
Sudah dua hari Lily berada di negara ini, dan selama itu juga, wanita yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Justin belum bisa menemukan cara untuk menaklukan pria itu. Dia kesal kenapa Justin terlihat lebih tampan sekarang, dan pria itu malah selalu menghindarinya.
Dia ingat dulu kenapa dia memutuskan untuk meninggalkan Justin, sifat pria itu yang amat protektif dan cenderung ke posesif itu membuat Lily tidak betah. Justin selalu menelfon lebih dulu, menanyakan sedang apa dan di mana, bagi Lily itu cukup mengganggu, meskipun tidak melarangnya bergaul dengan siapapun dan iya-iya saja saat dirinya berbohong, tapi Lily merasa perlu kebebasan yang lebih. Dan ternyata setelah dia menjalin hubungan dengan beberapa pria setelah itu, mereka yang terlampau cuek membuat seorang Lilyana kerepotan menanyakan kabar duluan. Setelah beberapa kali diselingkuhi, dia sadar bahwa Justin adalah yang terbaik. Dan kini Justinnya sudah dimiliki orang lain yang sialnya amat cantik. Benar-benar sialaaan.
Lily menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tv apartemen William, selama dua hari ini dia memang memilih tidur di sofa karena kamar Justin selalu terkunci dan sipemilik tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Dan jika untuk menumpang di kamar William? Lily tidak akan pernah mau, dia tahu betul kelakuan pria bule itu sejak dulu yang mungkin saja belum berubah.
Merasa bosan Lily membuka ponsel William yang sengaja disembunyikan olehnya, dia ingin menghubungi istri Justin, dan sebelum itu, membuka akun instagram ia lakukan lebih dulu, sialnya satu akun gosip yang memiliki banyak followers itu mengunggah foto kemesraan sang mantan dengan istrinya di sebuah pesta, hal itu tentu membuat Lily jengkel, wanita itu mematikan hp dan beralih pada tv yang ternyata juga menampilkan sebuah adegan iklan yang diperankan begitu mesra oleh keduanya.
"Ya Tuhan, cukup. Aku muak," rengeknya mulai menangis, dan wanita itu melangkah pergi ke dapur, memonopoli kulkas dua pintu dan merampok semua isinya, semua, semua yang bisa membuat seorang Lily akan lupa dengan segalanya.
***
William pulang dan terkejut dengan keadaan apartemennya yang menyaingi kondisi kapal titanik setelah terombang-ambing sebelum terbelah. Pria itu memang bujangan, sendirian, dan menolak menyewa asisten rumah tangga juga, tapi tidak pernah dia membuat huniannya sekacau ini.
Sembari memunguti bungkus makanan ringan yang isinya berhamburan kemana-mana, William berdecak kesal, isi kulkasnya berpindah ke ruang tengah sekarang, pria itu beralih pada botol-botol minuman, belum sempat menaruhnya kedalam pelastik sampah, pria itu menyadari satu hal.
"Kau minum ini, Ly? Ya Tuhan kau pasti mabuk sekarang." William bergumam dan kembali merapikan sampah-sampah yang berserakan.
Merasa kasihan, William kembali ke ruang tengah dan memasangkan selimut untuk wanita yang beberapa hari ini mengusik ketentraman hidupnya. Dia duduk di ujung sofa, dan yang tidak ia duga, Lily terbangun, duduk dan sukses membuat pria itu terkejut karena gelak tawanya.
"Oh My Justin." Lily menghambur ke pelukan William, pria itu mengernyit, merasa terganggu dengan bau alkohol dari mulutnya.
"Heh! Aku bukan Justin." William mendorong kening wanita mabuk di hadapannya itu dengan telunjuknya.
Lily membuka matanya yang tampak sayu, kembali tertawa meski lebih pelan. "William," ucapnya parau.
"Iya, ini aku, tidurlah, kau akan merasa baikan besok." William memberi saran.
