OH MY BOSS

OH MY BOSS
SUAMI-ISTRI



 


 


Dengan gelisah, Nena mondar-mandir di dalam kamar pengantinnya. Ruangan yang disulap bak singgasana Nyi Ratu Laut Kidul itu nyatanya malah membuat dirinya semakin gugup, sejak sepuluh jam yang lalu dia bangun dari pingsan dan mendapati kenyataan bahwa Justin adalah suaminya, gadis itu masih bingung.


Bagaimana bisa mantan atasan sekaligus abangnya itu menikahi dirinya yang saat itu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bagaimana kalau dia tidak setuju, ingin menolak. Meskipun tidak yakin juga, tapi tetap saja, tanpa persetujuan mempelai wanita, bagaimana bisa mereka tidak ada yang keberatan, lebih lagi ibunya, tega sekali wanita itu menikahkan putrinya yang dalam keadaan semaput, meskipun ya ... Nggak rugi-rugi amat sih.


Nena kembali menghadap cermin, merapikan rambutnya yang sudah rapi, membenarkan piama tidurnya yang juga tidak dalam keadaan berantakan, kemudian menoleh ke arah pintu kamar, mungkin sebentar lagi suaminya akan masuk dari sana, ngomong-ngomong soal suami, Nena jadi ingat, bahwa ini adalah malam pertama mereka. Ya Tuhan.


Suara pintu terbuka membuat Nena sedikit terlonjak, berdiri mematung menyaksikan seorang pria dengan pyama tidur yang sama, dengan santai menggosokan handuk pada rambut basahnya, wangi sabun mandi anti bakteri menguar di seluruh ruangan, yang Nena tahu, kamar mandi di rumahnya hanya ada satu, dan pria itu pasti menggunakan shampo anti ketombe yang sama, tapi entah sejak kapan peralatan mandinya bisa tercium se-segar ini saat Justin yang menggunakannya. Berlebihan sekali.


Dan lagi, untuk apa dia keramas air dingin tengah malam begini, dirinya saja tidak berani mandi. Eh.


Setelah menggantungkan handuk di tempatnya, dengan santai Justin menaiki kasur dan bersila di sana. Pandangannya mengarah pada Nena yang masih mematung di depan meja rias.


Nena melangkah ragu saat Justin menyuruhnya mendekat dengan gerakan tangannya. Gadis itu takut-takut menaiki tempat tidur dan duduk bersimpuh di hadapan suaminya, menunduk. Persis seorang anak yang disidang sang ayah karena kedapatan mencuri mangga milik tetangga. Nena bingung, kenapa dia bisa segugup itu.


"Suka atau tidak, saya sekarang suami kamu," tutur Justin dan membuat Nena mendongak, kemudian mengangguk.


"Iya, Mas," jawab Nena parau, suaranya seperti tertahan di tenggorokan, namun gadis itu selalu berusaha untuk membalas tatapan lembut dari suaminya.


Justin mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Nena, namun istrinya itu malah berjengit mundur, sebenarnya Nena tidak bermaksud menolak, hanya sedikit terkejut dan refleknya bekerja dengan tidak baik. Namun Justin terlanjur mengira bahwa wanita di hadapannya itu belum siap untuk dirinya.


"Tidur yuk, kamu capek kan?"


Entah Nena terlalu semangat mengangguk, atau terlihat sekali begitu lega, Justin sampai tertawa pelan. Dia tidak menyangka bahwa dirinya se-menakutkan itu untuk istrinya sendiri.


Mengingat kejadian dimana dirinya menghilangkan dua kancing piama gadis itu waktu lalu, wajar jika kini mungkin Nena merasa trauma, pikirnya.


Justin harus puas tidur dengan hanya memeluk istrinya dari belakang, melindungi, memberikan rasa aman. Mengabaikan rasa terbakar di sekujur tubuhnya karena ingin.


(YAAAAH NETIZEN KECEWA) 🤣🤣🤣


***


Semalam memang tidak terjadi apa-apa, tapi Nena yang keluar kamar dengan handuk terlilit di kepalanya membuat Ardi yang tengah mengaduk teh di dapur bersiul jahil.


