
Kedatangan Nena, Justin dan Karin membuat Martin Juandika atau yang biasa disebut Mr Juan merasa amat bahagia. Ketiganya digiring ke dalam ruangan besar yang berisi banyak makanan di atas mejanya.
Setelah berbasa basi menanyakan kelancaran sekolah Karin, sang papa menanyakan kabar Marlina, juga anggota keluarga Nena yang lain, dan berkata ingin mengundang makan-makan suatu saat nanti. Barulah setelah itu Justin dan sang papa membahas tentang pekerjaan.
Tidak lama setelah makan selesai, topik obrolan kembali pada Karin dan menanyakan sang mamih yang sudah beberapa bulan dipenjara. Nena merasa, daripada dengan dirinya, pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya itu lebih akrab dengan Karin, tapi itu lebih bagus, karena dengan hal itu, obrolan makan keluarga ini jadi hidup, tidak terkurung dalam kecanggungan seperti yang Nena bayangkan.
"Mulai besok Karin tinggal di rumah Ibu Marlina, Om," adu remaja belasan tahun itu dengan raut semangat, Nena dan Justin ikut tersenyum.
"Oyah, bagus itu."
Karin mengangguk mantap, kemudian sedikit ragu untuk menanyakan sesuatu. "Om?" panggilnya, "kalo boleh Karin tahu, gimana ceritanya sih, Bang Justin sama Mbak Nena bisa ketuker?"
Hening.
Dua puluh delapan tahun yang lalu, seorang pria pertengahan tiga puluh berkunjung ke rumah Juan dalam keadaan kacau.
"Aku terkena musibah, Martin. Tolong aku." Rahadi terduduk di teras kediaman Juan dengan wajah lebam bekas pukulan.
"Apa yang terjadi?" Juan bertanya pada sahabatnya. Dan Rahadi menceritakan tentang musibah yang menimpa dirinya, ditipu rekan bisnis, dan dikejar penagih hutang, juga sang istri yang koma setelah melahirkan. Dan seolah semua kesedihan yang menimpanya itu belum cukup, dokter kembali mengabarkan berita duka dengan kelainan jantung yang diderita putra pertamanya setelah beberapa jam lalu dilahirkan. Jangankan untuk biaya pengobatan, sekedar bayar toilet umum saja rasanya begitu sulit untuk Rahadi saat ini.
"Aku akan bantu semampuku," ucap Juan, bersamaan dengan suara gaduh dari dalam rumah yang membuatnya terkejut.
"Tolong, Tuan!" wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga Juan menghampiri dengan panik. "Nyonya kepleset, jatuh di tangga, pendarahan," ucapnya dengan tersendat-sendat.
Juan menghambur ke dalam rumah bersamaan dengan Rahadi di belakannya, keduanya membawa wanita yang tengah hamil besar itu ke rumah sakit terdekat.
"Lebih cepat lagi, Di!" Pinta Juan pada sahabatnya. Menyadari bahwa keadaan sang istri semakin lemah karena banyak kehilangan darah membuatnya semakin bertambah panik.
Beberapa jam berlalu dengan penuh ketegangan. Nadia, istri Juan tidak sadarkan diri dan masuk ruang operasi. Juan begitu khawatir, Rahadi yang duduk di kursi tunggu di sebelahnya tidak bisa berbuat apa-apa, karena keadaannya pun nyaris sama, kemudian pria itu pamit mengunjungi sang istri yang juga dirawat di rumah sakit yang sama.
Setelah beberapa saat, Rahadi kembali dan tidak menemukan Juan di tempatnya semula, ternyata pria itu berada di depan ruang nicu anak, menatap ke arah dalam dari balik jendela kaca dalam diam.
"Anakku sudah lahir," ucapnya, setelah menolehkan kepala sebentar, kemudian kembali menghadap ke jendela.
Rahadi menyentuh pundak sahabatnya. "Selamat, kamu sudah menjadi seorang ayah," ucapnya tulus, "bagaimana dengan istrimu?" tanyanya kemudian.