Lily meraih tangan pria di hadapannya, kemudian meremasnya yang sukses membuat William kebingungan. "Katakan Will, bagaimana caraku agar bisa melupakan My Justin."
William berdecak, menarik tangannya hingga terlepas. Tengah malam bersentuhan dengan kulit seorang wanita bukanlah kombinasi ya bagus untuk sekarang ini. "Lupakan ya, lupakan saja, memangnya harus bagaimana."
"Ayahku yang dosen itu tidak pernah mengajarkan cara melupakan, dia selalu menyuruhku menghafal sesuatu. Dan dikepalaku ini penuh dengan My Justin. Aku harus bagaimana."
William menggaruk rambut kepalanya. Pusing luar dalam menghadapi wanita mabuk yang merengek manja di hadapannya ini, belum lagi tangannya yang terus menarik-narik ujung kemeja yang ia kenakan. Ya Tuhan harusnya dia yang bertanya harus bagai mana. "Sudah lah, Ly. Kau tidur saja. Besok boleh dilanjut kembali sesi curhatnya." William kembali mendorong kening Lily hingga terbaring, dan wanita itu malah kembali menarik lengan William hingga nyaris menubruknya.
Lily terduduk kembali, tatapannya tampak lebih sayu dari sebelumnya. "Bantu aku, Will, bantu aku untuk melupakan Justin."
"Caranya?"
"Jadilah kekasihku."
William tertawa, merasa menyesal menanggapi orang mabuk berbicara. "Tidurlah, Ly. Kau mabuk."
"Aku tidak mabuk." Lily menyangkal dengan bentakan.
William tertegun. Dan saat wanita itu naik ke pangkuannya dia memejamkan mata, membuka lagi dengan tatapan yang berbeda. "Menyingkirlah, Ly," pintanya.
Lily menggeleng, "tidak," tantangnya, "tinggalkan kebiasaan burukmu, lakukanlah hanya denganku, dan aku akan mengikatmu."
Untuk sesaat William terdiam, kemudian menghela napas dalam, menyingkirkan wanita itu dari pangkuannya, "kau mabuk, aku tidak mau," tolaknya, kemudian beranjak berdiri dan melangkah pergi.
Tidak disangka Lily mengejarnya dan memeluknya dari belakang, "William," rengeknya.
William melepaskan pelukan wanita itu, berbalik dan menatapnya dalam. "Kau akan marah nanti."
"Tidak akan."
William mendorong wanita itu kembali ke sofa, mendudukannya kemudian kembali hendak melangkah pergi sebelum lengan bajunya kembali menjadi sasaran tarik menarik mereka berdua. "Aku tidak bisa, Ly, aku tidak bisa." William terus mencoba mempertahankan kewarasannya.
"Kamu bisa." Lily ikut berdiri. Setelah tarikan lengan kemejanya terlepas dan buruannya kembali lari, wanita itu beralih mencengkram belakang kemeja William, menariknya mundur.
William mengerang prustrasi, seperti anak kecil yang diseret-seret untuk dipaksa mandi. "Ya ampun, kenapa aku selemah ini," rutuknya dengan berjalan mundur. Dia menggeleng, kembali menepis tangan di belakang tubuhnya hingga terlepas, kemudian berbalik menghadapnya. "Kau pasti akan marah, aku bukan Justin." William sedikit membentak, membuat wanita yang tampak berantakan di hadapannya sedikit terhenyak.
"Aku tahu, aku tahu. Kau adalah William handelson, penjelajah wanita, penakluk nomor satu yang diam-diam mengagumi kemolekan tubuhku kau—"
"Hentikan." William membungkam mulut wanita itu dengan telapak tangannya, "itu tidak sepenuhnya benar, sebrengsek itukah aku di matamu Ly. Ya Tuhan."
Tangan William yang menempel di mulutnya membuat pria itu begitu dekat, Lily tidak menyianyiakannya, mendorong William terjatuh ke sofa dan mendudukinya. "Ayo kita mulai."
