OH MY BOSS

OH MY BOSS
KITA HARUS TERUS BAHAGIA (END)



Suasana hati Pelangi berubah seketika saat ia mendengar Toni melamar Amara. Walaupun Amara sempat merajuk karena mendapatkan acara lamaran yang tidak romantis, tetapi pada akhirnya Amara mengangguk setuju sembari menangis sesenggukan.


Pelangi masih ingat, dulu sekali Amara pernah berkata ingin mendapatkan momen lamaran yang sulit untuk dilupakan dan dapat ia kenang hingga dirinya menua. Sebuah candle light dinner romantis di pegunungan atau di tepi pantai pastilah akan sangat berkesan. Apalagi jika ditambah dengan setangkai mawar merah. Namun, karena Toni bukanlah tipe pria yang romantis dan memang sedikit kaku, momen tersebut tidak akan pernah bisa Amara dapatkan, kecuali ada campur tangan orang lain yang bersedia membuat kejutan untuk Amara. Seperti dirinya, misalnya.


"Nanti akan kulakukan," gumam Pelangi seorang diri, sembari merapikan blazer yang ia kenakan.


Gilang yang sejak tadi memperhatikan Pelangi dari atas kursi rodanya tersenyum bahagia saat dilihatnya sang istri juga bahagia. Begitu erat persahabatan antara Pelangi dan Amara, hingga saat Amara mendapat kabar bahagia, Pelangi juga akan ikut bahagia. Mood Pelangi berubah 360 derajat.


"Merasa lebih baik?" tanya Gilang.


Pelangi yang sedang menatap pantulan dirinya di cermin segera menoleh dan menghampiri Gilang.


"Tentu. Aku akan bekerja dengan giat mulai hari ini. Aku tidak boleh menjadi pemalas jika aku ingin memberi kado yang layak untuk pernikahan Amara. Maka dari itu aku harus semangat!" teriak Pelangi.


Gilang tertawa. "Segitu semangatnya. Kalau boleh tahu, memangnya apa yang ingin kamu berikan pada Amara dan Toni saat mereka menikah nanti?" Gilang kembali bertanya.


Pelangi diam sejenak, ia terlihat sibuk berpikir sebelum menjawab, "Kapal pesiar atau jet pribadi," ujarnya dengan santai.


Gilang membelalak. "Coba ulangi!" pinta Gilang, yang terlihat begitu terkejut.


Pelangi berusaha menahan senyum melihat ekspresi terkejut di wajah Gilang. Ia tidak menyangka jika Gilang menganggap serius ucapannya.


"Aku bilang, kapal pesiar atau jet pribadi." Pelangi mengulangi ucapannya beberapa waktu lalu.


"Wah, Sayangku, semua itu bukan sesuatu yang mudah didapat," ujar Gilang.


Pelangi tertawa terbahak-bahak. "Kamu serius sekali Gilangku sayang. Mana mungkin aku membeli salah satu benda itu. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku hanya bercanda." Pelangi mencubit kedua pipi Gilang dengan gemas.


"Ah, Pelangi, aku pikir kamu serius." Gilang menghela napas dengan lega.


Pelangi kemudian merapikan dasi Gilang, karena hari ini Gilang akan ikut ke kantor, tentu saja atas permintaan Pelangi. Ia tidak ingin jika Gilang menghabiskan waktu berdua dengan Anneth seperti yang ia lihat beberapa waktu lalu, walaupun Anneth dan Gilang tidak memiliki hubungan apa pun tetap saja Pelangi merasa cemburu.


"Nah, sudah selesai." Pelangi mundur selangkah lalu memindai penampilan sang suami. "Ckckc, kamu sangat sempurna," puji Pelangi.


"Ah, jangan berlebihan. Ayo, kita berangkat. Seorang CEO lebih baik tidak datang terlambat," ujar Gilang.


Pelangi tersenyum dan segera mendorong kursi roda Gilang menuju halaman depan. "Padahal dulu saat kamu menjadi seorang CEO, kamu sering sekali datang terlambat," ujar Pelangi.


"Tidak pernah. Aku selalu datang tepat waktu. Kuakui saat aku masih menjabat sebagai direktur, aku memang sering datang terlambat, tetapi saat menjabat sebagai CEO, aku tidak pernah terlambat sekali pun." Gilang membela diri.


Pelangi tertawa. "Ah, iya, iya, suamiku memang bos teladan."


***


Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, mengukir kisah yang penuh dengan perjuangan, air mata dan tawa.


Pelangi telah resmi menjadi seorang pemimpin Andreas Group. Bukan hal yang mudah, karena awal kepemimpinannya banyak sekali yang merasa keberatan dan menentang. Namun, Pelangi tidak patah semangat. Keberadaan Gilang, Toni, dan Andrew yang selalu mendukung dan mendampinginya mampu membuat Pelangi terus bertahan walau pertahanannya mulai goyah.


