga Pelangi.


"Karena aku adalah bosmu!"


Bersambung ....