"Akhirnya, Kakak gue mandi basah juga setelah sekian tua." Ardi tersenyum riang menggoda Nena yang telah berdiri di sampingnya.


Nena mengerutkan dahi, "ya iyalah basah, orang gue mandi pake aer, sejak kapan gue tayamum buat urusan mandi," omelnya sembari mengambil gelas kopi di rak dan merebut sendok dari tangan adiknya.


Bukannya marah, Ardi malah semakin gencar menggoda kakaknya. "Perang baratayuda semalem siapa yang menang? Seru banget ya, ampe kedengeran ke kamar sebelah."


Nena mengabaikan ledekan sang adik yang mulutnya minta banget diruqiah, memang semalam tidak terjadi apa-apa, terus apa yang harus ia risaukan dengan suara yang katanya sampai ke kamar sebelah.


"Apa kabar kakak ipar nih, patah tulang jangan-jangan, apa sakit pinggang, nggak nongol-nongol." Ardi melanjutkan ledekannya dan berhasil membuat Nena jengkel setengah mati.


"Sini gue patahin sekalian pinggang lo kalo mau." Omelan Nena berhasil membuat sang adik mundur, namun senyum jahil tidak juga berkurang dari bibirnya. "Mulut lo belum pernah nyobain kumur-kumur pake aer keras ya."


Ardi tertawa, "galak amat penganten baru," ucapnya kemudian segera melarikan diri dengan segelas teh di tangannya sebelum mendapat cap sendok di jidat, pemuda itu tahu betul, kalau kakaknya sudah marah, macan betina pun kalah.


Sambil bersungut-sungut, Nena kembali meracik kopi yang dirasa lupa sudah berapa sendok ia menuangkan gula kedalamnya. Hingga akhirnya dia menuang kembali gula ke dalam toples dan mengulang racikan seperti semula. Merepotkan.


Nena tengah mengaduk kopi bersamaan dengan langkah seseorang yang dirasa semakin dekat, dia pikir pasti Ardi yang kembali dan pasti akan meledeknya lagi. Berhubung dendamnya masih belum terselesaikan wanita itu berbalik dan mengacungkan sendok sebagai senjata. "Ngapain lagi lo!"


Nena terkejut, saat seseorang yang terlihat sama terkejut menangkap jemarinya yang memegang sendok. keduanya terdiam bak sebuah adegan dalam sinetron dengan rating yang buruk.


"Manis," komentarnya.


Nena mengerjap bingung. "Aku?" tanyanya.


"Kopinya." Justin memberikan jawaban tanpa merasa bersalah, kemudian meraih cangkir kopi dan membawanya pergi setelah mengecup pipi sang istri.


Nena mematung, dadanya menghangat, telapak tangan yang tidak memegang sendok ia usapkan pada pipi yang masih terasa lembab bekas kecupan singkat dari ....


"Sakit gigi kamu, Na?" Tanya seseorang dan membuat Nena sedikit terlonjak.


"Ibu ngagetin aja." Nena menurunkan tangan dari pipi, kemudian berpura-pura sibuk meracik teh manis untuk dirinya sendiri.


Sang ibu yang sibuk mengoleskan margarin pada roti tawar tampak menoleh, memperhatikan putrinya dengan raut bersalah. "Nena," panggilnya lembut.


Nena hanya bergumam sebagai jawaban, masih sibuk menuangkan air panas ke dalam gelas.


"Maafkan ibu yah, tanpa menunggu kamu sadar, ibu menerima lamaran Justin, dan membiarkan pernikahan itu berlanjut tanpa sepengetahuan kamu," tutur sang ibu, Nena menoleh. "Meskipun kamu ternyata nggak terlahir dari rahim ibu, tapi ibu bahagia kamu tetap jadi anak ibu, menantu ibu."


"Iya, Nena ngerti kok, Bu." Nena memang mengerti, lebih tepatnya mencoba berusaha untuk mengerti dan menerima semuanya, toh saat dirinya sadar dari pingsan kemarin sang ibu sudah menjelaskan semuanya, tentang Bimo yang ternyata membohonginya, dan tentang Justin yang entah kenapa mau menikahinya saat itu juga, sampai dia berpikir mungkin atasan sekaligus mantan abangnya itu menikahinya karena kasihan, atau entah lah.