William menggeleng, "tidak," tolaknya setengah hati, bagaimanapun juga dia adalah lelaki normal, dan digoda sekeras ini, miliknya tentu bereaksi. "Ya Tuhan, kenapa aku begitu lemah dengan cobaan semacam ini," rutuknya, dengan kuat memejamkan mata ketika wanita gila di atas tubuhnya mulai menggrayanginya.
"Lakukan." Lily terus memaksa.
William bangkit membuat Lily terjatuh ke sofa, kemudian mulai menindihnya, terdiam sesaat membuat seorang William menyadari wanita ini begitu cantik, dia kalah. Lily tertawa-tawa, terus menggodanya untuk mendekat. William menghela napas, "aku minta maaf," ucapnya. Dengan ragu mulai mencumbu, sekali, duakali, dan sulit untuk berhenti, mau tidak mau dia harus menuntaskannya.
*iklan* yaah netizen ngamuk*
William terduduk di lantai, bersandar pada sofa tempat dimana wanita yang menorehkan beberapa cakaran di lengannya tertidur pulas, dengan itu dia sadar, ini adalah pengalaman pertama bagi Lily, dan William mendapatkannya.
"Dasar bodoh." William terus menyesali dengan apa yang telah terjadi, dirinya memang penjelajah, tapi bukan perusak, selama ini dia tidak pernah mau jika harus menjadi yang pertama untuk siapapun wanitanya itu.
William menoleh saat Lily meracau dan bergumam, "Justin," lirihnya yang entah kenapa mulai menimbulkan rasa nyeri di sudut hatinya, yang wanita itu inginkan adalah Justin, bukan dirinya. William beranjak bangun, dan Lily kembali bergumam yang membuat dia menoleh.
"William," ucapnya.
William berdecak, mendekatkan wajahnya pada wajah Lily, "sebenarnya siapa yang kau mau, Justin atau aku," Tanya William membuat wanita di hadapannya itu bergerak gelisah, membuka mata sejenak dan terpejam lagi.
"Aku, mau...." Lily mulai bergumam memberi jawaban, menunggunya, William menahan napas. "Mau lagi."
William mendengus kesal, "Sinting," umpatnya.
***
Justin membuka pintu kamar, menoleh pada jam dinding. Sudah sangat larut, istrinya itu tentu sudah tertidur, dua hari ini Justin merasa dihindari meskipun setiap pagi wanita itu selalu membuatku sarapan, tapi rasanya sedikit berbeda.
Justin melepas sepatu, naik ke atas kasur dan merebahkan diri di belakang sang istri, tangannya ia lingkar kan ke tubuhnya, dia rindu.
"Mandi dulu, Mas." Nena berucap tanpa menoleh, membuat Justin terkejut, namun bukan menurut pria itu malah semakin merapatkan tubuhnya memeluk Nena.
"Aku nggak mau mandi, lagi marahan sama air, soalnya dia dingin banget, nggak tahu salah aku apa coba."
"Angetin dong."
Nena menoleh, kemudian berbalik menghadap sang suami yang juga menghadapnya. Pelukannya terlepas. "Di sini kan air panasnya otomatis, memangnya di rumah ibu, harus masak dulu," ucapnya.
Justin tersenyum, tidak menanggapi, malah mengarahkan tangannya menyentuh wajah sang istri, "mandiin," pintanya yang membuat Nena berdecih kesal.
Nena terdiam beberapa saat, seperti ingin membahas sesuatu, "mantan kamu itu, siapa Mas namanya?" Tanya Nena yang membuat Justin menghela napas, dia sudah menduga cepat atau lambat masalah ini pasti akan di bahas.
"Lily," jawab Justin yang mendapat pukulan di lengannya, wajah sang istri berubah keruh, dia jadi bingung.
