
Pelangi terkagum-kagum saat ia memasuki kediaman Gilang Andreas. Rumah bergaya Eropa itu benar-benar membuatnya terpana. Ruang tamu yang besar dan langit-langit tinggi dengan lampu gantung indah yang terlihat mahal menggantung elegan di tengah ruangan.
Pelangi mulai menggali di dalam kepalanya tentang rumah besar Gilang, barangkali ia dapat mengingat sedikit kenangan tentang hari-hari yang pernah ia lalui di rumah ini. Kenangan tentang dirinya dan Gilang yang hidup bahagia, atau kenangan tentang aktivitas sehari-harinya dengan sang mertua dan anggota keluarga Andreas lainnya. Namun, tidak ada satu pun kenangan yang muncul.
Pelangi menghela napas dengan kecewa, kemudian ia menghampiri Gilang yang sejak tadi hanya duduk diam di sofa sembari memperhatikan dirinya.
"Apa aku akan tinggal di sini juga?" tanya Pelangi, begitu ia telah duduk di hadapan Gilang. "Aku pikir, aku akan tinggal di sebuah rumah kontrakan."
Gilang mengangguk. "Aku sering membawa pekerjaan dari kantor ke rumah dan mengerjakannya hingga tengah malam bahkan sampai pagi kadang-kadang. Jika kamu tinggal di tempat yang terpisah dariku, maka akan sulit bagiku dan bagimu sendiri ke depannya. Tidak mungkin kamu kembali ke rumahmu di tengah malam seandainya ada pekerjaan yang harus kamu kerjakan hingga larut malam, kan? Lagi pula, aku tidak mungkin mengantarkanmu pulang setiap hari."
Pelangi mengangguk. "Benar juga apa katamu. Jadi, siapa saja yang tinggal di sini?"
"Aku, ayah, Andrew, Toni dan beberapa pelayan."
"Kekasihmu bagaimana?" Pelangi tidak tahan lagi. Sejak tadi ia memang ingin menanyakan tentang Gisel. Ia penasaran apakah Gisel dan Gilang tinggal bersama, mengingat keduanya akan menikah tidak lama lagi.
"Kekasihku. Dari mana kamu tahu kalau aku memiliki kekasih, padahal aku tidak pernah bercerita padamu?" tanya Gilang.
"Dari majalah bisnis milik salah satu pekerja di Hotel Mentari," jawab Pelangi sekenanya.
"Oh, begitu." Gilang mengangguk. Ia ingat jika majalah bisnis edisi bulan lalu mengulas habis-habisan bukan hanya tentang kemajuan bisnisnya saja, tetapi tentang hubungannya dengan Gisel juga. "Gisela tidak tinggal di sini, tapi aku yakin kamu pasti akan sering bertemu degannya. Dia selalu datang setiap empat jam sekali dalam satu hari."
Pelangi memelototkan matanya. "Sesering itu. Tapi kenapa?" Pelangi tidak dapat menyembunyikan nada kesal pada suaranya. Dan hal itu membuat Gilang tersenyum puas.
"Tentu saja karena dia merindukanku. Memangnya karena apalagi? Katakan padaku Raina, apa kamu memiliki rasa tidak suka ketika mengetahui bahwa aku memiliki kekasih?" tanya Gilang, sembari berpindah duduk. Sekarang pria tampan itu duduk tepat di samping Pelangi dengan jarak yang begitu dekat.
Pelangi menggeleng. "Tidak. Untuk apa aku merasa tidak suka. Aku kan tidak memiliki hak sama sekali untuk merasa tidak suka pada apa pun yang kamu lakukan."
Gilang mengedikkan kepala. "Benar. Kamu sama sekali tidak berhak." Ada nada kecewa dalam suara Gilang.
Gilang bangkit berdiri dengan tiba-tiba, kemudian meminta Pelangi untuk mengikutinya. "Ayo, biar kutunjukan di mana kamarmu."
Pelangi megangguk, kemudian bangkit berdiri dan mengekor langkah Gilang menuju lantai dua.
Selama perjalan menyeberangi ruangan besar tersebut hingga tiba di tangga dan mulai menaiki anak tangga satu per satu, kedua mata Pelangi terus menyapu area sekitarnya. Mulai dari dinding hingga lemari hias. Pelangi merasa kecewa karena tidak menemukan potret dirinya di rumah besar itu, bahkan potret pernikahan saja tidak ada. Jika ia pernah tinggal di sana, seharusnya ada sebuah kenang-kenangan tentang dirinya, seperti potret dalam bingkai yang indah misalnya. Tidak terlalu mengherankan jika Gilang tidak kunjung ingat padanya, jika potret dirinya saja tidak ada.
"Nah, ini kamarmu." Suara Gilang mengejutkan Pelangi.
Pelangi mengikuti Gilang memasuki sebuah kamar di lantai dua. Kamar itu berukuran luas dengan berbagai perabotan mewah yang ada di dalamnya. Dan yang lebih menarik perhatian Pelangi adalah balkon yang terdapat di kamar itu.
Pelangi melangkah menuju balkon, menggeser pintu kaca yang memisahkan kamar dan balkon lalu segera menyambut embusan angin yang sejuk menerpa tubuhnya.
Pelangi menutup mata setelah memperhatikan semua benda yang ada di sana. Semuanya, mulai dari sofa hingga meja bundar dan lampu hias tidak ada yang terasa asing bagi Pelangi. Pelangi merasa seperti pernah berada di sana di waktu yang berbeda, tetapi ia tidak tahu kapan.