Semua kerja keras dan kesabaran Pelangi akhirnya membuahkan hasil, terbukti sejak ia memimpin selama satu setengah tahun terakhir, Andreas Group mengalami kemajuan dengan begitu pesat. Bahkan Andreas Group membangun beberapa hotel di beberapa pulau yang memiliki destinasi wisata yang mengagumkan dan ramai di datangi oleh wisatawan mancanegara.


Sekarang Gilang duduk di ruang keluarga, sibuk memperhatikan tingkah dua orang bayi yang sedang berbaring di atas playmate. Bayi laki-laki dan bayi perempuan itu sibuk menangkap mainan berwarna-warni yang menggelantung di atas mereka. Meski gagal, kedua bayi itu tetap mengeluarkan suara tawa yang menggemaskan yang membuat Gilang ikut tertawa juga.


Tidak banyak yang bisa Gilang lakukan selain menatap kedua bayi itu bergantian. Air mata Gilang menetes, begitu banyak hal yang ia sesalkan, termasuk ketidakmampuannya untuk bergerak sebebas yang ia ingin. Sekarang saja tangannya begitu gatal, ingin rasanya ia menggendong kedua bayi mungil yang baru berusia empat bulan dan lima bulan itu, tetapi apalah daya, jika bukan Pelangi yang datang dan mendekatkan bayi itu padanya, ia tidak bisa menyentuh si bayi sama sekali.


"Maaf lama, aku harus melakukan panggilan telepon beberapa kali. Mereka tidak rewel, 'kan?" tanya Pelangi pada Gilang.


Gilang tersenyum sembari menatap sang istri yang sekarang benar-benar terlihat seperti wanita karir sungguhan, cantik, tangguh, anggun dan penuh dengan percaya diri.


"Tidak, mereka berdua tidak ada yang menangis. Aku sungguh beruntung, karena kalau sampai mereka menangis, entah apa yang harus kelakuan."


Pelangi menghampiri Gilang dan mengecup pipi pria itu. " Mereka tidak akan rewel, karena mereka anak pintar. Mereka tidak akan merepotkan ayah mereka."


"Ya, mereka anak pintar, tapi ngomong-ngomong di mana Anneth dan Delia. Mereka berdua tidak terlihat sejak tadi?" tanya Gilang.


"Mereka sedang sibuk mempersiapkan keranjang bekal untuk kita semua. Berkemah membutuhkan banyak perlengkapan, Sayangku, dan mereka semua sedang sibuk menyiapkan ini dan itu. Bahkan ayah pun terlihat sangat antusias, sejak tadi ayah sibuk menyiapkan alat pancingnya," ujar Pelangi, lalu membuka dua stroller yang akan mereka bawa ke tempat perkemahan, lalu menggendong Safira dan Junior secara bergantian dan meletakkan kedua bayi itu ke dalam stroller.


"Aaah, sudah siap kalian berdua?" tanya Pelangi pada si bayi, seolah kedua bayi menggemaskan itu dapat mendengar apa yang ia katakan.


"Siap, Ibu, kami siap." Gilang menjawab pertanyaan Pelangi dengan menirukan suara bayi yang terdengar lucu.


"Ck, nanti saja adegan duduk-dudukannya, kita harus segera berangkat, kalau tidak kita bisa ketinggalan pesawat." Delia yang baru saja memasuki ruangan mencubit pinggang Pelangi yang sedang bergenit-genitan dengan Gilang.


"Terlambat bagaimana? Apa kamu lupa kalau kita akan menaiki pesawat pribadi." Amara memasuki ruangan dan kemudian mencubit pinggang Delia sembari tertawa. Ia gemas, karena Delia selalu melupakan hal terpenting dalam hidup mereka saat ini. Delia selalu lupa bahwa mereka berdua adalah menantu dari keluarga kaya.


Delia memukul dahinya dengan keras. "Astaga aku lupa. Habisnya selama hidupnya dengan kalian, tidak sekali pun aku melihat kalian membahas tentang jet pribadi. Baru sekarang kalian membahasnya."


"Karena kami tidak berlebihan. Sedikit-sedikit membahas jet pribadi, sedikit-sedikit kapal pesiar, seperti cerita di novel online saja." Pelangi menjawab ucapan Delia sembari memasang kaus kaki pada kaki Safira dan Junior. "Nah, sudah selesai. Ayo kita lets go!"


***


Suasana di sekitar Danau Cermin sangatlah sejuk. Angin tidak henti-hentinya berembus dari pepohonan yang berjejer di sekitar danau. Pelangi dan Gilang duduk berdampingan bersama dua bayi mungil yang terus ada di samping mereka.


Ya, menjaga kedua bayi yang merupakan anak dari Delia dan Amara memang sangat menyenangkan bagi Pelangi dan Gilang. Seolah kehidupan mereka sudah lengkap dan tidak pernah ada hal buruk yang terjadi pada mereka. Mereka bahagia dengan keadaan mereka sekarang.


"Lihatlah, mereka asyik sekali," ujar Delia, pada Amara saat keduanya menyiapkan keranjang piknik di atas rerumputan hijau.


