OH MY BOSS

OH MY BOSS
TUAN BUCIN



Andrew diam saja begitu mendengar penawaran dari Exel, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Sembari mengelus dagunya, Andrew berkata, "Sepertinya si Delia ini adalah seseorang yang sangat spesial buatmu. Kamu menolak untuk terlihat buruk di hadapannya. Padahal kamu adalah manusia paling menjijikan menurutku. Hidup dari hasil menghilangkan nyawa orang lain adalah dosa besar dan tidak pantas dijadikan sebagai mata pencaharian. Bagaimana bisa kamu hidup dengan cara seperti itu."


Exel tertawa mendengar ocehan Andrew. "Tahu apa kamu tentang dosa? Jika kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan, lebih baik tidak usah berkomentar. Manusia yang hidup berkecukupan tidak akan mengerti apa itu dosa, karena mereka berada di zona nyaman. Satu-satunya yang mereka khawatirkan hanyalah persoalan asmara. Bukan tentang bagaimana caranya agar tetap bertahan hidup saat dunia seakan meninggalkan dan tak lagi peduli."


"Cara berpikirmu tidak benar, " ujar Andrew.


"Ya, memang tidak benar bagimu, karena kita bagai hidup di dua sisi mata uang uang berbeda."


Andrew tidak lagi menjawab, karena ia tahu jika tidak ada gunanya berdebat dengan seseorang yang telah sakit hati pada dunia. Apa pun akan salah di mata orang seperti itu.


"Oke, pendapatmu adalah pendapatmu. Aku tidak akan mencampuri pola pikirmu yang agak sinting itu. Mari kita bicarakan tentang penawaranmu tadi," ujar Andrew, kemudian ia melanjutkan, "Aku setuju, aku akan mengatakan pada Delia, kalau sebenarnya telah terjadi salah paham di antara kita. Bagaimana?"


Exel mengangguk. "Ya, keputusan itu jauh lebih baik. Setidaknya kita akan sama-sama diuntungkan. Lagi pula, tidak ada gunanya memberitahu Delia apa yang sebenarnya. Dia hanya akan membenci dirinya sendiri dan membenci keadaan yang sudah lama sekali tak berpihak padanya. Untuk apa membuat dia patah semangat, sedangkan selama ini aku telah berusaha semampuku untuk membuat dia tetap bertahan hidup."


Andrew diam saja. Melihat Andrew tidak menanggapi ucapannya, Exel segera bangkit berdiri. Ia butuh udara segar sekarang. Dadanya terasa sesak, karena semua hal yang terjadi dalam hidupnya jika dipikirkan lagi tidak ada yang baik satu pun. Menyedihkan!


"Aku akan keluar sebentar. Jika kamu akan pergi ke suatu tempat, panggil saja aku di halaman depan. Jangan tinggalkan Delia sendirian," ujar Exel.


Andrew mengangguk. "Aku akan menjaganya di dalam jika boleh."


Exel tersenyum miring. "Tentu boleh. Asal jangan macam-macam dan jangan sentuh dia."


Andrew menaikan sebelah alisnya. "Apa aku terlihat seberengsek itu? Aku tidak mungkin menggoda kekasih orang lain."


Exel mengedikan bahu, kemudian berlalu pergi dari hadapan Andrew. Sepeninggalan Exel, Andrew bangkit berdiri dan segera masuk ke dalam ruangan di mana Delia dirawat. Ruangan yang dingin dan berbau obat-obatan itu terlihat suram dan mencekam. Lampu yang telah dimatikan dan menyisakan sedikit cahaya dari lampu tidur di sudut kamar menambah kesan suram pada ruangan itu.


Andrew melangkah memasuki ruangan jauh lebih ke dalam, menuju sebuah brankar berukuran sedang yang ada di tengah ruangan. Di atas brankar terlihat Delia sedang berbaring sembari menatap langit-langit.


"Kamu tidak tidur?" tanya Andrew, begitu menyadari bahwa kedua mata Delia terbuka.


Delia mengalihkan pandangannya ke Andrew, kemudian ia tersenyum kepada pria itu. "Aku tidak bisa tidur."