Juan tidak menoleh saat menjawab, "koma." Dan Rahadi tahu bagaimana perasaannya.
"Aku tidak bisa membantumu, Di," ucap Juan dengan penuh sesal, terduduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan itu.
Rahadi ikut duduk di sebelah sahabatnya. "Ya, aku mengerti," ucapnya, "jangan terlalu dipikirkan."
"Bukan seperti itu." Juan menatap sahabatnya nanar. "Anakku perempuan, Di."
Rahadi mengerti. Juan pernah menceritakan tentang persyaratan dari mertuanya. Lelaki kaya raya itu hanya mengharapkan cucu laki-laki sebagai penerusnya kelak. Dan jika Juan tidak bisa memberikannya, maka dia akan dicoret dari daftar keluarga, dirinya tidak akan mendapatkan apa-apa, sang papa akan melimpahkan semua harta kekayaannya pada sebuah yayasan jika beliau sudah tiada.
"Apa persyaratan itu masih berlaku?" Tanya Rahadi dan mendapat anggukan lemah dari sahabatnya. "Ayah mertuamu itu aneh sekali, mana bisa kita menentukan sendiri ingin punya anak laki-laki atau perempuan. Semua sudah ada yang mengatur, kita bisa apa?"
"Tapi itu lah kenyataannya, aku tidak bisa berharap banyak, Di. Dari anaknya yang semua perempuan, dia menantikan seorang cucu laki-laki yang tidak ia dapatkan dari ke dua putrinya. Harapannya jatuh pada Nadia, istriku, yang merupakan anak bungsu di keluarga kami." Juan berkata panjang.
Rahadi terdiam, dia merasa tidak ada jalan lain kecuali berdoa untuk kesembuhan istrinya, harapan satu-satunya adalah pinjaman uang dari Juan, tapi dengan keadaannya saat ini. Rahadi bisa mengerti.
"Aku bisa membantumu jika kamu juga mau menolongku, Di." Juan meraih tangan sahabatnya hingga pria itu menoleh.
"Maksudnya?"
"Anak kamu laki-laki, dan butuh banyak biaya untuk operasi," ucap Juan.
Rahadi merasa jantungnya berhenti bekerja, dia paham apa yang sahabatnya itu Inginkan. "Maksudmu, kamu mau menukar anak kita?" tanyanya hati-hati. Tidak ada jawaban, namun dari tatapan penuh harap dan putus asa dari sahabatnya itu, Rahadi tahu, jawabannya adalah 'iya'.
"Aku tidak mau!" Rahadi berdiri dengan penuh emosi. Bagaimana bisa sahabatnya itu berpikiran seperti itu.
Juan ikut berdiri, "demi kesehatan anakmu, Di. Demi kelangsungan hidup keluargaku. Dan demi istrimu yang butuh perawatan lebih lanjut. Pikirkan semua itu."
"Apa kamu tega sama anak kamu? Kamu––,"
"Aku percaya sama kamu, aku percaya kamu bisa menjaga anakku dengan baik."
"Nggak, Martin, aku nggak bisa!" Rahadi terus menolak, namun seberapa besarpun ia mempertahankan putra pertamanya itu, sampai kapan bayi itu bisa bertahan hidup dengan keadaannya yang sekarang ini.
Juan jelas bisa membantu jika anak yang istrinya lahirkan adalah seorang laki-laki, tapi dengan kenyataan anak perempuan yang ia dapati, jangankan membantunya, dirinya sendiri pun terancam jadi tunawisma. Bagaimana ini, mengapa seolah takdir mempermainkan mereka berdua, mengapa bukan Juan yang punya anak laki-laki, dan Rahadi saja yang punya anak perempuan sekalian.
Dengan berat hati dan segala pertimbangan, mau tidak mau Rahadi menyetujui ide sahabatnya.
"Martin, aku tidak bisa membiarkan istriku tidak pernah melihat anaknya, biarkan dia melihat anak kandungnya sekali saja."
