OH MY BOSS

OH MY BOSS
SYUTING



Hari ini, Justin yang sebenarnya amat sibuk itu menyempatkan diri untuk ikut serta dalam pembuatan iklan yang dibintangi oleh istrinya sendiri, biasanya dia akan duduk manis dan dengan senang hati memeriksa hasil akhir dan menyetujuinya, tanpa harus repot-repot meluangkan waktu, duduk di balik layar, menemani Samuel yang entah kenapa tampak amat bahagia di sebelahnya. Pria blasteran itu mungkin belum tahu, bahwa seorang Justin bisa berbuat apapun yang ia mau.


 


 


Saat akan mulai pengambilan gambar, Nena yang keluar hanya dengan menggunakan handuk membuat seorang Justin kalang kabut kebakaran jenggot. "Memangnya tidak ada kostum yang lebih sopan," omelnya pada salah satu kru yang menyiapkan baju-baju.


 


 


"Kan adegannya mandi, Pak, masa pake baju?" Tanya wanita di belakang Nena dengan beberapa lembar baju tersampir di lengannya.


 


 


Justin menggeleng. "Yang diambil itu hanya bagian bahu dan lengan, berikan dia kain yang lebih panjang," titahnya.


 


 


Dan Samuel yang masih bisa menahan senyum itu hanya mengangguk. Menyuruh krunya itu untuk menuruti permintaan Justin.


 


 


Hingga saat sampai di adegan bathtub penuh sabun yang mengharuskan Nena  memamerkan separuh paha dan kaki jenjangnya itu, ditolak mentah-mentah oleh sang suami. Samuel mulai menelan ludah kesal dan menggaruk rambut kepalanya yang entah kenapa menjadi gatal. Sepertinya kekesalnnya itu sudah berpindah ke kepala.


 


 


Samuel berdecak. "Hey, disini siapa sutradaranya, kenapa jadi kau yang membuat peraturan," omelnya yang dibalas tatapan sengit oleh Justin.


 


 


"Aku ini suaminya, kau mau apa?" Justin menjawab dan membuat Samuel kehabisan kata-kata. Pria blasteran itu telah salah mengira bahwa kehadiran Justin yang jarang sekali berada di lokasi ini akan sangat membantunya. Ternyata malah merepotkan.


 


 


Justin kembali memotong adegan demi adegan, membuat Nena hampir menangis saking kesalnya, wanita itu menatap suaminya yang juga balik menatapnya dengan tenang.


 


 


"Mas, aku bisa mati beku kalo kamu terus-terusan motong adegan di air ini." Nena berucap dengan iba, menunjukan telapak tanganya yg mulai menyusut, jika lipstik merah menyala dibibirnya itu luntur mungkin warnanya akan berubah biru, dan Nena merasa kakinya sudah berganti menjadi ekor, beberapa saat lagi dia berendam, bisa-bisa dirinya berubah jadi putri duyung. "Mas, pliss."


 


 


Justin menghela napas, kembali ke tempat duduknya, berubah tenang untuk beberapa saat, hingga adegan mandi Nena telah usai dan wanita itu berganti baju gaun merah dengan pundak telanjang yang berhasil membuat Justin sakit kepala. Ya Tuhan.


 


 


Justin hanya bisa berdecak pelan, berusaha untuk tetap diam berharap prosesi syuting yang menguras emosi jiwa dan raganya itu cepat selesai, pria itu memejamkan mata sejenak, sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak lagi ikut serta, hingga seorang pria bertubuh kekar dengan brewok dan rambut gondrongnya mendekati sang istri dan terlibat beberapa percakapan.


 


 


Justin menoleh pada Samuel. "Kau tidak bilang, ada pemain prianya juga," ucapnya, dan membuat seorang Sam berdecak sebal.


 


 


"Tema iklan ini kan cinta, masa tidak ada pemain pria." Samuel berdiri, mengarahkan para kru untuk bersiap melanjutkan adegan selanjutnya.


 


 


Justin bergerak gelisah di kursinya, di sampingnya itu Samuel sudah meneriakan kata action yang membuat Justin menoleh dan fokus pada pergerakan pemain pria yang mulai menjamah tubuh sang istri.


 


 


"CUT!!"


 


 


Satu kata itu berhasil menghentikan semua pergerakan, dan semua mata tertuju pada sumber suara, bukan Samuel, tapi Justin.


 


 


"Sory, sory," Justin mengangkat tangan. "Ok, ok, lanjutkan saja," ucapnya kemudian.


 


 


Samuel membuang napas kasar, setelah mengancam temannya itu dengan telunjuknya, pria blasteran yang rambutnya mulai acak-acakan itu menyuruh para pemain untuk bersiap kembali.