Air mata Gilang menetes melihat Pelangi berdiri di balkon. Terlihat seperti seharusnya dan harus seterusnya. Sejak kejadian di Hotel Mentari, sebenarnya sejak saat itu Gilang telah ingat bahwa Pelangi adalah seseorang yang istimewa di dalam hidupnya. Hanya saja ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun untuk sementara hingga ingatannya benar-benar kembali dan ia memiliki bukti yang cukup untuk memenjarakan orang-orang yang telah mengacaukan hidupnya, yang telah membuatnya terpisah dari Pelangi, dan yang telah membuatnya kehilangan bayinya.
Gilang mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya dengan cepat, lalu menghampiri Pelangi. "Kamu suka kamarmu?" tanya Gilang pada wanita di sampingnya.
Pelangi menoleh dan menatap Gilang dengan tatapan tidak percaya. "Kamu sedang sadar, 'kan? Maksudku, apa kamu tidak sedang di bawah pengaruh obat. Kenapa kamu memberiku kamar yang sebagus ini. Kamar ini lebih cocok diberikan kepada seorang tuan putri. Aku hanyalah asistenmu, aku tidak butuh kamar sebagus ini."
"Aku sadar, sangat sadar bahkan, dan aku sedang tidak berada di bawah pengaruh obat-obatan. Ya, mungkin kamu tidak butuh kamar sebagus ini, tapi aku butuh," ujar Gilang.
"Maksudku, ayo kita tidur sekamar berdua." Gilang menaik-turunkan alisnya sembari tersenyum.
"Iiiih, tidak mau!" Pelangi tanpa sadar mendorong Gilang hingga pria itu terjatuh.
"Argh, tega sekali." Gilang mengeluh sembari mengelus bokongnya yang terasa sakit.
Melihat Gilang terjatuh, Pelangi segera berlutut di samping Gilang. Wajahnya terlihat khawatir dan juga merasa bersalah. "Maafkan aku. Aku tidak sengaja."
"Tidak sengaja katamu. Jelas-jelas kamu sengaja mendorongku ... aaww!"
"Ck, aku sungguh tidak sengaja. Lagi pula, aku tidak mendorong begitu keras, kenapa mudah sekali jatuh. Apa kamu memang selemah itu ... aaw!"
Gilang mencubit pipi Pelangi dengan gemas. "Lemah katamu? Aku tidak lemah, Raina, apa perlu aku buktikan padamu." Gilang kembali menggoda Pelangi, hingga kedua pipi wanita itu berubah menjadi semerah tomat.
"Bukan itu maksudku ...."
Belum lagi Pelangi menyelesaikan ucapannya, pintu kamar mendadak terbuka diiringi suara teriakan seorang wanita yang memanggil-manggil nama Gilang dengan manja.
"Gilang sayang. Sayangku, kenapa tidak mengabariku kalau sudah tiba? Untunglah aku menelepon Toni tadi, dan dia mengatakan kalau kamu sudah kembali ke rumah," teriak Gisel, sambil berjalan menuju balkon. Begitu tiba di balkon, Gisel menghentikan teriakannya dan menatap Gilang yang sedang duduk di lantai dengan seorang wanita.
"Gisel," ujar Gilang, sembari menoleh ke arah belakang, di mana Gisel sedang berdiri dengan wajah cemberut. Tidak diragukan lagi jika wanita itu sedang dilanda cemburu berat dan cemburu buta.
"Siapa dia, dan apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Gisel.
Gilang bangkit berdiri, diikuti oleh Pelangi yang masih memunggungi Gisel. Beberapa saat kemudian, Pelangi berbalik dan menatap wajah Gisel yang sudah mulai ia benci, padahal ia belum memiliki ingatan apa pun tentang wanita itu.
Raut wajah Gisel menegang begitu ia melihat wajah wanita yang berada di balkon bersama dengan Gilang. Lidahnya kelu, mendadak ia tidak dapat berbicara. Hanya bibirnya yang bergerak tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Ingin rasanya ia memekik dan berteriak hantu! Tetapi urung ia lakukan.
Pelangi maju selangkah demi selangkah, menghampiri Gisel yang spontan melangkah mundur menghindari Pelangi. Wajah Gisel bahkan terlihat sepucat mayat sekarang, dan tangannya jelas sekali terlihat gemetar.
"Perkenalkan, saya Raina. Asisten baru Pak Gilang." Pelangi mengulurkan tangan pada Gisel.
"Raina," gumam Gisel, terlihat bingung.
"Ya, dia Raina, memangnnya kamu pikir dia itu siapa? Dan kenapa juga wajahmu jadi pucat begitu, Sel, apa kamu mendadak sakit?" tanya Gilang, sembari menatap Gisel dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Ah, tidak, aku tidak apa-apa." Gisel mengibaskan tangan di hadapan Gilang, lalu menyambut uluran tangan Pelangi. "Aku Gisela, tunangan Gilang."
Pelangi mengangguk. "Anda cantik sekali, semoga hati Anda secantik wajah Anda." Pelangi tahu jika ia terlalu lancang, tetapi ia tidak dapat menahan diri.
Gisel tersenyum dengan terpaksa. Jujur saja ia sangat terkejut pada apa yang dilihatnya, sehingga ia tidak mampu untuk mengatakan hal lain selain menebar senyum yang juga dengan susah payah ia ciptakan.
"Hem, baiklah, aku pergi dulu kalau begitu, Gil, nanti kita bertemu lagi."
"Tapi kamu baru juga tiba. Kenapa buru-buru?"
Gisel tidak menjawab. Ia hanya melambai dan segera berlalu pergi dari hadapan Gilang dan Pelangi, meninggalkan Pelangi yang mendapatkan kilasan-kilasan bayangan tentang bagaimana kejamnya Gisel pada dirinya dahulu.
Bersambung ....