"Aku akan keluar kalau begitu. Aku tadi hanya ingin mengecek keadaanmu saja."


"Tinggalah di sini, ada hal yang ingin kutanyakan padamu," pinta Delia.


"Apa ini tentang ucapanku saat di rumahmu tadi. Jika memang tentang itu, maafkan aku, sepertinya aku salah paham pada kekasihmu itu, siapa namanya tadi? Exel, ya?"


Delia tertawa. Sebenarnya ia ingin mengatakan kepada Andrew bahwa Exel bukanlah kekasihnya, tetapi urung ia lakukan. Toh, hal itu tidaklah terlalu penting, apalagi Andrew adalah orang yang baru dikenalnya hari ini.


"Aku berkata jujur. Aku hanya salah paham pada si Exel itu. Aku pikir dia adalah orang yang menabrak Pelangi, tapi ternyata bukan. Hanya rambut keduanya yang sama, sama-sama panjang." Andrew yang merasa bahwa Delia menertawakan penjelasan darinya, kembali memberi penjelasan agar Delia percaya, karena hanya dengan begitu ia dapat mengetahui siapa seseorang yang Gisel kirim untuk mengganggu hubungan Gilang dan Pelangi.


"Pelangi? Dia pasti kekasihmu?" tanya Delia.


Andrew menggeleng. "Dia istri saudaraku, tapi tidak lama lagi pasti akan menjadi istriku."


Delia terbatuk, dan seketika kedua matanya melotot menatap Andrew dengan tatapan aneh saat mendengar ucapan pria itu. "Kamu waras? Kenapa bisa istri saudaramu akan menjadi istrimu juga? Kamu berniat untuk merebut istri saudaramu?"


Andrew menggeleng dengan cepat, ia tidak suka pada konsep dirinya merebut Pelangi, karena pada kenyataannya dirinyalah yang paling tulus mencintai Pelangi, sedangkan Gilang tidak mencintai Pelangi sama sekali. "Aku tidak merebut siapa pun dari siapa pun. Keadannya rumit dan terlalu panjang untuk diceritakan."


Delia mengangguk. "Oke, tidak masalah. Semua adalah urusanmu. Aku hanya penasaran saja bagaimana wajah wanita yang bernama Pelangi itu. Dia pasti sangat cantik, ya?"


Andrew mengangguk. "Ya, dia sangat cantik dan juga sangat baik. Kalian pasti akan cocok jika berteman. Bagaimana jika kamu ikut saja dengan Exel saat dia kembali ke kota, bukankah dia bekerja sebagai OB di Andreas Group. Lagi pula, tidak mungkin kamu tinggal seorang diri dalam keadaan yang seperti ini," ujar Andrew. Memang benar apa yang ia katakan jika Delia tidak mungkin tinggal seorang diri dalam keadaan sakit, sedangkan Exel juga tidak mungkin untuk tetap menemani Delia tanpa bekerja, memangnya mau makan apa mereka berdua. Lagi pula, penawaran Andrew itu beralasan, ia ingin terus mengawasi Exel agar pria itu tidak lagi memiliki kesempatan untuk berhubungan dengan Gisel, karena bisa saja Exel kembali bekerjasama dengan Gisel untuk menyakiti Pelangi.


***


Kediaman keluarga Andreas terlihat sibuk sekali pagi ini, karena Farhan Andreas yang keadaannya sudah semakin membaik akan mulai berangkat ke kantor seperti biasanya, begitu juga dengan Gilang dan Toni.


Pelangi yang merasa harus melakukan peran ganda, yaitu sebagai menantu dan juga istri yang baik bersikeras untuk mempersiapkan segala keperluan Gilang dan Farhan seorang diri. Ia menolak bantuan pelayan, apalagi bantuan dari Suster An yang belum kembali ke rumah sakit walaupun Farhan Andreas telah dinyatakan sehat. Meski pun begitu, Pelangi tetap meminta bantuan Amara, secara khusus bahkan Pelangi memohon izin pada Gilang agar Amara tidak usah masuk bekerja hari ini.


Awalnya Amara bingung, karena tidak mungkin Pelangi memintanya untuk tetap tinggal di rumah hanya karena sahabatnya itu begitu sibuk menyiapkan jas, dasi dan bekal untuk Gilang dan Farhan.


