
"Tumben kamu ngajak aku bicara empat mata? ada apa?" Tanya William menyelidik sesaat sebelum pelayan kantin rumah sakit mengantarkan pesanan kopi dan teh hangat kehadapan mereka.
Setelah Nena mengucapkan terimakasih pada pelayan kantin yang lebih memilih melirikan kedua bolamata genitnya ke arah William, Nena merespon pertanyaan pemuda itu.
"Aku nggak mau basa-basi yah, Will, meskipun aku tahu kamu orang yang suka dengan hal demikian."
"Kayaknya itu kamu sedang basa-basi."
Nena menghela napas, menggeser cangkir kopi di hadapannya kearah William.
"Oh aku tahu, kamu pasti baru menyadari kalau ternyata aku ini sangat sexi," goda William tersenyum dengan menaikkan alis tebalnya.
Nena berdecak, ucapa William mengingatkannya pada kejadian naas beberapa jam lalu. Gadis itu berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak membubuhkan sianida ke dalam cangkir kopi pria di hadapannya itu.
"Kamu kayaknya gencar banget jodoh-jodohin aku sama Pak Justin," tebak Nena.
William memudarkan tarikan senyum di bibirnya, namun tidak lama kedua sudut bibir tipis nya itu kembali tertarik. Perubahan itu membuat Nena yakin bahwa apapun yang keluar dari mulut pria itu setelahnya adalah bohong.
"Mungkin hanya perasaan kamu saja," jawabnya. Nena berdecak, sudut bibirnya terangkat.
"Aku ini cuman karyawan biasa kalo kamu lupa, dan usaha kamu buat jodoh-jodohin aku sama Pak Justin itu akan sia-sia, Will."
"Tapi kalian kelihatannya sudah banyak kemajuan."
"Bener kan tebakan aku?" Tanya Nena.
William menggigit ujung lidahnya, dan hal itu tidak luput dari perhatian Nena, kebiasaannya sejak SMA saat pria itu telah ketahuan salah berbicara. Nena memang begitu mengenal pria di hadapannya.
"Aku mau kamu dapatkan pria yang tepat, Serena." William mulai beralasan.
"Tapi, Pak Justin itu bukan pria yang tepat buat aku, Will. Aku cukup tahu diri. Sadar bahwa aku ini hanya bawahan dia, dan hal yang nggak mungkin seperti itu juga nggak bisa terpikirkan untuk aku, tolong yah kamu jangan kaya gini," tutur Nena, nadanya mulai merajuk, gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Terlihat sekali raut wajahnya begitu tertekan.
"Jika seandaonya Justinpun menyukaimu?"
"Aku nggak berani berpikiran kesitu, butuh banyak alasan jika memang hal itu terjadi, dan alasan-alasan kenapa Pak Justin itu bisa jatuh cinta sama aku tuh nggak ada, selain karena kamu sebagai sahabatnya mungkin sudah memaksa pria itu buat suka sama aku."
"Aku nggak pernah maksa dia."
"Dengan cara menjodoh-jodohkan kita? Apa perlu aku ingatkan kejadian batik couple saat kondangan malam kemarin?"
William mengangkat kepalanya yang semula tertunduk memandangi cangkir kopi, raut wajahnya jelas sekali mengakui hal itu.
Nena menegakkan punggungnya, tenggorokannya yang mulai kering memaksa gadis itu menyesap sedikit teh hangat di hadapannya.
"Tapi kalian cocok." Puji William, tersenyum tulus, tapi entah kenapa kalimat itu begitu berat keluar dari mulutnya. Ada satu bagian keci di sudut hatinya yang mendadak terasa nyeri.
"Tolong jangan jodoh-jodohin aku sama Pak Justin, Will. Aku nggak pantes buat dia." Nena meletakkan kembali gelas berisi teh yang sudah mulai dingin. Pandangannya kembali menatap William datar.
"Lalu perasaan kamu gimana?"
Seketika cairan kopi yang hendak mengalir di tenggorokan William mendadak macet, dan banting setir putar haluan menyebabkan air hitam pekat itu memilih menyembur dari mlutnya. Beruntung telapak tangannya dengan sigap menahan cairan itu berhamburan kemana-mana.
"Ngaruh banget kayaknya pertanyaan aku?" Nena tersenyum yang kadar kemanisannya begitu alami tanpa buatan, namun sedikit pengawet, melekat di hati William yang berhasil membuat perasaan pria yang semula kacau itu menjadi semakin berantakan.
"Kok kamu nanyanya gitu?"
"Terus aku harus nanya gini? ’William, kamu masih punya perasaan cinta nggak sama aku’ gitu yah?"
William merasa begitu tertohok tepat di ulu hatinya, gadis di hadapannya ini benar-benar menguji keimanan, dalam arti sebenarnya. Jika syarat yang dia ajukan sebagai calon suami itu jalan-jalan keliling Dunia, dan bukanlah menjadi Pak Ustad, pastilah William sudah membawa gadis itu menghadap Pak Pendeta.
"Itu kan dulu. Hanya cinta monyet," sangkalnya. jelas sekali manik hazelnya menghindari tatapan Nena.
"Oyah? bagus lah kalo gitu, aku pernah nonton drama korea, ada satu quotes yang aku suka sekali, si pemeran utama bilang ’saat hatimu tidak mengatakan yang sesungguhnya, rasa sakit akan memberikan jawaban’ mudah-mudahan hati kamu nggak apa-apa yah," tutur Nena berubah riang seolah pembahasan tentang Justin itu tidak pernah ada, dan menggoda William adalah hal yang paling menyenangkan.
Seketika William meraba dadanya, memang benar, jawabannya adalah sakit. Pria itu takut-takut melirik Nena yang tampak setengah mati menahan tawa.
"Hati aku nggak apa-apa kok," jawab William, berusaha menetralkan suaranya agar tidak berubah sember, meskipun kenyataannya nada yang ia keluarkan tampak sendu.
Tidak kuasa menahan tawa, Nena beranjak dari duduknya, sudah cukup ia menggoda sahabat masa SMAnya itu, yang ternyata sifatnya tidak pernah berubah. William mendongak.
"Aku harus kembali, takut temen kamu nyariin. Mau ikut?" Tawar Nena, William menggeleng.
"Jatah kopi aku belum habis."
Nena melirik cangkir kopi di hadapan William, yang ia taksirkan mungkin hanya tersisa satu tegukan. Pria itu memang selalu memberikan alasan yang tidak tepat saat pikirannya tidak karuan. William menolak bersitatap dengan gadis yang berhasil memporak-porandakan keteguhannya.
"Mau aku pesenin lagi?"
William melirik cangkir kopinya yang ternyata nyaris tandas, matanya terpejam beberapa detik. "Tidak usah, kau pergi saja," usirnya.
Nena merasa sedikit prihatin dengan perubahan William, tangannya terulur menepuk bahu pria itu.
"Aku duluan." Nena mulai melangkahkan kakinya. Sebelum suara William yang berat berucap lagi.
"Jika kamu bisa bersanding dengan Justin, aku pasti akan sangat senang. Kalian sangat serasi," ucap William, Nena menolehkan kepalanya, dilihatnya senyum pria itu begitu tulus, Nena menghembuskan napasnya berat, kembali melangkah meninggalkan Willam yang ternyata menepuk bibirnya pelan, merasa kesal karena telah berhianat pada hatinya yang begitu hancur.