Mendengar permintaan sahabatnya, Juan terdiam. "Bagaimana kamu akan mengatakannya."
"Aku akan bilang kalau anakku itu kembar sepasang. Dengan kekacauan yang aku perbuat menjadikan kami berpindah-pindah hingga tidak memperhatikan janin yang Marlina kandung, hingga akhirnya terjadilah seperti ini. Aku menyesal tidak bisa memberikannya yang terbaik selama kehamilan. Sebagai seorang suami, aku merasa telah gagal."
"Kenapa kamu tidak mencariku sejak awal?"
"Karena aku pikir, aku mampu menyelesaikannya sendiri. Aku sudah banyak melibatkanmu dengan masalahku."
"Kita itu lebih dari teman, Di. Kita saudara. Kita berasal dari panti asuhan yang sama. berjuang mencari ilmu di kota besar ini bersama-sama. Dan suatu saat yang akan datang, kita pun akan menyatukan anak kita dalam sebuah ikatan. Itu janji kita kalau kamu lupa."
Rahadi menunduk malu. "Maafkan aku, tapi bolehkah aku bawa anakku sebentar untuk menemui ibunya, aku akan jelaskan pelan-pelan, dan dia pasti akan paham."
Juan mengangguk, dan setelah itu Rahadi membawa anak laki-lakinya ke ruangan tempat sang istri dirawat. "Kamu sudah sadar?" Rahadi terkejut mendapati istrinya menoleh saat dirinya membuka pintu.
"Kamu kemana aja, Mas?" tanya Marlina lemah. "Apa itu anak kita?" wanita pucat itu menunjuk bayi yang berada di gendongan suaminya, tatapannya amat bahagia.
Rahadi mengiyakan, dan sebelum sang istri terbuay dengan rasa bahagia yang tidak bertahan lama, ia mulai menjelaskan tentang kondisi anak di pelukannya itu, untuk menghibur Marlina, Rahadi langsung mengatakan bahwa bayi yang wanita itu kandung ternyata lebih dari satu. Dan mereka harus merelakan putra pertamanya untuk diadopsi oleh Martin demi untuk perawatan lebih lanjut yang memerlukan banyak biaya .
Marlina mengerti, dengan kondisi keuangannya saat ini, dia harus berbesar hati merelakan satu anaknya diasuh oleh orang lain. Martin sudah begitu baik dengan meminjamkan uang untuk biaya persalinan dan kelangsungan hidup keluarganya ke depan, tentu dia tidak boleh serakah bukan?
"Tapi, biarkan aku bersamanya sebentar lagi, setelah itu kamu boleh bawa dia pergi," pinta Marlina, Juan yang kebetulan sudah berada di dalam ruangan ikut mengangguk. Pria itu menggendong bayi perempuan yang Marlina yakini itu pasti salah satu anak kembarnya, dia keluar ruangan disusul oleh Rahadi di belakangnnya.
Juan terus memandangi wajah bayi yang terlelap di gendongannya, "maafkan papa, sayang. Suatu saat kamu pasti akan mengerti," bisik Juan, kemudian menoleh pada pria di sampingnya. "Rawatlah dia untukku," tuturnya, kemudian menyerahkan sang putri pada Rahadi dengan raut teramat sedih.
"Aku akan mengganti semua uang yang kamu keluarkan untukku saat ini, suatu hari nanti."
"Tidak perlu, anggaplah itu untuk putriku." Juan kembali menatap wajah damai putrinya yang kini berda dalam gendongan Rahadi. "Beri dia nama Kinanti, aku akan mencarinya suatu saat nanti, dan kita akan menjadi keluarga di masa depan," ucapnya penuh keyakinan.
"Untuk sekarang ini, aku harus pergi ke kota lain, aku takut suatu saat Marlina menemuimu dan mengacaukan semuanya."
Juan mengangguk. "Setelah kedaan sudah mulai tenang, aku akan mencarimu," tuturnya.
