OH MY BOSS

OH MY BOSS
GISEL TERTANGKAP



Gisel berlari meyusuri jalan setapak memutar yang mengarah ke halaman samping. Tadinya ia mengira jika dirinya bisa melarikan diri melalui bagian belakang penginapan. Itulah sebabnya ia memilih berlari menembus semak yang tumbuh tinggi di bagian belakang penginapan. Namun, ternyata ia salah. Penginapan tempatnya menginap memang memiliki bangunan tua yang terlihat rapuh dan bisa runtuh kapan saja, tetapi ternyata tidak dengan pagar yang mengelilingi bangungan tua tersebut. Terdapat tembok kokoh setinggi tiga meter yang menjadi pembatas antara bangunan penginapan dan hutan belantara yang ada di balik tembok. Pagar yang setinggi itu mana mungkin Gisel memanjatnya. Hongga mau tidak mau Gisel harus putar balik, kembali le area samping penginapan.


Sekarang Gisel tengah bersembunyi di balik gundukan tanah dan setumpuk batu bata yang terdapat tepat di samping bangunan. Ia harap polisi masih mencarinnya di bagian belakang penginapan, karena ia telah membuat kesan bahwa ia masih berada di sana melalui beberapa tembakan yang ia lepaskan tadi.


"Aku tidak ingin membusuk di penjara." Gisel bergumam, lalu meludah ke samping dan kembali mengendap-endap menuju bagian depan penginapan dengan pistol di tangan.


Suara detak jantung Gisel saling bersahutan dengan suara serangga malam, memecah keheningan malam yang terasa tegang dan mencekam. Setelah berjalan cukup jauh sembari menunduk di bawah bayang-bayang pepohonan rindang akhirnya Gisel tiba di samping hotel bagian depan. Halaman yang luas terlihat olehnya dengan jelas, termasuk mobil Gilang yang terparkir di deretan mobil berwarna hitam lainnya yang ia duga pastilah mobil para anggota kepolisian.


Amarah Gisel seketika menguar saat dilihatnya Antonio berdiri di depan mobil. Ia tidak menyangka jika pria itu adalah pengkhianat. Segera Gisel berlari menuju mobil terdekat dan kembali berjongkok agar tubuhnya tidak terlihat.


Gisel menghela napas dan mengelus dada yang jantung di dalamnya serasa hendak copot. Setelah rasa gugupnya sedikit berkurang, Gisel kembali melangkah menuju mobil kedua. Hal itu terus ia lakukan hingga dirinya tiba di mobil keempat. Ia bangkit berdiri dan mengintip, jaraknya dan Antonio kini tidak terlalu jauh.


"Pembalasan," gumam Gisel, lalu mengarahkan pistolnya ke tempat di mana Antonio berdiri. Gisel siap menarik pelatuk saat pintu mobil tiba-tiba terbuka dan seorang wamita menyembulkan kepala dari dalam mobil.


"Antonio, tolong cari tahu keberadaan Gilang," ujar wanita itu, yang tak lain adalah Pelangi.


Gisel mengurungkan niatnya untuk menarik pelatuk. Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu mengarahkan pistolnya ke Pelangi, membidik kepala wanita itu.


"Katakan selamat tinggal pada dunia wahai Pelangi. Dasar pelacur!" gumam Gisel, suaranya gemetar penuh amarah, lalu ....


Dor.


Antonio mendorong tubuh Pelangi agar kembali masuk ke dalam mobil, dan segera menutup pintu mobil dengan cepat, lalu ia mengeluarkan senjata api miliknya dari saku jaket yang ia kenakan.


Tembakan Gisel meleset dan mengenai lampu bagian depan mobil Gilang, membuat lampu itu pecah dan serpihan kacanya berserakan di atas tanah.


Gilang datang tepat waktu. Melihat Gisel berdiri di samping sebuah mobil dan mengarahkan senjata apinya ke Pelangi, membuat Gilang bertindak cepat. Ia meraih batu berukuran sedang yang ada di hadapannya dan melempar batu itu ke Gisel.


Tepat!


