OH MY BOSS

OH MY BOSS
PERASAAN TIDAK NYAMAN



Rapat pemegang saham baru saja selesai diadakan. Pelangi memimpin rapat dengan lancar, bisa dikatakan bahwa rapat besar yang pertama Pelangi pimpin berjalan dengan sukses. Semua menyambut dan bersikap baik pada Pelangi, hal itu membuat Pelangi lega. Meski pun begitu Pelangi tahu, bahwa keramahan yang ia terima hari ini tidak akan terjadi jika semua uang hadir di rapat itu tahu bahwa Pelangi beberapa hari lagi akan dinobatkan sebagai CEO.


Pelangi menghela napas dengan berat, dan langsung menuju ke ruangan Gilang begitu rapat selesai. Ia meraih sebotol air mineral dari atas meja dan meminumnya hingga habis. Setelahnya Pelangi melepas high heels yang sejak tadi ia kenakan, menukarnya dengan sandal rumahan yang memang selalu ada di ruangan Gilang, lalu ia melangkah keluar ruangan dengan cepat menuju elevator.


"Hai." Andrew menepuk pundak Pelangi, membuat wanita itu terperanjat. Ia terkejut dengan kemunculan Andrew yang tiba-tiba.


"Astaga! Jangan membuatku kaget, tolonglah, Ndrew," ujar Pelangi, sembari mengelus dadanya.


Andrew menaikan sebelah alisnya. "Ini aku, bukan hantu. Kenapa kamu terkejut begitu?"


Pelangi mengibaskan tangan di depan Andrew. "Lupakan saja," ujarnya, lalu memasuki elevator yang pintunya sudah terbuka.


Andrew menyusul Pelangi memasuki elevator dan menekan tombol yang akan membawa mereka ke lantai bawah.


"Kantin?" tanya Andrew singkat.


Pelangi mengangguk. "Ya. Aku butuh makanan saat ini. Gugup ternyata membuat perutku cepat lapar. Rasanya aku bisa memakan orang saat ini juga."


"Kamu boleh memakanku. Aku rela, Pelangi." Andrew nyengir.


Pelangi menoleh dan menatap Andrew dengan tatapan menakutkan. Solah Pelangi berkata dalam diam, 'Jangan macam-macam jika tidak ingin kupecat!'


"Aku hanya bercanda," ujar Andrew, saat dilihatnya Pelangi masih menatapnya dengan galak.


Ting!


Pintu elevator terbuka. Pelangi segera keluar dari dalam elevator bersama dengan Andrew. Namun, tiba-tiba Pelangi menghentikan langkah saat kedua matanya menangkap sosok Delia yang baru saja memasuki pintu utama bersama dengan seorang sekuriti yang sepertinya sekuriti itu mengarahkan Delia ke ruangan Andrew.


Pelangi menoleh ke samping, di mana andrew sedang berdiri dan sibuk dengan ponsel di tangannya. "Itu Delia, Ndrew. Aku tidak mau dia salah paham. Kembalilah ke ruanganmu." Pelangi mendorong tubuh Andrew dengan keras agar pria itu kembali masuk ke dalam elevator, lalu ia menekan tombol hingga pintu elevator tertutup.


Pelangi menggigit bibir bawahnya sembari bergumam, "Maafkan aku, Ndrew, pasti sakit sekali."


Sementara itu di dalam elevator Andrew meringis. Bokongnya terasa begitu sakit karena Pelangi mendorongnya dengan keras hingga ia terjatuh. Ponselnya saja sampai terlempar dari tangannya, untunglah ponsel itu tidak pecah dan rusak.


Andrew bangkit perlahan, mengelus bokongnya dan bersandar pada dinding elevator yang masih terus naik menuju lantai 13.


Perlahan senyum terukir di bibir Andrew, ia merasa tindakan Pelangi yang barusan sangat lucu. Ia tidak menyangka jika Pelangi akan kembali mendorongnya masuk ke dalam elevator begitu melihat kehadiran Delia.


"Dia benar-benar tidak ingin Delia menjadi sedih." Andrew bergumam. "Maafkan aku karena telah menyusahkan kalian berdua."


***


Pelangi melangkah dengan cepat menuju kantin, ia berpura-pura tidak melihat keberadaan Delia sampai Delia menyapanya lebih dulu. Ia ingin tahu apakah Delia masih marah padanya, ataukah tidak. Jika Delia marah, Delia pasti tidak akan menyapanya.


Sedikit lagi mereka akan berpapasan. Pelangi berharap di dalam hati agar Delia menyapanya.


"Sapa aku pliiis, Del, sapa aku," batin Pelangi."


"Pelangi." Delia menyapa.


"Yap!" teriak Pelangi, karena gugup ia menjawab sapaan dari Delia dengan berlebihan. "Eh, maksudku, hai, Del. Senang melihatmu ada di sini."


Delia tersenyum. Ia merasa bersalah pada Pelangi, karena sikapnya kemarin, Pelangi jadi salah tingkah saat bertemu dengannya.


