OH MY BOSS

OH MY BOSS
ARYA YANG SIAL



Arya berdiri di depan pintu ruangan Gilang dan tanpa basa-basi langsung mencari Pelangi dan ingin bicara pada wanita itu. Jelas saja Andrew yang masih berada di ruangan Gilang segera manghampiri Arya dan mendaratkan tinjunya ke wajah Arya hingga Arya jatuh tersungkur di lantai.


Pelangi meringis, begitu juga dengan Gilang dan Toni. Ketiganya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Andrew yang memang selalu menggebu-gebu dan emosional jika sudah bertemu dengan sosok yang dibencinya. Tanpa bertanya dulu apa keperluan Arya, Andrew langsung menghajar pria itu.


"Bisakah jangan langsung main tinju?!" Arya berteriak sembari bangkit berdiri dan menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


Andrew menggerakkan lengannya maju mundur, bersiap untuk mendaratkan tinju di wajah Arya lagi. "Otakku refleks memberi perintah untuk menghajar bang_sat sepertimu. Jadi maaf jika kamu terkejut."


Buk!


Arya kembali terjatuh, tetapi tidak sampai tersungkur di lantai kali ini, karena Maulana tiba tepat waktu dan menahan tubuh Arya agar tidak terjatuh.


"Hai, apa yang Anda lakukan padanya?" tanya Maulana, kedua matanya memelototi Andrew, menatap Andrew dengan tatapan tidak suka karena pria itu telah berani melukai Arya.


"Aku sedang meninjunya, apa Anda tidak lihat, hah?" jawab Andrew.


"Tapi kenapa Anda meninjunya?" Maulana kembali bertanya.


"Tentu saja karena dia pantas untuk ditinju, memangnya kenapa lagi coba." Andrew menjawab dengan santai, membuat Arya dan Maulana gemas.


"Sudahlah, Ndrew, tanyakan saja padanya apa tujuannya kemari dan untuk apa dia ingin berbicara pada istriku." Gilang menghentikan perang mulut Antara Andrew dan juga Maulana yang sepertinya akan berlanjut.


Maulana maju selangkah, tidak ingin masuk jauh lebih ke dalam ruangan Gilang. Ia khawatir jika Andrew yang galak malah meninjunya juga. "Kami ingin bertanya pada Nyonya Pelangi tentang Anneth. Apakah Nyonya Pelangi mengenal Anneth?"


"Ada apa dengan Anneth?" Pelangi menghampiri Maulana dan bertanya pada pria itu. "Kenapa dia?"


"Anda mengenalnya?" tanya Maulana lagi.


Pelangi mengangguk. Ia merasa tidak perlu berbohong jika dirinya mengenal Anneth. "Ya, aku mengenalnya. Dia seorang suster yang dulu pernah merawat ayah mertuaku."


"Bisakah Anda memberitahu kami di mana dia tinggal. Kami ada urusan dengannya," pinta Maulana.


Pelangi menggeleng. "Tidak bisa."


Maulana menatap tajam ke Pelangi. "Kenapa tidak bisa?"


"Karena kalian semua orang jahat. Mana mungkin aku memberikan alamat Suster An pada orang jahat seperti kalian." Pelangi berujar dengan tegas.


Maulan tersenyum ramah kepada Pelangi, ia sebenarnya tidak terima saat Pelangi mengatainya sebagai orang jahat. Namun, ia bisa memaklumi hal itu, karena Arya memang sudah bertindak kurang ajar dan melecehkan Pelangi. Maka tidak heran, Pelangi menganggap dirinya juga sebagai orang jahat, karena dirinya adalah asisten Arya.


"Nyonya Pelangi yang terhormat, aku bukanlah orang jahat, begitu juga dengan Arya. Kami ini orang baik-baik dan--"


"Sudahlah jangan banyak bicara. Mana ada orang baik-baik yang ingin merebut istri orang lain." Andrew mendorong Maulan menjauh dari Pelangi.


"Meminjam, bukan merebut." Arya mengoreksi ucapan Andrew.


Andrew menghampiri Arya dan melayangkan tinju di wajah pria itu lagi. "Nah, itu lebih parah. Pelangi itu manusia, bukannya barang yang bisa dipinjam. Dasar bedebah!"


Wajah Gilang memerah sekarang. Emosinya tersulut saat mendengar ucapan Arya yang mengatakan ingin meminjam istrinya. Melihat wajah Gilang yang berubah merah padam, Pelangi menghampiri Gilang dan membungkuk sedikit agar bisa berbicara dengan Gilang.


"Ingin melakukan sesuatu? Katakan saja, maka aku akan melakukannya untukmu."


"Tidak, Pelangi, walaupun saat ini aku ingin sekali melempar wajah Arya dengan salah satu kaktusku, tapi aku tidak mungkin memintamu melakukannya karena ...."


Gilang menghentikan ucapannya, saat dilihatnya Pelangi sudah melangkah menjauhinya, menuju jendela di mana terdapat rak berisi puluhan vas berisi kaktus mini dan sekulen.