Batu itu mengenai kepala Gisela, membuat wanita itu terjatuh dan tidak sadarkan diri. Setelah dilihatnya Gisela jatuh pingsan, Gilang segera berlari menghampiri Gisel dan mengambil senjata api yang tergeletak di samping Gisel.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Antonio, yang tiba di samping Gisel bersamaan dengan Gilang.


Gilang mengangguk. "Aku baik-baik saja. Pelangi bagaimana?"


"Nyonya baik, Tuan."


Gilang melirik sekilas ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri, lalu ia membungkuk dan melepas dasi yang ia kenakan, dan mengikat tangan Gisel dengan dasi itu. "Panggil polisi. Katakan kalau Gisel ada di halaman depan."


"Baik, Tuan!" Antonio segera berlari ke bagian belakang penginapan begitu mendengar perintah dari Gilang.


***


Gisel meringis saat ia kembali mendapatkan kesadaran. Segera ia bangkit untuk duduk saat dilihatnya Gilang berdiri tepat di hadapannya bersama dengan Antonio dan beberapa angota kepolisian.


"Di mana aku?" tanya Gisel, kedua matanya melotot dan rahangnya mengeras. Ia terlihat ketakutan dan juga terlihat angkuh di waktu yang sama.


Sekilas Gilang merasa iba pada Gisel. Giselnya yang dulu anggun dan cantik, yang pernah ia cintai dengan segenap jiwa dan raga, sekarang telah berubah menjadi monster yang tidak dapat Gilang kenali. Gisel juga terlihat kurus. Matanya cekung dan terdapat lingkar hitam yang lumayan tebal di bawah matanya, menandakan bahwa wanita itu tidak cukup istirahat beberapa minggu terakhir.


Akan tetapi, begitu mengingat semua kejahatan yang Gisel lakukan, rasa iba Gilang seketika menghilang. Karena perbuatan Gisel-lah ia kehilangan bayinya dan Pelangi. Karena perbuatan Gisel juga, Exel sampai meninggal dunia. Gisel terlalu banyak menorehkan luka, hingga sulit sekali untuk memaafkan wanita itu.


"Lepaskan aku, Gil. Aku tidak bersalah!" Gisel berteriak sembari meronta, berusaha melepaskan tangannya yang masih terikat.


Gilang tersenyum sinis. "Setelah semua yang kamu lakukan padaku dan Pelangi, kamu masih berani mengatakan bahwa kamu tidak bersalah? Di mana hati nuranimu, Gisela? Kamu bahkan menabrak Exel sampai pria itu meninggal dunia. Apa kamu masih tidak merasa bersalah?"


"Sebelum kamu menyalahkanku, coba kamu pikirkan apa penyebabnya sehingga aku melakukan semua itu? Aku tunanganmu, Gil. Setelah sekian lama menjalin hubungan, kamu malah menikahi wanita sialan itu. Siapa yang tidak sakit hati, hah? Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Ya, pada akhirnya kamu memang menikahiku juga, tetapi kamu lebih berpihak pada Pelangi dari pada aku. Harga dirimu terluka, Gilang Andreas! Aku kecewa dan merasa terhina. Apa kamu tidak sadar, hah? Bagaimana bisa kamu menyalahkanku, sementara kesalahan terbesar ada pada dirimu yang plin-plan dan bodoh!" Gisel menatap Gilang dengan sengit, suaranya gemetar, karena ia bersusah payah untuk menahan amarah dan kesedihan yang memenuhi dadanya.


Wajah Gilang memerah mendengar setiap ucapan Gisel. "Ya, aku tahu aku salah, tapi hal itu tidak membenarkan setiap tindakanmu--"


"Aku hanya melukai fisikmu dan istrimu. Kenapa kami manja sekali? Lihatlah, kalian sudah pulih sekarang. Ingatanmu dan ingatan Pelangi bahkan sudah kembali. Tapi, lihatlah apa yang terjadi padaku. Kamu dan Pelangi melukai hatiku, Gilang, luka itu tidak terlihat, tetapi sakitnya masih terasa hingga sekarang. Lukaku tidak akan sembuh semudah sembuhnya luka kalian berdua."