Terlebih lagi kenyataan bahwa dialah anak kandung Mr Juan, semakin membuat Nena bingung mengartikan tujuan Justin yang sebenarnya, dan Nena mungkin lupa jika pria yang kini menjadi suaminya itu sudah sejak lama menaruh hati pada dirinya.


Semakin dipikirkan Nena semakin tidak mengerti sampai sebuah piring berisi roti bakar disodorkan padanya dan reflek dia menggenggam benda itu. "Buat aku, Bu?" tanyanya.


"Buat suami kamu, Na."


"Lah, buat aku mana? Kok cuma satu?" Tanya Nena.


Setelah menggantungkan lap tangan pada tempatnya Marlina mengambil teh racikan Nena kemudian berkata. "Kamu bikin aja sendiri, makasih yah teh nya."


"Ibu...." Mengabaikan rengekan putrinya, Marlina melangkah pergi membawa serta satu gelas teh di tangannya dan meninggalkan Nena yang tampak mendesah kesal. Nena sampai berpikir ternyata ungkapan ibu mertua lebih kejam dari ibu tiri itu benar adanya.


Di ruang makan, Justin yang baru datang dengan secangkir kopi di tangannya mendapat sapaan selamat pagi dari Ardi. Pemuda itu menyuruh sang kakak duduk di sebelahnya.


"Kak Nena itu, biarpun kelihatan kuat, aslinya cengeng banget." Ardi memulai obrolan di sela menyantap sarapannya. "Dia bisa menghabiskan waktu ber jam-jam buat nangis di kamar sendirian," tambahnya lagi.


"Cara membujuknya seperti apa?" tanya Justin antusias.


"Kasih makanan. Pasti mau."


Justin ber oh tanpa suara,  percaya saja dengan omongan Ardi yang padahal belum tentu juga terbukti kebenarannya.


"Pada dasarnya setiap cewek ngambek itu sama, dia butuh waktu untuk sendiri. Tapi dia juga butuh ditemani, makanya temenin aja, tapi diem,  jangan ditanya-tanya." Ardi menjelaskan bak seorang pakar cinta.


Justin tampak mengangguk-angguk, kedua jemarinya ia tautkan untuk menopang dagu, pandangannya lekat menatap sang adik dari samping, "kamu pengalaman sekali. Sudah punya pacar?" Tanyanya, tersenyum jahil.


Ardi tampak kelabakan. Buru-buru meminum teh nya dan berdiri. "Aku udah telat, Kak. Duluan yah," pamitnya kemudian berlari ke dalam kamar untuk mengambil tas sekolahnya. Bersamaan dengan itu, ponsel Justin berdering tanda panggilan masuk dari seseorang.


Di sati sisi, Nena berjalan gontai menuju ruang makan di mana suaminya berada, dengan roti bakar buatan sang ibu di tangannya.


Wanita itu sedik terkejut saat Justin malah menghampiri dengan panik dan menarik lengannya. Beruntung piring di tangannya tidak jatuh. Nena  terseret dan berlari-lari kecil mengikuti Justin menuju ke arah kamar.


Bersamaan dengan itu, Ardi yang keluar dari kamarnya dengan menggendong tas sekolah kembali bersiul jahil. "Buseet, masih pagi woy!" Dan sebelah sendal rumahan milik Nena mendarat dengan sempurna di kepalanya.


AN: Ada yg bilang katanya aku ini author yang nggak pernah curhat di setiap bab, dan sekarang aku mau curhat.aku baca cerita sebelah, sama penulisnya buat lanjutin aja pake  ditarget harus komen sekian like sekian. Dan ajaibnya manjur lo melebihi target dia. Para pembacaku yang budiman, aku nggak mau ya kasih target kaya gitu. Tapi seengganya sadar diri aja, kalo males buat komen setidaknya pencet lah likenya. Masa pas aku bilang tamat doang kalian pada nyerbu. 🤣🤣🤣