
Arya melempar barang apa saja yang ada di hadapannya begitu ia tiba di kantor GG Group dan berada di dalam ruangannya. Untunglah ruangan kerja Arya telah diatur sedemikian rupa agar kedap suara, jika tidak mungkin semua karyawan yang kebetulan melintas di depan ruangannya akan berkumpul dan mencari tahu apa gerangan yang tengah terjadi pada atasan mereka sehingga menimbulkan suara ribut yang mengerikan.
Maulana yang kebetulan ada di dalam ruangan sejak beberapa waktu lalu segera menghampiri Arya dan menahan tangan pria itu dengan kedua lengannya yang kekar saat Arya akan melempar sebuah vas keramik ke jendela yang terbuka.
"Tenanglah, Arya, tenanglah. Ada apa ini, hah?" bentak Maulana.
Arya menyentak lengan Maulana dengan kasar dan melemparkan vas di tangannya ke lantai, membuat vas mahal berbahan keramik itu menjadi serpihan-serpihan kecil tak berguna.
Maulana melayangkan tinjunya ke wajahnya Arya agar pria itu sadar dari amarah. "Kendalikan dirimu!"
Arya jatuh tersungkur, sudut bibirnya berdarah dan pipinya terluka karena terkena serpihan vas yang berserakan di lantai. Ia segera menyeka sedikit darah di bibirnya sembari mendelik kesal ke arah Maulana.
Maulana mengulurkan tangan untuk membantu Arya berdiri, tetapi Arya menepis tangan Maulana dengan kasar. Ia kemudian bangkit sendiri dengan berpegangan pada kaki meja kerja yang ada di sebelahnya.
"Maafkan aku. Kamu harus ditinju agar sadar." Maulana berujar, wajahnya terlihat menyesal dan prihatin.
Arya tidak menjawab. Ia melangkah menuju kursi kerjanya dan segera duduk di sana sembari memejamkan mata. Ia sedang memikirkan cara bagaimana agar ia bisa membalas perbuatan Toni dan Andrew yang telah menginjak-injak harga dirinya. Ia sadar jika ia tidak bisa melakukannya seorang diri, karena dirinya selalu berada dalam pengawasan Maulana. Jika Maulana tidak berada di sekitarnya, ia yakin sekali Maulana pasti mengirim orang untuk menguntitnya ke mana pun ia pergi, hingga ruang geraknya sangatlah terbatas.
Arya menghela napas dengan berat. "Aku butuh segelas kopi dingin," ujar Arya pada Maulana setelah beberapa saat.
Maulana mengangguk dan segera berjalan menuju meja kerja Arya, kemudian melakukan panggilan dengan telepon yang ada di sana. "Siapkan satu kopi dingin seperti biasa untuk Pak Arya," ujar Maulana, pada seseorang yang ada di seberang panggilan, kemudian ia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya.
Sebenarnya Arya berharap agar Maulana pergi sendiri mengambilkan kopi untuknya, sehingga ia memiliki waktu untuk melarikan diri.
"Ayahmu baru saja datang ke sini dan mencarimu," ujar Maulana, setelah dilihatnya Arya sedikit lebih tenang.
"Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Arya, wajahnya berubah cemberut saat mendengar jika sang ayah datang mencarinya.
Hubungan antara Arya dan ayahnya memang tidak baik-baik saja semenjak kematian Clara, kekasih Arya yang tinggal di Belanda. Bukan tanpa alasan Arya kemudian membenci sang ayah yang ia sayangi. Setelah kematian Clara, Gunawan Adiguna terus menjodohkan Arya dengan beberapa wanita kenalan Gunawan. Mulai dari putri teman Gunawan yang kaya raya, hingga seorang mantan miss daerah yang katanya berpendidikan tinggi dan memiliki kecantikan yang luar biasa. Semua itu Gunawan lakukan tanpa memedulikan perasaan Arya yang sedang berkabung.
Gunawan bahkan tidak peduli saat Arya mengatakan bahwa ia sangat mencintai Clara dan tidak mungkin ia menikah pada wanita mana pun selain Clara.
"Ayahmu bilang dia ingin bicara padamu. Datanglah ke ruangannya."