"Kamu bahkan nggak pernah manggil aku pake nama panggilan, selalu lengkap, manggilnya Serena." Nena mengomel, membuat Justin meringis, tidak menyangka bagi seorang wanita hal sesepele ini bisa juga menjadi masalah.
"Kan aku manggil kamu sayang." Justin memberi alasan, Nena diam.
"Siapa nama mantan kamu?" Nena kembali bertanya.
"Lilyana El Ramos," jawab Justin yang kembali mendapat tabokan lagi.
"Ya nggak usah selengkap itu juga."
"Salah terus akunya," rengek Justin yang malah membuat Nena jadi tertawa. Suasana berubah hangat setelahnya.
"Dia ngajakin aku ketemu, tadi dia nelpon pake nomor William, kayaknya mabuk, ngomongnya ngaco," ujar Nena.
Justin berpikir sejenak, tadi William memang bilang ponselnya tidak ada. Dia tidak tahu kemana. "Nggak usah diladenin," ucap Justin kemudian.
"Kamu takut, Mas. Takut rahasia kamu dia bongkar yah?"
"Aku nggak punya rahasia."
"Aku mau nanya."
"Apa?"
"Kamu pacaran sama dia berapa lama?"
"Dua tahun."
"Lama banget si, itu pacaran apa kredit motor, kamu ngapain aja selama itu." Nena dengan gemas memukulkan tangannya pada sang suami yang reflek menangkap pergelangan tangan Nena, membuatnya tidak bisa berkutik.
"Nggak ngapa-ngapain." Justin menjawab.
"Kenapa putusnya?" Tanya Nena.
"Kata dia aku posesif, dulu dia mau jadi bintang film, terus aku nggak setuju. Dia pergi, dari situ aku belajar buat nggak terlalu posesif sama kamu, takut kamu pergi juga."
"Makanya pas aku ikut casting kamu diem-diem gagalin terus."
"Aku takut kalo aku terus terang, kamu bakal marah."
"Kamu ngapain aja dua tahun sama dia." Nena kembali membahas topik awal yang Justin pikir sudah lupa.
"Udah dibilang nggak ngapa-ngapain."
"Bohong."
"Beneran,"
"Jujur Mas sama aku, aku aja jujur sama kamu, ceritain semuanya jadi kalo besok dia cerita masa lalu kalian, setidaknya aku nggak terlalu kaget."
Justin menelan ludah, terdiam sesaat, melirik sang istri yang tampak menunggu, "palingan cium aja."
"Cium apa?"
"Kening."
"Boong banget, jujur Mas." Nena terus mendesak, membuat Justin menghela napas.
"Cium pipi, hidung, bibir," justin menjawab, yang mulai membuat Nena merasa oksigen di sekitarnya berubah menjadi karbon dioksida.
"Cukup, Mas."
"Turun ke leher, mengendus, mendesah." Kali ini Justin berbohong.
"Cukup." Nena menutup mulut sang suami dengan telapak tangannya.
Justin menyingkirkan tangan di mulutnya, kembali berucap. "Saling meraba, berbagi kehangatan."
"Udah, Mas udah, jangan diterusin lagi aku nggak sanggup," rengek Nena menggelengkan kepala, membuat Justin tertawa dan membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Percaya, Sayang. Masa lalu aku sama dia, tidak semenyenangkan masa depan aku sama kamu."
***iklan***
Netizen; jadi Lilyana itu buat Babang Liam ya thor, terus gue sama siapa?"
Authot; Jangankan elu, gue juga bingung gue sama siapa, bang Entin cinta mati gitu sama bininya.
Netizen; Tikung thor, tikung.
Author; lu mau gue kena seleding. Mendingan juga gue nungguin dudanya bang Nero.
Netizen; Idih. Eh kayaknya bau-bau mau tamat ya thor.
Author; Tanggal 20 kan udah ditutup contesnya.
Netizen; sayonara thor.
Author; lebay lu.
Netizen: sedih thor ini.
Author; bodo amat.