Setelah keributan yang terjadi, akhirnya Farhan masuk ke dalam sedan mewahnya sambil membawa kotak bekal yang berisi sandwich buatan Pelangi, sementara Gilang dan Toni masuk ke dalam sedan satunya lagi, sedan hitam yang telah Toni persiapkan untuk Gilang.


"Ingat, jangan ke mana-mana tanpa pengawal dan juga jangan lupa istirahat, Nak." Farhan memperingatkan Pelangi dari balik kaca jendela mobil yang terbuka.


Pelangi yang berdiri di halaman segera mengacungkan ibu jari sembari tersenyum kepada Farhan. "Tenang saja, Ayah, aku tidak akan ke mana-mana tanpa mengabari Ayah dan Gilang."


"Bagus. Baiklah cucuku, kakek berangkat ke kantor dulu," ujar Farhan, sembari melambai ke perut Pelangi.


Setelah sedan Farhan berlalu dari hadapannya, sedan milik Gilang mengambil tempat itu. Alih-alih melambai dari balik kaca jendela seperti yang Farhan lakukan, Gilang keluar dari dalam mobil lalu memeluk Pelangi, kemudian mendaratkan kecupan di kedua pipi gadis itu, kening, dagu dan bibir.


"Ingat, Pelangi, jangan pergi ke mana pun tanpa pengawal dan sopir. Aku melarang keras kamu bepergian menggunakan taksi, grab, angkot atau ojek. Aku juga melarangmu pergi hanya berdua dengan Amara. Pokoknya jangan ke mana-mana. Jika ingin sesuatu, kamu bisa minta pelayan untuk membelikannya untukmu, atau kamu hubungi saja aku. Aku akan langsung pulang jika memang perlu," ujar Gilang, panjang lebar.


Pelangi mengangguk. "Baiklah, baiklah, aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap berada di tumah sampai kamu datang."


Gilang menggigit kecil hidung Pelangi. "Gadis pintar, kalau begitu aku pergi dulu," ujar Gilang, lalu ia beralih memandang Amara yang berdiri di belakang Pelangi. "Amara, tolong jaga Pelangi, jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Amara mengangguk. "Baik, Pak, aku akan menjaganya semaksimal mungkin. Tapi bisakan gajiku dinaikan," canda Amara.


"Mulai bulan ini gajimu akan naik dua kali lipat, tenang saja." Gilang menjawab dengan asal.


Mendengar jawaban dari Gilang, Amara lantas melompat kegirangan.


"Hai, Tuan bucin, cepatlah masuk atau kutinggal!" Toni berteriak dari dalam mobil.


Mendengar teriakan Toni, Gilang segera masuk ke dalam mobil sambil mengomel, karena menurutnya Toni sangat tidak sabar.


Toni yang mendengar omelan Gilang hanya bisa memasang headseat pada kedua telinganya, lalu mobil meluncur dengan cepat menuju gedung perkantoran Andreas Group.


Setelah mobil Gilang tak lagi terlihat, Amara merentangkan kedua tangan sambil menguap. "Akhirnya kesibukan ini berakhir juga. Jika kamu tidak keberatan, Nyonya, izinkan aku untuk melanjutkan tidurku. Jarang sekali aku bisa tidur hingga siang." Amara berbalik sambil melambaikan tangan ke Pelangi. Namun, Pelangi menarik tangan Amara, membuat langkah sahabatnya itu berhenti seketika.


"Ada yang harus kita kerjakan, Ra," desis Pelangi, ia lalu menarik lengan Amara memasuki rumah, berjalan dengan cepat menuju kamar tanpa menjelaskan apa pun pada Amara yang terlihat kebingungan.


Setibanya di kamar, Pelangi segera membuka lemari dan meminta Amara untuk membantunya memilah beberapa pakaian yang sudah jarang dikenakannya.


"Bisa tolong bantu aku untuk memilih baju mana yang sudah tidak terpakai," ujar Pelangi, sembari mengeluarkan setumpuk pakaian dari dalam lemarinya. "Sebenarnya di rumah Gilang lebih banyak lagi, tapi kita tidak bisa ke sana sekarang. Ayah dan Gilang melarangku pergi ke mana pun."