 


 


Adegan kembali fokus pada Nena dan si pemain pria yang kini berdiri merapatkan tubuhnya pada wanita itu. Justin melihatnya dengan menahan napas, ketika jemari tangan si gondrong menelusuri kulit lengan Nena, untuk menunjukan betapa sabun yang perusahaannya itu produksi benar-benar menghaluskan kulit sang istri. dan Justin masih diam.


 


 


Kembali pria berambut gondrong itu seolah hendak mencium pundak Nena, menghirup keharuman sabun bermerk love yang Justin bersumpah tidak akan pernah menaruhnya di salah satu kamar mandi apartemen ataupun rumahnya juga. Tidak akan.


 


 


Adegan mulai berubah panas, ketika tangan si brewok melingkar di perut sang istri dan hidung besarnya itu kembali mengendus lengan, bahu hingga...


 


 


"CUT!!!"


 


 


***


 


 


Nena mengerang prustrasi, di hadapan sang suami yang beberapa saat lalu kembali memotong adegan membuat Samuel kesal dan menyuruh semuanya untuk istirahat sebentar. Pria di hadapannya itu memberikan tatapan tidak berdosanya yang membuat Nena menghela napas kesal.


 


 


"Kamu kenapa sih, Mas. Kapan selesainya kalo kamu terus motong adegan sepihak kaya gitu. Aku capek, Mas ngulang terus." Nena melepaskan jas sang suami yang menempel di pundaknya.


 


 


Justin kembali memakaikan jas ke pundak sang istri, membuat Nena berdecak sebal. "Kalo capek, ayo kita pulang," ajaknya.


 


 


"Mas." Nena merajuk, mereka kini duduk di dalam ruangan ganti. Dan saat seorang kru mengabarkan untuk bersiap kembali, Nena beranjak berdiri. Melepaskan jas dari pundaknya dan memberikan pada sang suami. "Kamu mau ikut atau di sini aja?" tanyanya.


 


 


Justin menyandarkan tubuhnya ke sofa, memeluk jas di tangannya kemudian membuang muka. Gerakan tangannya seolah mengusir. Pria itu tidak berkata apa-apa hingga Nena pergi, dan tidak lama kemudian kembali lagi dan duduk di sampingnya.


 


 


"Ada apa?" Tanya Justin.


 


 


"Jimi pulang," jawab Nena.


 


 


"Siapa Jimi?"


 


 


"Pemain prianya."


 


 


"Oh." Si gondrong itu, baguslah, pikir Justin. Dia tidak pernah tahu bahwa hal itu tidak akan berdampak bagus untuk nasib dirinya. Hingga Samuel memasuki ruangan dan mengomel seperti orang gila.


 


 


"Kau harus bertanggung jawab. artisku pulang, dan syuting tidak bisa aku lanjutkan. Ya Tuhan buruk sekali hari ini."


 


 


"Teruskan saja besok, cari artis yang lain. Mudah, kan." Justin menjawab dengan tenang.


 


 


"Dan kembali menyewa semuanya untuk persiapan besok? Tidak-tidak, kau gila." Samuel mengacak rambutnya prustrasi, hingga seorang kru mendekatinya dan membisikan  sesuatu yang membuat raut wajahnya cerah kembali, Justin melirik curiga.


 


 


"Apa?" Tanya Justin pada Samuel yang menatapnya dengan senyum penuh arti.


 


 


 


 


Justin membulatkan matanya galak. "Itu tidak akan pernah terjadi."


 


 


***


 


 


Nena tersenyum-senyum sendiri, melihat sang suami terus diomeli oleh  Samuel karena peranannya yang begitu kaku. Akhirnya dengan segala bujuk rayu, sang suami mau menggantikan Jimi berperan menjadi partner Nena.


 


 


Suaminya itu berdiri di antara helaian kain putih yang digantun menyerupai tirai-tirai, dirinya ber-akting seolah-olah tengah mencari sumber keharuman dengan terus menyibak kain putih yang berkibar-kibar di sekitarnya.


 


 


"Lakulanlah dengan penuh perasaan, Justin. Tatapan matamu itu kurang menjiwai, jangan samakan kain itu dengan hordeng, Memangnya kau pikir ini di rumahmu." Samuel terus mengomel.


 


 


"Iya, iya, aku mengerti." Justin menjawab dengan kesal, melemparkan tatapan teduhnya pada Nena seolah berkata. Demi kamu sayang.


 


 


Nena menoleh saat Samuel menyentuh pundaknya, membuatnya agak terkejut, kemudian sedikit menghindar. "Giliranku?" Tanyanya.