Gilang membuang muka, ia merasa tidak nyaman pada tudingan yang Gisel tujukan padanya. Benar apa yang dikatakan Gisel. Luka fisiknya sudah sembuh sekarang, tetapi keadaan Gisel tidak membaik sama sekali. Wanita itu terlihat semakin hancur dari hari ke hari.


"Sampai bertemu di persidangan." Hanya itu yang bisa Gilang ucapkan. Ia lalu berbalik dan berjalan menjauh dari Gisel.


Melihat Gilang meninggalkannya, Gisel berteriak. "Pengecut! Dasar pengecut! Aku membencimu Gilang. Sangat membencimu. Semoga hidupmu dan Pelangi tidak akan pernah bahagia. Cuiih!"


***


Pelangi mondar-mandir di dalam kamarnya dengan gelisah. Sesekali ia melirik jam yang menggantung di dinding yang sekara telah menunjukan pukul 22.00.


Gilang yang belum juga kembali dari kantor polisi membuat Pelangi panik. "Semoga tidak terjadi hal yang buruk," gumam Pelangi yang sekarang memang lebih mudah panik faripada sebelumnya.


Ceklek.


Suara hendel pintu yang diputar menarik perhatian Pelangi. Ia menghentikan langkah kakinya dan menoleh, menatap pintu yang perlahan terbuka. Beberapa saat kemudian Gilang muncul di baliknya sembari tersenyum manis walaupun wajah pria itu terlihat kelelahan.


"Hai," ujar Gilang, mendekat ke Pelangi dan memeluk wanita itu seperti yang biasa ia lakukan.


"Kenapa lama sekali?" tanya Pelangi, membalas pelukan Gilang.


"Rindu, ya?" Gilang mencubit hidung pelangi dengan gemas.


Pelangi mengangguk. "Aku juga khawatir, karena kamu tidak menghubungiku sama sekali. Padahal aku menunggu telepon darimu sejak tadi."


"Banyak pertanyaan dari pihak kepolisian yang harus kujawab. Aku jadi tidak sempat nrnghubungimu. Maafkan aku, ya." Gilang mengusap punggung Pelangi agar wanita itu menjadi lebih tenang.


"Tidak apa-apa. Jangan minta maaf padaku. Lebih baik kamu mandi sekarang, aku akan turun dan menyiapkan makan malam." Pelangi menjauh dari Gilang dan mendorong perlahan tubuh suaninya itu ke pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.


Akan tetapi, Gilang menolak untuk melepaskan Pelangi. "Aku tidak butuh makan malam sekarang. Aku hanha membutuhkanmu." Gilang berbisik di telinga Pelangi.


Pelangi mengerti apa yang diinginkan oleh Gilang. Setelah sekian lama tidak berjumpa dan baru mengingat satu sama lain, tentu saja Gilang merindukannya, toh ia juga merasakan hal yang sama.


"Mau kumandikan? Aku bisa menggosok punggungmu dengan busa dan air hangat." Pelangi balas berbisik. Menggoda Gilang adalah hal yang paling disukai Pelangi, apalagi saat pria itu sedang dalam mode genit seperti sekarang.


Gilang tidak menjawab tawaran Pelangi, sebagai bentuk persetujuan atas tawaran Pelangi, Gilang menarik lengan Pelangi dan menggendong wanita itu, kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Astaga, apa yang kamu lakukan, Gil? Turunkan aku sekarang." Pelangi tertawa karena menahan geli. Gilang sekarang memang sedang asyik mendaratkan bibirnya di leher Pelangi, wajar saja jika wanita itu tertawa terbahak-bahak karena merasa geli.


"Tidak akan kuturunkan. Kecuali saat aku melucuti pakaianmu nanti."


"Aku sudah mandi tadi. Jadi tidak usah repot-repot memintaku untuk mandi lagi. Terima kasih." Pelangi mencubit pipi Gilang.


"Siapa yang bilang kalau aku menyuruhmu mandi lagi? Tidak sayangku, kita tidak akan mandi, kita hanya akan bersenang-senang di dalam sana. Aku yakin kamu tidak akan menyesal," bisik Gilang dengan suara parau yang terdengar begitu seksi di telinga Pelangi, membuat Pelangi membayangkan hal yang tidak-tidak.


Bersambung ....