"Aku mau ke ruangan Andrew. Aku membawa makan siang untuknya. Jika kamu mau, kita bisa makan bersama," tawar Delia.


Pelangi menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, tidak, terima kasih, Del. Aku kebetulan sudah ada janji di kantin dengan Amara. Kami akan makan croissant berdua hari ini." Pelangi tersenyum, agar Delia yakin bahwa ia tidak berbohong.


Pelangi menggaruk tengkuknya. "Ah, benarkah? Padahal tadi dia sudah janji denganku. Amara itu memang sedikit pelupa," ujar Pelangi sembari tertawa.


Delia mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku ke atas dulu. Selamat makan untukmu, Pelangi," ujar Delia, kemudian ia segera berlalu dari hadapan Pelangi, ia tidak ingin Pelangi semakin merasa tidak nyaman karena keberadaannya.


Pelangi menghela napas. Ia lega ketika Delia tidak lagi ada di hadapannya. Kemudian Pelangi segera melangkah menuju kantin.


"Aku bisa menghabiskan sepuluh croissant hari ini. Hariku benar-benar buruk sekali." Pelangi mengeluh.


***


Anneth berbaring di ranjangnya sembari menatap langit-langit. Perasaannya sedang tidak enak karena rasa mual yang terus datang menyerangnya. Sekarang sudah waktunya makan siang, tetapi rasa mual itu belum juga hilang. Padahal biasanya rasa mual yang datang di pagi hari akan menghilang saat menjelang tengah hari.


Anneth memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan keluar dari dalam kamarnya. Terlalu lama terkurung di kamar memang semakin membuatnya merasa sesak. Ia sadar jika ia butuh udara segar, tetapi tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama, setiap ia berusaha untuk bangkit berdiri, di saat itu juga ia merasakan sakit kepala menyerangnya.


"Ah, mengandung itu ternyata sama sekali tidak enak," keluh Anneth, sembari meremas rambutnya, berharap agar rasa nyeri di kepalanya menghilang dan tidak lagi datang. Ia sungguh tidak tahan jika harus merasa sakit kepala setiap hari.


Akan tetapi, percuma saja, kepalanya tetap terasa nyeri hingga ia tiba di luar kamar. Saat sedang berjalan menuruni tangga, ia melihat Gilang sedang melintasi ruang tamu dengan kursi roda elektriknya.


"Pak Gilang," teriak Anneth dari tangga.


Gilang menghentikan kursi rodanya, dan menunggu Anneth muncul. Tidak lama kemudian Anneth telah berada di sampingnya.


"Hai, Sus, bagaimana kabarmu?" tanya Gilang.


"Aku baik. Lama tidak bertemu dengan Anda, padahal kita tinggal satu rumah," ujar Anneth.


Gilang tertawa. "Ya, benar. Kamu selalu mengurung diri di kamar, bagaimana kita bisa berjumpa. Sesekali hiruplah udara segar, hal itu sangat baik untukmu, Sus." Gilang memberi saran pada Anneth.


Anneth mengangguk, kemudian ia bertanya. "Anda akan keluar?"


"Ya, aku ingin ke taman samping rumah. Di jam segini taman samping rumah akan tetap sejuk. Tidak seperti halaman depan yang pasti akan panas sekali."


"Oh, begitu kah?"


"Ya. Kamu sendiri berencana hendak pergi ke suatu tempat?" tanya Gilang.


Anneth menggeleng. "Sebenarnya aku tidak memiliki tujuan. Aku hanya merasa sesak di dalam kamar, itulah sebabnya aku keluar. Hem, bolehkah aku ikut dengan Anda ke taman samping?"


Gilang tersenyum simpul. "Tentu saja boleh, kenapa tidak?"


Anneth tersenyum, lalu memegang dorongan pada kursi roda Gilang. "Kalau begitu biar aku yang dorong, agar aku tidak menganggur."


Gilang diam saja, yang dianggap oleh Anneth sebagai tanda persetujuan. Anneth segera mendorong kursi roda Gilang menuju pintu samping, di mana terdapat jalan yang bisa dilewati oleh kursi roda Gilang, lalu ia langsung menuju taman samping yang tadi Gilang katakan.


"Wah, benar, di sini ternyata sejuk sekali. Luar biasa, padahal sekarang ini sedang tengah hari dan matahari sedang terik-teriknya," ujar Anneth.


"Nah, benar, 'kan? Pelangi juga suka bersantai di sini saat dia sedang bosan." Gilang berujar.


Anneth mengangguk, lalu menyapu pemandangan sekitar dengan kedua matanya. Wanita itu bahkan mendongak untuk melihat bunga-bunga dari pohon Tabebuya yang tumbuh di setiap sudut taman. Warnanya yang beraneka ragam terlihat begitu indah. Persis seperti bunga sakura yang tumbuh di Jepang.


Sanking antusiasnya, Anneth bahkan tidak memperhatikan langkah kakinya dan kecerobohannya itu membuat kakinya tersandung sebuah batu berukuran sedang yang mencuat dari dalam tanah, dan ia pun terjatuh.


"Astaga, Sus!"


Bersambung.