 


 


"Kenapa melamun, ayo bersiap-siap," ucap Samuel. Dan Nena mengangguk sebagai jawaban, kemudian beranjak menjauh.


 


 


Adegan selanjutnya Justin mulai bisa membawa diri, terlebih lagi kini ditemani oleh sang istri. Persis seperti sesaat yang lalu si brewok menelusuri lengan Nena, kini giliran Justin yang melakukan hal yang sama.


 


 


"Kameramen, fokus tangan kanan di lengan, abaikan yang melingkar di perut." Samuel memberi arahan, dan Justin tampak acuh, para kru dan yang lain terlihat cekikikan. Nena jadi malu sendiri.


 


 


"Ya Tuhan mesra sekali pasangan ini,"  celetuk seorang wanita yang Nena tidak tahu itu siapa. Dan suaminya yang kini tampak fokus mencium pundaknya itu sepertinya tidak terpengaruh.


 


 


"Abaikan, abaikan semuanya, Justin, anggap ini adalah ruangan pribadimu." Samuel kembali berceloteh yang entah kenapa terdengar menggelikan di telinga Nena.


 


 


Nena merasa pelukan suaminya itu semakin agresif dan Samuel menyuruh wanita itu untuk fokus ke selogan dan beberapa kalimat yang harus ia ucapkan, sesat dia jadi lupa. Dan akhirnya pria blasteran yang bertugas sebagai sutradara itu meneriakan kata cut, dan menghentikan kegiatan untuk sementara, tapi suaminya itu malah seolah ketiduran di pundaknya.


 


 


"Mas, jangan gitu, ih."


 


 


Justin mengangkat kepala, "udah selesai?" Tanyanya.


 


 


"Tinggal ini aja." Nena menunjukan lembaran kertas berupa kalimat yang harus ia ucapkan, "kamu biasa aja, jangan terlalu lengket gitu," tegur Nena yang ditanggapi dengan malas oleh suaminya, dari pada memerankan sebuah iklan sabun mandi, Nena lebih merasa seperti tengah membuat iklan untuk alat kontrasepsi.  Memalukan sekali.


 


 


"Rasakan keharuman dan kelembutannya, love, suami maaakin cinta," ucap Nena dengan penuh penghayatan di depan kamera, dan seorang Justin hanya perlu berdiri di sebelahnya dengan memamerkan senyum termanis yang ia punya.


 


 


Dan saat Samuel meneriakan kata cut dan bertepuk tangan yang disambut oleh para kru di sana. Justin malah seolah lupa mereka berada di mana, pria itu kembali melingkarkan kedua tanganya di perut Nena, dengan wajahnya yang tenggelam di ceruk lehernya. Efek sabun love ternyata seberbahaya ini pikir Nena yang merasa risi menjadi tontonan dan pusat perhatian.


 


 


"Teruskan saja Bos. Kami pulang dulu."


 


 


Entah siapa yang meneriakan itu, yang jelas wajah Nena sudah memerah saking malunya. Ditambah lagi siulan-siulan menggoda yang terlontar dari mulut mereka sebelum akhirnya tertawa bersama. Nena diam saja.


 


 


"Mas, udah dong, aku malu tau." Nena berusaha melepaskan diri, namun suaminya itu hanya tertawa pelan sebagai tanggapan.


 


 


Nena menoleh saat sang suami mengangkat kepala, menatap manik mata Justin yang tampak berkabut, wanita itu menahan napas. Nena kenal sorot mata itu, Nena hafal hembusan napas yang memburu dari suaminya yang mesum itu.


 


 


"Sayang," ucap Justin lirih, suaranya tampak parau, Nena hanya bergumam sebagai jawaban. "Ayo kita pulang, aku nggak tahaaan," bisiknya kemudian.


 


 


***iklan***


 


 


Netizen; Thor, thor, Bang Entin kaga tahan ngapa thor.


 


 


Author; Mules kali.


 


 


Netizen: Jangan pura-pura bego apa thor.


 


 


Author; Masih mending gue pura-pura bego, dari pada lu bego beneran.


 


 


Netizen: Buset itu mulut makin lama makin pedes aja.


 


 


Author; Bodo amat, sono-sono lu ah, gue lagi males bikin iklan.


 


 


Netizen; ini dari tadi kita bikin iklan thor, btw.


 


 


Author; oh iya, yaudah sono lu ah, gue muak sama lu.


 


 


Netizen; Sungguh teganya dirimu teganya, teganya, teganya.


 


 


Author; Nggak usah nyanyi lu, pala gue mules.


 


 


Netizen; Perut thor.


 


 


Author; Bodo amat.