
William orang yang baik, Nena tahu akan hal itu. Tapi meski pria itu memiliki keyakinan yang sama dengan Nena, William adalah salah dua kandidat yang wajib Nena pikir ulang jika ingin menjadikannya calon suami. Selain Justin.
Keduanya begitu mengerikan bagi Nena, latar belakang mereka yang memang keturunan konglomerat, membuat nyalinya menciut saat membayangkan sepatu lusuh yang iya kenakan itu menginjak marmer rumah mewah mereka untuk dikenalkan pada sanak saudara yang mereka miliki.
Gadis itu kelewat tidak percaya diri, dia takut kehidupan rumah tangganya kedepan akan menjadi drama makjang dengan konflik tak berkesudahan, semisal nanti saudara iparnya mungkin tidak akan suka padanya atau yang lebih membuat bulu kuduknya meremang, saat mereka tengah menjalani bahtera rumah tangga, sang mertua malah gencar mencari istri pengganti putranya yang lebih sepadan. Membayangkannya saja Nena nyaris akan gila, dia hanya ingin hidup normal, bahagia bersama. Dalam suka maupun duka. Sesederhana itu memang.
Sekembalinya Nena dari kantin rumah sakit, gadis itu menghampiri ibunya yang ternyata sedang asik bercengkrama dengan Justin, pria yang kini menanggalkan setelan jas resminya dengan berganti menjadi pakaian casual itu, sesekali tersenyum bahkan tanpa sungkan memamerkan deretan gigi putihnya pada Marlina.
Entah topik apa yang ibunya sajikan pada pemuda yang lebih sering diam itu sampai bisa terlihat begitu akrab. Nena sedikit curiga, belum lagi melihat sang ibu yang tampak cekikikan tidak sadar usia itu langsung mingkem setelah mengetahui keberadaan putrinya.
"Udah ngobrolnya?" sapa Justin yang lebih mengarah pada sebuah pertanyaan, yang Nena yakini pasti untuk mengalihkan kecurigaan gadis itu.
"Udah." Nena mendaratkan bokongnya pada kursi tunggu di sebelah ibunya, "ngobrolin apaan si? ko kayaknya seru banget?" lanjutnya.
"Ibu lihat ayahmu dulu yah, dokter sudah selesai periksa tadi, kasihan sendirian." Marlina yang mencium bau-bau angkara murka, beranjak dari kursinya, tidak lupa mengusap punggung Justin lembut, yang bahkan pada putrinya sendiri dia tidak melakukan hal itu.
Ibu kenapa malah kabur deh? Curiga.
Nena melepaskan pandangan dari sang ibu, beralih pada Justin yang masih tampak **** senyum.
"Ibu cerita apa sih, sampe senyum kamu awet gitu?" Tanya Nena sedikit waspada.
"Hm," Justin bergumam, mengusap wajahnya. Berusaha menghilangkan senyum di bibirnya itu meski gagal.
"Dia hanya bercerita, tentang seorang anak sekolah dasar yang mogok sekolah satu minggu gara-gara ketahuan kencing di celana saat jam pelajaran guru Agama. Itu saja."
Astagfirullah haladzim
"Ibu ....!" Pekik Nena yang mendapatkan pelototan suster penjaga plus bonus desisan bibir yang berciuman dengan telunjuknya sendiri. "Syuuut" katanya.
Nena tidak ambil pusing desisan sang suster, hatinya kini begitu ngilu, malu setengah mati, bagaimana bisa ibundanya tercinta membeberkan aib anaknya sendiri di hadapan orang lain yang kini kadar kebahagiaannya terlihat semakin bertambah.
"Seneng banget, Pak Justin. Kayaknya." Nena merajuk dengan wajah merah padam yang membuat gadis itu enggan menoleh ke arah pria itu saking malunya.
***
"Kamu masih marah?" Tanya Justin saat mereka berada di dalam mobil mewah miliknya. Nena menggeleng, masih menolak untuk sedikit saja menolehkan kepala, pandangannya fokus pada jendela. Dan hal itu begitu menggemaskan bagi Justin.
"Saya nggak marah." Nena menghadapkan pandangannya ke depan, tidak berani barang sedikitpun menggerakan ekor matanya untuk melirik pemuda yang duduk di balik kemudi, "malu banget, aku tuh." Lanjut Nena dengan Kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
"Kenapa? Kamu kencing di celana juga?"
Justin tertawa, entah apa yang dia tangkap dari obrolannya selama tadi.
"Bukan." Sangkal Justin, "sejak kecil saya sudah terbiasa dikawal beberapa bodyguard suruhan ayah, jadi di sekolah tidak ada yang mau berteman dengan saya. Tidak lama, ayah saya menyuruh saya sekolah di rumah saja."
"Anak Sultan mah beda," pikir Nena.
"Homeschooling?" Tanya Nena. Justin mengiyakan.
Nena manggut-manggut, terkenang awal-awal pertemuan dengan bosnya itu, Justin memang selalu diikuti oleh entek-anteknya. Dan entah sejak menit ke berapa gadis itu melupakan tragedi kencing di celana masa kecilnya itu.
"Serena," panggil Justin, seolah mengingat sesuatu.
"Hm?" Nena menoleh.
"Kamu punya saudara kembar?" Tanya Justin menoleh sekilas, kemudian kembali fokus pada kemudi.
"Tahu dari mana?"
"Tadi ayah kamu bilang, saya itu mengingatkan dia dengan anak sulungnya, katanya kalo sekarang ada di sini pasti dia seumuran saya. Memangnya dia kemana?"
"Saya nggak tahu."
Jawaban Nena berhasil membuat kening Justin berkerut. Dan sebelum dia membuka suara, Nena sudah lebih dulu menjelaskannya.
"Ayah dan ibu hanya bilang saya punya saudara, yang usianya hanya beda beberapa menit. Tapi mereka nggak mau cerita kemana si sulung pergi, sampe sekarangpun saya penasaran. Tapi mereka nggak mau bahas itu."
Kali ini Justin yang manggut-manggut, entahlah pria itu mengerti atau tidak, toh untuk menjelaskan lebih lanjut, Nena juga sama tidak mengertinya.
"Kamu mau saya tunggu ambil baju, terus nanti saya antar kerumah sakit?" Justin mengalihkan topik obrolan, tepat saat sampai di depan rumah gadis itu.
"Nggak usah, Ardi di rumah kok, saya bareng dia. Oh iya William kemana?" Nena baru ingat, dia kehilangan teman bule lokalnya itu.
"Tadi dia bilang pulang duluan." Tutur Justin, Nena menanggapi dengan oh tanpa suara, sebelum turun, dia sempatkan untuk berterimakasih.
***