OH MY BOSS

OH MY BOSS
WILLIAM



"Ayo lah Will kau harus segera bersiap." Wilona mendorong putranya ke depan lemari pria itu, setelah seharian tadi membantu Lily pindahan, malam ini dia dipaksa untuk menghadiri sebuah janji dengan perempuan yang akan ibunya itu kenalkan.


 


 


William berdecak malas, "ok baiklah Mom, aku akan menemuinya tenang saja."


 


 


Wilona tampak berseri-seri, wanita itu sungguh bahagia sekali jika anak semata wayangnya itu mau menuruti permintaannya. "Kau ingat kan siapa yang akan kau temui?"


 


 


William sedikit berpikir, "ya, namanya Graceva alexandra, putri tunggal dri Mr Alexander, dia lulusan–,"


 


 


"Bukan bagian itu sayang," potong Wilona, wanita itu kemudian kembali menuturkan ciri fisik yang dimiliki perempuan yang ia harapkan menjadi menantunya itu.


 


 


William menghela napas, menatap sang mami dengan pandangan yang teduh, ok mungkin dirinya sudah beranjak tua, tapi terlalu mengkhawatirkan dia yang tidak juga  berrumah tangga tidak terlalu bagus juga, toh mereka yang pernah menjalin hubungan suami istri memilih berpisah dan sendiri dalam waktu lama, apa bedanya dengan dirinya yang sampai saat ini juga masih memilih sendiri, toh sama saja.


 


 


William mengangguk, dengan masih sibuk mengenakan bajunya pria itu berkata. "Iya Mom, aku ingat. Nama panggilannya Eva, tinggi, kulit halus, rambut curly sebahu, dan mengenakan gaun–" pada bagian itu William mulai lupa, dia takjub apakah dirinya tengah menjabarkan ciri fisik seorang model.


 


 


Wilona yang membantu memasangkan kancing kemeja pada lengan putranya kemudian tersenyum,"yang terpenting dia gadis yang baik, " ucapnya yakin.


 


 


Sesaat William terdiam, meraih tangan wanita di hadapannya itu kemudian ia cium, meski kedua orangtuanya telah lama bercerai, tapi William tetap menghormati keduanya, baginya tidak ada yang lebih penting dari mereka, dan tidak bisa  juga bagi seorang William untuk memilih salah satunya.


 


 


**


 


 


Nyaris sepuluh menit William menunggu, hingga kedatangan seorang gadis muda yang ciri fisiknya telah ia hafal di luar kepala datang menghampiri dirinya.


 


 


"William!" Pekik gadis itu dan langsung menghambur padanya.


 


 


William mengerjap bingung, mengapa gadis ini seolah begitu mengenalnya, padahal bertemu saja sepertinya ini adalah kali yang pertama. "Tunggu. Kita bahkan belum berkenalan."


 


 


Gadis bernama Eva tampak begitu kecewa, namun senyum ceria itu seperti dapat menutupi keadaan hatinya. "kita bahkan pernah tidur bersama," ucap gadis itu.


 


 


Oh astaga benarkah, apakah gadis ini adalah salah satu wanita yang pernah bermalam dengannya, mengapa dia bisa lupa, "aku tidak ingat, maaf," ucap William.


 


 


Eva tertawa renyah, "tentu saja kau tidak akan ingat, sudah lama sekali saat kita masih anak-anak," ucapnya.


 


 


Kerutan di dahi William semakin dalam, pria itu mencoba mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan gadis blasteran di hadapannya, "Kau?"


 


 


Eva mengangguk, menunggu reaksi pria di hadapannya dengan begitu antusias, "iya Will?"


 


 


"Aku tidak ingat, maaf."


 


 


Eva menghela napas, gadis itu mengusap wajahnya namun tertawa juga, "ini aku, Eva, Will, E–va," ejanya dengan gemas.


 


 


William kembali berpikir, dan di dalam memori kepalanya hanya ada satu Eva teman masa kecil yang begitu gemuk dan biasa saja, dan gadis ini justru terlihat sempurna, apakah..


 


 


"Kau Eva Alexan–," William menggantung kalimatnya, pria itu tampak tidak percaya. Eva adalah teman masa kecilnya, benarkah.


 


 


Seolah pertanyaan itu telah terlontar dari mulut William, Eva kemudian mengangguk, "iya, ini aku Eva," ucapnya meyakinkan.


 


 


William tertawa, "tidak mungkin, kau dulu begitu gemuk dan menjengkelkan," ucapnya yang kemudian terdiam.


 


 


"Kau berkata tidak percaya tapi menilai aku yang dulu juga, sebenarnya kau tau tidak bahwa aku adalah Eva yang sama?"


 


 


Masih merasa tidak percaya, William kemudian tersenyum, namun jika diperhatikan, gadis di hadapannya memang tampak mirip dengan Eva masa kecilnya, "apa kabar?" Tanya William, dan senyum gadis di hadapannya malah tampak menunggu. "Eva?"