Amara menatap Pelangi dengan bingung. "Memangnya untuk apa kamu memisahkan baju-bajumu? Mau kamu donasikan?"


Pelangi tidak menjawab, karena ia sibuk mengeluarkan koper dari dalam lemari dan melemparkan koper ke atas ranjang.


"Hai, Pelangi, jawab aku!" Amara menuntut penjelasan.


Pelangi menyeka keringat di wajahnya, lalu mulai memilih beberapa pakaian yang menurutnya tidak akan dikenakannya lagi. "Aku juga tidak tahu untuk apa semua pakaian ini, tapi semalam Andrew meneleponku dan meminta beberapa pakaianku. Hari ini dia akan kembali ke Jakarta. Saat aku tanya dia sedang ada di mana dan bersama dengan siapa, dia tidak menjawab."


"Andrew meminta pakaian wanita? Apa jangan-jangan dia ingin kabur dengan anak gadis seseorang? Bukankah dia sudah lebih dari lima hari tidak terlihat, bisa saja dia sedang melarikan anak orang,'kan?" Amara menarik kesimpulan yang menurutnya paling masuk akal.


"Shuut, jangan ngomong sembarangan. Andrew tidak seperti itu. Kalau dia jatuh cinta pada seorang wanita, dia pasti akan membawa wanita itu ke rumah dan memperkenalkan kepada kita semua, kemudian dia akan melanar secara baik-baik, lalu menikah. Mana mungkin Andrew membawa kabur seorang wanita seperti itu."


Amara berdecak. "Tidak ada kemungkinan yang tidak mungkin, La, pria tampan memang terlihat baik, tapi tidak jarang dari mereka sebenarnya sangat brengsek."


Pelangi bersiul panjang sambil menyenggol lengan Amara. "Apa yang kamu ucapkan adalah berdasarkan pengalaman?" goda Pelangi.


Amara mendengkus kesal. "Ah, sudahlah, ayo kita rapikan saja baju-baju ini." Amara mulai sibuk dengan pakaian-pakaian Pelangi, ia lalu bertanya. "Setelah ini, akan kamu antarkan ke mana baju-baju ini?"


Pelangi nyengir. "Sebenarnya alasanku memintamu untuk libur hari ini, ya, karena kamulah yang akan mengantar baju ini ke alamat yang sudah Andrew kirimkan padaku semalam."


Amara menghela napas. "Gagal dong rencana tidurku!" pekiknya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil terus mengomel.


***


Exel tidak setuju pada pengaturan yang Andrew buat. Ia sama sekali tidak berencana untuk kembali ke Jakarta dan bekerja di Andreas Grop, apalagi membawa serta Delia uanh swdanh sakit ke kota besar itu.


Akan tetapi, Andrew memaksa dengan segala macam cara. Mulai dari membujuk hingga mengancam. "Kamu harus kembali ke sana agar aku bisa mengawasimu. Ya, mungkin aku tidak mempermasalahkan apa yang telah kamu lakukan sebelumnya, tetapi aku harus tetap mengawasimu. Lagi pula, kekasihmu itu bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik jika berada di Jakarta, banyak rumah sakit besar dan bagus di sana."


Exel menggeleng. "Kamu ingin menjebaku, 'kan? Begitu aku tiba di sana, kamu akan menjebloskanku ke penjara."


Andrew menghela napas dengan berat. "Apa aku terlihat selicik itu? Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi."


"Oke, seandainya saja aku setuju untuk kembali dan bekerja di sana, lalu di mana aku akan tinggal? Aku tidak mungkin tinggal di jalanan. Ada Delia bersamaku."


Andrew menepuk tangannya. "Aku sudah menikirkan semua itu. Tenang saja, ada Pelangi yang sudah mengatur semuanya."


"Pelangi?!" Exel melotot mendengar nama Pelangi disebut. "Apa kamu memberitahunya kalau akulah yang telah mencelakainya?"


Andrew tersenyum miring. "Menurutmu?"


Bersambung ....