"Nah, istrimu akan melakukan apa yang kamu kehendaki sekarang," gumam Toni.


"Argh!" Arya menjerit saat vas yang Pelangi lempar mengenai pipinya.


"Kuharap giginya rontok," gumam Pelangi.


"Apa seluruh keluarga Andreas memiliki sifat tidak sopan seperti ini? Bagaimana bisa kalian menyerang tamu?!" Arya berteriak.


"Pergilah, sebelum aku berpikir untuk melemparmu dengan vas yang ada di ujung sana," ucap Pelangi, sembari menunggu juk sebuah Cm vas berukuran besar yang ada di sudut ruangan.


"Keterlaluan kalian semua. Padahal aku datang baik-baik." Arya mengomel, lalu segera berbalik pergi meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa.


Maulana mengekor langkah Arya. Ia takut jika dirinya juga akan menjadi korban keganasan Pelangi dan Andrew yang sangat mengerikan.


Setelah kepergian Arya dan Maulana, Pelangi segera menghampiri meja kerja Gilang. Ia meraih tas tangannya, mengambil ponsel dan menghubungi nomor ponsel Anneth.


Sekali, dua kali, bahkan hingga panggilan ketiga Anneth tidak kunjung menerima panggilan dari Pelangi.


"Aku harus menemuinya," ujar Pelangi, setelah ia memutuskan panggilan.


"Dia tidak menerima teleponmu?" tanya Gilang.


"Tidak. Aku takut sesuatu terjadi padanya. Bukankah dia menemui Arya di hotel beberapa hari lalu."


"Suster An menemui Arya, tapi untuk apa?" tanya Toni yang terlihat bingung.


"Ya, untuk apa? Apa mereka saling kenal?" Andrew bertanya.


Pelangi menatap Toni kemudian mulai menjelaskan apa yang Anneth berusaha lakukan untuk dirinya. "Suster An adalah perawat Arya. Ternyata Arya itu mengidap suatu penyakit gangguan mental yang bisa jumat kapan saja. Suster An tahu bahwa Arya memiliki niat tidak baik padaku saat Arya menjalani sesi terapi dengan dokter tempat Suster An bekerja. Karena alasan itulah Suster An berinisiatif untuk mengalihkan perhatian Arya dariku dengan cara--"


"Pengorbanan." Toni memotong ucapan Pelangi.


Pelangi mengangguk. Kedua matanya berembun sekarang. "Ya, dia berkorban untukmu agar Arya tidak terus mengejarku. Jika sampai terjadi sesuatu padanya, aku pasti akan merasa sangat bersalah. Itulah sebabnya aku harus menemuinya sekarang." Pelangi mulai terisak.


"Tenanglah, Sayang, jangan menangis. Aku akan mengizinkanmu untuk pergi ke sana. Tapi berangkatlah dengan Amara dan Toni. Apa kamu masih ingat di mana Suster An tinggal?"


Pelangi menghampiri Gilang, kemudian menempelkan kedua pipinya di pundak pria itu agar kedua matanya yang basah terusap oleh pundak Gilang. Pelangi tahu jika Gilang saat ini pasti ingin menenangkannya dan mengusap kedua pipinya yang basah, itulah sebabnya Pelangi melakukan hal itu untuk Gilang.


"Aku masih ingat di mana Suster An tinggal," jawab Pelangi.


"Pergilah ke sana dan cari tahu apa yang terjadi padanya. Jika dia dalam masalah, bawa dia ke rumah kita. Bagaimana pun juga dia memiliki niat yang baik padamu sejak awal. Jangan menangis lagi, dan kamu juga harus ingat bahwa apa pun yang terjadi bukan karena kesalahanmu. Jadi, jangan menyalahkan dirimu, Sayang."


Pelangi mengangguk. Ia meraih tangan Gilang dan mengecupnya. "Terima kasih atas izinnya. Aku akan pergi dengan Amara dan Toni. Sementara Andrew yang akan menemanimu di sini."


Gilang tersenyum dan mengecup kening Pelangi saat wanita itu mendekatkan keningnya pada bibir Gilang. "Berhati-hatilah di jalan. Jangan lupa kabari aku jika sudah tiba di sana."


Pelangi mengangguk, lalu ia bangkit berdiri dan berjalan melewati pintu yang kembali berayun menutup setelah kepergiannya dan Toni.


Setelah kepergian Pelangi. Gilang menggerakkan tuas kursi rodanya untuk menghampiri Andrew yang duduk di sofa.


"Apa ada kabar terbaru dari Alex? Apa dia sudah mengaku bagaimana caranya dia bisa bertahan hidup dan dari mana dia mendapat semua foto-foto mengerikan yang dia kirim padaku?" Gilang bertanya pada Andrew.


Andrew menegakan duduknya dan berkata. "Ya, dia sudah mengatakannya. Setelah kuhajar berulang kali akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya. Dia menemukan semua foto itu dari ponsel Pelangi."


Bersambung.