Arya menggeleng. "Katakan padanya kalau aku tidak mau menemuinya bahkan sampai kiamat terjadi."
"Tidak bisa tidak. Kamu tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak mau." Maulana mendesak. Meskipun ia merasa iba pada Arya, tetapi atasannya tetaplah Gunawan. Maka, perintah dari Gunawan adalah perintah nomor satu yang harus dipatuhi, bukannya perintah Arya.
Arya bangkit berdiri dan melangkah dengan malas menuju pintu. "Baiklah, aku akan ke ruangan si Gunawan yang menyebalkan itu," ujar Arya, lalu menghilang di balik pintu.
***
Pelangi menyatukan kedua tangannya di hadapan Gilang sembari berlutut di atas rerumputan. Saat ini keduanya sedang berada di halaman bersama dengan Tito, Farhan dan dua orang asing yang belum pernah Gilang lihat sebelumnya. Dua orang asing itu adalah seorang instruktur mengemudi dari sebuah tempat kursus mengemudi ternama di Kota Jakarta.
"Ayolah suamiku. Izinkan aku untuk kursus mengemudi, ya," pinta Pelangi, sembari mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Farhan dan Tito berusaha menahan tawa melihat tingkah Pelangi. Wanita itu tidak ragu menggoda Gilang bahkan di depan orang asing sekali pun. Padahal baik Tito maupun Farhan tahu, jika Pelangi sering menangis diam-diam saat sedang sendiri, tetapi saat di hadapan Gilang ia selalu bertingkah bagai anak abg yang periang dan tidak mengenal apa itu yang namanya rasa sedih.
"Tidak. Aku bilang tidak, ya, tidak." Gilang menjawab dengan tegas.
"Ish, kenapa tidak, sih? Instrukturnya sudah datang. Mana mungkin aku meminta mereka untuk pulang lagi. Aku bahkan berhutang pada ayah untuk membayar jasa mereka." Pelangi maju menghampiri Gilang menggunakan lututnya, lalu ia meletakan dagunya di kedua lutut Gilang. "Ya, plis, plis, plis."
Gilang menghela napas, lalu bertanya, "Kenapa kamu ingin sekali belajar menyetir, Pelangi? Bukankah di rumah ini ada banyak sopir. Jika kamu ingin bepergian, kamu tinggal meminta salah satu dari mereka untuk mengantarmu. Lagi pula, kenapa kamu berani sekali berhutang pada ayah. Kamu kan tahu kalau kita berdua pengangguran, bagaimana cara membayarnya nanti?"
Tito dan Farhan tertawa mendengar ucapan Gilang. keduanya tahu, bahwa saat ini Gilang dan Pelangi hanya sedang bercanda. Semua yang Farhan miliki adalah milik Gilang dan Pelangi juga. Tidak ada kata 'hutang' dalam kamus keluarga Andreas.
"Hanya untuk jaga-jaga saja. aku ingin bisa melakukan banyak hal, agar jika suatu saat kita berada dalam situasi yang terdesak dan tidak ada siapa pun, aku bisa melakukan apa pun seorang diri," jawab Pelangi. "Dan masalah membayar hutang pada ayah, aku bisa menjadi sopir grab nanti saat aku bisa menyetir." Pelangi nyengir, memperlihatkan susunan giginya yang putih.
Gilang mengerti apa maksud ucapan Pelangi. Dulu Pelangi selalu mengandalkan dirinya, tetapi sekarang saat dirinya mulai lumpuh tidak ada lagi yang bisa Pelangi andalkan selain diri Pelangi sendiri. Ya, dalam keadaan terdesak memang Pelangi dituntut harus bisa melakukan banyak hal, karena sosok suami yang seharusnya bisa melindungi Pelangi, sekarang tidak bisa melakukan hal itu.
"Sudahlah, izinkan saja dia, Gil, toh hanya menyetir. Hampir semua wanita yang tinggal di kota besar bisa menyetir sendiri. Kenapa Pelangi tidak boleh," ujar Farhan, membantu Pelangi untuk meyakinkan Gilang.
"Aku hanya tidak ingin dia celaka, Ayah. Jalanan di sini begitu ramai, aku takut kalau terjadi apa-apa padanya saat dia sedang menyetir." Gilang menjawab ucapan Farhan.