Dan beberapa tahun kemudian Juan terus mencari keberadaan sahabatnya. Dia begitu terpukul setelah ditinggalkan sang istri yang tidak lagi terbangun saat koma waktu itu, meskipun seluruh kekayaan dilimpahkan pada dirinya dan sang anak, dia tidak lagi merasa bahagia.
Dan melihat putra sahabatnya tumbuh remaja dan hidup dengan baik membuat Juan selalu teringat dengan kesalahan pada putrinya. Ia merasa marah pada dirinya sendiri. Kemarahannya pun ia lampiaskan pada anak itu sesekali. Justin.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik." Juan mengakhiri ceritanya dengan penuh penyesalan. Justin dan Nena masing-masing menggenggam tangan sang papah dan meremasnya, menyalurkan kekuatan dan meyakinkan bahwa mereka tidak apa-apa.
Mereka duduk di sofa panjang yang sama dengan Juan diapit oleh keduanya, Karin duduk bersandar di sofa tunggal, sesekali tersenyum menanggapi obrolan ayah dan anak di hadapannya.
Hingga sebuah pembahasan tentang cucu tertangkap olehnya, gadis itu tidak tahan untuk tidak berkomentar. "Om, cucu Om nanti nggak harus anak laki-laki kan?" tanyanya.
Juan tertawa, menoleh pada putranya. "sepertinya anak perempuan lebih lucu, bukan begitu Justin?"
"Ah, i-iya, aku akan berusaha keras siang dan malam," ucap Justin. "Aduh!!" Dan sebuah cubitan dirasakannya dari arah belakang, membuat Karin yang melihat, tidak tahan untuk tidak tergelak.
Nena berjalan-jalan menyusuri rumah besar itu seorang diri, Karin sedang menelpon seseorang di dekat kolam renang, sedangkan suaminya dan sang papah membahas tentang pekerjaan di ruangan pribadinya. Setelah puas berkeliling, wanita itu kembali ke ruang keluarga dan menangkap sebuat foto di atas nakas yang nyaris ia lewati. Sebuah gambar bayi perempuan, Nena kenal dengan foto itu, diapun meraihnya, bersamaan dengan tangan seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Ayo kita pulang," ajak Justin, pandangannya jatuh pada foto di genggaman sang istri. "Kenapa?" tanyanya.
"Kenapa foto aku ada di sini?"
Justin tertegun, foto yang dulu sering dipeluk sang papah saat ketiduran di sofa, dan ia pikir itu foto Karin, ternyata foto Nena, "ini foto kamu?"
"Iya, Mas. Foto aku waktu bayi, kenapa ada di sini yah?" Nena bertanya dengan menolehkan kepala ke arah Justin di belakannya, mencari raut yang mungkin sama bingung dengan dirinya, namun pria yang semakin erat memeluknya itu malah tersenyum tidak jelas.
"Itu berarti papah memang benar sayang sama anak perempuannya." Jawaban sang suami membuat Hati Nena menghanyat, "dia sering ketiduran di sofa sambil peluk foto ini." Justin mengambil foto dari tangan Nena.
"Oyah?"
Justin mengangguk, kembali memperhatikan gambar bayi perempuan yang sepertinya diambil saat baru lahir, "darimana bisa tahu ini foto kamu? Semua bayi kayaknya mukanya sama."
"Ada banyak di rumah yang kaya gini, ibu kan rajin ngambil gambar tumbuh kembang anaknya, dia bilang soalnya setiap detik nggak akan bisa kembali."
"Aku juga ada foto balita."
"Oyah, Aku mau lihat dong."
"Nanti kita lihat di apartemen," ucapnya, kembali meletakan benda di tangannya ke atas nakas. "Lucu juga kamu pas masih bayi, nanti kita bikin satu yang kaya gini ya." Candaan Justin mendapat sikutan di perut hingga pelukannya terlepas. Dia heran kenapa sang istri selalu terlihat kikuk saat membahas hal-hal seperti ini. Dan hal itu malah membuatnya semakin gencar menggoda Nena demi untuk mendatapi raut kesal di wajah cantik istrinya.