
Nena mendudukkan dirinya di samping teras kantor yang berundak. Tangannya melepaskan stiletto dari kakinya yang mulai melepuh di bagian kelingking.
Saat menjadi sekretaris William, dia tidak selalu mengokori kemanapun atasan bulenya itu pergi, pria itu lebih suka sendiri dan membiarkannya mengerjakan pekerjaan kantor duduk manis di ruangannya yang nyaman.
Ya ambruk jembatan Ancol!! Kaki gue ya ampuun, perih banget. Nena terus mengeluh dalam hati. Sampai Justin yang kini tengah ikut duduk di sampingnya itupun tidak ia sadari.
"Kenapa?" Tanya Justin yang sontak membuat Nena menoleh terkejut. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh kaki Nena yang terlihat lecet dan merah-merah.
"Nggak apa-apa, Pak!" Dengan cepat Nena menjauhkan kakinya dari jangkauan tangan Justin.
Justin menghela napas, berdecak kecil sembari melirik sepatu yang ingin asisstantnya itu pasang lagi, dengan cepat ia merebutnya.
"Kenapa perempuan itu selalu menggunakan benda-benda yang dia sendiri tidak merasa nyaman?" sambil menenteng sepatu Nena, Justin menoleh.
"Tuntutan pekerjaan, Pak. Saya juga di rumah nggak pake sepatu kaya gitu." Nena hendak meraih sepatunya dari tangan Justin, namun pria itu menjauhkan sepatu di tangannya dari jangkauan gadis bermata bulat di sebelahnya. Keduanya masih terlihat enggan beranjak dari duduknya.
"Saya perhatikan, sepatu kamu tidak pernah ganti, Inggrit saja setiap hari sepatunya berubah warna."
Dikira bunglon, ganti warna.
"Ini sepatu terbaik saya, Pak Justin."
"Yang terbaik saja seburuk ini, bagaimana yang terburuk?" ucap Justin polos, Nena menoleh.
Beneran pedes level mampus.
"Saya tidak mampu jika harus merubah warna sepatu saya setiap hari." Jawabnya dengan raut kusut.
"Gaji kamu bukannya lebih dari cukup untuk sekedar membeli beberapa sepatu?"
"Hutang saya juga lebih dari cukup, Pak."
Justin mengangguk-anggukan kepalanya, dan hal itu tidak terlepas dari perhatian Nena, namun gadis cantik itu tidak mampu menebak apa yang sedang dipikirkan atasannya yang mulai dirasa songong.
"Kalau begitu, ayo ikut saya." Justin bangkit dan melemparkan sepasang sepatu Nena ke tong sampah.
"Bapak! Ya Allah." Nena berteriak histeris, dan bangkit mengejar sepatu yang katanya terbaik ternyata sudah mendarat tidak cantik ke dalam tumpukan sampah.
"Ayo cepat!" Teriak Justin saat sudah duduk manis di balik kemudi mobil mewahnya. Namun gadis itu masih dilema antara meninggalkan sepatu terbaiknya itu atau mengambil kembali, dengan catatan kena omel titisan sinto gendeng yang menjelma menjadi atasannya itu.
"Kenapa dibuang sih, Pak?" semprot Nena tidak peduli bahkan pria di sebelahnya itu adalah bosnya. Namun Justin tidak menggubris omelan gadis cantik yang tampak duduk pasrah di kursi penumpang itu.
Nena melirik kedua kakinya yang nyeker, dan saat mobil bosnya itu mulai bergerak pelan, pandangannya terus terarah pada tong sampah di mana sepatu yang ia beli dari sisa gajinya itu berada. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Justin yang tampak tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
Ditengah perjalanan, ponsel Justin yang sejak tiga hari sering Nena bawa-bawa itu berdering nyaring. "Telepon, Pak." Nena memberi tahu.
Justin mengangguk. "Angkat," suruhnya yang masih sibuk mengendalikan kemudi dengan kedua tangannya. Nena heran, kenapa bosnya itu tidak memakai jasa supir pribadi saja.
Baru Nena hendak menerima panggilan itu, ponsel di tangannya malah mati. Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk secara beruntun.
"Kayaknya nggak jadi telepon, orangnya malah kirim pesan." Nena kembali menyodorkan ponsel pintar bosnya yang hanya mendapat lirikan sekilas.
Dengan cekatan gadis itu membuka sandi di ponsel keluaran terbaru itu. Belum sempat Nena membaca pesan, suara Justin kembali mengalihkan perhatiannya.
"Kamu tahu sandi hp saya?" Tanya Justin bingung, seingatnya hanya sekali Justin pernah memberitahu sandi ponselnya pada gadis itu.
"Iya, Pak, angkanya sama kaya tanggal lahir saya, jadinya saya ingat," jawab Nena, kembali fokus pada benda persegi di tangannya.
"Itu tanggal lahir saya," ungkap Justin, Nena menoleh. "Sepertinya tanggal lahir kita sama, ulang tahun nanti kita bisa rayakan bersama."
"Ini apa si, bos gue kok bikin seneng." Dalam hati Nena bergumam, bibirnya tersenyum.
"Tahun ini yang ke berapa?" Tanya Justin tidak terduga, Nena jadi merasa malu.
"Tujuh belas, Pak."
Jawaban itu membuat Justin terkekeh, "kalau kamu bilang dua tiga saya masih percaya, masa tujuh belas," komentarnya.
"Memangnya saya kelihatan masih dua tiga?" Nena bertanya.
Justin menoleh, memperhatikan wajah gadis di sebelahnya dengan seksama, kebetulan lampu merah mengharuskan mobil mewahnya itu untuk berhenti.
diperhatikan sedemikian rupa Nena tentu salah tingkah, ia merasa pipinya mulai memanas, gadis itu **** bibirnya ke dalam, menahan senyum.
"Sepertinya memang tujuh belas," jawab Justin sebelum kembali melajukan kendaraannya.
Nena terkekeh pelan. "Saya dua tujuh, Pak," ralatnya.
Justin menoleh, "saya juga, kita banyak kesamaan, mungkin jodoh."
Terus aja terus, terbangin yang tinggi pas di atas langit lepasin, kalo nggak melayang, nyangkut, nyebur ke laut deh. Nena mengomel dalam hati, tanpa ia pungkiri bibirnya melengkungkan senyum juga.
Untuk mengalihkan obrolan yang mulai melantur, gadis itu kembali memeriksa pesan. "Dari Pak Darwin." Nena memberitahu.
"Apa pesannya?"
"Sebuah ajakan main golf, sekalian...." Nena menoleh ragu pada Justin yang tampak fokus pada jalanan. Justin menoleh sekilas, menunggu. "Sekalian mau ngenalin putri bungsunya yang baru pulang dari London."
Justin tampak acuh, kembali menoleh ke depan jalan. "Tolak saja," tukasnya.
"Baik."
Diam-diam Nena tersenyum, hingga suara atasannya itu kembali membuat perhatiannya teralihkan.
"Pak Darwin itu, siapa ya?" tanya Justin. Nena membuka catatan di buku agenda.
"Dia yang menawarkan resort di Bali, Pak."
Justin memejamkan matanya sekilas. Menyesal tampaknya. "Itu penting, hubungi kembali."
Dasar mujaer, Nena mengiyakan dengan kesal, kesal kenapa dia harus merasa kesal, seharusnya kan biasa saja. Tapi entah kenapa dia jadi keki sendiri.