Gilang memang takut jika Pelangi mengalami kecelakaan atau hal buruk lainnya saat wanita itu sedang menyetir. Itulah sebabnya ia melarang Pelangi. Bagi Gilang, Pelangi lebih aman jika terus berada di rumah, berada di sampingnya sepanjang hari, dan jika Pelangi ingin keluar rumah, Pelangi tinggal meminta sopir untuk mengantarkan ke tempat mana pun yang Pelangi inginkan.
"Ck, jika semua suami berpikiran demikian, maka tidak ada istri yang bisa menyetir dan mandiri. Aku yakin, Pelangi akan berhati-hati dan bertindak bijaksana jika dirinya bisa menyetir sendiri. Dia akan selalu berhati-hati dan tidak akan menyetir dengan ugal-ugalan. Benar, 'kan, Nak?" tanya Farhan.
Pelangi mengangguk dengan cepat. "Tentu saja, Ayah, mana mungkin aku yang lemah lembut ini menyetir dengan ugal-ugalan. Hal itu sangatlah impossible."
Tito tertawa. "Lemah lembut apanya."
Pelangi menatap Tito dengan malu-malu. "Aku kan memang lemah lembut, Pak Tito."
Gilang diam saja, ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian Gilang menatap Pelangi lekat-lekat dan berkata, "Baiklah. Aku izinkan."
Pelangi seketika bangkit berdiri dan melompat kegirangan saat mendengar perkataan Gilang. Tidak lupa ia mendaratkan kecupan berulang kali di kedua pipi Gilang.
"Tapi dengan satu syarat," Gilang melanjutkan.
"Tetaplah berhati-hati dan kamu tidak akan pernah menyetir mobil jika keadaan tidak benar-benar urgent."
Pelangi menegakkan tubuhnya lalu menarik tangannya ke pelipis, memberi hormat pada Gilang. "Siap, laksanakan, Bos."
Gilang tersenyum. "Baiklah, berlatihlah di lahan kita yang ada di jalan Pemuda. Lahan itu sangat luas, bahkan ukurannya hampir separuh dari pulau Jawa."
Pelangi tertawa. "Separuh dari pulau Jawa. luar biasa." Pelangi kemudian menyalami dan mencium punggung tangan Gilang, lalu melakukan hal yang sama pada Farhan sebelum ia melenggang pergi bersama dua orang instruktur wanita yang akan mengajarkannya bagaimana cara menyetir.
"Oh, ya, Pak Tito, aku titip ayah dan Gilang, ya." Pelangi masih sempat berteriak pada Tito, sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Ya, bersenang-senanglah." Tito balas berteriak, meskipun Pelangi sudah tidak terlihat oleh kedua matanya. "Anda beruntung sekali memiliki menantu seperti dia, Pak," komentar Tito.
"Ya, aku memang tidak pernah salah pilih. Dia wanita yang baik dan yang pasti dia memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa."
"Beruntung dulu kamu menikah dengannya, Gil, bukan dengan Gisel," ujar Tito pada Gilang.
"Oh, ya, ngomong-ngomong soal Gisel, bagaimana kemajuan kasusnya? Apakah persidangan belum dimulai?" tanya Gilang.
"Aku dengar sidang akan dimulai pekan depan."
"Baguslah. Aku harap setelah Gisel, satu orang lainnya akan segera tertangkap. Si Surya itu. Apa belum ada yang bisa menemukan di mana Surya bersembunyi?" tanya Gilang lagi pada Tito.
Tito menggeleng. "Belum ada yang tahu di mana si sialan itu bersembunyi. Kamu tenang saja, Gil, hingga saat ini kami masih berusaha untuk mencari keberadaannya.
***
Arya memasuki ruangan sang Ayah tanpa mengetuk pintu ruangan itu terlebih dahulu. Sudah biasa Arya melakukan hal itu semenjak ia kehilangan rasa hormat pada Gunawan.
"Sudah aku bilang, singkirkan saja orang itu jika dia tidak mau tutup mulut. Aku tidak mau kalau sampai dia bicara pada semua orang. Aku tidak mau keselamatan putraku terancam! Atau begini saja, bayar saja dia. Aku yakin saat dia melihat uang, dia akan diam!"