"Ya, mereka terlihat bahagia sekali. Saat melihat Gilang dan Pelangi seperti itu, rasanya aku ingin memberikan saja anakku pada mereka," gumam Amara.


"Dan kita akan membuatnya lagi setiap malam." Toni menimpali, sembari tertawa.


Andrew melempar Toni dengan buah apel yang baru saja digigitnyw. "Sudah bisa melakukan adegan ranjang rupanya si Toni yang kolot," ejek Andrew, sembari tertawa.


Toni balas melempar Andrew dengan buah jeruk, lalu detik berikutnya kedua pria itu sibuk saling melempar.


Amara dan Delia hanya melirik sekilas kedua pria yang bertingkah seperti siswa di taman kanak-kanak, sebelum keduanya kembali terlibat obrolan serius.


Delia menaikan sebelah alisnya dan berkata, "Semudah itukah kamu akan memberikan anakmu pada seseorang?"


Amara menghela napas, lalu menoleh untuk menatap Delia. "Sayangnya tidak semudah itu. Aku menyayangi Junior lebih dari aku menyayangi diriku sendiri, bagaimana bisa aku memberikannya pada orang lain, walaupun Pelangi bukanlah orang lain bagiku."


"Kamu tidak perlu bertindak sejauh itu, toh kita semua tinggal satu rumah. Ayah bersikeras agar kita tidak pindah sampai kapan pun, maka Pelangi dan Gilang bisa menggendong anak kita kapan pun mereka mau," ujar Delia.


Amara mengangguk. "Ya, benar apa yang kamu katakan. Kita semua tidak akan terpisah." Amara lalu bangkit berdiri dan meneriaki Gilang dan Pelangi. "Hai, Sejoli, kalian mau makan atau tidak?!"


Mendengar teriakan Amara, Gilang dan Pelangi menoleh, lalu Pelangi dengan cepat bangkit berdiri, bersiap untuk mendorong kursi roda elektrik Gilang menuju jejeran tenda berwarna-warni.


"Tidak usah mendorong kursi rodaku, aku bisa mengendalikannya sendiri. Dorong saja stroller si bayi," ujar Gilang, sambil melirik sebuah stroller yang diperuntukan untuk dua bayi sekaligus.


"Ah, benar juga. Aku lupa." Pelangi memukul dahinya sembari terkekeh, lalu mulai mendorong stroller tersebut, sementara Gilang menggerakkan tuas pada kursi rodanya, menyeimbangi stroller yang di dalamnya terdapat dua bayi lucu yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Oh, ya, apa kamu sudah menerima telepon dari Arya minggu-minggu ini?" tanya Pelangi.


"Belum. Aku harap Anneth dapat segera sembuh dari traumanya agar mereka bisa segera menikah. Sulit hidup dengan seseorang yang memiliki trauma. Apalagi setiap Arya mendekat, Anneth selalu berteriak ketakutan."


Pelangi mengangguk. "Ya, setelah bayi di dalam kandungannya dinyatakan meninggal, Anneth memang menjadi lebih tertutup. Untunglah Arya benar-benar berubah dan bersedia menunggu proses kesembuhan Anneth yang sedang menjalani terapi di luar negeri."


"Ya, Sayang, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua."


Pelangi tersenyum. "Ya, kita semua harus bahagia. Setelah semua kesulitan yang kita lalui, kita harus terus bahagia."


***


Jika kebahagiaan tengah dirasakan oleh keluarga Andreas, hal sebaliknya justru tengah dirasakan oleh Gisel yang meringkuk di dalam penjara. Wanita itu kerap mengamuk seperti orang gila, ia frustrasi dan tidak tahan terus berada di dalam penjara yang sempit dan pengap. Apalagi jika ia mengingat harus menghabiskan waktu selama 20 tahun di tempat itu.


"Keluarkan aku! Keluarkan aku dari sini sialan! Dasar bedebah. Cepat keluarkaaaan!! Aku ini model papan atas. Mana bisa aku tinggal di sini. Aku butuh perawatan wajah dan tubuh, aku tidak mau menjadi buruk rupa karena terus berada di sini. Cepaaat keluarkaaan!"


Hal tidak jauh berbeda juga terjadi pada Alex dan Surya. Meski tidak berteriak-teriak seperti Gisel, tetapi keduanya kerap merasa bosan. Seperti saat ini, Alex dan Surya tengah duduk di dalam sel sembari menyandarkan punggung satu sama lain.


"Ini membosankan. Tidak ada wanita cantik di sini," lirih Alex.


Surya mendengkus kesal. "Apa cuma wanita yang ada di dalam otakmu? Aku memang bosan, tapi di sini lebih baik, setidaknya aku mendapat makanan gratis."


Mendengar perkataan Surya, Alex menjadi emosi. Ia lantas menindih tubuh Surya dan meninju pria itu. "Dasar sialan, hanya makanan yang selalu kamu pikirkan."


*Tamat*