 


 


Eva tertawa sumbang, "Ah, aku tidak baik sekarang, karena kau ternyata lupa," sesalnya.


 


 


"Bagaimana aku tidak lupa, kau sekarang begitu cantik," puji pria itu.


 


 


Sesaat keduanya terdiam, Eva ingat, saat kecil dulu, selain ayah dan ibunya, William adalah satu-satunya teman yang mengatakan bahwa dia begitu cantik, disaat semua orang memaki fisiknya. Hanya pria itu yang saat kecil dulu mau berteman dengan dirinya.


 


 


"Kau tau Will, saat tante Wilona mengatakan bahwa kau masih sendiri dan tengah mencari seseorang untuk diajak kencan, aku begitu bahagia, dan tawaran itu langsung saja aku terima."


 


 


William tertawa, "Mami memang begitu berlebihan, sebenarnya bukan aku yang mencari teman kencan, tapi dia," ucapnya.


 


 


"Tapi kan itu untukmu, bukan untuknya," bela Eva.


 


 


William menanggapi dengan senyuman, "aku tidak menyangka kau bisa seberubah ini," ucapnya.


 


 


 


 


"Jangan bilang jika kau terlalu sibuk bekerja dan melupakan untuk mencari pasangan," sindir William.


 


 


Eva tertawa, kemudian menggeleng, "tidak juga," sangkalnya. "Kau tidak banyak berubah Will. Masih sama seperti–,"


 


 


William memotong kalimat gadis itu dengan sebuah gelengan. "Aku berbeda, Eva, kau pasti akan kecewa."


 


 


Eva mengerutkan dahi, "Kenapa? Kau tampak sama saja, masih terlihat baik, sama seperti sebelumnya."


 


 


William tersenyum, "orang yang terlihat baik, bisa jadi dialah seseorang yang paling berbahaya," ucapnya.


 


 


"Aku tau banyak tentang dirimu."


 


 


Kalimat itu membuat William terdiam, "tau apa?" Pancingnya.


 


 


Eva tersenyum, "hubunganmu dengan para wanita yang berbeda, aku tau."


 


 


William benar-benar terdiam, tatapan teduh ia lontarkan pada gadis di hadapannya, "lalu kenapa kau masih mau berkencan denganku?"


 


 


"Aku tau kau tidak begitu, setiap orang punya alasan, dan suka padamu kukira tidak butuh banyak alasan."


 


 


Pria di hadapannya itu terkekeh, "aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, jelas pria lain akan lebih mampu membuatmu merasa bahagia."


 


 


"Sejak dulu, yang aku bayangkan akan menikah denganku adalah kau," ucap Eva, nadanya tampak serius.


 


 


Datangnya pelayan dengan membawa hidangan makan malam yang sebelumnya mereka pesan sontak mengalihkan perhatian, keduanya berterimakasih, mulai mengambil jatah sendok masing-masing hingga kemudian melanjutkan obrolan.


 


 


"Sejauh mana kau tau tentang diriku, selain model kurasa kau juga seorang mata-mata."


 


 


Eva terkekeh pelan, "tidak banyak, hanya saja aku percaya kau dapat berubah."


 


 


William mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut, mengunyahnya pelan dengan tatapan yang mengarah penuh tanya pada gadis di hadapannya, yang tampak sibuk dengan menu di atas meja.


 


 


"Jika aku berkata telah berhenti dan tidak lagi melakukan kebiasaan burukku itu, apa kau dapat percaya?" Tanya William.


 


 


Eva mendongakkan kepala, "tentu saja, manusia percaya dengan apa yang ingin dia percaya bukan, dan aku percaya padamu," ucapnya dengan ceria, "Kau bohong saja Will, aku pasti akan percaya."


 


 


"Tapi aku tidak bohong," ucap William, dari tatapannya yang tampak serius, Eva menjadi sedikit takut jika pria itu akan kembali menghilang.


 


 


"Apalagi kau tidak bohong, aku akan lebih percaya bukan, karena ternyata ada buktinya."


 


 


William menghentikan gerakan sendok di tangannya, "Eva," panggil pria itu.


 


 


"Iya?"


 


 


"Aku bukan pria yang baik, aku tidak mau kau menyesal nantinya."


 


 


"Tidak akan, Will, sejak dulu aku menyukai dirimu yang apa adanya."


 


 


 


 


***


 


 


Author: Sampe sini aja ya bonus chapternya, semoga kalian udah nggak penasaran kenapa Will gak sama Lily dan sama siapa bang bule nikah aku udah jawab. Makasiih.


 


 


Sumbangkan vote kalian buat NG.


 


 


Netizen: Bayangin lu nyari jodoh jauh jauh sampe ke Negri seberang dan jodoh lu malah tetangga sendiri wkwkwk