"Ayah sedang bicara dengan siapa?"
Gunawan terkejut. Ia segera memutus panggilan dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Kenapa tidak mengetuk, Ar? Mana sopan santunmu?" bentak Gunawan. Wajahnya terlihat panik, ia takut jika Arya mendengar percakapan yang baru saja ia lakukan pada seseorang.
Arya menaikan sebelah alisnya. "Sopan santunku ketinggalan di ruanganku sepertinya." Ia menjawab dengan malas, lalu segera duduk di hadapan sang ayah.
Gunawan mendengkus kesal melihat tingkah putranya. "Apa saja yang kamu dengar?"
"Aku tidak mendengar apa-apa. Lagi pula, aku tidak berminat untuk ikut campur pada urusan Ayah. Urus saja urusan Ayah sendiri, dan aku akan mengurus urusanku sendiri."
"Dasar anak tidak tahu terima kasih," gerutu Gunawan.
"Ada apa ayah memanggilku ke sini?" tanya Arya.
Gunawan tidak menjawab langsung pertanyaan Arya, sebagai gantinya ia mengeluarkan selembar foto dari laci meja kerjanya dan menyerahkan foto itu pada Arya. "Dia seorang suster. Cantik, cerdas, seksi, dan menawan."
Arya menerima selembar foto tersebut dari tangan Gunawan dan memperhatikan sosok wanita berambut panjang yang terlihat cantik di dalam foto.
"Aku tidak mau, dan bisakah Ayah tidak menjodoh-jodohkanku terus menerus! Aku sudah bilang berulang kali kalau aku tidak mau menikah. Apa Ayah tidak bisa menghargai keputusanku?!" Arya berteriak.
"Kita harus memiliki seorang penerus. Kamu adalah anak tunggalku, Ar, jika kamu tidak memiliki keturunan maka generasi kita akan berhenti sampai di sini." Gunawan tidak mau kalah, ia balas meneriaki Arya.
"Kalau begitu Ayah saja yang menikah dan memiliki anak lagi. Aku tidak berminat." Arya kemudian bangkit berdiri dan melangkah dengan cepat menuju pintu.
"Temui dulu suster itu. Namanya Anneth, dia bersedia menjalani nikah kontrak denganmu, hanya sampai dia hamil dan melahirkan. setelahnya, dia akan pergi tanpa meninggalkan jejak. Itulah yang wanita itu katakan. Dia tidak ingin mengandung seorang anak sebelum menikah, karena itu sama saja dengan berzina. Dia tidak mau."
Arya menghentikan langkah, lalu berbalik untuk menghadapi Gunawan. "Benarkah?"
"Ya, cek ponselmu. Aku sudah mengirim kontak whatsapp-nya di ponselmu."
***
Anneth mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar apartemennya. Sudah sejak kemarin ia menanti kabar dari Gunawan, apakah putra Gunawan setuju untuk menikah kontrak dengannya atau tidak.
Anneth mengajukan diri setelah ia mengetahui permasalahan apa yang tengah keluarga Adiguna hadapi. Ternyata segala kegilaan yang Arya lakukan hanyalah demi mendapatkan keturunan. Termasuk permasalahan yang tengah terjadi antara Arya , Pelangi dan juga Gilang. Anneth berharap jika Arya tertarik dan bersedia menikah kontrak dengan dirinya, maka Arya tidka lagi mengejar Pelangi dan menyusahkan keluarga Andreas. Karena Anneth tahu, jika sampai Arya gagal mendapatkan apa yang diinginkan, maka nyawa Gilang dan Pelangi akan melayang dengan sia-sia.
Drrt, drrt, drrt.
Ponsel Anneth bergetar. Ia segera melangkah menuju meja di mana ia meletakkan ponselnya tadi.
"Nomor tidak dikenal," gumam Anneth, sembari menggeser tanda hijau yang tertera pada layar, dan seketika panggilan pun tersambung.
"Halo," ujar Anneth.
"Temui aku di Hotel Blossom malam nanti jam sembilan."
Bersambung.